|  | 

Komentar

Beragama Di Kampung Atheis

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

“ Akeh kang apal qur’an hadiste, seneng ngafirke marang liyani, kafire dewe gak digatekke, yen isih kotor ati akale. Gampang kabujuk nafsu angkoro, ing pepahese gebyare dunyo, iri lan meri sugihe tonggo, mulo atine peteng lan nesto”. (Gus Dur dalam Syair Sang Perindu)

Syair Gur Dur yang diberi nama Sang Perindu memiliki filosofi sangat dalam kaitannya dengan kualitas beragama manusia. Kualitas beragama tidak cukup ditentukan dengan kualitas formal, fisik atau ucapan semata, melainkan perlu diwujudkan dalam sikap dan perilaku nyata dalam kehidupan yang ditandai dengan keharmonisan, toleransi, saling bantu membantu, saling menghargai satu dengan lainnya.
Dalam hal hal tertentu, masih banyak diantara manusia yang secara formal pantas dikatakan orang yang beragama tetapi secara substansi belum layak dikatakan beragama alias atheis.
Secara bahasa, mudah sekali membedakan antara ciri orang yang beragama dengan orang yang tidak beragama (atheis). Orang yang beragama berarti menyakini (mengimani adanya Tuhan/allah swt) sedang atheis sama sekali tidak mengakui adanya Tuhan. Performance kehidupan sehari hari antara orang yang beragama dengan orang atheis pasti berbeda. Perbedaan itu tidak sekedar tipis melainkan jelas jauh berbeda (bertolak belakang).
Persoalnnya, apakah dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara orang yang beragama benar benar mampu melaksanakan ciri yang ideal sebagai orang yang beragama? Adakah diberbagai kesempatan orang yang beragama kadangkala bahkan selalu melakukan perilaku yang mirip mirip perilakunya orang yang tidak beragama alias atheis.?
Karakteristik orang yang beragama jelas diatur dalam alqur’an surah al mukminuun 1-10 antara lain: (a) khusyu’ dalama sholat (b) menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak berguna (c) memiliki kepekaan sosial yang dilambangkan rajin menunaikan zakat (d) selalu menjaga harga dirinya dengan cara yang baik (e) selalu berusaha melaksanakan dan menjaga amanah yang diberikan (f) menjaga atau memelihara ibadah sholatnya (g) tidak merasa dirinya paling unggul alias tawadlu’ (h) selalu merasa memiliki kesalahan sehingga tidak mudah menuduh orang lain bersalah.
Rasulullah SAW memberikan batas minimal bagi seorang yang disebut beragama atau muslim yaitu disebut muslim itu apabila muslim-muslim lain merasa aman dari lidah dan tangannya (HR. Muslim).
Sementara ciri-ciri lain disebutkan cukup banyak bagi orang yang meningkatkan kualitas keimanannya. Sehingga tidak jarang Nabi SAW menganjurkan dengan cara peringatan, seperti : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya hendaknya dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari). “Tidak beriman seseorang sampai tetangganya merasa aman dari gangguannya” (HR. Bukhari dan Muslim). “Tidak beriman seseorang kepada Allah sehingga dia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya dari pada kecintaan lainnya…” (HR. Muslim).
Substansi orang yang beragama terletak pada kesadaran dan kemampuan secara integratif antara peran vertical (hablum minallah) dan horizontal (hablum minannas). Saya berpendapat, orang yang hanya mementingkan hablum minallah saja sama dengan orang “Sok Islam” sedangkan orang yang hanya mementingkan hamlum minannas saja dapat dikategorikan sekuler. Konsekuensi dari kualitas hablum minallah (taat kepada Allah swt) harus diejawantahkan kedalam kualitas perilaku dengan sesama manusia dan lingkungan. Oleh sebab itu orang yang beragama selain berkualitas ketaatan kepada Allah swt, pasti juga berkualitas dalam melakukan komunikasi atau mejalani kehidupan dengan sesama manusia.
Profil orang yang beragama tidak akan dengan mudah menjelek jelekkan, menyalahkan dan merasa paling benar sendiri. Tidak akan pernah menyerang kelompok lain yang dianggap bersalah dalam pandangan dirinya sendiri. Tidak akan mencaci maki orang lain hanya gara gara dendam kesumat ataupun iri dan dengki dengan keberhasilan orang lain. Tidak egois (mementingakn diri sendiri) ditengah kesulitan dan penderitaan orang lain. Tidak akan berpoya poya diatas kesulitan orang lain.
Bangsa Indonesia dikenal bangsa yang taat beragama, tetapi sampai hari ini masih terasa hidup tidak dilingkungan beragama melainkan terasa hidup dikampung atheis. Banyak fenomena yang menunjukkan kecenderungan suasana kampung athesi, antara lain:
Pertama, Begitu mudahnya kelompok satu menyalahkan bahkan menyerang kelompok lain hanya karena dianggap sesat menurut pikiran yang sempit atau picik. Di tanah air kita tercinta banyak dans eringkali terjadi kerusuhan atau konflik hanya gara gara salah paham.
Kedua, Begitu mudahnya seseorang menghabisi nyawa orang lain, dengan alasan alasan yang tidak bisa diterima norma rasio, agama dan sosial. sangat tidak amsuk di akal, jika ada bom bunuh diri dengan alasan jihad atau ingin mati sahid. Ketiga, Maraknya aksi pengrusakan/anarkhis di berbagai wilayah dengan alasan menyampaikan aspirasi, demokrasi dan reformasi. Keempat, para elitpun tidak memiliki sensitivitas sosial, ditengah tengah masyarakat sangat membutuhkan anggaran, tetapi para wakil rakyat justru berpoya poya dengan menggunakan anggaran yang tidak penting bagi kepentingan rakyat. Uang rakyat puluhan milyar hanya untuk merenovasi ruang rapat, renovasi toilet, untuk mencetak kalender, sementara masih banyak gedung sekolah yang tidak layak pakai, rumah rumah penduduk yang tidak layak huni, WC yang tidak sesuai dengan standard kebersihan dan kesehatan. Semua ini fenomena yang layak dikatakan sebagai realitas kampong atheis dalam artian secara formal masyarakat beragama tetapi secara substansi sangat jauh dari pesan dan nilai nilai agama. Sebagai bahan frenungan: sampai kapan bangsa Indoensia berada dalam kampong atheis?, siapa yang harus memulai untuk menggeser atau merubah dari karakter atau sifat sifat atheis menjadi karakter orang yang beragama dalam artian yang sebenarnya. Wallahu ‘alaam.

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter