|  | 

Jurnal

Karakter Pembelajaran di Madrasah Aliyah (MA) : Rasionalisasi Dalil

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Manusia sering dikatakan, sebagai binatang yang berfikir (human animal rational), dalam Bahasa Arab dikatakan dengan istilah al hayawan al naatiq. Seorang Filsuf Rene Descartes[1] memiliki semboyan yang sangat terkenal “Cogito Ergo Sum” yang artinya aku berfikir maka aku ada. Keberadaan manusia ditentukan dari sejauhmana mampu menggunakan potensi akal pikiran dalam memahami dan memaknai fenomena kehidupan sosial.

Betapa besar peran akal atau rasio dalam mewujudkan dan menunjukan eksistensi atau jati diri manusia. Keberadaan manusia sangat ditentukan dari sejauhmana mampu menggunakan akal pikiran secara optimal. Hal ini sejalan dengan semangat ayat pertama kali turun yang mengajarkan kepada manusia melalui Muhamamad Rasulullah SAW, diperintah untuk membaca (Iqra)[2]. Membaca dalam hal ini tidak hanya membunyikan huruf melainkan lebih kepada kemampuan memahami berbagai fenomena yang ada di sekitar kehidupan umat manusia.

Pendidikan[3]  dan pembelajaran[4] ibarat dua sisi mata uang yang tidak mungkin  dipisahkan,  jika salah satu sisi hilang maka tidak akan bermakna dan bernilai.  Kedua pihak saling mengisi dan melengkapi. Gagalnya proses pendidikan akan berakibat gagalnya proses pembelajaran. Esensi dari pendidikan dan pembelajaran adalah mengembangkan dan mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Potensi yang harus dikembangkan sekurang-kurangnya menyangkut tiga hal yaitu potensi intelektual (pengembanagn akal rasional), potensi sikap kepribadian dan potensi ketrampilan otot atau fisik. Artinya mengembangkan akal rasional peserta didik menjadi suatu keniscayaan yang harus ada dan terus dilakukan dalam proses pendidikan dan pembelajaran.

Kecerdasan Manusia

Setiap manusia memiliki tiga kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan sosial atau kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan Intelektual adalah kemampuan mengoptimalkan seluruh potensi yang ada dalam rasio manusia. Potensi ini disebut juga kognitif yang terdiri dari beberapa komponen yaitu:

  1. Pengetahuan (knowledge), yaitu kemampuan menghafal dari suatu teks, teori atau realitas yang dilihat. Indikasi kemampuan mengetahui dilihat dari seberapa jauh manusia  mampu menghafal suatu teks dan  realitas
  2. Pemahaman (comprehention), yaitu kemampuan mengungkapakan kembali dari sesuatu yang dihafal atau dilihat dengan menggunakan bahasanya sendiri. Indikasi orang yang memiliki kemampuan pemahaman dilihat dari kemampuannya dalam mengekspresikan pendapatnya, mengemukakan pertanyaan, dan menjawab pertanyaan yang diberikan kepada dirinya
  3. Penerapan (aplication), yaitu kesediaan atau kemampuan menerapkan apa yang dihafal dan apa yang dipahami, sehingga manusia itu memiliki informasi yang utuh tentang apa yang dihafal dan dipahami. Kemampuan menerapkan ditandai dengan adanya ketrampilan mempraktikan suatu perbuatan/perilaku di dalam direalitas miniatur (laboratorium).
  4. Analisa (analysa), yaitu kemampuan mengurai /mengambil makna dibalik teori atau realitas yang dilakukan dengan pendekatan deduktif (dari teks (wahyu) ke konteks/realitas)
  5. Sinthesa (synthesa) yaitu adalah kemamapuan mengurai/menemukan makna dibalik teori/realita dengan menggunakan pendekatan induktif. (dari konteks/realita ke teks (wahyu)
  6. Evaluasi (evaluation) yaitu kemampuan menemukan kekurangaan dan kelebihan dari dua obyek atau lebih.

IQ yang sudah berusia hampir mencapai 100 tahun pada awalnya diperkenalkan oleh seorang tokoh besar William Stern[5]. Harapan William Stern adalah agar manusia memiliki kemampuan untuk melakukan perbuatan dilihat dari perspektif kuantitatif (angka), sehingga menimbulkan istilah anak genius jika memiliki IQ secara kuantitatif mencapai lebih dari 130. Sedangkan dikatakan anak sangat pintar /pandai jika memiliki IQ 120-130. Dikatakan anak pandai/sedang.normal jika memiliki IQ 90-119. Dikatakan anak kurang pandai jika memiliki IQ kurang dari 90.

Anak sekolah yang memiliki nilai rata-rata 8/9 pasti dikatakan anak pandai, sebaliknya jika anak itu hanya memiliki rata-rata nilai 6/7 dikatakan biasa. Bahkan jika memiliki nilai rata-rata 5/6 dikatakan tidak pandai atau lambat. Meskipun anak tersebut memiliki ketrampilan lain misalnya rajin ibadah, patuh kepada orangtuanya dan selalu menghargai orang lain, dalam belajarnya tidak pernah nyontek.

Menurut Daniel Goleman[6] seorang ahli psikologis, menyatakan bahwa IQ bagi seseorang hanya memberikan kontribusi sekitar 5-10 % dari keutuhan manusia, artinya meskipun manusia itu memiliki kecerdasan tinggi (genius) tetapi jika tidak diikuti dengan kecerdasan lainnya maka belum mampu melahirkan profil manusia yang sempurna. Dengan demikian, ketrampilan secara intelektual bagi manusia/peserta didik tidak akan memiliki arti apa-apa dalam menghadapi realitas kehidupan jika tidak diimbangi dengan kecerdasan lainnya di luar kecerdasan intelektual.

IQ dianggap belum mampu mewujudkan kesempurnaan bagi manusia, oleh sebab itu diperlukan kecerdasan dari aspek sosial yang diperkenalkan oleh Daniel Goleman seorang ahli psikologi. Alasan mendasar dari konsep kecerdasan emosional (EQ) adalah bahwa manusia memiliki hak dan kewajiban untuk saling menghormati, menghargai, memahami sesama manusia. Oleh sebab itu manusia perlu memiliki kecerdasan untuk memahami dan menghargai orang lain. Indikasi kecerdasan emosional (EQ) terletak sejauh mana manusia itu mampu empati kepada orang lain, merasakan beban penderitaan orang lain dan sejuh mana manusia  mampu saling menjaga kredibilitas atau nama baik diantara sesama manusia.

Kecerdasan Emosional (EQ) bertumpu pada jalur emosi dalam otak manusia. Implikasinya akan melahirkan perasaan saling menghargai diantara sesama manusia. Setiap orang yang memiliki EQ tinggi pasti akan lebih memahami posisinya sendiri dan mampu memposisikan orang lain, sehingga jika setiap manusia mampu memiliki EQ tinggi secara prediktif akan melahirkan tatanan sosial yang tinggi dan ideal. Proses untuk membangun EQ yang tinggi dilakukan melalui berbagai latihan dalam memahami dan merespon berbagai persoalan sosial.

Kecerdasan Spiritual[7]

Ternyata IQ dan EQ dianggap belum cukup untuk melahirkan kualitas manusia yang sempurna. Sejalan dengan alasan itu, maka tokoh besar bernama Danah Zohar dan Ian Marshall memperkenalkan tentang Kecerdasan Spiritual (SQ). Alasan yang mendasari dari pemikiran ini adalah bahwa dalam diri manusia tidak cukup hanya bertumpu kepada kekuatan otak dan sosial belaka, tetapi justru kekuatan secara spiritual sangat penting dan urgensial[8].

Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall[9], penggagas istilah tehnis SQ (Kecerdasan Spiritual) dikatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (Spiritual Quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’. Menurut Khalil Khavari Kecerdasan Spiritual (SQ) adalah fakultas dari dimensi nonmaterial kita-ruh manusia. Pada sisi lain, Marsha Sinetar mendefinisikan “Kecerdasan Spiritual adalah pikiran yang mendapat inspirasi, dorongan, dan efektivitas yang terinspirasi, the is-ness atau penghayatan ketuhanan yang didalamnya kita semua menjadi bagian”. Menurut Ary Ginanjar Agustian, kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa Kecerdasan Spiritual merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam upaya menggapai kualitas hanif dan ikhlas.

Toni Buzan[10] menyebutkan ada sepuluh konsep dasar yang menjadi tingginya spiritual quotient yakni: mendapatkan gambaran menyeluruh, menggali nilai-nilai, visi dan panggilan hidup, belas kasih (memahami diri sendiri dan orang lain), memberi dan menerima, kemurahan hati dan rasa syukur, kekuatan taqwa, menjadi kanak-kanak kembali, kekuatan spritual, ketentraman, dan yang anda butuhkan hanyalah cinta.

Selanjutnya Danah Zohar menyatakan kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kapling-kapling sedemikian rupa. Kecerdasan Spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang mempunyai SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, manusia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan serta tindakan yang positif. Spiritual Quotient (SQ) merupakan kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk mengfungsikan IQ dan EQ secara efektif.

Seorang yang tinggi SQ-nya cenderung menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian  yaitu seorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi terhadap orang lain, ia dapat memberikan inspirasi terhadap orang lain, ucapan, sikap dan perilakunya bisa dijadikan contoh atau inspirasi orang lain. Orientasi kebijakan kepemimpinanya selalu berpihak kepada yang lemah, selalu taat dan patuh kepada aturan atau norma, sehingga rakyat yang dipimpin benar-benar merasakan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran secara merata. 

Mengoptimalkan Otak Kanan

Di era globalisasi yang sarat dengan tantangan dan problematika kehidupan, maka manusia perlu melakukan usaha secara serius untuk mengembangkan atau mengoptimalkan cara kerja otak kanan. Setiap manusia pasti memiliki otak kanan dan otak kiri. Masing-masing memiliki karakteristik sendiri. Istilah yang sering dikatakan untuk menyebut karakteristik otak kanan adalah lebih artistik, kreatif dan alamiah atau naluriyah. Sedangkan istilah yang lazim dikatakan untuk menyebut karakteristik otak kiri adalah akademik, monoton, intelektual, berfikir hitam putih. Kedua potensi otak bagi manusia adalah saling mendukung dalam meraih kesuksesan. Kekuatan otak kiri dan kanan tidak bisa dinafikan, sebaliknya kekuatan otak kanan juga tidak bisa disepelekan. Kedua kekuatan cara kerja otak kanan dan otak kiri harus dioptimalkan agar meraih kesuksesan khususnya di era globalisasi.

Jika dihadapkan dengan pilihan terkait dengan era globalisasi, maka skala prioritas adalah mendahulukan atau mengoptimalkan cara kerja otak kanan. Sebagian mengatakan bahwa setiap orang yang kuat cara kerjanya otak kanan akan berimplikasi kepada sikap yang mampu atau tahan menghadapi zaman yang penuh ketidakpastian, ketidakmenentuan, tahan menghadapi resiko dan tidak mudah putus asa. Karakteristik otak kanan adalah sebagai berikut:

  1. Acak, belahan otak kanan melakukan olah fikir atau proses berfikir tidak melalui proses yang kaku, monoton atau linier, melainkan cara berfikir yang zig zag, kontekstual penuh dengan seni atau imajinasi yang optimal.
  2. Tidak teratur, belahan otak kanan proses berfikirnya tidak selalu normal sesuai tahapan, melainkan melalui proses yang menuju ide pokok atau ide inti tanpa harus melalui tahapan yang normal.
  3. Intuitif, belahan otak kanan seringkali menemukan ide tau gagasan yang tidak dengan proses yang lama, melainkan dengan waktu yang singkat (jawa : ujug ujug/tiba tiba).
  4. Menyeluruh, belahan otak kanan cara bekerja otaknya selalu mempertimbangkan berbagai aspek kemungkinan yang akan terjadi, artinya cara kerja otak kanan selalu antisipatif terhadap segala kemungkinan yang terjadi. Dengan kata lain selalu dalam kewaspadaan[11].

Berdasarkan karakteristik cara kerja otak kanan, maka setiap orang yang memiliki atau mengoptimalkan otak kanan akan memiliki beberapa kecerdasan sebagai berikut:

Pertama, orang yang memiliki kecerdasan otak kanan, dalam kehidupannya tidak hanya mementingkan produknya saja tetapi juga memiliki kemampuan menjelaskan secara rapi dan indah, sehingga orang lain mudah terkesima. Sesuatu tidak cukup benar saja, tetapi kebenaran itu harus dijelaskan atau dideskripsikan secara tepat, baik dan teratur. Meskipun sesuatu itu mengandung nilai-nilai kebaikan/kebenaran jika tidak mampu dijelaskan secara rapi, tepat dan sistematis maka kebaikan dan kebenaran yang terkandung di dalamnya akan mudah sirna.

Kedua, Orang yang memiliki kecerdasan otak kanan, dalam kehidupananya tidak cukup hanya menjelaskan inti persoalan, melainkan memiliki ketrampilan mengelaborasi inti persoalan secara tepat. Artinya cara kerja kecerdasan otak kanan tidak hanya meliputi satu aspek saja, melainkan selalu melihat dari berbagai aspek yang ada, sehingga setiap persoalan selalu dalam kondisi utuh atau komprehesnif.

Ketiga, Orang yang memiliki kecerdasan otak kanan, tidak cukup berfikir atau bersikap logis, melainkan mereka memiliki ketrampilan menarik empati dari orang lain. Orang yang memiliki kecerdasan otak kanan, selalu memiliki dua hal logis dan empati, sehingga semua persoalan mudah dilalui tanpa beban.

Keempat, orang yang memiliki kecerdasan otak kanan, dalam menjalankan tugasnya selalu serius tetapi diiringi dengan sikap yang santai, damai, sabar, sehingga setiap pekerjaan meskipun itu berat atau beresiko tinggi, tetapi dilaksanakan dengan penuh santai dan tenang.

 Begitu indahnya kecerdasan otak kanan manusia, sebagian orang mengatakan bahwa otak kanan adalah otak yang mempengaruhi perasaan sehingga sikap dan perilaku manusia selalu mempertimbangkan perasaan dirinya maupun orang lain. Otak kanan juga disebut sebagai otak sosial, maka dalam melaksanakan pekerjaanya akan selalu penuh pengertian kepada orang lain. Otak kanan juga disebut sebagai otak bisnis, karena pekerjaan bisnis akan mudah sukses jika diimbangi dengan kecerdasan otak kanan. Otak kanan juga ada yang menyebut otak kreatif, sehingga setiap orang yang memiliki kecerdasan otak kanan akan penuh dengan kreativitas yang tinggi.

Krisis Beragama

Agama merupakan fenomena yang universal, artinya setiap manusia sesuai dengan zamanya selalu memiliki keyakinan atau kepercayaan melebihi kekuatan akal pikiran manusia. Setiap orang selalu menyadari adanya kekuatan yang dahsyat di luar dirinya yang menentukan kesuksesan perjuangan manusia. Agama ibarat uang logam yang memiliki dua sisi yang tidak mungkin dipisahkan yaitu dimensi supranatural (transendental) dan dimensi rasional (realitas sosial). Dalam pandangan Emile Dhurkheim yang dikutip Sindung Haryanto[12] dalam buku “ Sosiologi Agama”, dikatakan bahwa agama memiliki konsepsi sakral dan profan. Konsepsi sakral menunjuk sesuatu yang suci, berketuhanan, tidak bisa di jangkau oleh akal pikiran manusia. Dimensi profan menunjuk pada dunia nyata, realitas kehidupan manusia sehari hari yang dikendalikan oleh akal pikir manusia. Dengan kata lain, sakral sama dengan wahyu, profan sama dengan tradisi atau budaya. Artinya  agama adalah sebuah entitas dan realitas yang selalu berubah dan berkembang secara evolutif, sehingga pemahaman atau penafsiran juga harus dilakukan secara kontekstual atau kondisional berdasarkan dinamika budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Masyarakat yang keyakinan beragama didominasi oleh dimensi sakral, merasa bahwa agama tidak boleh di kotori, dihina dan dilecehkan oleh siapapun. Karena agama adalah sesuatu yang suci dan harus dijunjung tinggi. Merendahkan atau melecehkan agama berarti merendahkan Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Pesan atau teks agama (wahyu) bersifat final, tetap, statis tidak boleh dimaknai selain seperti yang tersurat (tekstual). Beragamanya dilakukan dengan klaim kebenaran sehingga merasa dirinya paling benar, menuduh orang lain salah bahkan tidak segan segan memberi predikat kafir, musyrik kepada siapapun yang pemahaman terhadap agama tidak sama dengan dirinya. Melihat agama secara hitam putih dengan menitikberatkan pengamalan agama yang bersifat formalistik-ritualistik.

Misi semua agama selalu mengajarkan kebaikan dunia dan akherat. Agama Islam adalah agama yang diturunkan dengan misi yang sangat kompleks, utuh dan komprehensif sehingg agama Islam disebut agama yang sempurna (kamil) bagi kehidupan para pemeluknya baik selama di dunia maupun di akherat. Di era globalisasi atau juga disebut era teknologi informasi atau milenial, agama justru terasa keras, kurang menjadi perekat persatuan. Agama seringkali disalahgunakan oleh oknum pemeluknya. Mengatasnamakan agama untuk melakukan kejahatan. Ujaran kebencian dikatakan mengingatkan atau antisipasi, memfitnah orang lain dikatakan memberi peringatan sejak dini, melakukan amar makruf tetapi dengan cara cara yang kotor dan merugikan orang lain. Politik yang seharusnya dijadikan sarana mewujudkan kesejahteraan dan keadilan justru dijadikan tujuan utama yang dilakukan melalui cara-cara yang tidak produktif. 

 Ada yang mengatakan zaman sekarang sudah masuk zaman akhir, karena salah satu zaman akhir adalah zaman dimana rasulullah sudah wafat. Sebagaimana sabdanya dalam suatu hadits  “‘Hitunglah enam (tanda) menjelang datangnya hari Kiamat  dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan diantaranya : ‘Kematianku’.” (HR. Al-Bukhari).

Ada enam kelemahan dalam memahami agama bagi bangsa Indonesia yang mengakibatkan mudahnya dipicu gesekan atau konflik horizontal antar pemeluk agama. Enam kelemahan tersebut antara lain:

  1. Dalam aspek teologi, berifat jabariyah atau fatalistik sehingga tidak kondusif untuk melakukan perubahan dan kemajuan.
  2. Dalam aspek moral (akhlaq) hanya menekankan ajaran sopan santun yang bersifat personal (kesalehan individual) sehingga agama terkesan hanya urusan pribadi (privat) bukan urusan sosial.
  3. Dalam aspek ibadah hanya terjebak pada amalan atau tindakan rutinitas yang kering makna.
  4. Dalam aspek hukum (fiqh) dianggap sudah final dan lebih memperhatikan bunyi hukum ketimbang semangat atau maknanya.
  5. Agama lebih dipahami hanya sebagai dogma tidak memperkuat kapasitas dan kualitas rasional sehingga tidak memiliki semangat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  6. Belajar al-Qur’an lebih menekankan pada bacaanya bukan pada upaya untuk menemukan maknanya.[13]

Kualitas beragama bangsa Indonesia dapat dilihat dan dirasakan lebih didominasi dimensi sakral, setidaknya jika dilihat dari komentar dan juga sikap dan perilaku umat Islam melalui sosial media seperti WhatsApp (WA), Twitter, Facebook (FB), Instagram (IG). Setiap hari bahkan setiap jam, bisa di baca berita-berita baik melalui akun personal maupun lembaga yang isinya berupa kata-kata mendeskriditkan kelompok lain yang dibungkus dengan issu agama (Islam). Kalimat Takbir “Allahu Akbar”, yang seharusnya untuk motivasi mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT, justru dijadikan sarana membakar semangat dan emosi peserta aksi massa yang tujuanya menggagalkan salah satu pasangan calon pilkada dan juga menekan aparat hukum untuk memenjarakan seseorang yang dianggap menistakan agama atau menolak oknum yang akan dipenjara dengan alasan kriminalisasi ulama.

 Bulan ramadhan, bulan yang suci dan penuh berkah, dijadikan momentum melakukan kekerasan, merusak tempat hiburan dan merazia warung makan. Anehnya, mengatasnamakan amar ma’ruf (mengajak berbuat kebaikan) dan nahi mungkar (melarang perbuatan jahat), tetapi dilakukan dengan cara-cara kekerasan yang lebih menakutkan, lebih mencekam dan lebih mengerikan bagi siapapun. Terhadap sesama agama, hanya gara-gara dianggap memiliki keyakinan dan cara beribadah yang berbeda, dianggap telah menyebarkan ajaran sesat sehingga tega melakukan penyerangan dan penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia.

Toleransi antar agama juga dipersoalkan, dianggap merusak keyakinan atau keimanan. Mengucapkan selamat hari raya kepada agama lain dilarang dan dianggap haram. Tokoh atau ilmuan yang memiliki pemikiran berbeda dilarang atau ditolak menjadi nara sumber seminar atau diskusi keagamaan. Agama lain diposisikan sebagai musuh yang harus dilawan dan dimusnahkan, sehingga setiap agama lain merayakan upacara keagamaan aparat hukum mengerahkan pasukan untuk mengantisiapsi dan menjaga hal hal yang tidak diinginkan. Apa akibatnya?, Islam terkesan agama yang jauh dari kedamaian, ketenangan dan keharmonisan. Islam terkesan agama yang tidak mengenal nilai nilai kemanusiaan. Islam terkesan agama yang menebar kebencian dan anarkhis. Islam terkesan anti demokrasi dan toleransi. Fenomena inilah yang melahirkan kelompok Islam phobia (takut kepada Islam) sehingga melakukan propaganda dengan menyatakan Islam agama teroris dan kriminal.

Islam adalah agama yang sangat membutuhkan rasionalitas para pemeluknya. Teks atau pesan agama Islam harus dipahami menggunakan daya nalar atau logika yang mapan dan tepat. Islam akan mudah dipahami jika di jelaskan menggunakan nalar atau rasio yang tepat sesuai situasi dan kondisi berdasarkan dinamika ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.

Sejarah Perkembangan Islam[14]

Islam Indonesia bukan berarti Islam hanya dimiliki orang Indonesia. Bukan pula Islam hanya berlaku di Indoensia. Islam Indonesia adalah sekumpulan orang Indonesia yang memahami, meyakini dan menjalankan nilai nilai ajaran Islam sesuai dengan situasi dan tradisi yang ada di Indonesia. Pemahaman atau cara pandang muslim Indonesia terhadap Islam dapat dikatakan dalam kategori memprihatinkan. Cara pandang yang dipakai seringkali hanya dengan satu pendekatan (mono approach) pendekatan fiqh atau tauhid saja. Akibatnya melahirkan cara pandang yang kaku, tekstualis,  normatif, dan tidak responsif terhadap dinamika ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.

Masuknya Islam ke Indonesia berbeda dengan masuknya Islam di negara-negara lain seperti Iraq, Mesir, Damaskus, Spanyol dan negara lain yang ada di benua Eropa dan Amerika. Islam masuk dan berkembang di Indonesia dalam suasana santun, damai, menyenangkan dan tidak menyinggung atau menyakiti penduduk asli, karena Islam dikembangkan melalui jalur yang sangat kultural yaitu melalui proses perdagangan, perdamaian, perkawinan, pendidikan, seni budaya dan tasawuf. Sedangkan masuknya Islam di negara negara wilayah Eropa, Afrika dan Amerika dilakukan dengan cara cara kekerasan yaitu penaklukan atau peperangan sehingga menyinggung dan menyakiti penduduk asli yang menempati wilayah tersebut.
Islam di Luar Negeri

Mengetahui dan memhami Islam di luar negeri khususnya wilayah Timur Tengah, Afrika dan Eropa harus dilihat dari sejarah perjalanannya, bagaimana Islam pertama kali disebarkan. Islam masuk ke Irak pada masa kekhalifahan Abu Bakar yang diperkirakan antara tahun 632-634 M. Abu Bakar menunjuk Khalid ibn al Walid untuk melakukan misi penyebaran Islam ke Irak. Abu Bakar berpesan agar Khalid bin al Walid bersikap santun, sopan, penuh etika kepada penduduk Irak kecuali bagi para pembangkang atau pemberontak. Terhadap kelompok yang dianggap membangkang maka diselesaikan dengan peperangan.

Pada masa kekhalifahan Umar ibn Khattab ( 634-644 M), juga melakukan penaklukan Mesir, Damaskus, Suriah dan Palestina. Islam masuk Mesir pada saat Mesir di bawah penjajahan (kekuasaan) bangsa Romawi Timur dengan gubernur bernama Mauqauqis. Selama penjajahan Romawi, bangsa Mesir menderita lahir batin akibat arogansi penjajah yang tidak mengenal perikemanusisan. Melihat beban penderitaan masyarakat Mesir, Amru bin Ash meminta restu kepada Khalifah Umar bin Khattab untuk membebaskan bangsa Mesir dari kekejaman penjajah Romawi Timur. Al hasil, Khalifah Umar bin Khattab merestui, sehingga Amru bin Ash segera menyiapkan pasukan untuk menaklukan Mesir. Bermodal 40000 (empatpuluh ribu) pasukan, Amru bin Ash siap membebaskan bangsa Mesir yang hidupnya penuh penderitaan. Sebelum peperangan dimulai, Amru bin Ash menawarkan tiga pilihan kepada penguasa Mesir, mau masuk Islam dengan kesadaran sendiri, membayar jizyah, atau perang. Tawaran pertama dan kedua ditolak, maka terjadilah perang yang dimenangkan pasukan Islam.

Setelah sukses menaklukan Mesir, Umar ibn Khattab melanjutkan untuk menaklukan Damaskus yang sebelumnya di kuasai oleh Kaisar Heraklitus. Penaklukan Damaskus dianggap penting karena akan menjadi pintu masuk untuk menguasai wilayah lainnya seperti Suriah dan Palestina. Dengan strategi penempatan pasukan di empat pintu gerbang,  maka dalam waktu enam bulan Damaskus akhirnya bisa di taklukkan. Empat pintu gerbang yang dikuasai itu adalah, Khalid ibn al Walid menjaga gerbang Timur (bab asyraq), Amr bin Ash menjaga pintu gerbang Thomas (bab thuma), Ubaidillah menjaga pintu gerbang Jabiyyah dan Yazid ibn Abi Sofyan menjaga pintu gerbang Faradis[15].

Islam masuk ke wilayah Afrika dilakukan oleh khalifah ketiga yaitu Utsman ibn Affan (644-656 M). Pada masa pemerintahan Utsman ibn Affan terjadi penghasutan yang dilakukan oleh penguasa Romawi kepada masyarakat agar melakukan pemberontakan kepada pemerintahan Muslim. Terhadap peristiwa penghasutan yang dilakukan orang orang Romawi, akhirnya Utsman ibn Affan memerintahkan Amru ibn Ash untuk memimpin pasukan dan perang melawan penguasa Romawi dengan maksud menghilangkan para penghasut umat Islam. Perang antara pasukan Muslim dengan pasukan Romawi tidak terelakan dan peperangan dimenangkan oleh pasukan muslim, sehingga akhirnya Tunis bisa ditaklukan dan dikuasi oleh umat Islam[16].

 Selain berkembang di wilayah Timur Tengah dan Afrika, Islam juga berkembang di wilayah benua Eropa Barat Daya yaitu Spanyol. Masuknya Islam ke wilayah Spanyol dilakukan dengan menaklukkan Andalusia yang sebelumnya di kuasai oleh Kristen Eropa. Melalui peperangan panjang dan melelahkan akhirnya pasukan Islam yang dipimpin oleh Abdurrahman ad-Dakhil pada tahun 756 M berhasil menaklukan kota Cordoba sampai akhirnya mampu mewujudkan kejayaan Islam di Spanyol. Peninggalan sejarah Abdurrahman ad-Dakhil yang masih ada sampai sekarang adalah bangunan masjid Agung Cordoba yang menjadi bukti kejayaan Islam di Spanyol.

Bagaimana Islam Indonesia?

Islam masuk ke Indonesia dapat diketahui melalui tiga teori yaitu teori Arab (Makkah/Mesir), teori Persia dan teori Gujarat[17]. Menurut teori Arab, Islam ke Indonesia pada abad ke 7 M dibawa oleh para pedagang atau saudagar dari Arab. Pendapat ini dudukung oleh beberapa sejarahwan Indonesia salah satunya adalah Buya Hamka.

Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 yang dibawa para saudagar Arab dikuatkan dengan beberapa alasan sebagai berikut:

  1. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From Chinese source, dimana pada hikayat Dinasti Tang memberitahukan bahwa pada tahun 674 orang Arab muslim telah berkunjung ke Holing (Kalingga/Keling Jepara) Jawa Tengah.
  2. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam Comes to Malaysia mengungkapkan bahwa kaum muslimin Arab datang ke Malaya diperkirakan pada tahun 674 M.
  3. Gerini dalam Futher India and non-Malaya Archipelago, menjelaskan bahwa kaum muslimin sudah ada di kawasan India, Nusantara dan Malaya diperkirakan antara tahun 606 s/d 699 M.

Berdasarkan teori Persia, Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 11, dibawa oleh para pedagang dari wilayah Persia (Iran). Teori  ini didukung dan  diperkuat oleh tokoh sejarah bernama Umar Amir Husain dan Hoessain Djajadiningrat yang disertai alasan sebagai berikut:

  1. Ada persamaan dalam merayakan peringatan 10 muharram atau asyura antara di Iran dan Indonesia. Bagi masyarakat Iran, 10 muharram diperingati sebagai meninggalnya Hasan Husain cucu Nabi Muhamamd SAW, putra Sayyidina Ali, sedangkan bagi masyarakat Sumatera Barat pada tanggal 10 muharram ada upacara yang disebut upacara Tabuik/Tabut.
  2. Ada persamaan ajaran sufi (tarekat) yang dianut di Iran (al-Hallaj) dengan tarekat atau sufi yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar di Indonesia.
  3. Adanya penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda tanda bunyi harokat.

Berdasarkan teori Gujarat, Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 yang diperkuat dengan beberapa alasan atau bukti sejarah sebagai berikut:

  1. Ditemukan inskripsi tertua tentang Islam yang berada di Sumatera pada tahun 1297 M. Inskripsi ini memberikan informasi atau gambaran tentang hubungan antara masyarakat Sumatera dengan bangsa Gujarat (India).
  2. Ditemukan nisan makam Raja Samudera Pasai, Sultan Malik as-Saleh yang di atas nisan tertulis angka 1297 M.
  3. Catatan perjalanan Marco Polo yang menerangkan bahwa ia pernah singgah di Perlak pada tahun 1292 M dan sudah berjumpa dengan orang-orang muslim (para penganut ajaran Islam).

Semua teori tersebut di atas, menjelaskan bahwa Islam masuk ke Indoensia tidak dibawa oleh tentara (prajurit) yang dipimpin oleh seorang panglima perang yang gagah dan berani bersenjatakan pedang dan panah. Islam masuk ke Indoensia di bawa oleh rombongan para pedagang (saudagar) dari Arab ( Mesir), Persia (Iran) dan Gujarat ( India) yang disebarkan dengan 6 (enam) cara yaitu;

  1. Melalui perdagangan
  2. Melalui perkawinan (pernikahan)
  3. Melalui proses struktur sosial (mengIslamkan para raja dan keluara raja)
  4. Melalui jalur pendidikan (pondok pesantren),
  5. Melalui jalur seni budaya (gamelan dan wayang), dan
  6. Melalui ajaran tasawuf (tarekat).

Keenam jalur atau cara mendakwahkan Islam, semuanya bersifat kultural, dilakukan secara damai dan tanpa paksaan. Islam bisa berkembang pesat karena disampaikan dan ditampilkan dengan cara-cara yang dianggap cocok dan tidak mengancam tradisi yang sudah ada di Indonesia sebelumnya.

Seperti halnya teori jual beli (perdagangan) Islam dipasarkan kepada masyarakat Indonesia dikemas dengan perkataan yang halus, baik, sikap sopan santun dan penuh kasih sayang. Hubungan persaudaraan di lakukan atas dasar ketertarikan dengan sikap lemah lebutnya para saudagar dalam menjelaskan dan mengajak untuk memeluk agama Islam. Setiap pedagang lebih mengutamakan ketenangan, kesopanan, menjaga hubungan baik dengan siapapun. Konsekeunsinya para pedagang dalam mendakwahkan Islam juga selalu dilakukan dengan penuh sopan santun dan kasih sayang.

Selain dengan proses perdagangan, para saudagar dalam menyebarkan Islam dilakukan dengan proses pernikahan (perkawinan) dengan penduduk pribumi Indonesia. Pernikahan dapat dilakukan jika dilandasi suka sama suka, saling menerima, tidak ada paksaan satu dengan lainya. Artinya orang Indonesia yang masuk Islam dilakukan atas dasar kesadaran, tanpa ada paksaan atau intimidasi satu dengan lainnya

Perkawinan atau pernikahan selalu dilaksanakan atas dasar suka sama suka, atas dasar saling cinta kasih, saling memahami diantaranya keduanya. Dengan jalur perkawinan inilah, Islam bisa diterima dengan dasar suka sama suka, saling kasih sayang. Mereka masuk Islam bukan karena paksaan atau ketakutan melainkan justru karena merasa nyaman, dan cocok dengan karakteristik agama Islam yang dibawa para pendahulu.

MengIslamkan melalui jalur stratifikasi sosial, dilakukan dengan cara meyakinkan para elit pemerintahan (kerajaan) sampai para elit kerajaan merasa cocok dan tertarik dengan sikap dan perilaku tokoh-tokoh Islam. Jika para elit kerajaan memeluk Islam maka diharapkan secara kultural akan diikuti para prajurit atau bawahan raja. Al hasil harapan tersebut menjadi kenyataan. Masuknya Islam para raja atau elit kerajaan berpengaruh besar kepada banyaknya prajurit yang ingin masuk Islam mengikuti rajanya.

Pendidikan merupakan proses yang lebih mengedepankan kemanusiaan (humanisasi), oleh sebab itu jika Islam disebarkan dan dikembangkan melalui pendidikan akan lebih mengutamakan cara atau metode yang ramah, santun dan tidak menakutkan. Pendidikan lebih menekankan proses penyadaran, begitu juga jika Islam dikembangkan melalui pendidikan berarti lebih menekankan proses penyadaran ketimbang paksaan.   

Cara lain untuk menarik simpati bangsa Indonesia agar bersedia masuk Islam di lakukan melalui jalur seni budaya seperti yang dilakukan para Walisongo pada saat menyebarkan Islam di tanah Jawa. Salah satu ulama besar bernama Raden Mas Said yang terkenal dengan nama Sunan Kalijaga berhasil memasukan nilai nilai agama Islam melalui kisah atau cerita wayang kulit, seperti jimat kalimosodo yang sebenarnya adalah dua kalimah syahadat yang menjadi syarat seseorang menjadi muslim. Keluarga Pendowo lima (jawa: limo/5) dalam kisah wayang kulit adalah keluarga yang terdiri dari lima orang laki-laki semua, yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dirubah oleh Sunan Kalijaga dengan lima macam rukun Islam yang terdiri dari syahadat, shalat, zakat, puasa ramadhan dan haji. Ulama besar lainnya Raden Maulana Makdum Ibrahim yang terkenal dengan nama Sunan Bonang juga berhasil memasukan nilai nilai ajaran Islam melalui gamelan atau gending yang terkenal yaitu Tombo Ati yang berisi resep ampuh untuk membersihkan hati dan selalu dekat kepada Allah Swt.

  Tasawuf adalah suatu ajaran dan keyakinan yang menekankan pentingnya membersihkan diri dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tasawuf mengharuskan agar selalu berbuat baik kepada siapapun, selalu ihlas dalam berbuat atau beramal, tidak boleh menyakiti orang lain walaupun dirinya diperlakukan yang tidak baik, tasawuf selalu mengajarkan setiap manusai harus sabar dalam menghadapi semua fenomena yang menyakitkan atau yang merugikan.. Hal ini membawa konsekuensi jika Islam dikembangkan melalui tasawuf sudah tentu lebih mengedepankan cara-cara yang halus, damai, tanpa menyakiti siapapun.

Dakwah Islam seperti yang dilakukan oleh para saudagar Arab, Persia dan Gujarat, juga yang dilakukan Walisongo tidak cukup hanya dikenang tetapi harus benar-benar ditiru dan dikembangkan dengan lebih modern, serta tetap mengedepankan cara-cara damai, santun, cultural. Hanya dengan cara itulah kita bisa merawat Islam Indonesia agar mampu menjadi pusat percontohan peradaban agama di dunia.

Islam Agama Rasional

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi akal manusia. Walaupun Al-Qur’an al-Karim tidak menggunakan  kata ‘aqala yang berarti akal atau rasional tetapi kata akal sering digunakan dengan kata kerja dari ‘aqala dalam bentuk ya’qilun dan ta’qilun. Masing-masing muncul dalam al-Qur’an sebanyak 22 dan 24 kali. Jika manusia menggunakan akal pikiranya akan mudah menerima ajaran dan ajakan untuk melaksanakan kebaikan. Firman Allah “ Dan apabila kamu menyeru mereka untuk mengerjakan sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau menggunakan akal (QS. Al Maidah : 58).

Akal manusia juga bisa menjadi potensi yang menyebabkan seseorang beriman kepada Allah SWT. Firman Allah SWT  “Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang orang yang berakal yaitu orang orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu (QS. At Thalaq : 10).

Akal manusia akan mampu mengetahui, memahami dan mengambil makna atau pelajaran dari semua peristiwa atau realita yang ada di sekitar kehidupan manusia. Firman Allah “ Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanaman tanaman yang bermacam macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kuning kuning, kemudian dijadikan-Nya hancur berdcerai berai. Sesungguhnya pada yang demikian  itu benar benar terdapat pelajaran bagi orang orang yang mempunyai akal “ (QS. Az Zumar : 21).

   Sahabat Nabi yang juga menantu Rasulullah Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata “Tsamarotul aqli luzuumul haqqi”; Hasil (mengikuti) akal adalah komitmen pada kebenaran. Artinya dengan menggunakan akal secara optimal akan menemukan kepada kebenaran yang sejati. Ilmuwan barat Albert Einstein juga mengatakan “Science without religion is lame, raligion without science is blind”,  Ilmu pengetahuan tanpa agama niscaya lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan akan buta. Akal (ilmu) selalu berbarengan dengan agama, oleh sebab itu agama tanpa didukung dengan akal (ilmu pengetahuan) tidak akan bermakna apa-apa, sebaliknya akal (ilmu pengetahaun) tidak dilengkapi dengan agama maka ilmu (akal) tersebut tidak akan mampu berbuat banyak.

Diplomat Jerman bernama Dr Murad Wilfried Hofmann[18], akhirnya bersedia menerima (masuk ) Islam karena memandang Islam dengan menggunakan akal pikiranya. Dalam bukunya yang berjudul Trend Islam 2000, Wilfried  Hofmann menyebutkan, ada tiga sikap muslim terhadap masa depan mereka. Yakni, kelompok pesimis (yang melihat perjalanan sejarah selalu menurun), kelompok stagnan (yang melihat sejarah Islam seperti gelombang yang naik turun), dan ketiga kelompok optimis (umat yang melihat masa depannya terus maju). Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk senantiasa bersikap optimis dan menatap hari esok yang lebih baik.

Setidaknya ada tiga macam pendekatan (madzhab) dalam memahami ajaran Islam antara lain ; Pertama pendekatan  Zahiri (tekstualisme)[19]. Kelompok ini berpandangan bahwa agama adalah tekstual (zahir)nya  tanpa mempedulikan makna yang terkandung di dalamnya. Contoh tokoh yang menggunakan pendekatan ini adalah Anas bin Malik. Kelompok ini  menolak dengan tegas segala macam pemahaman  atau argumentasi akal. Merekapun berusaha untuk menjaga dimunculkannya permasalahan dan pemikiran baru yang masuk dalam ajaran agama, oleh karenanya mereka menolak berbagai pertanyaan yang menimbulkan munculnya permasalahan baru.

Kedua, Pendekatan  Aqli (rasionalisme). Kelompok ini berpandangan bahwa segala macam ajaran agama bisa dideteksi melalui rasio, justru akal akan mampu mengungkap dan menemukan kebenaran yang ada di balik ajaran atau teks agama. Manusia yang bersedia menggunakan akal pikiranmya akan mampu memperoleh profil kepribadian agama yang sempurna.

Ketiga, Pendekatan  Insijam (komplementerisme). Kelompok ini  meyakini adanya relasi antara rasio dengan syariat (agama). Mereka meyakini bahwa kekuatan agama juga didukung oleh kekuatan akal pikiran. Agama akan menghasilkan manfaat yang besar bagi para pemeluknya jika diikuti dengan keyakinan (iman) dan juga kebenaran akal pikiran manusia. Agama dan akal ibarat dua sisi mata uang logam yang tidak mungkin di bedakan, masing masing saling melengkapi dan menyempurnakan.

Rasionalisasi Ayat perang

Pemahaman terhadap teks agama sangat penting dalam mewujudkan tatanan kehidupan sosial yang ramah, damai, aman, nyaman penuh peradaban. Teks agama memiliki makna dan pesan dalam membangun peradaban suatu bangsa. Peradaban itu bisa dikotori oleh kesalahan dalam memahami teks yang ada di dalam norma agama (al-Qur’an dan hadist). Banyak teks agama yang harus dipahami agar pemeluk agama tidak salah dalam melaksanakan dalam kehidupan sosial.

Guru PAI khususnya di jenjang Madrasah Aliyah (MA) harus mampu memberikan wawasan dan penjelasan tentang norma-norma yang ada di dalam agama secara utuh dan komprehensif. Misalnya ayat tentang perang, harus dijelaskan makna yang terkandung di dalamnya agar peserta didik tidak salah memahaminya. Ayat yang menerangkan kebencian terhadap orang kafir juga harus di berikan pemahamn secara utuh agar tidak mudah salah paham terhadap orang yang berbeda agama. Ayat tentang diperbolehkan laki-laki memiliki maksimal 4 (empat) isteri juga harus dipahami secara utuh agar memiliki pemahaman tentang konsep keadilan secara baik dan benar.

 Perang secara ekplisit telah banyak dijelaskan di dalam al-Qur’an. Banyak sekali ayat  yang mengurai tentang perang dengan berbagai istilah dan suasana. Dalam al-Qur’an Surah An- Nisa ayat 74-76 ”Karena itu, hendaklah orang orang yang menjual kehidupan dunia untuk kehidupan akherat berperang di jalan Allah. Dan barang siapa berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka Kami berikan pahala yang besar kepadanya. Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah  dan membela yang lemah baik laki laki, perempuan maupun anak anak yang berdoa ” Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya dzalim, berilah kami pelindung dan penolong dari sisiMu. Orang- orang yang beriman mereka berperang di jalan Allah dan orang-orang yang kafir berperang di jalan taghut, maka perangilah kawan kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu lemah “.

             Surah An Nisa ayat 74-76 berkaitan  dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 71 dimana umat Islam diperintahkan memiliki kesiapan untuk melakukan berbagai upaya menghalau musuh. Menurut Sayyid Qutub, ayat tersebut berkaitan dengan perang uhud dan perang khandaq. Setelah perang uhud dan perang khandaq banyak umat Islam yang takut untuk mengikuti perang dan bahkan tidak memiliki semangat untuk berjuang membela agama Islam. Umat Islam lebih mementingkan kehidupan dunia atau materi ketimbang kehidupan akherat yang bisa dilakukan dengan cara jihad atau perang menegakan agama Allah SWT.

      Berdasarkan peristiwa tersebut, perintah atau kata perang dalam ayat tersebut tidak bisa bermakna selamanya dan ditujukan kepada semua umat Islam yang berlaku sepanjang zaman. Artinya perintah perang dalam surah tersebut bersifat lokalistik dan terbatas ruang dan waktu. Ayat tersebut ditujukan kepada umat Islam saat itu yang baru saja memiliki pengalaman melakukan perang uhud dan perang khandaq. Ayat tersebut dimaksudkan untuk memberi semangat kepada umat Islam pada saat itu, yang  telah menurun motivasi berjuang menegakan agama karena kalah perang. Ayat ini dapat dipahami pentingnya bagi umat Islam untuk selalu memiliki ucapan, sikap dan tindakan yang menggembirakan orang lain. Sebagai umat Islam tidak boleh menakut- nakuti atau melakukan teror kepada siapapun.

Nilai edukatif[20] yang perlu diambil dari ayat ini adalah setiap umat Islam harus selalu memiliki semangat tinggi untuk melakukan pekerjaan atau kegiatan. Umat Islam tidak boleh mudah putus asa dan patah semangat dalam mencari atau meraih keberhasilan. Apapun pekerjaan jika dilakukan dengan semangat atau motivasi yang tinggi maka akan memiliki peluang besar untuk sukses. Ayat tersebut tidak bisa hanya dimaknai perintah perang, sehingga umat Islam harus melakukan perang dengan orang-orang yang dianggap kafir atau tidak sesuai dengan kayakinanya. Keberhasilan seseorang dalam meraih cita cita atau kesuksesan sangat ditentukan oleh tingginya semangat atau motivasi. Apapun jenis pekerjaannya, seberat apapun tugas jika dilakukan dengan penuh semangat atau motovasi tinggi, maka akan meraih kesuksesan.

Dari perspektif pendidikan, motivasi sedikitnya ada dua macam yaitu motivasi yang bersifat instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah upaya untuk menumbuhkan semangat yang dilakukan dengan cara membangun komitmen dan keinginan dari dalam diri sendiri. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membangun cita cita yang luhur, keinginan yang tinggi atau memiliki keinginnan atau hasrat yang kuat untuk sukses yang berbeda dengan lainnya. Orang yang memiliki keinginnan lebih besar dan berbeda dengan orang lain maka akan memiliki semangat atau motivasi tinggi.

Motivasi ekstrinsik adalah upaya untuk menumbuhkan semangat yang dilakukan dengan cara dipaksa dari luar dirinya. Hal ini bisa dilakukan dengan cara meminta dukungan atau dorongan dari orang lain yang ada di sekitarnya. Orang sekitar bisa berupa dukungan keluarga, teman dekat atau teman sejawat dalam kerja. Artinya motivasi meraih kesuksesan akan tumbuh jika didukung oleh kerabat dan teman dekatnya. Oleh sebab itu untuk membangun motivasi secara ekstrinsik harus dilakukan dengan cara memiliki kerabat atau teman yang selalu mendorong untuk melakukan kebaikan atau hal hal yang bermanfaat.

          Perang juga dijelaskan di dalam al-Qur’an Surah Al Baqarah ayat 190-192 ” Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang melampui batas. Dan bunuhlah mereka dimana kamu temui mereka, dan usirlah mereka sebagaimana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan. Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada fitnah lagi, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti maka tidak ada lagi permusuhan kecuali terhadap  orang-orang zalim “.

            Dilihat dari aspek kalimat, ayat ini memiliki makna atau pesan sangat mulia. Meskipun tekstualnya tentang perang tetapi dibalik teks perang terdapat nilai nilai atau makna yang sangat luhur. Ayat 190 memiliki pesan bahwa umat Islam tidak boleh memiliki sikap kepribadian yang berlebihan atau melampui batas. Bahkan jika  harus melakukan peperangan juga tidak boleh melebihi batas atau berlebihan. Sikap yang berlebihan dalam menghadapi atau melihat fenomena sosial akan berakibat buruk. Sebagai manusia yang nota benenya mahluk sosial tidak boleh berlebihan atau ekstrim dalam melihat dan bersikap. Moderat dalam berfikir serta moderat dalam  bersikap merupakan karakter yang sangat baik untuk membangun tatanan sistem kehidupan. Dalam Islam juga sudah diatur, bahwa apa yang dianggap baik oleh manusia belum tentu baik menurut Allah, sebaliknya apa yang dianggap jelek oleh manusia juga belum tentu jelek menurut Allah SWT. Oleh sebab itu sebagai manusia harus mampu bersikap yang tengah-tengah atau moderat dalam melihat dan mensikapi sesuatu.

          Ayat 191 meskipun secara tekstual menjelaskan tentang perang, tetapi dibalik ayat tersebut memiliki makna edukatif yang harus diketahui dan dipahami oleh umat Islam. Perang yang dimaksud dalam ayat 191 adalah dimaksudkan untuk memberantas atau menghilangkan fitnah. Oleh sebab itu alasan untuk melakukan perang jika dalam realitas sosial benar-benar telah terjadi saling fitnah satu dengan lainnya baik yang bersifat personal maupun kelompok. Sebagai umat Islam yang berkualitas, harus mampun menghindari dan menghilangkan fitnah antara satu dengan lainnya. Fitnah tidak akan bisa menyelesaikan persoalan bangsa. Semakin banyak fitnah akan semakin hancur bangsa ini, sebaliknya semakin bersih dari fitnah maka akan semakin baik tatanan sosial masyarakat.

       Dalam konteks pendidikan, fitnah adalah mengatakan sesuatu atau memberikan informasi kepada pihak lain yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Fitnah sama dengan bohong atau dusta. Manusia yang suka memfitnah, bohong atau dusta tidak akan disenangi sesama, sehingga manusia yang sering memfitnah akan mengalami kesulitan dan meraih keberhasilan. Kesuksesan seseorang ditentukan oleh aspek sosialnya yaitu bagaimana seseorang itu dianggap baik oleh pihak-pihak lain sehingga akan mudah mencapai keberhasilan. Dilihat dari aspek tekstualnya adalah berbicara tentang perang, tetapi dibalik tekstualnya terdapat pelajaran sangat berharga bahwa sebagai umat Islam yang baik harus selalu menghindari fitnah, jangan sampai berkata bohong atau berdusta, karena suka memfitnah dan berkata bohong tidak hanya merugikan orang lain tetapi juga akan menghancurkan masa depan atau karir diri sendiri.

   Perang juga dijelaskan dalam surah Ali Imron ayat 156 ” Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir yang mengatakan kepada saudara-saudaranya apabila mereka mengadakan perjalanan di bumi atau berperang, sekiranya mereka tetap bersama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak terbunuh. Dengan perkataan yang demikian itu, karena Allah hendak menimbulkan rasa penyesalan di hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

Radikalisme Dalam Agama

Radikalisme agama secara umum diartikan sebuah kekerasan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok dengan atas nama agama. Munculnya kekerasan yang berkedok agama lebih disebabkan oleh adanya otoritarianisme terhadap teks yang ada di dalam al-Qur’an maupun Hadits. Ada beberapa teks atau nash al-Qur’an yang secara eksplisit memerintahkan kekerasan. Teks semacam itu sangat tergantung cara pandang pembacanya. Apabila pembaca memaknai atau memahami secara literer atau ekpslisit, maka teks itu pun bisa menjadi kekuatan, keabsahan atau legitimasi untuk menjalankan atau aksi kekerasan. Sebaliknya jika pembaca memahami secara implisit atau kontekstual maka teks tersebut lebih bermakna sejarah (historis) yang harus dihindari. Oleh sebab itu manusia harus memahami secara utuh dan komprehensif terhadap ayat yang ada dalam al-Qur’an maupun Hadits.

Fenomena kekerasan sudah terjadi sejak zaman sahabat (kehidupan pasca Rasulullah SAW). Dimana para sahabat Rasul juga tidak terlepas dari serangan kelompok-kelompok lainnya yang menyebabkan kematian para sahabat Rasul. Empat sahabat Rasul hanya satu sahabat yaitu Sayyidina Abu Bakar Assidiq yang wafat secara normal. Tiga sahabat lainnya yaitu Sayyidina Umar Ibn Khattab, Sayyidina Ustman ibnu Afwan dan Sayyidina Ali Ibn Abu Tholib wafatnya adalah dibunuh oleh sebagian kelompok lain dengan sebab yang berbeda-beda.

Sahabat Umar Ibu Khattab[21] dibunuh oleh seorang budak bernama Abu Luk-luk, adapun faktor pembunuhan tersebut disebabkan adanya iri, dengki atau dendam kesumat akibat sahabat Umar berhasil menaklukkan Persia menjadi wilayah Islam. Penyebaran Islam yang sangat cepat dan luas menyebabkan kebencian abu Luk Luk, sehingga sampai kepada pembunuhan kepada sabahat Umar Ibn Khattab. Hal ini jelas terbunuhnya sahabat umar lebih disebabkan adanya perjuangan menegakkan atau menyebarkan agama Allah (agama Islam).

Sahabat Ustman Ibn Affan[22] dikenal seorang sahabat yang sangat ramah, dermawan, jujur dan adil. Meskipun demikian, Sahabat Ustman Ibn Affan meninggal akibat terbunuh dari kelompok pemberontak yang mengepung rumah sahabat Utsman ibnu Affan selama 40 hari. Hal ini disebabkan oleh adanya kebencian dari kelompok pemberontak terhadap sahabat Utsman Ibn Affan yang mengganti beberapa pejabat (gubernur/bupati) yang dianggap kurang cakap, kurang adil dan kurang jujur. Orang orang yang diganti oleh sahabat Utsman ibn Affan tersebut tidak legowo menghadapi pergantian tersebut, akhirnya bersengkongkol untuk merobohkan kekuasaan Utsman ibn Affan dengan cara membunuh, akhirnya Ustman IbnAffan terbunuh pada saat duduk membaca al-qur’an di dalam rumahnya sendiri. Hal ini jelas terbunuhnya Utsman Ibn Affan, dilatarbelakangi adanya persoalan intrik politik khususnya tidak legowonya para pejabat yang diganti oleh Utsman Ibn Affan.

Sahabat Ali Ibnu Abi Thalib[23] dalam suatu riwayat hadit disebut sebagai sosok yang paling cerdas, orang pertama kali masuk Islam, bahkan diprediksikan masuk surga pertama tanpa hisab. Meskipun demikian, sahabat Ali Ibnu Abu Tholib wafat terbunuh d itangan seorang ulama besar bernama Abdurrahman ibnu mulzam. Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Abdurrahaman Ibnu Mulzam adalah seorang ulama yang rajin sholat tahajud (sholat malam), selalu puasa sunnah senin-kamis, bahkan seorang penghafal al-Qur’an (hafidz). Abdurrahaman ibnu mulzam berhasil membunuh Ali Ibnu Abu Thalib pada tanggal 17 ramadhan pada saat berangakat sholat subuh, pada saat akan masuk ke dalam masjid, Abdurrahman Ibnu Mulzam berhasil menebas pedang ke dahi Ali Ibnu Abu Thalib. Pembunuhan itu terjadi, karena Ali Ibnu Abu Thalib tidak melaksanakan kaidah Laa hukmu illa lillah (tidak ada hukum selain hukum Allah/al-Qur’an) Ali Ibnu Abu Thalib dianggap telah melaksanakan hukum selain al-Qur’an karena melakukan musyawarah dengan kelompok lain dalam pemerintahannya, oleh sebab itu dianggap kafir oleh Abdurrahman Ibnu Mulzam.

Pendekatan Pembelajaran PAI

Agama Islam adalah agama yang memiliki kajian, wilayah atau ruang lingkup sangat luas dan mendalam. Luas artinya memiliki bidang yang sangat banyak mulai dari urusan pribadi, keluarga, sosial sampai dengan urusan ketatanegaraan atau pemerintahan. Islam menyangkut persoalan psikologi, sosiologi, humaniora, teknologi, budaya, politik, dan masih banyak yang lainya. Dikatakan mendalam karena materi atau ajaran Islam memerlukan kajian dan pemahaman yang tidak sederhana. Islam akan bisa dipahami secara tepat jika dilakukan dengan berbagai macam cara atau pendekatan. Oleh sebab itu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam sekurang- kurangnya dapat dilakukan dengan enam pendekatan[24]  yaitu :

  1. Pendekatan Pengalaman[25]. Agama diajarkan atau dijelaskan dengan cara memberikan pengalaman kepada peserta didik dalam persolan agama. Melalui pengalaman yang dialami secara langsung oleh peserta didik maka akan mudah memperoleh pengetahuan dan pemahaman.
  2. Pendekatan Pembiasaan[26]. Selain di berikan pengalaman, agama akan mudah dipahami oleh peserta didik jika guru atau orang tua memberikan kesempatan untuk melatih atau membiasakan praktik kehidupan dan amalan agama. Artinya pembelajaran agama dilakukan dengan cara melatih agar peserta didik membiasakan melaksanakan ajaran agama. Dengan membiasakan ini, maka agama akan mudah diketahui dan dihayati.
  3. Pendekatan Fungsional[27]. Pendekatan ini mengajarkan bahwa agama Islam akan lebih mudah dipahami dan diamalkan (dilaksanakan) jika dijelaskan makna atau fungsi agama dalam realitas kehidupan sosial. Dalam konteks ini, guru harus memiliki kemampuan untuk menjelaskan fungsi atau manfaat ajaran Islam dalam realiats kehidupan sosial, seperti manfaat sholat, zakat, pausa, haji, dalam kehidupan umat manusia.
  4. Pendekatan Rasional[28]. Pendekatan rasional merupakan suatu pendekatan yang dilakukan guru terhadap murid dengan cara membimbing perkembangan berfikir murid ke arah yang lebih baik sesuai dengan tingkat usianya. Agama Islam sangat memerlukan kajian secara rasional, karena Islam akan mudah diketahui dan dipahami serta diamalkan jika teks atau ajaran Islam dijelaskan dengan argument yang rasional. Konsekuensinya, guru PAI harus memiliki kemampuan secara baik dalam hal memberikan argumentasi terhadap teks atau ajaran Islam. Islam memiliki dua diemnsi yaitu dimensi keyakinan (Ta’abudi) dan dimensi akal rasional (Ta’aquly).
  5. Pendekatan Emosional[29]. Pendekatan emosional merupakan proses atau usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini ajaran Islam serta dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam konteks ini, guru PAI harus memiliki kemampuan untuk melakukan sentuhan psikologis (perasaan) kepada peserta didik, sehingga peserta didik bisa memahami dan menghayati ajaran agama.
  6. Pendekatan Keteladanan[30]. Islam akan mudah di ajarkan jika dilakukan dengan contoh (uswah) yang baik dari seorang guru dan orang tua. Pendekatan ketaladanan mengajarkan kepada para guru PAI harus senantiasan bisa dijadikan contoh bagi peserta didik dalam hal ucapan, sikap dan perilaku beragama. Artinya guru PAI harus bisa menjadi contoh dalam hal melaksanakan nilai nilai ajaran Islam. guru PAI menjadi pusat perhatian peserta didik, oleh sebab itu jika guru bisa menjadi teladan bagi peserta didik, maka Islam akan mudah dipahami dan dilaksanakan bagi peserta didiknya.

Guru harus mampu melakukan pembelajaran yang berujung pada deradikalisasi agama bagi peserta didik dan masyarakat. Ada beberapa landasan yang dapat dijadikan untuk melakukan gerakan deradikalisme yang bersumber dari ayat al-qur’an :

Pertama, bahwa agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw adalah untuk rahmat bagi alam semesta. Allah SWT menegaskan hal itu dalam QS. Al Anbiya’ ayat 107, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Dengan landasan ayat ini maka keseluruhan kehidupan kaum Muslimin harus diarahkan untuk menggapai rahmat Allah tersebut. Dan untuk kepentingan itu, kehidupan kaum Muslimin tidak boleh diwarnai dengan hal-hal yang akan membahayakan dirinya, keluarganya dan lingkungannya. Atau yang dalam istilah al-Qur’an disebut sebagai al-khabais, hal-hal yang buruk.

Kedua, dalam konteks umat Islam, perang diperbolehkan tetap bagi orang yang diperangi dan dianiaya, seperti dalam surat al hajj: 39 “ telah diizinkan (berperang ) bagi orang-orang yang diperangi, Karena sesungguhnya mereka telah dianiaya”. Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan ibnu Abbas dalam sebuah riwayat, bahwa ayat ini diturunkan pada saat Nabi Muhamamd hijrah dari Makah, kemudian Abu Bakar berkata: mereka mengusir nabi kita, maka harus kita binasakan. Pada saat itu turunlah ayat tersebut, yang menerangkan bahwa perang itu diperbolehkan jika mereka (musuh) memerangi, karena jika diperangi termasuk kategori dianiaya.

Ketiga, Umat Islam diperbolehkan perang kepada orang yang memerangi umat Islam dan jika mereka melakukan fitnah kepada umat Islam. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Baqarah : 190-193 “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi ) jangan lah kamu melampu batas, karena sesunguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kamu (Mekkah ): dan fintah itu lebih besar bahanya dari pada pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi (di tempat itu ), maka bunuhlah mereka. Demikian balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesuguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang. Dan perangilah mereka itu, sehinga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga ) ketaatan itu semat-mata hanya untuk Allah. jika Mereka berhenti (dari memusuhi kamu ) maka tidak ada permusuhan (lagi) kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

 

 

 

Pembelajaran di Madrasah Aliyah (MA)

Madrasah Aliyah (MA) merupakan pendidikan keagamaan jenjang menengah yang merupakan kelanjutan dari pendidikan dasar yang berfungsi menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama. Jenjang pendidikan MA memiliki tugas utama melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan memahami dan mengamalkan ajaran Islam dan menjadi ahli ilmu agama dalam artian memiliki ketrampilan menjelaskan dan memahamkan agama kepada orang lain.

Agama Islam memiliki ruang lingkup atau wilayah sangat luas, mulai dari persoalan yang berkaitan dengan psikologis, sosiologis, hukum, budaya, politik, ekonomi dan lingkungan. Islam mengatur persoalan manusia dari urusan keluarga sampai urusan negara. Islam juga mangatur tentang perilaku yang tepat saat menjalani kehidupan di dunia sampai akherat. Pokoknya Islam agama yang sempurna dalam artian agama yang menyeluruh (syamil), lengkap (kamil), dan melengkapi (mutakamil).

Dari perspektif usia kalender, peserta didik di MA rata-rata rentang usia 15-18 tahun. Pada usia ini sering dikatakan usia akhir remaja atau awal memasuki usia dewasa, dimana pada usia ini memiliki banyak keunikan baik dalam hal biologis maupun psikologis. Pada usia dewasa sedikitnya ditandai dengan tiga karakter yaitu, stabil, mandiri dan tanggung jawab. Stabil adalah karakter psikologis yang ingin selalu berusaha konsisten atau ajeg dalam ucapan, sikap kepribadian dan perbuatan. Kestabilan  ini dimakudkan sebagai proses untuk menunjukan jati dirinya kepada orang lain. Mandiri bermakna tidak mandiri secara materi melainkan mandiri secara psikologis yaitu suatu keinginan yang  tidak mau diintervensi atau diatur oleh orang lain, mereka merasa mampu melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Mereka ingin menunjukan bahwa dirinya mampu dan hebat di mata orang lain. Tanggung jawab mengandung konsekuensi adanya kemampun untuk memberikan penjelasan atau argumentasi segala sesuatu yang telah dilakukan. Argumentasi yang diinginkan adalah yang bersifat logis, akademik dan obyektif.

Karakter seperti inilah yang mengharuskan guru di jenjang Pendidikan MA memiliki kemampuan dan sekaligus ketrampilan untuk mengembangkan potensi rasionalitas anak agar cirri-ciri kedewasaan dapat ditumbuhkembangkan secara maksimal. Di sinilah pentingnya pembelajaran rasional dilakukan kepada peserta didik di jenjang pendidikan MA. Secara rinci karakter berfikir anak pada usia MA/SLTA adalah :

  1. Secara intelektual anak pada jenjang pendidikan MA  mulai  berfikir logis tentang segala sesuatu yang ada disekitarnya. Artinya berusaha merasionalkan semua apa yang dimiliki, dirasa dan dialami termasuk merasionalkan aspek aspek agama dalam kehidupan.
  2. Mulai berfungsinya kegiatan kognitif tingkat tinggi (ketrampilan intelektual) yaitu membuat rencana, strategi, membuat keputusan-keputusan, serta memecahkan masalah yang dihadapi baik yang bersifat personal maupun sosial.
  3. Sudah mampu menggunakan abstraksi-abstraksi, membedakan yang konkrit dengan yang abstrak.
  4. Munculnya kemampuan nalar secara ilmiah, belajar menguji hipotesis dan menyimpulkan persoalan yang dimiliki.
  5. Memikirkan masa depan, perencanaan, dan mengeksplorasi alternatif untuk mencapainya segala cita cita atau impian
  6. Mulai menyadari proses berfikir efisien dan belajar berinstropeksi, sehingga tidak mudah menyalahkan orang lain. Pada usia ini, dapat dikatakan mulai muncul kepribadian atau watak yang fair play setiap melakukan suatu tindakan. 
  7. Wawasan berfikirnya semakin meluas, bisa meliputi agama, keadilan, moralitas, dan identitas (jati diri). Pada usia ini, agama tidak hanya sekedar sebagai amalan ritual (doktriner) melainkan diharapkan menjadi solusi atas problem yang dimiliki. Konsekeunsinya seorang guru harus memiliki ketrampilan menjelaskan secara rasional terhadap pesa- pesan atau nilai-nilai yang diajarkan agama Islam.

Pembelajaran jenjang MA bersifat rasional yaitu upaya untuk merasionalkan dalil-dalil atau ajaran Islam agar lebih mudah dipahami. Hal ini didasarkan bahwa ajaran Islam memiliki dua dimensi yaitu dimensi rasional (ta’aquli) dan dimensi keyakinan atau ibadah (ta’abudi). Sesuai dengan karakter psikologis peserta didik jenjang MA, maka agama harus hadir dalam bentuk argumentasi rasional sehingga agama akan lebih memberikan manfaat untuk tumbuh kembangnya psikologis anak pada usia 15-18 tahun. Target utama lulusan dari MA memiliki kemampuan dan ketrampilan (kompetensi) ahli ilmu agama yang mampu memberikan pemahaman ajaran agama tidak hanya kepada pemeluk Islam (muslim) tetapi juga para pemeluk agama diluar Islam (non Muslim).

Pembelajaran Rasional

Pembelajaran rasional didasarkan asumsi bahwa keberhasilan dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam ditentukan oleh sejauh mana kemampuan mengoptimalkan rasional (pikiran). Pembelajaran di MA pada hakekatnya memberikan bimbingan, penyuluhan dan membekali pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalani kehidupan beragama agar Islam benar-benar menjadi spirit dan falsafah kehidupan. Artinya Islam mampu menjadi solusi alternatif atas semua problem kehidupan umat manusia tidak hanya bagi umat Islam sendiri tetapi juuga pemeluk agama lain (non muslim).

Pembelajaran rasional diartikan proses untuk memberikan pengetahuan dan menanamkan ketrampilan kepada peserta didik agar mampu memberikan argumenatsi secara rasional terhadap ajaran agama. Pembelajaran rasional memiliki semangat untuk melatih peserta didik terbiasa memiliki cara fikir yang obyektif, sistematis dan rasional dalam memahami dan menjelaskan ajaran agama kepada dirinya sendiri dan orang lain. Guru di jenjang MA mutlaq perlu memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk melatih dan menumbuhkembangkan rasionalitas siswa dalam memahami ajaran agama Islam.

Pendekatan yang digunakan bertumpu kepada pendekatan kontekstual yaitu dengan cara melihat dan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Walaupun tidak semua ayat memiliki kontekstualisasi (asbabun nuzul) tetapi mayoritas ayat memiliki asbabun nuzul. Pendekatan kontekstual adalah melihat atau menelusuri asbabun nuzul ayat agar guru mampu memberikan penjelasan dan melatih rasionalitas peserta didik dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh guru dalam pembelajaran rasional antara lain:

  1. Menyiapkan atau mengkoleksi teks-teks agama yang memerlukan penjelasan rasional
  2. Menyiapkan suasana pembelajaran yang memungkinkan peserta didik bisa diajak eksplorasi dan diskusi tentang fenomean keagamaan
  3. Menyiapkan sarana pembelajaran yang akan digunakan untuk membantu pemahaman secara rasional seperti skenario cerita, video, film, artikel ilmiah yang relevan.
  4. Mengaktifkan peserta didik agar memiliki ketertarikan untuk mendiskusi topik yang telah ditentukan.
  5. Menyempurnakan, meluruskan cara fikir peserta didik yang dianggap belum sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.
  6. Mempersiapkan cara penyajian materi baik secara induktif maupun deduktif.
  7. Menentukan target yang harus dicapai dan dimiliki peserta didik setelah proses pembelajaran dilakukan.
  8. Memberikan tugas terstruktur kepada peserta didik yang dimaksudkan sebagai pendalaman materi yang telah dipelajari.

Metode yang digunakan dalam pembelajaran rasional dengan menggunakan metode secara umum. Karena tidak ada metode yang paling benar dan juga paling salah. Semua metode adalah baik dan benar dan juga semua metode jelek dan salah. Baik dan buruknya metode tergantung dari kesesuaian dengan materi, tujuan yang ditentukan, kesiapan guru dan Peserta didik, ketersediaan sarana pembelajarn, dan motivasi. Oleh sebab itu metode pembelajaran rasional bisa dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab, diskusi dan penugasan.

Setiap pembelajaran tidak boleh meninggalkan prinsip-prinsip dalam pembelajaran. Adapun prinsip dalam pembelajaran rasionalisasi dalil  antara lain:

  1. Memahami tujuan pendidikan.
  2. Menguasai bahan ajar.
  3. Memahami teori-teori pendidikan selain teori pengajaran.
  4. Memahami prinsip-prinsip mengajar.
  5. Memahami metode-metode mengajar.
  6. Memahami teori-teori belajar.
  7. Memahami beberapa model pengajaran yang penting.
  8. Memahami prinsip-prinsi evaluasi.
  9. Memahami langkah-langkah membuat lesson plan.

Target atau indikasi keberhasilan pembelajaran rasional ditandai dengan kemampuan dan ketrampilan siswa dalam mengoptimalkan rasio dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Peserta didik benar-benar mampu memahami teks-teks ajaran Islam  dan juga mampu memberikan argumenatsi atas teks-teks ajaran Islam dengan tepat dan benar secara rasional , sehingga mudah dipahami sesama pemeluk agama maupun agama lain (non Muslim).

Pembelajaran rasional memerlukan peran aktif yang seimbang dan proporsional antara guru dan Peserta didik. Konsekeunsinya guru harus memiliki kemampuan dan ketrampilan menumbuhkan motivasi belajar bagi peserta didik. Tanggung jawab keberhasilan guru dan Siswa antara 50%+50%, artinya jika guru aktif dan berperan optimal, maka peserta didik juga harus memiliki keaktifan yang sama. Oleh sebab itu metode pembelajaran yang lebih dominan adalah tela’ah kasus (diskusi) dan penugasan.

Tahapan pembelajaran rasional dapat diilustrasikan sebagai berikut;

 

Tahapan Kegiatan Guru Kegiatan Peserta Didik
Tahap 1: Menyiapkan Alur materi yang harus di pelajari dalam proses pembelajaran

 

Menjelaskan arah, tujuan dan target materi yang harus diselesaikan dalam pembelajaran Mendengarkan dan mentaati rambu-rambu yang ditentukan oleh guru
Tahap 2: Menentukan materi yang menjadi obyek pembelajaran Menjelaskan teks-teks agama melalui pendekatan yang bervariasi (multi approach) Mendengarkan penjelasan yang disampaikan guru dan mendiskusikan jika ada yang kurang paham/jelas
Tahap 3: Pendalaman Materi Memberikan tugas dengan tujuan mendalami kemampuan berfikir logis terhadap teks atau ajaran agama Mendiskusikan tema-tema keagamaan yang relevan dengan realitas kehidupan
Tahap 4 : Evaluasi/tindak lanjut Menyusun kesimpulan terhadap hasil pembelajaran Menerima hasil kesimpulan dan melaksanakan apa yang direkomendasikan guru dalam pembelajaran

Referensi :

[1]  Rene Descartes dikenal sebagai Bapak Filsafat Moderen yang hidup antara tahun 1596 – 1650.  Karir akademiknya dimulai dari seorang ahli matematika yang diawali dari konsep tentang Geometri Analitik. Rene Descartes membagi realitas memiliki dua substansi yaitu substansi berfikir (thinking substance) dan substansi lanjutan (extended  substance). Lebih lanjut lihat buku Para Pemikir Hebat, karya James Mannion 2007.

[2]  Perintah membaca dijelaskan dalam surat pertama kali turun (Al alaq 1-5) “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dan Tuhanmulah yang maha pemurah, Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui”. Surat inilah yang akhirnya melahirkan epistemologi Islam yang berbeda dengan epistemologi barat. Perbedaannya terletak pada cara memposisikan akal pikiran. Epistemologi barat memposisikan akal atau rasio diatas segala galanya, sedangkan menurut epistemologi Islam,  posisi akal  berada di bawah wahyu (Tuhan).

[3]  Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia serta ketrampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UUSPN nomor 20 tahun 2003, pasal 1 ayat 1).

[4]  Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada lingkungan belajar ( UUSPN nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 20).

[5]   Menurut  Wikepedia dijelaskan bahwa William Stern hidup diantara tahun  1871 – 1938 M, lahir dengan nama asli Wilhelm Louis Stern. Bidang keilmuan dikenal sebagai  seorang psikolog dan filsuf dari Jerman dan tercatat sebagai pelopor dalam bidang psikologi kepribadian dan kecerdasan. Dia adalah penemu konsep intelligence quotient, atau IQ, kemudian digunakan oleh Lewis Terman dan peneliti lain dalam pengembangan pertama tes IQ , berdasarkan karya Alfred Binet.

[6] Danile Goleman adalah tokoh Psikologi kontemporer yang namanya menjadi popular melalui karya berjudul “Emotional Intellegence”. Daniel Goleman lahir di Stockton California pada tanggal 7 maret 1946. Karya Daniel Golemen yang popular diantaranya Emotional Intelligence, Vital Lies, Simple Truth The  Medicative Mind, The Creative Spirit (penulis pendamping), Primal Leadership, The Emotionally Intelligent Work Place.

[7] Kecerdasan spiritual menekankan kepada pentingnya proses memahami dan mengimplementasikan nilai nilai atau ajaran Islam kedalam realitas kehidupan sosial. Islam tidak hanya dipahami sebatas ideologi, dogma atau keyakinan yang sakral tetapi lebih dari itu Islam diposisikan sebagai falsafah kehidupan yang benar benar mewarnai dan menginspirasi semua aktivitas bagi pemeluknya. Indikasi kepemilikan kecerdasan spiritual ditandai dengan kemampuan integrasi antara keyakinan (kata hati), ucapan (perkataan) dan tindakan (ahlaq perilaku). Di era modern yang penuh dengan teknologi informasi yang seharusnya manusia dengan mudah mendapatkan informasi keagamaan sehingga melahirkan sikap kepribadian yang mulia justru banyak yang menyalahgunakan teknologi informasi untuk melakukan hal hal yang negatif dan merugikan dirinya dan orang lain. Teknologi informasi lebih banyak di jadikan sarana menyebarkan kebohogan (hoaxs), mencaci maki orang lain, saling hujat, saling fitnah hanya gara gara persoalan sepele seperti berbeda pilihan dalam pemilu. Agama diposisikan menjadi sesuatu yang rendah dan kecil, padahal seharusnya agama ada di atas segala galanya, mengatur, mempengaruhi segala sesuatu yang tidak baik menjadi baik, hal hal yang negatif menjadi positif, persoalan yang tidak bermanfaat menjadi lebih bermanfaat. Itulah hakekat agama bagi manusia. Kecerdasan spiritual yang dimiliki umat Islam akan melahirkan tatanan sistem kehidupan yang aman, nyaman, damai, bahagia dan sejahteran lahir batin, dunia akherat.

[8]  Lebih lanjut baca, Taufiq Pasiak (2002), Revolusi IQ/EQ/SQ Antara Neurosains dan Al Qur’an, Diterbitkan PT. Mizan Pustaka, Bandung Jawa Barat. Buku ini memberikan penjelasan tentang hubungan dan peran antara IQ, EQ dan SQ bagi manusia.

[9]  Baca lebih lanjut,   Danah Zohar dan Ian Marshall ( 2007) judul SQ Kecerdasan Spiritual, yang diterbitkan Mizan, Bandung Jawa Barat.

[10]  Tony Buzan ( 2011), Brain Child: Cara Pintar membuat Anak Jadi Pintar, Penerbit, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Buku ini mengulas secara detail dan lengkap tentang karakteristik otak, kecerdasan dan cara untuk membimbing atau melatih anak untuk menjadi anak sukses.

[11]  Lebih lanjut baca Tony Buzan (2011), Brain Child: Cara Pintar membuat Anak Jadi Pintar, Penerbit, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Untuk mengoptimalkkan kecerdasan manusia harus dilakukan secara seimbang dalam  memperlakukan belahan otak kiri dan kanan. Sebagai orang tua atau Guru harus mampu memberi motivasi atau mendorong anak untuk memperhatikan dan berlatih banyak aspek agar memiliki peluang besar untuk mengembangkan kecerdasan. Tony Buzan mengkritik proses pendidikan yang selama ini berjalan, bahwa pendidikan cenderung terlalu dini melakukan klasifikasi penekanan belajar anak. Anak hanya di arahakan kepada aspek aspek tertentu, akibatnya anak hanya memiliki sebagia kecil potensi otak yang dikembangkan. Berilah kesempatan secara seimbang dan proporsional terhadap semua keinginan yang positif. 

[12]  Sindung Haryanto (2015), Sosiologi Agama: dari Klasik Hingga Posmodern, Aguste Comte, Emile Dhurkheim, Max Weber, Karl Marx, George Herbert Mead, Herbert  Spencer, Charles Wright Mills, Marx Horkheimer, Diterbitkan Ar Ruzz Media, Jakarta.

[13]  Baca Buku, A. Ilyas Ismail (2013), “True Islam: Moral, Intelektual, Spiritual”, Pengantar Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Diterbitkan oleh Mitra Wacana Media, Jakarta. Kelemahan dalam memahami ajaran atau teks agama menyebabkan sulitnya nilai nilai agama Islam dilaksanakan secara optimal dalam kehidupan sosial. Islam belum mampu menjadi spirit kehidupan melainkan baru sebatas, simbol formal seremonial bagi para pemeluknya. Implikasinya, ibadah formal ritual rajin atau bagus  tetapi sikap dan perilaku sosialnya buruk atau rendah. Lagi lagi salah satu faktor penyebabnya karena umat Islam belum optimal menggunakan akal /rasio dalam memahami ajaran Islam.

[14]  Tulisan yang berkaitan dengan Ilmu Ilmu keislaman sudah banyak ditulis oleh Penulis di Web personal dengan alamat :www.saekankudus.com. Tulisan di buku ini juga banyak yang diambil dari tulisan yang sudah di publiaksikan lewat web personal tersebut. Web personal dimaksudkan sebagai wahana silaturrahmi akademik dengan siapapun dan sebagai media ekspresi akademik sebagai seorang dosen yang menekuni bidang sosial keagamaan dan politik.

[15]  Lebih lanjut baca Buku Musthafa Murad (2013), “KIsah Hidup Umar Ibn Khattab”, diterbitkan oleh Zaman, Jakarta.

[16]  Lebih lanjut baca buku Musthafa Murad (2013), “KIsah Hidup Utsman Ibn Affan”, diterbitkan oleh Zaman, Jakarta.

[17]  Lebih detail baca buku Ustadz Rizem Aizid ( 2016), “ Sejarah Islam Nusantarai ”: Dari Analisis Historis hingga Arkeologis tentang Penyebaran Isam Nusantara,   diterbitkan oleh DIVA Press, Yogyakarta. Buku ini mengulas secara rinci dan sistematis tentang gerakan para pendahulu dalam mendakwahkan (memperjuangkan) Islam dengan cara cara yang sesuai dengan dinamika, situasi dan tradisi masyarakat Indonesia yang cinta damai, gotong royong dan pluralistik. Buku karya Ustadz Rizem Aizid ini memberikan gambaran bahwa metode dakwah Islam orang Indonesia berbeda dengan metode dakwah orang luar Indonesia khususnya orang Timur Tengah. 

[18]  Menerima (Masuk) Islam pada 25 September 1980, mengucapkan kalimah syahadah di gedung Islamic Centre Colonia yang dipimpin oleh Imam Muhammad Ahmad Rasoul. Ia dilahirkan dalam keluarga Katholik Jerman pada 3 Juli 1931. Dia adalah lulusan dari Union College di New York dan kemudian melengkapi namanya dengan gelar Doktor di bidang ilmu hukum dari Universitas Munich, Jerman tahun 1957.

[19]  Pendekatan tekstual lebih menekankan aspek formalitas atau simbol dalam memahami dan menjalankan agama. Implikasi dari pendekatan ini, melahirkan cara pandang terhadap agama yang hitam putih, berakhir pada klaim kebenaran, kurang bisa menerima perbedaan, sulit mengakui perbedaan kelompok lain.

[20] Guru sebagai jabatan profesi memiliki tugas dan tanggung jawab secara penuh dalam memberikan bimbingan, pembinaan agar masyarakat dan peserta didik memiliki pemahaman terhadap teks teks agama secara utuh. Guru harus mampu memberikan wawasan yang positif dari semua pesan dan norma yang ada di dalam agama (A-lqur’an dan Hadist). Nilai edukatif adalah proses untuk memberikan wawasan yang positif terhadap semua pesan dan nilai yang  ada di dalam agama Islam. Kata perang, jihad yang ada di dalam alqur’an maupun hadis harus diberi penjelasan yang positif dengan penuh nuansa  kedamaian.

[21] Sahabat Umar Ibn Khattab dikenal sebagai Sang Penakluk, Selama kepemimpinannya,  berhasil menaklukan berbagai wilayah utnuk dijadikan basis perjuangan Islam. Wilayah yang berhasil di taklukan Umar Ibn Khattab diantaranya Persia dan Mesir ditaklukan tahun 634 M (meneruskan proses Sahabat Abu Bakar yang wafat pada tahun 34 M),  Damaskus ditaklukan pada tahun 635 M, Palestina ditaklukan tahun 636 M. Bahkan dapat dikatakan pada tahun 644 semua wilayah kekaisaran Persia berhasil ditaklukan Umar ibn Khattab. (Baca : Kisah Hidup Utsman Ibn Affan karya Musthafa Murad (2012), terbitan Zaman).

[22] Sahabat Utsman Ibn Affan adalah orang yang paling kuat keyakinan agama, Utsman Ibn Affan termasuk kelompok As Sabiqun al Awwaluun( kelompok terdahulu masuk Islam) periode kedua bersama dengan Az Zubair bin Al Awwam Al Asadi, Abdurrahman Auf, Sa’ad bin Abu Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah at Taim ( Baca : Sirah Nabawi Karya  Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri).

[23] Sahabat Ali Ibn Abu Thalib telah amsuk Islam sejak kecil (usia anak anak), ada yang mengatakan pada usia 7 tahun. Dikenal orang yang masuk Islam pertama kali setelah Rasulullah dan Siti Khadijah Isteri nabi Muhammad SAW. Sahabat Ali Ibn Abu Thalib dididik langsung oleh Rasulullah SAW. Sahabat Ali Ibn Abu Thalib juag di kenal As Sabiqun Al Awwalun (terdahulu masuk Islam ) periode pertama Bersama dengan Zaid Bin Haritsh (pembantu rasulullah), Abu Bakar Ash Shiddiq. (Baca : Buku Kisah hidup Ali Ibn Abu THalib (2012), karya Musthafa Murad terbitan Zaman dan Sirah Nabawi karya Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury)

[24]  Enam pendekatan tidak bersifat kumulatif, dalam artian setiap proses pembelajaran PAI harus menggunakan enam macam pendekatan secara bersama sama. Pendekatan ini bersfat alternatif dan situasional, yaitu Guru PAI harus pandai pandai melihat situasi dan kondisi sosiologis dan psikologis peserta didik, serta sesuai jenjang rasionalitas peserta didik. Pendekatan yang baik dan tepat jika sesuai dengan tujuan, materi, kemampuan guru dan peserta didik.

[25]  Mengenai pentingnya pengalaman juga di jelaskan dalam Firman Allah QS.  Yusuf : 111 “ Sesungguhnya pada kisah kisah mereka terdapat pengajaran bagi orang orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat buat, akan tetapi  membenarkan (kitab kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. 

[26]  Rasulullah mengajarkan kepada orang tua agar membiasakan atau melatih anak anaknya  untuk  menjalankan ibadah agama. Seperti dalam hadis “  Suruhlah olehmu anak-anak itu shalat apabila ia sudah berumur tujuh tahun, dan apabila ia sudah berumur sepuluh tahun, maka hendaklah kamu pukul jika ia meninggalkan shalat”.

[27]  Ajaran Islam memiliki peran atau fungsi untuk memberikan penjelasan bagi para pemeluknya. Dengan ajaran Islam sesuatu yang gelap menjadi terang, sesuatu yang hitam menjadi putih. Sesuai firman Allah SWT QS. Ibrahim : 1  “ Alif, Laam, Raa. Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka yaitu menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.

[28]  Begitu besar Islam memberikan peran akal kepada pemeluknya, Oleh sebab itu umat Islam harus sanggup menggunakan akal pikiranaya secara optimal. Dengan mengoptimalkan akal, akan bisa mengetahui, menggali dan mengambil hikmah dibalik ajaran Islam. Firman Allah QS. Al Baqarah 165 Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera-bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan (suburkan) bumi sesudah mati (kering)-Nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi (pada semua itu) sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal.”

[29]  Dalam Islam Emosi atau kondisi psikologis merupakan bawaan dasar (Fitrah) setiap manusia. Berbicara emosi bisa berarti positif (menyenangkan) dan negatif (menyedihkan). Emosi yang diharapkan oleh Islam adalah perasan psikologis untuk selalu dekat dengan Tuhan Seperti Firman Allah SWT QS. Ali Imran 14 “Dijadikanlah  indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Ali Imran 14 ).

[30]  Setiap umat Islam terutama Guru PAI, harus bisa dijadikan contoh atau taladan bagi peserta didik dan masyarakat. Islam seharusnya bisa menjadi teladan bagi semua umat manusia. Seperti Firman Allah SWT QS. Al Ahzab 21 Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” .

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter