|  |  | 

Breaking News Komentar

Jagong Santai : Ziarah Kubur itu Musyrik?

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Pada hari Selasa, tanggal 30 mei 2017, selepas sholat berjama’ah dhuhur di Masjid Besar STAIN Kudus ikut nimbrung jagongan bersama teman teman dosen STAIN Kudus di ruang kabag Administrasi STAIN Kudus lantai 2, depan ruang kerja saya. Dalam jagongan itu lama lama mendiskusikan tentang cerita yang disampaikan salah satu pimpinan STAIN Kudus, yang pernah melihat ada orang yangs akit diajak berziarah ke makan kanjeng sunan Kudus. Teman saya tersebut, bertanya tanya, “orang sakit kok diajak masuk ziarah ke makam, ini apa maksudnya”?. Dengan berkelakar atau guyonan, kita bertiga berdiskusi.

Ketika berbicara ziarah kubur, mudahs ekali dikaitkan dengan salah paham dalam berdo’an atau bahkan dianggap musyrik (menyekutukan Allah swt). Seperti tadi, ada orang sakit kok dibawa masuk ke makam ? kalau tidak hati hati bisa bisa menjadi melenceng akidahnya. Begitu kira kira, kebanyakan umum orang memahami.

Saya mulai memebrikan informasi atau penjelasan. saya awali dengan pemahaman atau bahkan bisa dikatakan teori saya: Setiap orang yang belajar di Perguruan tinggi agama Islam seperti STAIN Kudus dan sejenisnya, para Guru Agama Islam, apa lagi dosen, hukumnya “Wajib” memiliki pemahaman pengetahuan lintas sektor, lintas didiplin, atau biasa disebut interdisipliner. Teman diskusi saya, berkata, terus piye penjelasane???? Okay siap… ji (panggilan akrab dengan teman teman di STAIN Kudus, ji.. maksudnya haji/kaji). Dalam melihat fenomena di amsyarakat harus didekati dengan berbagai pendekatan ilmu. Kalao kita melihat ada orang sakit kok diajak ziarah ke makam sunan Kudus itu terus piye penjelasane?.. HO ngonooo.. Jii.. lagi lagi sambil kelakar atau guyonan.

Begini: dengarkan, terus teman teman diskusi mesam mesem (senyum). Menurut saya penyakit itu akan sembuh jika si pemilik penyakit itu memiliki sugesti atau semangat atau dorongan kuat atau keyakinan tinggi. Penyakit bisa sembuh dengan sugesti atau keyakinan kuat yang ditumbuhkan dari suatu kegiatan. Ada orang yang dalam menumbuhkan sugesti itu dengan minum air putih, ada yang dengan minum air madu, ada yang dengan membaca al qur’an. Ada juga orang yang membangun sugesti sembuhnya penyakit itu dengan membaca atau berdoa di tempat tempat yang dianggap suci seperti makam para auliya, wali, sunan.

Saya sendiri sudah beberapa tahun ini, berlatih dan selalu mencoba membangun sugesti kesehatan dirnay dengan minum air putih dna minum air madu di pagi hari (bagun tidur). ketika saya punya keyakinan atau sugesti kesehatan dnegan minum air outih dan minum segelas air madu habis bangun tidur, bukan berarti saya menduakan Allah. Saya tetap berkeyakinan Allah yang memebri kesembuhan, tetapi sugesti saya tumbuhkan dengan minum air putih atau air madu.

Kasus orang sakit di ajak ziarah ke makam Sunan Kudus, bisa jadi salahs atu cara membangun sugesti bagi si sakit agar si sakit itu memiliki keyakinan yang kuat kesembuhan sakit yang diderita. Mereka pasti tetap meyakini Allah yang memberi kesembuhan, tetapi sugesti untuk menumbuhkan keyakinan kuat atas kesembuhan dirinya di lakukan melalui proses ziarah ke makam para auliya atau wali Allah swt.

Ada teori yang menarik dalam belajar, setiap manusia itu berbeda beda dalam membngun konsentrasi dalam belajar, ada orang yang mudah memahami materi jika dilakukan membaca dnegan mendengarkan alunan musik pelan pelan (sahdu), ada juga orang yang mudah memhami bacaan jika sambil makan snak (jawa : Ngemil), ada juga yang mudah memahami bacaan dengan berdiskusi dengan temannya, tetapi juga ada yang memahami bacaan itu dilakukan dengan situasi yangs epi, tidak boleh ada suara apapun. Mendengarkan musik, memakn snak, berfiskusi dengan teman dan suasana sepi, ini semua salahs atu membangun kosnentrasi dalam mempercepat memahami bacaan. Bukan berarti mereka menduakan Allah. Mereka tetap yakin dnegan seyakin yakinnya, bahwa Allah yang memebri pemahaman, tetapi konsentrasi akan mudah dicapai jiika di lakukand enagn mndengarkan alunan musik, ngemil, diskusi dan suasana hening atau sepi.

Kesimpulannya: jangan Mudah menyalahkan orang lain, jangan mudah menjustifiaksi perbuatan orang lain itu salah. Setiap orang yang melakukan perbuatan ditentukan oleh niat atau motivasinya. Mari kita pandang setiap persoalan yang muncul  di dalam kehidupan sosial dari sudut pandnag lintas ilmu, atau cara pandang yang multi disiplin. Biar kita bisa memahami orang lain dan juga bisa dipahami oleh orang lain,

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter