|  | 

RISET

Hasil Riset TIME : Nilai UN Siswa Prioritas Tidak Memuaskan

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Lembaga Riset Tasamuh Indonesia Mengabdi (Time) Jawa Tengah melakukan penelusuran (tracking) hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Siswa SMA di Jawa Tengah khususnya kepada Siswa Miskin dan Siswa anak Guru disekolah pilihan. Penelusuran dimaksdukan untuk mengetahui kualitas nilai akademik selama di jenjang sebelumnya (SMP/MTS) yang dilihat dari hasil Nilai Ujian Nasional (NUN). Karena kedua kelompok anak ini dalam sistem PPDB zonasi diterima dengan prioritas dalam artian diutamakan bahkan dapat dipastikan dapat diterima disekolah pilihannya meskipun hasil nilau Ujian Nasional (NUN) tidak baik (rendah).
Penelusuran ini diharapkan dapat memberikan informasi seperti apa profil atau kualitas nilai akademik yang diraih melalui hasil nilai UN, sehingga dapat dijadikan bahan untuk proses pembelajaran dan bimbingan serta pembinaan peserta didik agar masing masing sekolah dapat mewujudkan mutu lulusannya. Tujuan utama PPDB dengan sistem zonasi salah satunya ingin mewujudkan pemerataan mutu sekolah dan juga ingin menghilangkan kesan atau predikat sekolah favorit. Dengan input nilai yang tidak memuaskan ini, mampukah para guru di sekolah menjadikan lulusan yang berkualitas seperti PPDB sebelumnya (tidak sistem zonasi).
Penelusuran dilakukan dengan mengambil sampel kepada siswa miskin sebanyak 7780 siswa dan untuk anak guru disekolah pilihan sebanyak 230 siswa yang ada di 101 sekolah (SMA) yang tersebar di 28 Kabupaten/kota.
Siswa Miskin (N= 7780).
Seperti diketahui, dalam PPDB sistem zonasi yang diatur dalam permendikbud nomor 14 tahun 2018 dijelaskan bahwa khusus siswa miskin yang dibuktikan dengan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dalah prioritas diterima di sekolah pilihan tanpa mempertimbangkan hasil Nilai UN. Berdasarkan penelusuran melalui sistem PPDB Online propinsi Jawa tengah untuk tingkat SMA diperoleh data sebagai berikut:
Pertama, nilai tertinggi dan terendah. Peringkat nilai tertinggi (batas atas) rata rata untuk MIPA diangka (nilai) 35.00 s/d 39.00. Sedangkan pilihan IPS rata rata 30.00 s/d 34.00. Sedangkan untuk batas bawah untuk pilihan MIPA diangka (nilai) 29.00 s/d 30.00. Sedangakn pilhan IPS nilai batas bawah rata rata 25.00 s/d 27.00.
Kedua, siswa miskin yang diterima dengan prioritas, ternyata memiliki Nilai UN di bawah rata rata siswa yang kategori tidak miskin. Masih banyak siswa miskin dengan Nilai UN di bawah angka 20.00 masih bisa diterima karena peraturan yang ditentukan dalam permindikbud tersebut. Secara rinci data Nilai UN siswa miskin yang diterima adalah yang memiliki nilai UN berkisar antara 10 s/d 15 sebanyak 5 %, yang memiliki nilai UN berkisar antara 16 s/d 20 sebanyak 22 %, yang memiliki nilai UN berkisar antara 21 s/d 25 sebanyak 53 %, yang memiliki n ilia UN antara 26 s/d 30 sebesar 11 % dan yang memiliki nilai UN diatas angak 31 hanya 11 %. Seperti diketahui mata pelajaran yang diujikan dalam UN SMP/MTS ads 4 mapel, sehingga dapat dikatakan siswa miskin yang diteriam di SMA di Jawa tengah mayoritas nilai Ujian Nasionalnya rata rata memperoleh nilai 6. (enam).
Ketiga, mayoritas siswa miskin lebih banyak masuk dipilihan MIPA yang rata rata Nilai UN nya relatif tinggi yaitu antara 30.00 s/d 39.00. Oleh sebab itu, dalam proses pembelajaran, masing masing sekolah harus memiliki kiat kiat atau metodologi pembelajaran khusus agar siswa yang memiliki nilai UN rendah tetap bisa mengikuti pelajaran seperti teman lainnya sehingga tetap mampu melahirkan lulusan yang berkualitas. Setiap sekolah harus memiliki prinsip “ input boleh kurang memuaskan tetapi hasil atau lulusan tetap memuaskan”.
Siswa Anak Guru di sekolah pilihan (N=230).
Dalam permendikbut nomor 14 tahun 2018 juga diatur bahwa anak guru disekolah pilihan memperoleh prioritas diterima berapapun nilai UNnya. Walaupun nilai UN anak Guru di sekolah pilihan di atas nilai UN anak miskin, tetapi belum bisa dikatakan memuaskan. Dari 230 anak Guru di sekolah pilihan yang disurvey diperoleh data sebagai berikut : Siswa yang mimiliki nilai UN di atas 31 sebanyak 26 %, yang memiliki nilai UN rentang antara 26 s/d 30 sebanyak 48 %, yang memiliki nilai UN antaar rentang nilai 21 s/d 25 sebanyak 15 % dan yang meiliki nilai UN di bawah 20 ada 11 %.
Berdasarkan data tersebut maka dapat dikatakan bahwa nilai UN anak Guru yang memiliki priorotas diterima di sekolah memiliki nilai rata rata pada rentang nilai 26-30. Artinya rata rata kemampuan akademik anak Guru pada angka (nilai) 7 ( tujuh).
Nilai 7 (tujuh) dalam sistem pendidikan bangsa Indoensia belum dapat dikategorikan memuaskan (tinggi) karena Kreteri Ketuntasan Minimal (KKM) masing masing sekolah tingkat SLTP (SMP/MTS) khususnya mata pelajaran yang diujikan dalam UN, mayoritas diatas angka 7 (tujuh), yaitu berkisar antara 7,5 (tujuh koma lima) sampai 8 (delapan).
Rekomendasi TIME
Berdasarkan hasil tracking pada PPDB tahun 2018, khususnya nilai siswa miskin dan anak guru yang memperoleh prioritas masuk di sekolah sesuai pilihan (Zona 1), maka TIME memberikan rekomendasi sebagai berikut :
Pertama, masing masing sekelah harus memiliki data pokok (data base) tentang kualitas akademik siswa yang mendapatkan prioritas masuk. Karena penentuan nilai masuk tidak didasarkan kualitas akademik melainkan disebabkan karena dikategorikan sebagai siswa tidak mampu dan sebagai anak dari guru disekolah pilihan. Hal ini dimaksudkan agar sekolah bisa melakukan bimbingan belajar secara optimal agar siswa yang memiliki nilai UN di bawah rata rata tetap bisa mengikuti proses pembelajaran, syukur bisa lebih meningkat dibanding siswa lainnya.
Kedua, masing masing sekolah harus tetap meiliki komitmen untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan kualitas lulusan, walaupun input nilainya belum sesuai harapan. Sekolah harus mampu mempertahaankan predikat atau citra sekolah sebagai sekolah yang favorit walaupun inputnya berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan, alasan pemberlakuan PPDB dengan sistem zonasi dimaksdukan untuk melakukan pemerataan mutu sekolah dan menghilangkan kesan sekolah favorit.
Ketiga, setelah PPDB dengan sistem zonasi, masing masing sekolah atau pemerintah harus mengoptimalkan pendidikan dan pelatihan (diklat) kepada para tenaga pendidik dan tenaga kependidikan agar memiliki kualitas atau kinerja ayang lebih baik dari pada tahun tahun sebelumnya. Kualitas kinerja tenaga pendidik dan tenaga kependidikan memiliki andil sangat dominan untuk mewujdukan kualitas dan pemerataan pendidikan.
Keempat, Selain kualitas kinerja tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, pemerataan dan kualitas pendidikan juga di dukung oleh perlengkapan sarana pendidikan dan pembelajaran. Oleh sebab itu pemerintah harus memberi perhatian yang serius dalam perlengkapan sarana pembelajaran seperti, kenyamanan ruang belajar, perlengkapan buku perpustakaan, kecukupan ruang kelas, laboratorium, sarana kesehatan.
Kelima, sinergi antara pihak sekolah dengan orang tua siswa harus dilakukan secara proporsional, efektif dan efisien. Jalinan kerjasama antara sekolah dengan orang tua tidak hanya dilakukan dalam urusan pemberian sumbangan yang berupa materi atau non materi, tetapi justru yang paling utama dilakukan dalam hal kontribusi akademik atau pembelajaran. Permohonan masukan dari orang tua, tidak hanya menyangkut persoalan material melainkan dalam hal akademik seperti kurikulum, metode pembelajaran supaya melibatkan orang tua siswa. Survey kepuasan layanan sekolah juga harus dilakukan secara periodik kepada orang tua siswa, karena pengguna layana dari pihak sekolah yang paling dominan (utama ) adalah orang tua siswa. Pertemuan antara sekolah dengan orang tua siswa hanya dalam hal sumbangan harus mulai dihilangkan, diganti dengan pertemuan yang mendiskusikan tentang pengembangan akademik bagi peserta didik.

Penanggung Jawab Survey/Ketua Dewan Pembina TIME
Dr. M. Saekan Muchith, M. Pd

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter