|  | 

Materi S1

Materi Kuliah Pengembangan Sistem Evaluasi

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Pendahuluan

Mata Kuliah Pengembangan Sistem Evaluasi mengandung makna bahwa persoalan evaluasi bagi calaon Guru (Mahasiswa Tarbiyah) menjadi sangat penting iuntuk dipahami. Konsekuensinya mata kuliah ini bertujuan memberi bekal pemahaman dan ketrampilan bagi mahasiswa agar memiliki pengetahuan akademik dan ketrampilan dalam melakuan evaluasi yang dilakukan di lembaga pendidikan Islam.

Problem esensi bagi lembaga pendidikan Islam (STAIN, IAIN dan UIN) selalu dihadapkan dengan permasalahan Dikhotomi ilmu pengetahuan yang berimplikasi pada rumusan kreteria tentang Islam yang melengkapi nama mata kuliah. Mata kuliah Pengembanagn Evaluasi PAI memiliki dua makna ; Pertama, mahasiswa mampu menjadi guru PAI yang profesional denagn salah satu ciri mampu melakukan dan mengembangkan evaluasi dalam pendidikan. Kedua, mahasiswa mampu menjelaskan kepada orang lain tentang kreteria atau perbedaan evaluasi pendidikan dan evaluasi pendidikan agama Islam.

Materi ini bersifat sangat global dan umum yang harus diperdalam oleh masing masing mahasiswa sendiri. Materi ini hanay dimaksudkan untuk bahan bacaan awal dan bahan untuk menjelaskan materi pada saat perkuliahan di kelas. Oleh sebab itu saya berharap dengan materi ini, mahasiswa harus lebih meningkatkan pendalaman materi sendiri dnegan cara membaca referensi lainnya.

Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI)

Pendidikan Agama Islam (PAI)  adalah proses mengajarkan agama Islam (AI) yang dilakukan dalam lingkungan proses formal dengan melibatkan setidaknya tiga aspek yaitu pendidik (guru), Peserta didik (siswa) dan sumber bekajar. PAI menekankan pada proses pembelajaran pada pendidikan formal (schooling) dengan berbagai macam pendekatan, metode dan strategi untuk mencapai tujuan yang ditentukan.

Perbedaan antara Pendidikan Islam (PI) dengan Pendidikan Agama Islam (PAI) terletak pada lingkungan, subyek dan obyek. Pendidikan Islam dilakukan dalam konteks lingkungan yang umum, di masyarakat dan keluarga, sedang Pendidikan Agama Islam dilakukan dalam lingkungan sekolah formal. Subyek Pendidikan Islam tidak hanya Guru tetapi bisa tokoh amsyarakat, mubaligh dan orang tua. Obyek Pendidikan Islam adalah masyarakat umum, sedangkan obyek Pendidikan Agama Islam adalah peserta didik (siswa) yang sedang melakukan pembelajaran di sekolah.

Persamaan antara pendidikan Islam dengan Pendidikan Agama Islam terletak pada materi yang diajarkan yaitu sama sama mengajarkan atau membimbing dan memberi pemahaman tentang ajaran Islam agar dapat diketahui, dipahami dan diaplikasikan kedalam kehidupan sosial. Dengan kata lain Pendidikan Agama Islam adalah proses pembelajaran agama Islam yang dilakukan oleh Guru dilingkungan pendidikan formal. Hakekat pembelajaran adalah proses melakukan interaksi yang efektif dan edukatif antara peserta didik dengan sumber belajar. Hal ini sesuai dengan pengertian pembelajaran yaitu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. (pasal 1 ayat 20)

Ruanglingkup atau bahasan Pendidikan Agama Islam meliputi empat aspek yaitu Pertama, Akidah Akhlaq. Materi ini berkaitan dengan proses menumbuhkan dan memperkuat keyakinan bahwa Allah swt itu Esa dan memiliki kekuasaan diatas segala-galanya. Setiap ciptaan-Nya( mahluk) harus tunduh, taat dan patuh keda Allah swt. Setiap Umat Islam harus mengakui bahwa Allah swt itu Maha mengetahui segala apa yang ada di langit dan dibumi beserta segala isinya. Oleh sebab itu setiap manusia harus memiliki kesadaran bahwa apa yang diekrjakan selama hidup didunia sekecil apapun Allah mengetahui. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt “ Katakanlah : Cukuplah Allah menjadi saksi, antaraku dan antaramu. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Dan orang orang yang percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang orang yang merugi”. (QS. Al ‘Ankabut : 52).  Selain mengakui ke Esaan Allah, setiap manusia harus juga berusaha untuk bersikap dan berperilaku baik. Hal ini didasarkan dengan profil Nabi Muhamamd SAW yang dapat dijaidkan personifikasi sebagai manusianyang agung. Seperti firman Allah Swt “ Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar benar berbudi pekerti yang agung “ (QS. Al Qalam: 4).

Secara rinci perilaku manusia yang ideal tercermin dengan perilaku yang konsisten dalam situasi apapun, dan mampu menahan emosi ketika menghadapi persoalan dalam kehidupan. Sesuai dnegan firman Allah Swt “ Dan segeralah kamu kepada ampunan dari  Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang orang yang bertaqwa, yaitu orang orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang orang yang berbuat kebajikan”. QS. Ali Imran : 133-134).

Kedua,  Syariah atau Hukum Islam. Materi ini berkaitan dengan proses membimbing  dan melatih agar sikap dan perilaku manusia selalu sesuai dengan ketentuan atau norma yang berlaku baik norma agama (Islam) maupun norma sosial. Manusia hidup harus selalu berdasar kepada aturan atau norma. sebagai manusia yang beragama sudah barang pasti selalu memagang teguh aturan atau norma sesuai agama yang diyakini. Sebagai bangsa, juga harus mematuhi norma yang berlaku di mana manusia berada. Firman Allah Swt “ Hai orang prang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri diantara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisaa: 59).

Ketiga, Sejarak Kebudayaan Islam, materi ini berkaitan dengan proses membimbing dan melatih untuk mengetahui makna peristiwa masa lalu untuk dijadikan pelajaran memperbaiki masa depannya. pentingnay sejarah atau masa lalu bagi manusia dijelaskan dalam Firman Allah swt  dslam surah al Asyr 1-3.

Pentingnya mengetahui sejarah atau masa lalu juga di jelaskan oleh Allah dalam firmanNya “ Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memeprhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hasyr : 18).

Keempat,  Al Qur’an dan Hadis. Materi ini berkaitan dengan proses membimbing dna melatih untuk mengetahui dna memahami isi kandungan yang ada di dalam kitab suci Al Qur’an dan hadis. kedua sumber ini harus dijadikan pedoman atau rujukan utama bagi umat Ilsam agar kehidupannya selamat dunia sampai akherat. Umat islam harus mengetahui, memahami dan mengambil makna di balik ayat al qur’an dan hadis. Hal ini sesuai dengan Firman Allah Swt “ Sesungguhnya orang orang yang selalu membaca kitab Allah Swt dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebahagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam diam dan terang terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. (QS. Faathir : 29).

Ayat tereebut mengandung makna, bahwa memahami al qur’an akan menjadikan manusia selamat, sejahtera dan bahagian selama di dunia dan di akherat. membaca dan mempelajtri al qur’an juga mendapatkan banyak pahala. Sesuai dnegan hadis Abdullah Inbu mas’ud RA berkata; Rasulullah SAW bersdabda: Siapa saja yang membaca satu hruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan dengan membaca terseebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya, dan aku tidaka mengatakan (Alif Laam, Miim) itu satu huruf, melainkan Aliif, satu huruf, Laam, satu huruf dan Miim juga satu huruf. (HR. Tirmidzi).

Karakteristik PAI

Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki karakteristik yang berbeda dengan pelajaran diluar PAI. Guru PAI harus memahami secara tepat tentang karakteristik PAI. Jika PAI disamakan dengan pelajaran non PAI maka selama itu pula tidak akan mampu menjawab tantangan dan problem masyarakat. Guru PAI hakekatnya adalah menyampaikan, memberikan pemahaman tentanag Islam kepada masyarakat dan peserta didik. Islam adalah agama yang besar dan menyangkut berbagai dimensi kehidupan sosial. Islam harus dipahami dnegan cara fikir yang multidimensional dalam arti harus dilihat dari berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan. Jika islam hanya dilihat dari dimensi ilmu fiqh (hukum islam) maka yang terlihat Islam hanya berbicara halal dan haram. Jika Islam hanya dilihat dari sudut pandang ilmu tauhid saja, maka yang terlihat Islam hanya berbicara Kafir, Muslim, Taqwa, Munafik.

Pelajaran PAI memiliki karakteristik yang bersifat integral, lintas sektor dan zig zag. Artinya pelajaran PAI selalu berkaitan dengan ilmu ilmu lain di luar PAI misalnya berkaitan dengan ilmu psikologi, sosiologi, geografi, ilmu manajemen dan ilmu lainnya. Ilmu PAI selalu berkaitan dnegan ilmu lain diluar dirinya. Ilmu PAI tidak mungkmin bisa dipahamis ecara utuh jika hanay berdiri sendiri tanpa dikaitkan dengan ilmu diluar dirinya. Artinya Pelajaran PAI akan dipahami secara utuh oleh siswa jika materi tersebut disampaikan dengan didukung dengan penjelasan ilmu lain di luar PAI. Menjelaskan pokok bahasan zakat fitrah tidak cukup hanya menjelaskan pengertian zakat, berapa nisob zakat, bagaimana makna atau hikmah zakat serta doa doa dalam ibadah zakat.  Mengajarkan materi PAI pokok bahasan zakat fitrah pasti berkaitaan dengan kemiskinan (ilmu ekonomi), berkaitan dengan pola pengelolaan zakat produktif (ilmu manajemen), berkaitan dengan  melatih kepekaan atau kepedulian dengan fakir miskin (ilmu psikologi dan ekonomi). Mengajarkan pelajaran PAI pokok bahasan sholat tidak cukup hanya menjelaskan pengertian sholat, bacaan sholat, praktek sholat. Pokok bahasan sholat perlu dijelaskan tentang makna gerakan sholat dalam kehidupan sosial (ilmu sosiologi/antropologi), perlu juga menjelaskan tentang khusyu’ (berkaitan dengan ilmu psikologi).

Konsekuensinya, Guru PAI harus memiliki pengetahuan lintas sektor, artinya guru PAI  tidak cukup hanya memiliki pengetahuan norma norma ritual keagamaan melainkan harus selalu mengikuti dinamika atau perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara ekstrem dapat dikatakan bahwa guru PAI adalah sosok guru yang “serba bisa”, karena pelajaran PAI menghendaki kemampuan yang serba bisa. Mengajarkan fiqih pokok bahasan mawaris, guru PAI harus  paham ilmu matematika, mengajarkan pokok bahasan sholat pada materi sholat khusyu’, guru PAI harus juga memiliki pemahaman tentang ilmu psikologi.

Sampai disini, dapat dikatakan bahwa dalam pelajaran PAI tidak mengenal mis match (tidak relevan), karena karakteristik PAI adalah materi yang memgharuskan  mampu mamahami ilmu pengetahuan lintas sektor. Oleh sebab itu jika ada lulusan PTAI jurusan PAI setelah lulus mengajar mata pelajaran IPS, IPA, MTK, Olah raga, kesenian, bahasa Indonesia, bahas Inggris tidak dapat dikatakan mismatch, melainkan itu merupakan sebuah keniscayaan dari karakerisktik ilmu atau pelajaran PAI.

Implikasi dari karakter ilmu PAI yang lintas sektor itulah menyebabkan profil lulusan dari lembaga pendidikan agama Islam menjadi sosok yang “serba bisa” dan lebih siap menghadapi berbagai realitas problem kehidupan yang ditandai dengan karakter manusia yang memiliki kemandirian tinggi, ulet, bekerja keras, selalu mencoba sehingga pada akhirnya memiliki keberhasilan sesuai yang diharapkan.

Hakekat Guru PAI 

Memahami siapa guru yang sebenarnya, terlebih dahulu kita bandingkan pengertian antara guru dan dosen. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar dan menengah. Dosen adalah pendidikan profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui  pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indoensia, Ilmuwan diartikan orang yang ahli atau orang yang memiliki banyak pengetahuan mengenai suatu ilmu. Ilmuwan juga dapat diartikan orang yang berkecimpung dalam dunia ilmu pengetahuan, seperti senang membaca, menulis, meneliti. Dalam Islam, ilmuwan adalah manusia yang selalu takut (dekat) kepada Allah swt. Hal ini dijelaskan dalam Surah Faathir ayat 28. “ Dan demikianlah diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang binatang ternak ada yang bermacam macam warnanya dan jenisnya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba hamba-Nya, hanyalah ulama (ilmuwan). Kedudukan seorang ilmuwan (ulama) memiliki posisi sangat tinggi (mulia), setiap ulama (ilmuwan) yang selalu melaksanakan kegiatan sesuai dengan norma yang berlaku akan diberi beberapa kenikmatan dan derajat (posisi) yang tinggi dibanding lainnya. Hal ini di jelaskan dalam Surah Al Mujadalah : 11 “ .. Allah akan meninggikan orang orang yang beriman diantara kamu dan orang orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 

Guru dan dosen walaupun memiliki persamaan yaitu sama sama sebagai pendidik professional, tetapi jika dilihat dari tugas utamanya memiliki perbedaan sangat tajam. Guru ruanglingkup kerjanya terbatas di pendidikan  formal (sekolah) di pendidikan usia dini, pendidikan dasar (MI/SD/ MTS/SMP) dan pendidikan mengah (MA/SMA/SMK) yang ditunjukkan dengaan tindakan mendidik, mengajar, membimbing, melatih, mengevalausi dan menilai. Konsekeunsinya guru harus lebih konsentrasi melaksanakan tugas pembelajaran disekolah formal saja. Kegiatan selain proses pembelajaran  di sekolah formal tidak menjadi tugas dan tanggung jawabnya seperti melakukan pengabdian kepada masyarakat dan mengembangkan ilmu pengetahuan di forum publik.

Guru yang ideal adalah guru yang rajin dan disiplin melakukan pembelajaran siswa selama di sekolah yang ditunjukkan dengan ketrampilan menyusun desain pembelajaran, member motivasi siswa untuk belajar, menggunakan metode dan media secara tepat, dan mampu melakukan penilaian yang dapat dijadikan bahan pengembangan program di sekolah. Setiap jam pembelajaran harus berasa di sekolah, jika pada jam sekolah berlangsung guru berada di luar sekolah maka itu bisa menjadi bukti pelanggaran yang berat.

Secara tehnis, guru yang ideal harus  melaksanakan   jam tatap muka sekurang kurangnya 24 jam tatap muka dan sebanyak banyaknya 40 jam tatap muka dalam satu minggu. Hal ini menggambarkan bahwa waktu guru dihabiskan untuk melaksanakan proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Guru tidak wajib melaksanakan kegiatan yang bersentuhan dengan kegiatan di masyarakat.

Berbeda dengan dosen, walaupun sama sama sebagai pendidik profesional, tetapi dosen selain pendidikn professional juga disebut sebagai ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dans eni melalui pendidikan, penelitiaan dan pengabdian masyarakat. Sebagai dosen memiliki ruang lingkup sangat luas tidak hanya di dalam pendidikan formal (kampus) tetapi juga di dalam realitas kehidupan masyarakat. Artinya dosen tidak hanya bertugas membimbing dan melatih para mahasiswanya tetapi juga harus mampu menyebarluaskan ilmu pengetahuan dengan berbagai media baik melalui perkuliahan (pendidikan/pengajaran) juga harus melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Konsekuensinya, dosen tidak bisa dituntut selalu di dalam kampus untuk melaksanakan perkuliahan dengan mahasiswa, karena jika hanya itu yang dilaksanakan akan mengakibatkan kurang optimalnya tugas utama sebagai dosen. Selain melakukan perkuliahan bersama mahasiswa, dosen juga harus melakukan penyebaran dan pengembangan ilmu melalui seminar, diskusi, penerbitan buku, penelitian dan penerbitan hasil hasil penelitian. Disinilah perbedaan utama antara guru dan dosen.

Dari aspek kompetensi inilah, dapat diketahui perbedaan antara guru PAI dengan guru non  PAI. Guru PAI adalah pendidikan profesional yang memiliki tugas memberi pemahaman materi agama Islam kepada peserta didik dan masyarakat. Guru PAI setidaknyaa memiliki dua tugas yaitu tugas melaksanakan sebagai pendidik dan pengajar di sekolah dan juga memiliki tugas memberikan pemahaman materi agama Islam kepada peserta didik agar peserta didik dan masyarakat memiliki cara pandang atau pemahaman terhadap agama (al qur’an dan hadis) secara tepat yang ditandai dengan sikap dan perilaku yang santun, damai serta  anti kekerasan.

Perbedaan nyata antara guru PAI dengan guru non PAI terletak pada aspek kompetensi sosial dan pedagogiek. Kompetensi sosial bagi guru PAI lebih luas ruanglingkupnya dibanding guru non PAI, karena guru PAI secara langsung maupun tidak langsung dituntut mampu memebrikan pencerahan tidak hanya kepada peserta dididk di sekolah tetapi juga kepada masyarakat diluar sekolah. Walaupun diluar jam sekolah, Guru PAI tidak boleh menghindar jika ada masyarakat yang bertanaya atau meminta pendapat tentang berbagai hal kehidupan dan keagamaan. Guru PAI tidak boleh lari dari permasalahan yang dihadapi masyarakat. Agama yang melekat kepada diri guru PAI memiliki konsekeunsi dakwah Islam secara nyata kepada masyarakat.

Jangan disalahkan jika, ada tawur antar pelajar sedang marak, banyak aksi radikalisme dan terorisme, banyaknya oknum pejabat yang korupsi, sikap dan moralitas sosial masyarakat rendah yang ditandia dengan mudahnya konflik horizontal, oknum anggota wakil rakyat mudah bertengkar, profesi guru PAI menjadi sasaran “kesalahan”. Artinya semua orang menengok kepada profesi Guru PAI yang dianggap ada kesalahan atau kurang optimal.

Berbeda dengan posisis guru non PAI, walaupun tim nasional belum pernah menang ditingkat ASEAN, ASIA bahkan Dunia, ketika pengurus PSSI masih berselisih pendapat sampai muncul dualism kepengurusan, tidak pernah ada orang yang menuduh pendidikan olahraga telah gagal atau salah. Pada pemilu menghasilkan para wakil rakyat yang belum sesuai harapan, belum dewasa atau belum berkualitas, tidak ada masyarakat menuduh bahwa pendidikan kewarganegaraan telah gagal atau salah. Disinilah uniknya perbedaan antara guru PAI dengan non PAI dilihat dari aspek kompetensi sosial.

Dari aspek kompetensi pedagogiek, peran atau tanggung jawab guru PAI dengan non PAI juga sangat terlihat jelas. Hal ini disebabkan karena perbedaan karakteristik ilmu PAI dan ilmu non PAI berbeda. Karakteristik ilmu PAI bersifat multi disiplin/ zigzag sedangkan karakter ilmu non PAI bersifat monodisiplin/monoton. Konsekeunsinya, gurun PAI juga harus memiliki wawasan lintas sector/multidisiplin.

 Ciri khusus yang membedakan dengan guru lainnya (non PAI), Guru PAI harus memiliki wawasan lintas sektor atau multi disiplin, karena materi PAI selalu berkaiatan dengan materi diluar dirinya. Misalnya materi tentang sholat tidak cukup disampaikan tentang tatacara gerakan sholat dan dalil yang menguatkan. Materi sholat juga berkaitaan dengan kekhusyu’an (ilmu psikologi), berkaitan dengan persatuan dan kesatuan (soiologi). Materi al qur’an hadis tidak cukup hanya disampaikan cara menulis dan membaca al qur’an dan hadis, tetapi juga berkaitan dengan pemahaman kontekstual  atau asbabun nuzul/ asbabul wurudnya ( ilmu sosiologi, antropologi), materi fiqih tidak hanya berkaitan dengan bagaiamana menjelaskan halal haram, wajib, sunah, haram, makruh tetapi juga berkaitan dengan bagaimana membagi harta warisan, bagaimana menghitung nisob zakat (matematika). Dengan kata lain guru PAI harus lebih cerdas dibanding guru non PAI, karena menguasai ilmu diluar materi yang pokok suatu keniscayaan yang harus dilakukan.

Perbedaan esensial antara profesi guru PAI dengan guru non PAI setidaknya dilihat dari dua aspek kompetensi yaitu:

  1. Kompetensi sosial, guru PAI memiliki ikatan sangat kuat dengan perhatian sosial atau amsyarakat. Oleh sebab itu guru PAI harus selalu memeprhatikan etika dna nilai nilai yang berkembang di masyarakat. Guru PAI memiliki tugas berat yang didberikan oleh masyarakat. Guru PAI selain memiliki kemampuan melakukan pembelajaran di sekolah juga harus smemiliki kemampuan dna ketrampilan untukm melakukan sosialisasi atau partisipasi kepada masyarakat secara utuh. Konsekuensinya guru PAI harus memiliki kemampuan dna ketrampilan tentangs eegala hal yang dibutuhkan masyarakat khususnya dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. Karena Guru PAI di daerah akan sangat mudah diminta membantu kebutuhan amsyarakat yang berkaitan dengan sisal kemasyarakatan.
  2. Kompetensi pedagogiek, guru PAI memiliki tugas dan tanggung jawab sangat berat dalam melakukan pembelajaran di dalam kelas. Karena pembelajaran menyangkut tentang pengembangan materi pelajaran. Materi PAI memiliki ketrkaitan atau ikatan dengan ilmu lainnya sangat tinggi. Materi PAI pasti memiliki kaitan dnegan ilmu psikologi, sosiologi, IPS, IPA, MTK dan ilmu lainnya. Hal ini disebabkan oleh ruanglingkup PAI tidak hanay materi ritual keagamaan melainkan juga menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Konsekuensinya guru PAI dalam pembelajaran harus memiliki kemampuan menghubungkan atau mengkaitkan dengan materi lainnya yang ada diluar PAI. Mengajarkan atau menyampaikan materi sholat tidak cukup hanya menyampaikan tentang pengertian sholat, bacaan sholat, gerakan sholat melainkan juga harus menjelaskan keterkaitan sholat dengan toleransi dan kerukunan masyarakat.

Evaluasi Pendidikan

Evaluasi berasal dari kata evaluation yang berarti penailaian atau penaksiran. Jika diartikan secara istilah, maka evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang terencana dan sistematis untuk mengetahuai hakekat suatu obyek yang dilakukan melalui kegiatan pengukuran dan penilaian. Kegiatan pengukuran bersifat atau ditandai dnegan hal hal yang bersifat kuantitatif sedanagkan penilaian ditandai dnegan hal hal yang bersifat kualitatif. Evaluasi dalam pendidikan tidak akan mungkin tanpa ddilakukan dengan dua hal tersebut.

Mengapa pendidikan perlu evaluasi? Sekurang kurangnya ada tiga hal untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pertama, dari aspek manajemen, pendidikian selalu ditandai dengan input, proses dan out put. Dimana untuk mengetahuai sejauhmaan hasil dari ketiga proses itu tidak mungkin tanpa evalausi.

Kedua, dari kualitas Guru, bahwa evaluasi menjadi ciri utama pendidik profesional. Pendidik atau Guru tidak akan bisa dikatakan sebagai pendidik profesional jika tidak melakukan proses evaluasi. Oleh sebaba itu evaluasi menjadi makna sangat penting bagi semua guru termasuk Guru PAI. Karena pendidikan tidak akan bisa diketahui hasil baik buruknya jika tanpa ada evaluasi.

Ketiga, dari aspek pembelajaran. Bahwa evaluasi menjadi bagian integral dalam proses pembelajaran. Dimana pembelajaran ditentukan oleh tiga hal yaitu Tujuan pembelajaran (Educational Objective), pengalaman pembelajaran (Learning Experiences) dan prosedur evaluasi (evaluation procedures).

Evaluasi pendidikan memiliki perbedaan jika dibanding dengan evaluasi lembaga selain pendidikan. Ada beberapa ciri evaluasi pendidikan antara lain :

 Pertama, Evalausi dalam pendidikan dilakukan secara tidak langsung. Obyek yang dievaluasi yaitu peserta didik tidak dilakukan lengausng kepada fisiknya peserta didik. Misalnya mengevalausi tingkat kecerdasan inteelktual (kognitif) tidak dilakukan dnegan cara mengevalausi fisik otaknya, melainkan dilakukan melalui tes atau soal yang dapat menggambarkan kualitas kecerdasan peserta didik. Mengevalusi kualitas kepribadian juag tidak dilakukan dnegan cara mengevalausi hati atau dadanya, melainkan dilakukan melalui instrumen evaluasi sikap yang hasilnya akan menggambarkan kualitas sikap kepribdian.

Kedua, evaluasi pendidikan terlebih dahulu menggunakan angka (kuantitatif). Hal ini didmkduakn agar memperoleh data atau hasil yang akurat. Untuk mengetahuai tingkat kecerdasan peserta didik diawali dari angka (kuantitatif) terlebih dahulu. Untuk mengetahui kecerdasan peserta didik juga diawali dari tingkat angka yang diperoleh pada saat mengerjakan soal.

Ketiga, Evaluasi pendidikan memiliki satuan yang tetap. Karena jika satuan yang dievaluasi tidaka tetap maka akan berakibat tidaka akan memiliki keajegan  dan prediksi atau validitas hasilnya snagat rendah atau buruk.

Keempat, evaluasi pendidikan bersifat relatif. Artinya hasil evaluasi akan berubah setiap saat sesuai sitausi dan kondisi. Artinya hasil evaluasi tahun ini akan berbeda dengan hasil evalausi di tahun mendatang, begitu seterusnya.

Kelima, Evaluasi pendidikan tidaka akan bisa lepas dari kesalahan. Kesalahan itu bersifat kultural karena kelemahan yang dimiliki oleh manusia.

Aspek yang di Evaluasi

Aspek yang dievaluasi dalam pendidikan sekurang kurangnya meliputi tiga hal yang biasa disebut taksonomi pendidikan yang terdiri dari Kognitif ( kecerdasan intelektual), affektif (kecerdasan sikap kepribadian), Psikomotorik (kecerdasan mekanik/otot).

KOGNITIF adalah kecerdasan atau ketrampilan intelektual yang memiliki enam tahapan atau potensi yaitu :

  1. Knowledge : kemamapuan menghafal teori atau fakta yang telah dilihat atau dibaca.
  2. Comprehention: kemampuan mengungkapkan kembalai dari apa yang dilihat atau dihafal dengan menggunakan bahasa sendiri.
  3. Application: kemamapuan mempraktikan apa yang diketahuii dan dipahami
  4. Analisis : kemampuan mengurai persoalan dengan menggunakan pendekatan induktif.
  5. Synthesis: kemampuan mengurai persoalan dengan menggunakan pendekatan deduktif
  6. Evaluasi : kemampuan menemukan perbedaan dari suatui obyek.

AFFEKTIF adalah kecerdasan atau ketrampilan sikap kepribadian yang didalamnya ada lima tahapan atau potensi yaitu :

  1. Receiving: menerima atau pengaruh dari luar dirinya
  2. Responding : menggapi semua apa yang datang kepada dirinya
  3. Oraganization : memebrdayakans emua potensi yang ada dalam dirinya
  4. Valuing: kecenderungan yang ada di dalam diri atau psikologis
  5. Characterization by complex: kemampuan mengelola semua potensi menjadi kepriabdian dalam kehidupan. Ada inteegrasi antara apa yang diketahui, diyakini dan di laksanakan.

PSIKOMOTORIK adalah kecerdasan atau ketrampilan otot atau mekanik yang didalamnya berisi tujuh tahapan/potensi yaitu :

  1. Perception : kesan terhadap jenis ketrampilan yang akan dilakukan
  2. Set: komitmen untuk meraih ketrampilan yang akan dilakukan
  3. Guided response: memahami fungsi fungsi masing masing komponen dari jenis ketrampilan yang akan dilakukan
  4. Mechanism: melatih kemampaun dalam alam yang tidak nyata (semu)
  5. Complexs over response: kemampuan praktik di alam nyata.
  6. Adaptation: kemampuan/ketrampilan yang belum sempurna
  7. Origination: kemampuan/ketrampilan sempurna yang mengandung unsur keindahan (seni)

Macam macam Evaluasi

Secara umum ada beberapa macam evalausi dalam pendidikan yaitu evaluasi input, evaluasi proses, evaluasi output (produk) dan Evaluasi konteks. Keempat evaluasi harus dilakukan dalam lembaga pendidikan agar kualiats pendidikan benar benar dapat terjaga atau dipertahankan.

Evaluasi input adalah evaluasi yang berkaitan dnegan masukan atau proses  seleksi masuk peserta didik. Evaluasi input dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana kualitas yang dimiliki calon peserta didik jika dikaitkan dnegan visi dan misi sekolah. Salahs atu indikator untuk mengetahui kualitas calon peserta didik dilihat dari aspek kesesuaian visi dan misi yang telah dirumuskan.

Evaluasi proses adalah evaluasi yang berkaitan dnegan kualiats belajar mengajar yang ditekiankan pada kemampuan guru menjelaskan materi, kemamuan peserta didik memahami materi pelajaran, kemampuan guru menggunakan media dan emtode pembelajaran.

Evaluasi produk adalah evaluasi yang berkaitan dnegan kemampuan hasil akhir peserta didik. Yaitu evalausi yang dapat menggambarkan sikap dan erilaku akademik dan non akademik peserta didik.

Evaluasi konteks adalah evaluasi yang bersifat kompleks yang berkitan dengan aspek aspek diluar pendidikan seperti pengaruh teknologi informasi trhadap pendidikan dan pembelajaran, pengaruh lingkungan sosial, pengaruh karakter orang tua peserta didik. Aspek aspek tersebut harus diketahui oleh sekolah agar mampu melakukan langkah langlah inovasi dan pengembangan secara optimal.

Evaluasi Tes dan Non Tes

Evaluasi tes dilakukan untuk mengetahui kecerdasan atau kualitas intelektual (kognitif) yang memiliki 6nam tahapan. Evalausi dengan tes dilakukan dengan memberi sejumlah pertanyaan (soal) yang harus dijawab oleh siswa sehingga dapat diketahui kualitas pemahaman terhadap materi pelajaran yang telah disampaikan. Evaluasi dengan tes dapat dilakukan dengan soal Benar Salah (B-S), jenis soal Pilihan ganda, dan soal uraian.

Evalausi dengan tes lebih banyak berbicara tentang bagaimana membuat soal yang baik. Oleh sebab itu ada hal hal yang perlu diperhatikan oleh guru terkait dengan soal yaitu:

  • Soal harus ada kesesuaian antara tipe soal dengan materi pelajaran
  • Soal harus ada kesesuaian antara tipe soal dengan tujuan evaluasi
  • Soal harus ada kesesuaian antara tipe soal dengan sistem pengolahan (skoring)
  • Soal harus ada kesesuaian antara tipe soal dengan aspek praktis birokrasi

Tes juga dapat dilakukan dengana cara lesan (tes lesan) dan tindakan (tes tindakan). Tes lesan adalah suatu tes dnegan cara memebri pertanyaan yang harus dijawab dnegan bahasa verbal dari peserta didik. Diantara kelebihan tes lesan antara lain :

  1. Bisa mengetahui kondisi peserta didik secara utuh karena langsung berhadap hadapan (face to face).
  2. Lebih fleksibel, artinya jika peserta didik belum paham dnegan pertanyaan, bisa dirubah sampai peserta didik memahami isi pertanyaan yang dimaksud.
  3. Penguji atau guru yang melakukan tes dapat menggali lebih lanjut, oleh sebab itu satu pertanyaan bisa untuk mengetahui banyak aspek.
  4. Hasilnya langsung dapat diketahui

Selain ada kelebihan, tes lesan juga memiliki beberapa kelemahan atau kekurangan yaitu :

  1. Apabila hubungan antara pendidik dan peserta didik tidak harmonis akan mudah menimbulkan subyektivitas penilaian.
  2. Pertanyaan yang diberikan cenderung tidak sama jumlah dna tingkat kesulitannya.
  3. Kebebasan peserta didik menjawab seringkali berkurang, karena sering kali pendidik (guru) memotong jawaban dari peserta didik.
  4. Memerlukan waktu yang cukup lama
  5. Hasil penilaiannya akan mudah terpeengaruh dnegan sikap kepriabdian pada saat menjawab pertanyaan.

Tes tindakan adalah suatu tes yang dilakukan yang mengharuskan peserta didik menjawab atau merespon dengan tindakan (perilaku). Dapat dilakukan dengan ujian praktik. Kelebuhan dari tes tindakan adalah :

  1. Sangat tepat untuk mengukur aspek psikomotorik yang memiliki tujuh tahapan.
  2. Pendidik (guru) bisa langsung mengamati secara langsung dan hasilnya juga dapat diketahui seketika itu.

Selain kelebihan, tes tindakan juga ada kelemahan. Kelebahan yang dimiliki dari tes tindakan anatara lain :

  1. Apa bila perintah tidaka jelas akan melahirkan tindakan yang tidak sesuai dengan harapan.
  2. Membutuhkan waktu yang lama
  3. Seringkali ada gangguan dalam pengamatan, sehingga berpotensi memeproleh hasil yang kurang obyektif.

Evaluasi non tes ddilakukan untuk mengetahui kecerdasan affektif yang memiliki lima tahapan di dalamnya. Evalausi non tes dimaksudkan untuk mengetahui sikap, minat dan bakat yang dimiliki oleh peserta didik. Evalausi non tes bisa dilakukan melalui skala sikap, cek lis, pedoman observasi dan tes lain yang berkaiatan dengan aspek psikologis peserta didik.

Tes Yang baik

Tes yang baik harus dilakukan dengan beberapa hal yaitu (a) Pengembanagn soal (b) penulisan soal (c) Penelaan Soal (d) pengujian butir soal (e) ada administarsi soal yang baik. Setiap guru yang akan melakukan tes  di lembaga pendidikan haus memperhatikan aspek aspek tersebut agar tujuan tes dapat dicapai sesuai harapan.

Yang perlu diperhatikan dalam pengembangan soal antara lain : menentukan tujuan evalausi/tes, menyusun kisi kisi soal, memilih tipe soal, merencanakan tingkat kesulitan dna kemudahan, merencanakan jumlah soal yang sesuai.

Penulisan soal harus memeprhatikan hal hal yang penting agar penulisan soal benar benar sesuai harapan. Ada beberap hal khusus yang haarus dimiliki penulis soal adalah : (1) penguasaan pengetahuan yang akan diujikan, (2) pemahaman terhadap karakteristik individu peserta didik yang akan di tes (3) memiliki kemampuan membahasakan gagasan atau ide (4) memiliki penguasaan tehnik penulisan soal.

Penelaah soal adalah proses untuk mengetahui kesempurnaa atau kebenaran soal yang telah disusun. Untuk soal yang ditujuan untuk tes sekolah (lokal) maka penelaah sosla dilakukan oleh si pembuat soal sendiri. Landasan atau acuan untuk menelaah soal didasarkan pada kisi kisi soal. Oleh sebab itu dalam menelaah soal, guru harus mengetahui dan memahami kisi kisi soal.

Penutup

Materi ini bersifat global, yang harus diperdalam oleh masing maisng Mahasiswa dengan cara membaca buku buku referensi lainnya. Materi ini hanay untuk sebagai pegangan awal mahasisiwa dalam mendalami ilmu evaluasi PAI. Materi ini juga akan diperjelas dalam perkuliahan secaar klasikal di kelas.

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter