|  | 

Data Pustaka

Apa itu Hilf al Fudhul

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Hilf al Fudhul (dibaca : hilful fudhul), secara harfiah berarti sumpah kebajikan. Sumpah atau kesepakatan yang dilakukan oleh beberapa kabilah dari suku Quraisy tidak lama sertelah berakhirnya perang fijar dengan diiringi  pembentukan suatu badan atau organisasi yang disebut Hilf al Fudhul atau juga bisa disebut Kelompok Pengembang Kebajikan.

Peristiwa terjadinya hilf al fudhul terjadi pada tahun 33 sebelum hijriyah atau 590 M. Latar belakang terjadinya Hilf al Fudhul dilatar belakangi oleh salah seorang pedagang dari suku Zubaid yang berasal dari Yaman di dzalimi oleh al ‘as bin Wail dari suku Quraisy yang telah memesan dan menerima barang pemesannya kemudian tidak bersedia membayar barang yang telah dipesan.Berbagai upaya dari suku Zubaid untuk memperoleh bayaran atas barang yang diserahkan kepada al “as bin Wail terus dilakukan dengan berbagai cara, namun tidak kunjung berhasil. Berita kegagalan dari al ‘As bin wail dari Suku Zubaid ini menyebar keberbagai wilayah khususnya kepada penduduk Makah. Atas tersebarnya berita tersebut, maka Zubair bin ‘Abd al Muthalib bin Hasyim mengembil prakarsa   mengumpulkan tokoh tokoh Quraisy untuk membicarakan dan mengatasi persoalan permasalahan antara suku Zubaid dengan Suku Quraisy. maka akhirnya terjadilah pembentukan organisasi yang dinamakan Hilf al Fudhul (sumpah kebajikan/kebaikan).

Isi sumpah kebajikan (hilf al Fudhul) adalah “ Bahwa seluruh anggota hilf al fudhul akan senantiasa mengembangkan kebaikan. Bilamana mereka menemukan seseorang yang berada di Makah,  baik warga Makah maupun pendatang yang diperlakukan tidak adil maka harus di bela /dibantu dan pihak pihak yang mendholimi harus dilawan/diperangi agar keadilan benar benar bisa ditegakan.

Peserta atau anggota hilf al fudhul terdiri dari para wakil dari  kabilah Bani Hasyim, bani Al Muthalib (al Muthalib adalah paman  dari Abdul Muthalib atau saudara dari Hasyim bin Abdu manaf), bani Asad, bani Zuhra dan bani Taim. Nabi Muhamad pada saat terjadinya hilf al fudhul pada usia 20 tahun dan ikut hadir serta menjadi bagaian dari keanggotaan hilf al fudhul.

Sumber : Soekama dkk (Penyusun) (1996: 67-68), Ensiklopedi Mini : Sejarah & Kebudayaan Islam, (edisi pertama), (ed : Badri Yatim), Penerbit : Logos Wacana ilmu, Jakarta.

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter