|  | 

Komentar

Catatan perjalanan Haji 2022: Predikat Haji Bukan di panggilan dan Surban

img-responsive

Puncak kegiatan ibadah haji 1443 H, Wukuf arofah, bermalam ( Mabit) di Muzdalifah, melempar jumrah di Mina, thowaf ifadhah dan sai serta tahalul sudah selesai dilakukan oleh calon jamaah haji baik dilakukan sendiri maupun ada yang di wakilkan ( badalkan). Artinya muslimin yang melaksanakan ibadah haji sudah tidak lagi menjadi calon jamaah haji ( CJH ) tetapi sudah benar benar sebagai jamaah haji (JH). Artinya predikat Pak Haji dan Bu Hajjah sudah melekat pada diri jamaah yang tahun 2022 menjalankan ibadah haji.

Mulai tanggal 16 Juli, sudah dilakukan proses pemulangan jamaah haji Ke Indonesia. Kloter 1-3 SOC hari ini ( Ahad 27 Juli) sudah sampe di kampung halaman masing masing. Untuk kloter 8 asal kabupaten Kudus, dijadualkan hari Rabu 20 Juli  2022 jam 07.35 WAS ( Waktu Arab Saudi) terbang dari  bandara Jedah menuju bandara Adi Soemarmo Solo. Sampai Solo hari Kamis 21 Juli jam 00.30 ( wib) ( Rabu dinihari).Selanjutnya perjalanan darat menuju kabupaten Kudus, diperkirakan jam 06.00 wib sudah sampai di Kudus. Semoga semua jadual penerbangan diberi kelancaran dan kenyamanan, Amien yra.

Secara statistik pada tahun 2022 ini, bangsa Indonesia ada penambahan haji sebanyak 100.050 orang, dengan asumsi tahu 2022 ini Indonesia mendapat kuota 100.050 jamaah haji. Bisa dimaknai bahwa orang baik di Indonesia bertambah 100.050 orang. Hal ini sesuai sabda Rasul yang mengatakan “Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga,” (HR Bukhari). Kurang lebih 100 ribu orang calon ahli surga telah ada di Indonesia. Ahli surga pasti orang baik atau Sholeh yang akan selalu berbuat baik atau bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

Orang yang disurga pasti orang yang baik secara sempurna, artinya kebaikan  manusia yang utuh dan komprehensif. Tidak hanya baik dalam kata kata dan penampilannya tetapi juga baik dalam sikap dan perilakunya dengan sesama manusia dan lingkungannya.

Produk ibadah haji harus ditampilkan setidaknya dalam dua fenomena, pertama, fenomena ritual ceremonial. Produk ibadah haji harus ada peningkatan baik kualitas maupun kuantitas dalam menjalankan ibadah ritual seperti sholat, puasa, zakat dan puasa. Jangan sampai setelah ibadah haji justru rutinitas ibadah sholat, puas justru berkurang ketimbang sebelum pergi haji.

Kedua, fenomena ibadah sosial, produk ibadah haji harus ditunjukan dengan kualitas moral kepribadian utamanya moralitas kepada sesama manusia, binatang dan lingkungan. Produktivitas haji ditandai dengan peningkatan kualitas kesabaran, keihlasan, kepekaan sosial dan komitmen menjaga kelestarian lingkungan. Sabar dalam menghadapi realitas baik dan buruk, bisa mensikapi realitas perbedaan dalam kehidupan sehingga tidak mudah menyalahkan, mencela, memfitnah dan menyakiti satu dengan lainya. Produktivitas haji juga harus ditunjukan dengan kemampuan melestarikan alam lingkungan alam.

Apa yang diciptakan Allah dimuka bumi ini juga selaku bersujud kepada Allah SWT. Sesuai firman Allah ”  Tetumbuhan dan pepohonan juga bersujud ( berdzikir ) kepada Allah SWT”  (QS. Ar Rahman: 6). Sesama mahluk ciptaan Allah memiliki kewajiban untuk tunduk, taat dan patuh  ( bersujud ) kepada Allah, maka diantara sesama mahluk tidak tepat jika saling serang, saling ejek dan saling bertengkar. Konsekuensinya semua mahluk Allah harus saling menghormati dan menghargai walaupun memiliki fungsi dan karakter yang berbeda beda.

Kesadaran yang lahir dari hasil ibadah haji dan disimbolkan dari pakaian ihram, wukuf dan kegiatan lain memberi bukti bahwa manusia itu lemah, tidak punya daya dan kemampuan apapun tanpa campur tangan dari Allah SWT.  Sebagai manusia dengan kelebihan apapun yang dimiliki tidak boleh sombong, angkuh dengan sesama mahluk. Itulah pesan pesan sosial yang harus terus ditumbuhkan secara optimal dalam diri pribadi jamaah haji dan menjalankan realitas kehidupan sosial.

Jangan hanya bangga dan kepingin dipanggil dengan sebutan Pak haji dan Bu Hajjah, jangan pula terbatas pada seringnya pake surban di kepala, tetapi predikat haji ditunjukan dengan sikap kepribadian sosial,  diantaranya memiliki sikap kepribadian dan perilaku yang lebih baik dari sebelumnya baik dalam konteks pribadi, keluarga dan bermasyarakat atau berbangsa dan bernegara.

Semoga semua jamaah haji tahun 2022 dan tahun sebelumnya benar benar mampu mengaplikasikan nilai nilai ibadah haji daksm kehidupan sosial bukan hanya sebatas simbol formal yang ditunjukan dengan panggilan dan surban.Amien yra..

ABOUT THE AUTHOR

Pengunjung Website

Flag Counter