|  | 

Populer

BNPT dan Penceramah Radikal

img-responsive

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah merilis kreteria  penceramah radikal. Penceramah dianggap radikal jika memiliki  5 (Lima) hal: Pertama, anti Pancasila dan pro ideologi khilafah transnasional. Kedua, mengajarkan paham takfiri yaitu mengkafirkan pihak lain yang berbeda faham maupun agama. Ketiga, menanamkan sikap anti pemerintah yang sah dengan sikap membenci dan membangun ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah melalui propaganda fitnah, adu domba, ujaran kebencian dan menyebar berita bohong (Hoaxs). Keempat, memiliki sikap eklusif terhadap lingkungan dan perubahan serta intoleran terhadap perbedaan maupun keagaman. Kelima, memiliki pandangan anti budaya atau anti kearifan lokal keagamaan.

Dari kelima ciri, yang paling dikritisi sebagian masyarakat  adalah ciri nomor dua tentang faham takfiri yaitu menuduh kafir pihak lain yang dianggap berbeda pemikiran maupun agama. Bagi kekompok  yang sejak awal sudah memiliki “tabungan keyakinan” radikal mereka memahami bahwa menuduh kafir agama lain itu perintah agama. Bahkan lebih dari itu perintah kafir itu bukan perintah manusia tapi perintah Tuhan yang harus dilaksanakan. Dengan bangga dan penuh percaya diri mereka menyitir salah satu Firman Allah ” Sungguh telah kafir orang orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang orang kafir diantara mereka akan ditimpa azab yang pedih (QS. Al Maidah : 73).

Maksud kalimat ” salah satu dari yang tiga ” itu Bapak, Yesus dan Ruh Kudus yang berarti menunjuk saudara kita pemeluk agama nasrani. Karena hanya agama nasrani yang memiliki doktrin teologi Trinitas (tiga yang menyatu). Berarti yang pantas disebut kafir hanya pemeluk agama nasrani, agama lain tidak bisa dikategorikan kafir karena tidak memiliki keyakinan teologi trinitas.

Berdasarkan ayat tersebut, sebagian kecil masyarakat mengatakan, jika mengkafirkan agama non muslim merupakan ciri penceramah radikal berarti BNPT telah merusak ajaran tauhid bagi umat Islam. Cara fikir seperti inilah yang membahayakan keutuhan bangsa Indonesia yang sudah lama dibangun oleh para pendiri bangsa (Faunding Fathers).

Makna Ayat dan Hadis

Ayat alqur’an dan hadis paling banyak dirujuk atau dijadikan landasan umat Islam dalam menjalankan realitas kehidupan. Karena berpagang teguh kepada Al qur’an dan Hadis akan membawa kebahagiaan dunia dan akherat. Firman Allah swt ” Maka jika datang petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa  yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkanya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thahaa: 123-124).

Rasul juga bersabda ” Aku tinggalkan padamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya yaitu kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunahku (Hadits). (HR. AlBaihaqi).

Umat Islam yang memegang teguh alqur’an dan hadis akan memiliki sikap dan perilaku yang baik, damai, toleran dan  bahagia tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain.  Kebaikan dirinya membawa kebaikan orang lain, kedamaian dirinya membawa kedamaian orang lain. Kebahagiaan dirinya harus menjadikan orang lain bahagia. Dalam realitas masih ada pihak pihak justru meneror, mengancam, mengadudomba, memfitnah dan menebar kebencian, menghina serta merendahkan orang lain dengan cara merekayasa makna ayat al qur’an maupun hadis. Mereka merasa benar dan bangga mengkafirkan agama lain dengan alasan perintah agama.

Al qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi semua  manusia agar mengetahui perbedaan yang baik (haq) dan buruk (bathil) (QS. Al Baqarah 185), selain itu Al quran juga sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman (QS. Al A’raf 52), al qur’an bisa dijadikan sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira  bagi orang yang sabar atau berserah diri (QS. An Nahl 89), selain itu Al Qur’an juga menjadi pentunjuk bagi orang yang bertaqwa (QS. Baqarah 2-3). Artinya alqur’an diturunkan dimaksudkan untuk memberi petunjuk masing masing manusia. Hanya orang orang yang berhati mulia,  beriman, berserah diri, sabar dan taqwa yang bisa menjadikan alqur’an sebagai sarana untuk mewujudkan kedamaian, ketenangan, kenyamanan dalam kehidupan. Manusia yang hatinya kotor atau condong kepada kesesatan selalu merekayasa ayat untuk memenuhi ambisi pribadi dan kelompoknya dengan cara cara yang kotor dan tidak bermartabat. Firman Allah ” ….Adapun orang orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti ayat ayat mutasyaabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah ….” (QS. Ali Imron: 7).

Pesan atau istilah yang ada alam alqur’an seperti kreteria orang beriman, bertaqwa, munafiq, muysrik dan kafir dimaksudkan sebagai pelajaran (petunjuk) bagi masing masing umat Islam agar mereka berusaha memiliki sikap dan perilaku seperti yang ditentukan menurut al qur’an. Jika pesan atau istilahnya positif misalnya beriman, bertaqwa, bersabar harus berusaha menyesuaikan dengan sungguh sungguh. Sebaliknya jika pesan dan istilahnya negatif seperti musyrik, munafiq dan kafir maka harus barusaha menghindari atau menjauhi secara optimal agar tidak sampai memiliki ciri seperti yang ditentukan tersebut.

Al qur’an sebagaj petunjuk bukan digunakan untuk menunjuk atau menjustifikasi orang lain. Kata kafir dalam alqur’an tidak dimaksudkan sebagai pembenar menuduh kafir kepada orang lain yang beda keyakinan (faham) maupun agama tetapi sebagai bahan instrospeksi diri sendiri untuk menjauhi agar tidak memiliki sifat sifat kafir yang ditentukan Allah dalam firman-Nya. Sesama manusia tidak memiliki kewenangan menjustifikasi kualitas kedekatan manusia dengan Allah (beribadah), yang berwenang menentukan manusia itu mukmin, taqwa dan kafir hanya Allah swt. Tugas masing masing manusia hanya berusaha menyesuaikan dengan sifat sifat yang baik dan menjauhi sifat sifat yang buruk.

Bagaimana Dengan BNPT?

BNPT sebagai lembaga negara yang dibiayai dengan uang rakyat dengan tupoksi penanggulangan terorisme sudah sangat tepat merilis lima kreteria penceramah radikal. Hal ini dimaksudkan sebagai bahan renungan bagi seluruh bangsa Indonesia. Bagi penceramah (mubaligh) supaya berhati hati dalam menyampaikan kebenaran, bagi masyarakat umum agar bisa memilih siapa penceramah yang tepat untuk diundang dalam  kegiatan keilmuan maupun keagamaan.

Bagaimana respons masyarakat terhadap kreteria penceramah radikal bisa menunjukan gambaran apakah mereka punya potensi radikal atau tidak. Jika mereka melakukan protes atau keberatan terhadap faham takfiri sebagai salah satu ciri penceramah radikal maka sangat mungkin mereka bagian dari penceramah radikal atau setidaknya pendukung gerakan radikal, begitu juga sebaliknya.

Karakter dasar (fitrah) gerakan radikal berusaha melakukan propaganda melalui issu issu keagamaan dengan tidak segan segan merekayasa ajaran Islam untuk mensukseskan target yang diinginkan. Issu yang cukup efektif agar bisa memasukan ide  gerakan radikal sampai saat ini melalui organisasi atau kegiatan keagamaan dengan mencari tafsir atau takwil teks agama  yang menguntungkan pribadi dan kelomloknya meskipun tafsir atau takwilnya sesat dan menyesatkan.

BNPT tidak perlu ragu dalam melakukan langkah langkah pencegahan dan penanggulangan gerakan radikal yang berujung terorisme. Terorisme musuh besar kita bersama. melawan terorisme adalah harga mati seperti halnya kita mempertahankan NKRI.

Dr. M. Saekan Muchith, S.Ag, M.Pd Dosen FITK UIN Walisongo Semarang, Pemerhati Pendidikan dan Sosial Keagamaan.

ABOUT THE AUTHOR

Pengunjung Website

Flag Counter