|  | 

Populer

Menjadi Muslim Indonesia

img-responsive

Diskursus mengenai muslim Indonesia menarik  diperbincangkan, karena  masih ada  praktek beragama yang menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan sehingga merusak sendi sendi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Awal tahun 2022,  tepatnya tangal 7 januari  bangsa Indonesia dikagetkan video viral pria  menendang dan menghancurkan sesaji yang ada di kaki lereng gunung semeru kabupaten Lumajang Jawa Timur.  Tindakan tersebut menuai kecaman dan dianggap menciderai toleransi dalam beragama. Di awal tahun 2021 tepatnya 31 maret,  bangsa Indonesia juga dikagetkan dengan aksi yang sangat nekat dan tidak masuk akal yaitu  aksi bom bunuh diri di depan gereja katedral dan serangan ke Markas Besar ( Mabes) Polisi Republik Indonesia ( Polri).

Si Pelaku pembuang sesaji menganggap apa yang dilakukan salah satu cara menjalankan  perintah Tuhan. Bagi umat Islam membuat persembahan dengan sesaji itu bentuk kemusyrikan dan sangat dibenci Allah Swt. Seperti firnan Allah ” Barang siapa mempersekutukan Allah , maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar ” (QS. An Nisa 48).  Diperjelas lagi nasehat Lukman kepada putranya ” Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, wahai anaku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar benar kezaliman yang besar ( QS. Lukman : 13).

Begitu juga Si Pelaku bom bunuh diri, mereka menyakini mati sahid karena berjihad dijalan Allah. Firman Allah ” Orang orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya disisi Allah dan itulah orang orang yang mendapatkan kemenangan.  ( QS. Al Taubah : 20). Rasulullah Saw juga bersabda “Tidak ada seorang yang telah mati dan memperoleh kenikmatan di sisi Allah, kemudian ingin kembali ke dunia kecuali orang yang mati syahid, karena besarnya keutamaan mati syahid. ( HR. Muslim).

Muslim Indonesia

Muslim Indonesia adalah orang Islam yang memahami, menafsirkan  dan menjalankan ajaran Islam selalu disesuaikan dengan nilai nilai filosofi negara dan tradisi budaya yang sudah ada sebelum Islam datang di Indonesia. Cara seperti ini sudah dipraktikan para pendahulu yang membawa Islam masuk ke Indonesia yaitu para pedagang dari Persia, Gujarat dan Makah serta Walisongo untuk di tanah Jawa.

Islam  didakwahkan melalui beberapa cara, sambil  memasarkan barang dagangan (berdagang), lewat  lembaga pendidikan, melalui ajaran tasawuf dan gamelan atau musik. Cara ini terbukti  sangat ramah, damai, toleran dan penuh kemanusiaan sehingga agama dan tradisi yang sudah ada tidak merasa tersinggung atau terganggu.  Cara seperti itulah yang menyebabkan Islam berkembang sangat cepat di Indonesia sehingga Indonesia menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Hidup ditengah tengah pluralisme bagi muslim Indonesia suatu keniscayaan karena Indonesia dihuni multiagama, suku, bahasa dan golongan. Konsekuensinya, setiap orang harus bisa memahami dan menerima perbedaan bukan merasa paling benar yang akhirnya menyalahkan siapa saja yang berbeda dengan pemahaman atau keyakinanya.

Menendang dan membuang sesaji jelas bukan sikap dan perilaku muslim Indonesia. Dilihat dari sudut pandang apapun perbuatan tersebut tidak bisa dibenarkan. Sesaji itu dibuat oleh kelompok seagama ataupun beda agama jika dirusak, ditendang kemudian dibuang tidak diperbolehkan menurut ajaran Islam. Firman Allah ” Dan janganlah kamu memaki sembahan sembahan mereka yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (QS. Al An’am: 108).

Allah swt melarang keras  mencaci maki orang atau kelompok yang melakukan sesembahan kepada selain Allah, apa lagi merusak dan membuang. Mengapa? Yang menentukan perbuatan  salah atau benar, yang mengetahui  musyrik atau tidak dan yang berhak memberi hukuman atau imbalan hanyalah Allah swt. Sesama manusia tidak diberi kewenangan apapun kecuali mengingatkan dalam urusan kebenaran dan kesabaran (watawa shoubil haqqi wata shoubil sobri) dengan cara yang baik, santun dan damai.

Aksi bom bunuh diri dengan alasan jihad dijalan Allah contoh ketidakmampuan memahami ajaran Islam. Berjuang melaksanakan ajaran Islam harus dilakukan dengan cara yang baik dan bijaksana. Firman Allah Swt “Serulah manusia  ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah,  pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An Nahl : 126).

Bunuh diri yang dilakukan dengan sadar dan sengaja juga dilarang oleh Allah Swt. Dijelaskan dalam Firman-Nya  “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian.” (QS. An-Nisa’: 29). Ditegaskan lagi dalam hadis Rasul  “Barangsiapa yang bunuh diri dengan menggunakan suatu alat atau cara lain yang disengaja, maka dia akan disiksa dengan cara itu pada hari kiamat.” (HR. Bukhari Muslim).

Setiap hari muslim Indonesia  hidup berdampingan dengan enam agama lain dan satu kepercayaan. Setiap muslim memiliki kewajiban  menjalankan dan mendakwahkan agama Islam secara optimal tetapi jangan sampai menyakiti atau menyinggung  agama lain. Muslim Indonesia harus menjadi pelopor kedamain, persatuan dan kesatuan. Muslim Indonesia senantiasa bisa menjadi pengayom, pelindung rasa aman dan nyaman seluruh manusia tanpa melihat asal usulnya.

Dr. M. Saekan Muchith, S.Ag, M.Pd Pengamat Pendidikan dan Sosial Keagamaan, Dosen FITK UIN Walisongo Semarang.

ABOUT THE AUTHOR

Pengunjung Website

Flag Counter