|  | 

Populer

Makna Dibalik Membuang Sesaji

img-responsive

Pria bernama Hadfana Firdaus yang viral gara gara merusak, menendang dan membuang sesaji dikaki lereng gunung Semeru Lumajang Jawa Timur telah ditangkap aparat hukum. Polemik bermunculan, sebagian berpendapat harus diproses sesuai hukum yang berlaku, sebagian lain menghendaki diselesaikan melalui jalur dialog atau kekeluargaan.

Terlepas dari pro dan kontra, tulisan ini mencoba mengambil makna dibalik peristiwa itu dari perspektif orang Islam yang hidup di negara Indonesia.

Bangsa Plural

Semua pasti paham bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk (plural) dari segi suku, agama, warna kulit dan golongan ( kelompok). Ada enam agama dan satu kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dilindungi atau dijamin hidup dan berkembang di Indonesia. Belum lagi ada ratusan suku, ribuan budaya, dan golongan yang juga dijamin keamanan, kenyamanan dan ketentraman di bumi Indonesia.

Setiap orang yang hidup di bumi Indonesia pasti memiliki tetangga, teman atau partner kerja yang berbeda agama, suku atau warna kulit. Oleh sebab itu kita tidak boleh berkata, bersikap dan berperilaku yang menyinggung atau menyakiti siapapun yang berbeda.  Semboyan Bhineka Tunggal Ika yang berarti boleh berbeda beda dalam hal apapun tetapi harus tetap dalam satu ikatan yaitu Indonesia.

Ibnu Khaldun dalam teori Ashabiyah menjelaskan, bangsa yang kuat dan besar jika masyarakatnya memiliki ikatan yang kuat terhadap ideologi tertentu. Bangsa Indonesia memiliki  ideologi yang sudah terbukti mampu menyatukan berbagai macam perbedaan yang bernama Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Setiap pemeluk agama bebas mendakwahkan agamanya dengan cara atau metode masing masing tetapi harus saling menghormari dan menghargai satu dengan yang lain.

Dua Makna

Setidaknya ada dua masalah yang bisa diambil dari peristiwa merusak, menendang dan membuang sesaji.

Pertama, masalah Dakwah Islamiyah. Jika sesaji itu dibuat oleh orang yang beragama Islam ( muslim) dan memang memiliki niat memberikan persembahan kepada selain Allah maka perbuatan tersebut dikategorikan menyekutukan Allah (Musyrik). Jika yang dilakukan dengan cara merusak, menendang dan membuang sesaji, berarti mereka belum paham metode dakwah Islam. Mengenai metode atau cara mengajak masuk Islam, Allah berfirman “Serulah manusia  ke jalan Tuhan-mu dengan cara  hikmah,  pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An Nahl : 126). Artinya jika ingin mengajak orang lain menjadi Islam yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik, santun, tidak menyinggung dan tidak menyakiti.

Jika melihat orang lain yang dianggap melakukan perbuatan musyrik semisal membuat persembahan kepada selain Allah swt dengan membuat sesaji, Islam juga melarang melakukan cara cara yang kasar, menyingung dan menyakiti. Firman Allah swt  ” Dan janganlah kamu memaki sembahan sembahan mereka yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan”. (QS. Al An’am: 108). Memaki atau mencemooh saja tidak boleh apa lagi sampai merusak, menendang dan membuang sesuatu yang dianggap simbol kemusyrikan.

Dakwah Islam itu sesuatu yang baik dan mulia, oleh sebab itu harus dilakukan dengan cara yang baik dan mulia. Mengajak kejalan kebaikan ( amar ma’ruf) harus dengan metode yang baik ( ma’ruf), jika ingin mencegah kemungkaran ( nahi mungkar) juga harus dengan cara yang baik ( ma’ruf) juga. Jangan sampai mencegah kemungkaran tetapi justru dilakukan dengan cara yang tidak baik ( mungkar).

Kedua,  masalah toleransi antar umat beragama. Jika sesaji itu dibuat oleh non muslim (Hindu) maka ada masalah dalam hal toleransi beragama. Beribadahnya umat agama hindu salah satunya dengan membuat sesaji. Jika umat agama lain ( Islam) kemudian merusak, menendang dan membuang sesaji maka telah terjadi intoleransi yang sangat serius.

Hakekat toleransi terletak pada kemampuan menghargai perbedaan. Perbedaan dalam agama jangan dipaksa untuk sama dan persamaan yang dimiliki masing masing agama jangan dibeda bedakan. Memilih agama merupakan kebebasan mutlaq masing masing manusia. Tidak boleh memaksa untuk mengikuti agama Islam. Firman Allah swt ” Tidak ada paksaan dalam menganut agama, sesungguhnya telah jelas perbedaan antara yang benar dengan jalan yang sesat” (QS. Al Baqarah: 256).

Setiap pemeluk agama berusaha menjalankan dan mendakwahkan agamanya secara optimal tetapi tidak boleh saling mengganggu. Sesuai firman Allah swt “Untukmu agamamu dan untuku agamaku”.  (QS. Al Kafiruun: 6).

George Homans dengan teori pertukaran menjelaskan bahwa keutuhan suatu bangsa akan terwujud jika perilaku setiap manusia didasarkan saling pemahaman dan pengertian (pertukaran) dengan apa yang terjadi disekitarnya. Pemeluk agama satu dengan pemeluk agama lain harus saling memahami perbedaab dan persamaan masing masing agama. Jika diantara pemeluk agama sudah tidak bisa menerima perbedaan diantara agama yang ada di Indonesia maka tinggal tunggu konflik dan kehancuranya.

Makna yang bisa kita ambil adalah  apapun alasanya, dibuat oleh pemeluk agama apapun tindakan membuang sesaji itu tidak bisa dibenarkan karena telah menciderai dakwah Islam dan toleransi beragama bagi bangsa Indonesia.

Dr. M. Saekan Muchith, S.Ag, M.Pd. Pengamat Pendidikan dan Sosial Keagamaan, Dosen FITK UIN Walisongo Semarang.

ABOUT THE AUTHOR

Pengunjung Website

Flag Counter