|  | 

Breaking News

Kemerdekaan dan Nasib Profesi Guru

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Profesi guru merupakan profesi yang unik, komprehensif dan mutlaq. Dikatakan unik karena cara kerja (kinerja) profesi guru tidak bisa serta merta disamakan dengan profesi lainya, khususnya yang berkaitan dengan materi yang harus disajikan. Disebut komprehensif, karena dalam menjalankan tugas profesinya, guru tidak bisa hanya dilakukan internal dirinya dan lembaganya (sekolah), melainkan harus melibatkan banyak elemen lain diluar dirinya, seperti keluarga (orangtua), masyarakat, organisasi sosial, perusahaan dan pengguna jasa pendidikan lainya. Dikategorikan mutlaq, karena  profesi guru menjadi tumpuhan harapan semua pihak, bahkan tidak segan segan menjadi “kambing hitam” jika ada kegagalan atau kesalahan yang menimpa peserta didik.

Sederet beban kerja profesi guru, perlu memperoleh apresiasi atau setidaknya dukungan dari berbagai pihak agar para guru mampu menjalankan tugas profesinya secara optimal. Kemerdekaan yang dirasakan selama 76 tahun bagi bangsa Indonesia harus menjadi titik balik bagi para guru agar profesi guru benar benar mampu menjadi “penjaga gawang” pendidikan dan pembelajaran di Indonesia.

Benarkah, kemerdekaan yang sudah dirasakan selama 76 tahun ini, bisa berimplikasi kepada kinerja atau kiprah para guru dalam mendidik peserta didik sehingga mampu menghasilkan kualitas sumberdaya manusia yang unggul dan tangguh seperti tema kamerdekaan RI tahun 2021, Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.

Realitas Yang Dihadapi Profesi Guru

Secara umum, profesi guru dihadapkan dengan dua fenomena, pertama fenonena perilaku sosial dan kedua, fenomena perlindunagn profesi. Sampai hari ini, kita semua masih disuguhi berbagai fenomena yang tidak sesuai dengan nilai nilai dan pesan pendidikan. Kita masih sering melihat sikap perilaku manusia yang tidak sesuai harkat martabat manusia seperti melakukan kekerasan, pembunuhan, merusak diri sendiri, merusak nama baik orang lain, terlalu berorientasi kepentingan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan orang lain (kepentingan umum).

Pertama, Suasana sosial terasa mencekam, menakutkan, bepergian merasa tidak nyaman, rekreasi ingin memperoleh kesenangan dan hiburan, dapatnya kesediahan, datang ke forum pengajian ingin memperoleh siraman rohani, malah dapatnya indoktrinasi  yang menyudutkan. Car Free Day (CFD) yang seharusnya ajang relaksasi ujung ujungnya dapat intimidasi. Lembaga pendidikan (sekolah/madrasah) seharusnya sebagai lembaga untuk bereksrpesi dan berkreasi, malah  menjadi lembaga intimidasi yang menyebabkan depresi. Guru yang seharusnya membimbing berubah menjadi personal bullying, siswa semestinya sungkan kepada guru, yang terjadi  sering  melawan guru. Orang tua  (masyarakat) yang  idealnya  mensupport pendidikan justru sering membuat repot pendidikan. Sosial media diciptakan untuk menumbuhkan mental  positif dan  “nguri nguri” peradaban, malah dimanfaatkan secara negatif yang akhirnya menghilangkan peradaban.

Seringnya fenomena tawuran pelajar masih menjadi keprihatinan semua guru dan para pihak. M. Saekan Muchith, Hasil survey yang diterbitkan dalam  buku M. berjudul  Pelajar Dalam bahaya (2013:52-54), dijelaskan bahwa terjadinya tawuran antar pelajar disebabkan 51 %, karena ada oknum yang memberi semnagat (provokator), 18 % disebabkan karena sistem pendidikan yang lebih menekankan aspek intelektualitas dari pada aspek sikap kepribadian.

Kedua, Selain realitas sosial, profesi guru juga dihadapkan dengan perlindungan profesi. Fakta menunjukan, profesi guru di Indonesia antara idealitas dan realitas terdapat perbedaan sangat tajam. Profesi Guru dalam tataran idealitas  sangat terhormat dan mulia tetapi dalam tataran realitas sangat menyedihkan. Mengapa? Profesi guru masih banyak tekanan atau bayang bayang ancaman pada saat menjalankan tugas profesinya di sekolah. Setidaknya ada dua hal yang menjadikan tekanan atau ancaman bagi guru saat menjalankan tugas profesinya; (1)  tidak sedikit guru selalu dalam posisi disalahkan ketika ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Mutu sekolah buruk, guru disalahkan, ada siswa tawuran guru yang jadi “kambing hitam”, siswa malas belajar dianggap gurunya tidak kerja keras, siswanya nakal dianggap gurunya kurang akal, siswanya pasif dikatakan gurunya tidak kreatif. Sangat tidak adil jika semua kejanggalan dalam diri siswa selalu guru yang jadi “sasaran tembak”. Guru bisa disalahkan asalkan ada fakta yang bisa dibenarkan untuk disalahkan. (2) tidak sedikit juga, jika ada pihak lain menganggap guru melakukan kesalahan pada saat menjalankan tugas profesinya,  penyelesaianya dilakukan melalui jalur hukum yaitu melaporkan kepada pihak berwajib dengan tuduhan pelanggaran pidana. Misalnya  ada guru saat mendidik ada perkataan yang  bisa ditafsirkan sebagai bentuk intimidasi, pencemaran nama baik,  penghinaan dan juga ada tindakan yang dianggap penganiayaan maka dengan cepat diselesaikan melalui jalur hukum pidana. Padahal guru melakukan semua itu belum tentu berdasarkan motif untuk melanggar hukum melainkan murni bertujuan untuk mendidik mental agar siswa memiliki sikap kepribadian yang baik. Apapun alasannya, peristiwa yang terjadi saat menjalankan tugas profesi semestinya tidak bisa serta merta diselesaikan melalui jalur hukum pidana kecuali jika peristiwanya terjadi diluar waktu menjalankan tugas profesi atau diluar waktu sekolah.

Hasil survey M. Saekan Muchith dalam Buku pelajar dalam bahaya (2013:82-83), dijelaskan bahwa 69 % siswa setuju melaporkan guru ke aparat hukum jika tindakannya dianggap bagian dari kekerasan.. Akibat dari semua ini, guru tidak akan berani maksimal dalam menjalankan tugas profesinya, karena ada kekhawatiran atau takut kalau ucapan dan tindakan walau dimaksudkan untuk mendidik berakibat pidana. Implikasi lebih lanjut, guru dalam menjalankan tugas profesinya menjadi acuh tak acuh atau masa bodoh dengan sikap dan perilaku siswanya. Guru mencari aman saja.

Padahal persoalan perlindungan profesi guru sudah diamanahkan dalam undang undang nomor 14 tahun 2005 pasal 39 yang bernunyi “ Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat, Organisasi profesi dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap Guru. Perlindungan sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindunagn profesi dan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Perlindungan hukum sebagaiamana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan hukum terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi atau perlakuan tidaka dil dari pihak peserta didik, orangtua peserta didik, masyarakat, biurokrasi atau pihak lain.Perlindunagn profsi sebagaimaan dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundnag undnagan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam penyampaian pandangan, pelecehan terhadap profesi dan pembatasan/larangan lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas. Perlindungan keselamatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap resiko gangguan keamanan, kecelakaan kerja, kebakaran waktu kerja, bencana alam, kesehatan lingkungan kerja dan/ atau resiko lain. (Ayat 1-5).

Perlindungan guru yang sudah diamanahkan undang undang nomor 14 tahun 2005 harus segera bisa dinikmati seiring dengan kemerdekaan RI yang ke 76 ini. Jika para guru masih bekerja dalam bayang bayang intervensi atau ancaman dari pihak lain, maka selama ini pula nasib profesi guru akan tetap suram dan kinerjanya tidak akan maksimal. Langkah nyata, semua pihak dan organisasi profesi dalam pendidikan harus segera mempercepat perjuangan agar segera lahir undang undang khusus yang mengatur tentang perlindungan profesi guru di Indonesia. Selama tiga macam perlindungan belum diberikan kepada guru, maka pendidikan Indonesia belum bisa menghasilkan produk yang unggul.

Penutup

Semoga di hari kemerdekaan yang ke 76 Republik Indonesia ini, bisa menjadi kado terindah bagi para guru, khususnya yang berkaitan dengan perlindungan guru yang meliputi perlindungan hukum, profesi dan keselamatan dan kesehatan kerja yang diwujudkan dengan lahirnya undang undang khusus perlindunagn guru. Dengan lahirnya Undang Undang khusus perlindungan Guru, maka dalam menjalankan tugas profesinya guru benar benar bisa merdeka dari rasa takut, khawatir dan minder. Semoga harapan ini bisa menjadi kenyataan. Selamat melaksanakan konferensi Nasional Dewan Dosen Indonesia. Semoga bisa memberi kontribusi nyata dalam Pembangunan bangsa Indonesia. Amien Yra. (Catatan : makalah ini telah dipresentasikan  dalam Konferensi Nasional Dewan Dosen Indonesia tanggal 23 Agustus 2021).

Daftar Pustaka

  1. Undang Undang Nomor 14 tahun 2015 tentang Undang Undang Guru dan Dosen
  2. Saekan Muchith (2013), Pelajar Dalam bahaya, Idea, Yogyakarta.
Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter