|  | 

Breaking News

Apa dan Siapa Bani Israel?

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Istilah Bani Israel selalu menarik diperbincangkan bagi semua agama dan bangsa di seluruh dunia. Bani Israel atau Israel sering  membuat geger dunia karena ulahnya yang sering kali menyerang, menindas, mendholimi bangsa Palestina. Seakan tanpa ampun, semua fasilitas, anak anak dan orang tua tidak luput dari serangan Israel. Banyak negara mengutuk, mengecam serangan Israel kepada Palestina, namun lagi lagi Israel membuat ulah lagi menyerang Palestina. Tak henti hentinya Israel melakukan agresi militernya kepada bangsa

Palestina.Tulisan ini akan mencoba mengulas, apa dan siapa bani Israel, agar kita memiliki pemahaman atau wawasan yang lebih utuh tentang bani Israel. Israel adalah sebutan penghormatan kepada Nabi Ya’kub yang berarti “Hamba yang patuh atau taat”. Yaitu hamba yang selalu patuh dan taat terhadap apa yang dikatakan Tuhan. Hanya Nabi Ya’kub yang mendapat penghormatan dengan sebutan Israel. Ini menandakan bahwa Nabi Ya’kub sosok utusan Tuhan yang memiliki ketaatan dan kepatuhan yang sangat besar dalam menjalani hidup dana kehidupan.

Nabi Ya’kub memiliki 12 (dua belas) putra; Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Zebulon, Isakhar, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf dan Benyamin. Anak cucu, cicit dan keturunan Nabi Ya’kub akhirnya disebut Nabi Israel (keturunan Orang yang mendapat penghormatan Israel).

Pada saat putra Ya’kub yang bernama Yusuf (Nabi Yusuf) menjadi penguasa di Mesir, Bangsa Mesir hidup bahagia dan sejahtera serta penuh keadilan. Pada saat penguasa berganti dipimpin raja bernama Amnahotab II (Fir’aun), situasi mesir berubah 180 derajat. Raja Amnahotab II curiga dan khawatir  terhadap perkembangan bani Israel yang menganut agama tauhid. Akibat kebencianya, Raja Amnahotab menjadikan budak dan menindas bani Israel berabad abad lamanya.

Berkisar tahun 1300 SM, Allah mengirim Nabi Musa dan Harun untuk menyelamatkan kebiadaban, kebengisan dan kesewenang wenangan Raja Amnahotab II (Firaun) terhadap Bani Israel. Bagian dari ihtiyar penyelamatan, Musa mengajak hijrah Bani Israel ke wilayah yang dianggap aman yaitu Kan’an. Pada saat perjalanan hijrah ke Kan’an, Firaun mengejar rombongan Bani Israel, akhirnya Fir’aun dan rombongan tenggelam di laut merah. Musa dan Bani Israel selamat dan melanjutkan perjalanan ketempat tujuan.

Perjalanan panjang dan berliku dilalui Nabi Musa dan rombonganya. Sampai di gurun Sinai berhenti sejenak untuk melepas rasa lelah. Setelah dianggap cukup istirahat, Musa dan rombongan melanjutkan perjalanan dari Gurun  Sunai ke Kan’an. Saat perjalanan dari Gurun Sinai ke wilayah Kan’an, karakter Bani Israel mulai kelihatan, mereka mengeluh dan menyesal ikut rombongan Musa menuju wilayah Kan’an. Musa berkali kali memberi penjelasan, bahwa Allah telah memberi banyak pertolongan namun sebagian bani Israel tidak percaya.

Sesampai di bukit Tursina, Musa dan rombongan mendirikan perkemahan yang akhirnya Musa mendapat wahyu kitab taurat yang berisi mengajak untuk percaya kepada Allah (Tauhid). Setelah medapat wahyu kitab taurat, Nabi Musa mengajak rombonganya untuk tetap bertauhid kepada Tuhan. Namun justru sebagian bani Israel menolak dan tidak percaya kepada Tuhan. Mereka membuat berbagai macam simbol Tuhan dengan Ular, anak sapi dan berhala, selanjutnya disembah sebagai Tuhan.  

Nabi Musa wafat, rombongan dipimpin oleh Yoshua melanjutkan perjalanan sampai di wilayah Kan’an. Selama kepemimpinanya, Yoshua melakukan pemberantasan kepada orang orang yang membangkang perintah Tuhan melalui taurat. Setelah Yoshua wafat, bani Israel meninggalkan lagi ajaran taurat dengan cara menyembah berhala. Pembangkangan terus dilakukan sampai berabad abad lamanya berganti ganti pemimpin bani Israel.

Pada tahun 900 SM, bani Israel dipimpin raja Solomon (Nabi Sulaiman). Pada masa pemerintahan Nabi Sulaiman inilah, didirikan haikal (baitul maqdis) damn wilayah diperluas sampai Sungei nil danm sungei eufrat.

Pasca wafatnya Raja Solomon, bani Israel berbeda pendapat tentang siapa pengganti Raja Solomon. Kelompok Yehuda menghendaki pengganti Raja Solomion harus dari keturunan Raja Solomon, sedangkan kelompok lainya, menghendaki dari luar keturunan Raja Solomon. Perselisihan tidak bisa di satukan, akhirnya Bani Israel terpecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan disebut kerajaan Yehuda ibu kota Yerusalem dengan raja bernama Rab’am (Rehabeam). Bagian utara disebut kerajaan Israel, ibu kota di Samaria dengan raja bernama Yar’am (Yerobeam).

Mulai titik inilah, Bani Israel mulai tidak bersatu. Raja Yar’am yang memimpin Bani Israel wilayah utara melarang keras rakyatnya datang beribadah ke Yerusalem, karena Yerusalem dibawah kekuasaan Raja Rab’am. Yerusalem dianggap kota suci Bangsa Yahudi karena di Yerusalem tersimpan kitab Taurat dan Kuil Sulaiman sebagai tempat peribadatan bani Israel (Yahudi). Raja Yar’am menjadikan kota Betel sebagai kota suci peribadatan khusus rakyat Bani Israel wilayah utara yang dibawah Raja  Yar’am. Dari sinilah muncul nama kota Yerusalem dan Betlehem yang dianggap kota suci, karena Betlehem dianggap kota tempat kelahiran Yesus.

Pada saat Bani Israel tidak bersatu, maka serangan atau penaklukan datang silih berganti. Tahun 700 SM, Kerajaan Israel (bagian utara) yang beribu kota Samaria dihancurkan oleh Bangsa Assyiria. Banyak penduduk Israel terbunuh dan mengalami pembuangan, dan bangsa lain didatangkan ke Israel sehingga terjadi pertukaran budaya dan keyakinan antara Israel dan non Israel.

Pada tahun 600 SM, kerajaan bani Israel wilayah selatan yang berpusat di Yerusalem juga dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar dari Babilonia. Kota Yerusalem dan tempat ibadah Yahudi dihancurkan permanen. Banyak dari bani Israel dijadikan budak dan disiksa. Mulailah bani Israel menyebar ke berbagai wilayah, ada yang menyebar sampai di Yastrib (Madinah) yang dikenal dengan Yahudi Madinah.

Pada tahun 500 SM, Raja Persia bernama Cyrus Agung menaklukan wilayah Palestina yang sebelumnya di kuasai Babilonia. Raja Cyrus Agung dikenal raja yang moderat, sehingga banyak peninggalan bangunan yang dianggap suci dibangun kembali dan orang orang bani Israel diperbolehkan pulang ke Yerusalem untuk hidup dibawah kerajaan Cyrus Agung (Raja Persia).

Pada tahun 300 SM, Alexander Agung dari Yunani berhasil merebut Yerusalem dari genggaman Babilonia. Pada tahun 142 SM, Bangsa Yahudi sempat berhasil merebut Yarusalem selama hampir satu abad. Pada tahun 130 SM Bangsa Yahudi berusaha melakukan pemberontakan lagi, namun gagal, Julis Cyprus pemimpin Romawi akhirnya memporak porandakan Yerusalem, bangsa Yahudi dilarang keras masuk ke wilayah Yerusalem selama ratusan tahun lamanya.

Romawi menguasai Yerusalem sampai tahun 640 M, atas pendekatan dan penjelasan Khalifah Umar Ibnu KHattab, akhirnya Raja Romawi bersedia menyerahkan kekuasaanya kepada Islam (Khalifah Umar Ibnu Khatab), dengan berdasarkan perjanjian Umariyah yang berisi tentang pentingnay hidup damai, rukun, saling membantu walau berbeda agama, suku dan kelompok. Khalifah Umar memperlakukan keadilan bagi semua agama, bagi agama Yahudi, nasrani dan Islam dipersilahkan menjalankan keyakinanya masing masing tanpa harus saling mengganggu. Kehidupan damai berjalan selama  ratusan tahun selama penguasanya memegang teguh perjanjian Umariyah. Pada tahun 1200 M, kekhalifahan Bani umayyah salah satu khalifahnya tidak menjalankan misi perjanjian Umariyah, akhirnya konflik antara agama terjadi lagi.

Dapat disimpulkan, bahwa Islam tidak pernah melakukan perebutan Yerusalem, Islam melalui khalifah Umar, justru diserahi Yerusalem dari kerajaan Romawi. Penguasaan Yerusalem dilakukan tanpa  kekerasan melainkan diperileh melalui jalur diplomasi (damai). Hidup damai bisa terwujud jika masing masing pihak memegang teguh perjanjian dan saling menghormati perbedaan. Selama tidak bisa memegang janji maka selama itu pula konflik akan terus terjadi.

 

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter