|  |  | 

Breaking News Jurnal

M. Saekan : Memperbincangkan Guru PAI Yang Profesional

img-responsive

Memperbincangkan Guru PAI Yang Profesional

Oleh : M. Saekan Muchith

 

 

Abstrak

 

Pendidikan Agama Islam (PAI)  memiliki ruang lingkup sangat luas, antara lain menyangkut tentang materi yang bersifat normatif (al qur’an), materi yang berkaitan dengan keyakinan atau kepercayaan terhadap eksistensi Tuhan (aqidah). Menyangkut tentang tatacara norma kehidupan manusia (Syariah/Fiqh), menyangkut sikap dan perilaku inter dan antar manusia (ahlaq) dan menyangkut bagaimana memahaami realitas masa lalu (tarikh).

Dari aspek kompetensi inilah, dapat diketahui perbedaan antara guru PAI dengan guru non  PAI. Guru PAI adalah pendidikan profesional yang memiliki tugas memberi pemahaman materi agama Islam kepada peserta didik dan masyarakat. Guru PAI setidaknyaa memiliki dua tugas yaitu tugas melaksanakan sebagai pendidik dan pengajar di sekolah dan juga memiliki tugas memberikan pemahaman materi agama Islam kepada peserta didik agar peserta didik dan masyarakat memiliki cara pandang atau pemahaman terhadap agama (al qur’an dan hadis) secara tepat yang ditandai dengan sikap dan perilaku yang santun, damai serta  anti kekerasan.

 

Perbedaan nyata antara guru PAI dengan guru non PAI terletak pada aspek kompetensi sosial dan pedagogiek. Kompetensi sosial bagi guru PAI lebih luas ruanglingkupnya dibanding guru non PAI, karena guru PAI secara langsung maupun tidak langsung dituntut mampu memberikan pencerahan tidak hanya kepada peserta didik di sekolah tetapi juga kepada masyarakat diluar sekolah. Artinya guru PAI yang profesional secara otomatis sudah bisa dikatakan memenuhi kreteria guru Profesional tetapi guru profesional bisa dikatakan belum tentu memenuhi kreteria guru PAI yang profesional. Guru PAI yang profesional posisinya lebih tinggi dari pada guru non PAI. Idealisme ini tidak cukup hanya di dalam tataran norma saja tetapi harus bisa diimplementasikan kedalam realitas kehidupan sosial.

 

Guru PAI yang profesional setidaknya memiliki tiga misi yaitu ; Misi dakwah Islam. Mampu menunjukkan dan memahamkan Islam kepada siapapun yang ada di muka bumi ini. Misi pedagogiek. Mampu melakukan proses pembelajaran yang ideal. Misi pendidikan. Mampu membimbing dan membina etika dan kepribadian peserta didik saat di sekolah ataupun diluar sekolah. Profil guru yang mampu dijadikan contoh (uswah) bagi peserta didik dan masyarakat merupakan peran penting dalam mensukseskan misi edukasi bagi guru.

 

Kata Kunci : Guru, Guru PAI, Profesional, Guru PAI Profesional

 

 

 

 

Penulis adalah Dosen Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus yang mendapat tugas tambahan sebagai Wakil Ketua I STAIN Kudus.

 

  1. Pendahuluan

Guru profesional menjadi tuntutan semua pihak untuk mewujudkan idealisme, harapan dan cita cita pendidikan nasional yang dirumuskan dalam Undang Undang Dasar (UUD) 1945, dalam Undang Undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dalam Undang Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD). Dilihat dari dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka guru juga dituntut secara cepat untuk menyesuaikan dengan dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya yang ada ditengah tengah masyarakat.

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) juga dituntut selalu mengembangkan profesinya agar menjadi guru PAI yang profesional. Dalam tataran normatif atau idealis sosok guru PAI dan sosok guru non PAI memiliki perbedaan yang sangat fundamental yang berimplikasi juga perbedaan persyaratan atau kreteria sebagai guru yang profesional. Artinya persyaratan, konsekuensi dan kreteria guru PAI yang profesional memiliki perbedaan yang signifikan dengan guru non PAI yang profesional. Perbedaan itu belum semua guru atau calon guru PAI mengetahui secara detail dan pasti.

Dilihat dari aspek ruang lingkup dan karakter materinya, guru PAI memiliki perbedaan yang cukup signifikan disbanding dengan guru non PAI. Jika perbedaan itu tidak diketahui dan juga tidak dilaksanakan dalam realitas pendidikan dan pembelajaran, maka misi dan target guru PAI tidak akan tercapai. Makalah ini akan mendiskusikan seperti apa sososk guru PAI yang professional dan dimana letak perbeaan yang nyata antara guru PAI dan guru non PAI.

  1. Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI)

Sebelum lebih  jauh berdiskusi tentang Pendidikan Agama Islam (PAI), ada satu  istilah yang hampir sama dengan PAI yaitu pendidikan Islam (PI). Dimana letak perbedaan yang esensial antara PAI dan PI?[1].  Para mahasiswa Fakultas/Jurusan tarbiyah dimaksudkan untuk melahirkan/mencetak Guru PAI bukan Guru PI. Materi pelajaran atau mapel di sekolah disebut mata pelajaran PAI bukan mata pelajaran PI. Kepala Madrasah seperti MI, MTS, MA disebut pimpinan lembaga PI tidak pimpinan Lembaga PAI. Jenjang pendidikan  seperti MI, MTS, MA, bahkan pondok pesantren tidak dikatakan lembaga PAI tetapi dinamakan lembaga PI.

PI adalah suatu obyek atau tempat yang menerapkan sistem atau aturan atau kepemimpinan berdasarkan agama Islam. Bagaimana sistem dan tata-aturan tentang agamna Islam dilaksanakan agar Islam benar benar sesuai aturan yang sebenarnya. Sedangkan PAI lebih ditekankan proses memahamkan, menjelaskan bagaimana agama Islam dipahami secara jelas. Dengan kata lain PI menekankan pada sistem sedangkan PAI menekankan bagaimana mengajarkan atau membelajarkan sehingga penekannya pada proses pembelajaran. Guru disebut Guru PAI karena tugas utamanya terletak pada kemampuan membelajarkan bagaimana agama Islam bisa dipahami dan dilaksanakan oleh peserta didik secara tepat dan proporsional. Jika Guru PAI menjadi kepala madrasah atau pimpinan lembaga maka disebut sedang menjalankan PI.

Ada dua kata yang ada di dalam Pendidikan Agama Islam, yaitu kata pertama “Pendidikan” dan kata kedua “Agama Islam”. Kata “Agama Islam” adalah memberi sifat  dari pendidikan. Artinya Agama Islam menjadi karakter dari pendidikan.

Pendidikan adalah Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan  potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulai, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara[2]. Hakekat pendidikan adalah bagaimana mengembangkan seluruh potensi[3] yang dimiliki setiap manusia yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan perencanaan yang matang. Ada dua hal yang menjadi tititk tekan dari pendidikan yaitu dilakukan secara sadar dan direncanana secara matang serta ada proses untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki manusia.

Agama Islam[4] adalah suatu keyakinan atau doktrin yang harus dijadikan sebagai spirit dan  sistem kehidupan manusia untuk mewujudkan sikap dan perilaku manusia yang baik sehingga dapat meraih kemudahan dalam menghadapi realitas dan problem kehidupan sosialnya.

Agama Islam memiliki ruanglingkup sangat luas karena mencakup semua tatanan atau sistem kehidupan manusia baik yang bersifat material maupun non material.  Agama Islam menyangkut berbagai aspek yang bersifat individual dan sosial. Aspek individu meliputi bagaiamana cara pandang/cara fikir yang tepat, bagaimana mensikapi realitas yang ada di sekitar dirinya. Sedangkan aspek sosial meliputi aspek ekonomi, budaya, politik, teknologi, seni, psikologi, lingkungan dan alam. Betapa besarnya agama Islam, oleh sebab itu perlu diketahui , dipahami dan diaplikasikan kedalam kehidupan bagi pemeluknya.

Proses mengetahui, memahami dan mengaplikasikan tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu proses yang matang, lama, kontinu atau sistematis. Oleh sebab itu perlu ada proses yang dilakukan secara sadar untuk mengembangkan seluruh potensi  yang dimiliki manusia agar agama Islam benar benar dapat difungsikan sebagai solusi untuk menyelesaiakn problematika kehidupan masyarakat.

PAI memiliki ruang lingkup sangat luas, antara lain menyangkut tentang materi yang bersifat normatif (al qur’an), materi yang berkaitan dengan keyakinan atau kepercayaan terhadap eksistensi Tuhan (aqidah). Menyangkut tentang tatacara norma kehidupan manusia (Syariah/Fiqh), menyangkut sikap dan perilaku inter dan antar manusia (ahlaq) dan menyangkut bagaimana memahaami realitas masa lalu (sejarah/tarikh)[5].

Berdasarkan asumsi di atas, maka dapat diartikan bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah proses bimbingan dan arahan yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk memberi pemahaman terhadap pesan yang terkandung di dalam agama Islam secara utuh dan komprehensif. Dengan kata lain PAI adalah proses memahamkan nilai nilai atau pesan yang terkandung did alam agama Islam. PAI minimal memiliki tiga aspek yang tidak bisa dipisahkan yaitu aspek Knowing[6], Doing[7] dan Being[8].

Lebih mudahnya, pengertian PAI dapat dilakukan dengan beberapa sudut pandang;

Pertama, pengertian PAI dari sudut pandang simbol yaitu proses atau lembaga yang secara formal menggunakan istilah yang relevan dengan agama Islam, seperti madrasah, pondok pesantren, majelis ta’lim, atau menggunakan nama Islam, seperti SD Islam Terpadu, SMP Islam terpadu, SMA Islam terpadu. Pengertian PAI dalam sudut pandang ini hanya didasarkan formalitas kelembagaan.

Kedua, pengertian PAI dari sudut pandang subyek pengelola yaitu suatu proses atau lembaga yang dilaksanakan atau dikelola oleh orangorang yang memiliki komitmen untuk mengembangkan nilai nilai agama Islam walaupun dari sudut pandang symbol atau nama tidak menggambarkan agama Islam.

Ketiga, pengertian PAI dari sudut pandang materi yaitu proses dan /atau lembaga yang mengajarkan  tentang nilai nilai atau ruang lingkup agama Islam. Profesi pendidikan yang bertugas mengajarkan atau mendidik materi agama Islam  maka disebut guru agama Islam. Lembaga yang mengajarkan nilai nilai atau ruang lingkup dari agama Islam maka dikatakan lembaga pendidikan Islam. Dari aspek muatan materi  /substansi materi yang diajarkan. PAI setidaknya menyangkut tiga macam substansi materi yaitu Tarbiyah[9], Ta’lim[10] dan Ta’dib[11]. Tarbiyah lebih menekankan  optimalisasi kecerdasan intelektual (kognitif) yaitu upaya untuk membimbing peserta didik agar memiliki kualitas intelektualitas atau optimalisasi pengembangan rasio/akal pikiran. Ta’lim proses pendidikan yang menekankan pembentukan sikap, etika atau moral kepribadian. Oleh sebab itu ta’lim lebih menekankan bagaimana peserta didik memiliki sikap dan kepribadian yang baik dengan sesama manusia, dengan lingkungan. Ta’dib adalah proses pendidikan yang menekankan pentingnya mengenal dan memahami kekuatan diluar manusia yaitu adanya Allah swt. Pendidikan barat tidak akan mengajarkan ketiga aspek tersebut, pendidikan barat mayoritas

Keempat, pengertian PAI dari sudut pandang epistemologi[12] yaitu proses dan /atau lembaga yang memiliki epistemologi yang berbeda dengan epistemologi non PAI (orang barat). Epistemologi adalah suatu cara untuk menemukan jawaban dari suatu kebenaran. PAI memiliki cara tersendiri untuk menemukan suatu kebenaran.

Epistemologi PAI diilhami dari QS Surah Al Alaq 1-5 yang menerangkan perintah membaca atau berfikir yang diawali dari kesadaran pengakuan adanya Allah swt (tauhid). Artinya PAI mengakui bahwa kebenaran tidak dihanya didasarkan oleh kekuatan akal pikiran semata melainkan didasarkan oleh adanya Tuhan. PAI juga memilkiki kesadaran bahwa semua apa yang ada di dunia ini ada yang menciptakan atau melahirkan. Kebenaran menurut PAI adalah kebenaran rasional dan kebenaran transendental yang diibaratkan dua sisis mata uang logam yang tidak mungkin dipisahkan. Inilah yang membedakan antara epistemologi PAI dengan epistemologi barat, dimana menurut barat bahwa kebenaran itu mutlaq didasarkan dari pertimbangan akal pikiran.

Akibat dari sudut pandang epistemologi inilah akhirnya pengertian PAI memiliki pengertian yang sangat bervariasi karena setiap tokoh atau pemikir memiliki pandangan yang berbeda beda. Menurut Yusuf Qardhawi seperti yang dikutip Azumardi Azra (1998) menjelaskan  PAI adalah pendidikan yang menekankan kepada pentingnya pembentukan manusia seutuhnya yang menekankan pengembangan akal dan  hatinya, rohani dan jasmaninya, ahlaq dan ketrampilannya[13].  PAI  memiliki ruang lingkup yang sangat kompleks dan menyangkut berbagai aaspek sehingga sangat sulit  dijangkau atau dicapai tujuan atau targetnya. Oleh sebab itu pendidikan Islam merupakan proses yang tiada henti atau berakhir.

 Menurtu Ahmad D. Marimba (1989) bahwa PAI adalah  proses bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum hukum Islam, menuju terbentuknya kepribadian utama menurut Islam. Pendidikan Islam  mengandung makna proses mengarahkan orang lain sesuai aturan yang  berlaku sehingga terbentuk kualitas kepribadian sesuai norma norma Islam. Pendidikan Islam lebih diarahkan sesuai dengan ketentuan norma Islam dalam alqur’an dan hadis. Pendidikan berarti pendidikan yang sesuai dengan norma Islam[14].

  1. Pengertian Guru PAI

Memahami siapa guru yang sebenarnya, terlebih dahulu kita bandingkan pengertian antara guru dan dosen. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar dan menengah[15]. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan[16] dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui  pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat[17].

Guru dan dosen walaupun memiliki persamaan yaitu sama sama sebagai pendidik profesional, tetapi jika dilihat dari tugas utamanya memiliki perbedaan sangat tajam. Guru ruanglingkup kerjanya terbatas di pendidikan  formal (sekolah) di pendidikan usia dini, pendidikan dasar (MI/SD/ MTS/SMP) dan pendidikan mengah (MA/SMA/SMK) yang ditunjukkan dengan tindakan mendidik, mengajar, membimbing, melatih, mengevalausi dan menilai. Konsekeunsinya guru harus lebih konsentrasi melaksanakan tugas pembelajaran disekolah formal saja. Kegiatan selain proses pembelajaran  di sekolah formal tidak menjadi tugas dan tanggung jawabnya seperti melakukan pengabdian kepada masyarakat dan mengembangkan ilmu pengetahuan di forum publik.

Guru yang ideal adalah guru yang rajin dan disiplin melakukan pembelajaran siswa selama di sekolah yang ditunjukkan dengan ketrampilan menyusun desain pembelajaran, memberi motivasi siswa untuk belajar, menggunakan metode dan media secara tepat, dan mampu melakukan penilaian yang dapat dijadikan bahan pengembangan program di sekolah. Setiap jam pembelajaran harus berasa di sekolah, jika pada jam sekolah berlangsung guru berada di luar sekolah maka itu bisa menjadi bukti pelanggaran yang berat.

Secara tehnis, guru yang ideal harus  melaksanakan   jam tatap muka sekurang kurangnya 24 jam tatap muka dan sebanyak banyaknya 40 jam tatap muka dalam satu minggu[18]. Hal ini menggambarkan bahwa waktu guru dihabiskan untuk melaksanakan proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Guru tidak wajib melaksanakan kegiatan yang bersentuhan dengan kegiatan di masyarakat.

Berbeda dengan dosen, walaupun sama sama sebagai pendidik profesional, tetapi dosen selain pendidik profesional juga disebut sebagai ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitiaan dan pengabdian masyarakat. Sebagai dosen memiliki ruang lingkup sangat luas tidak hanya di dalam pendidikan formal (kampus) tetapi juga di dalam realitas kehidupan masyarakat. Artinya dosen tidak hanya bertugas membimbing dan melatih para mahasiswanya tetapi juga harus mampu menyebarluaskan ilmu pengetahuan dengan berbagai media baik melalui perkuliahan (pendidikan/pengajaran) juga harus melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Konsekuensinya, dosen tidak bisa dituntut selalu di dalam kampus untuk melaksanakan perkuliahan dengan mahasiswa, karena jika hanya itu yang dilaksanakan akan mengakibatkan kurang optimalnya tugas utama sebagai dosen.

Selain melakukan perkuliahan bersama mahasiswa, dosen juga harus melakukan penyebaran dan pengembangan ilmu melalui seminar, diskusi, penerbitan buku, penelitian dan penerbitan hasil hasil penelitian. Disinilah perbedaan utama antara guru dan dosen.

Guru diwajibkan memiliki empat kompetensi[19] yang terdiri dari kompetensi kepribadian[20], kompetensi sosial[21], kompetensi pedagogiek[22] dan kompetensi profesional[23]. Kempat kompetensi tersebut harus diketahui, dipahami dan dilaksanakan oleh guru dalam menjalankan tugas dan fungsinya agar guru tetap bisa dikatakan sebagai pendidik profesional.

Dari aspek kompetensi inilah, dapat diketahui perbedaan antara guru PAI dengan guru non  PAI. Guru PAI adalah pendidikan profesional yang memiliki tugas memberi pemahaman materi agama Islam kepada peserta didik dan masyarakat. Guru PAI setidaknyaa memiliki dua tugas yaitu tugas melaksanakan sebagai pendidik dan pengajar di sekolah dan juga memiliki tugas memberikan pemahaman materi agama Islam kepada peserta didik agar peserta didik dan masyarakat memiliki cara pandang atau pemahaman terhadap agama (al qur’an dan hadis) secara tepat yang ditandai dengan sikap dan perilaku yang santun, damai serta  anti kekerasan.

Perbedaan nyata antara guru PAI dengan guru non PAI terletak pada aspek kompetensi sosial dan pedagogiek. Kompetensi sosial bagi guru PAI lebih luas ruanglingkupnya dibanding guru non PAI, karena guru PAI secara langsung maupun tidak langsung dituntut mampu memebrikan pencerahan tidak hanya kepada peserta dididk di sekolah tetapi juga kepada masyarakat diluar sekolah. Walaupun diluar jam sekolah, Guru PAI tidak boleh menghindar jika ada masyarakat yang bertanaya atau meminta pendapat tentang berbagai hal kehidupan dan keagamaan. Guru PAI tidak boleh lari dari permasalahan yang dihadapi masyarakat. Agama yang melekat kepada diri guru PAI memiliki konsekeunsi dakwah Islam secara nyata kepada masyarakat.

Jangan disalahkan jika, ada tawur antar pelajar sedang marak, banyak aksi radikalisme dan terorisme, banyaknya oknum pejabat yang korupsi, sikap dan moralitas sosial masyarakat rendah yang ditandia dengan mudahnya konflik horizontal, oknum anggota wakil rakyat mudah bertengkar, profesi guru PAI menjadi sasaran “kesalahan”. Artinya semua orang menengok kepada profesi Guru PAI yang dianggap ada kesalahan atau kurang optimal.

Berbeda dengan posisi guru non PAI, walaupun tim nasional belum pernah menang ditingkat ASEAN, ASIA bahkan Dunia, ketika pengurus PSSI masih berselisih pendapat sampai muncul dualisme kepengurusan, tidak pernah ada orang yang menuduh pendidikan olahraga telah gagal atau salah. Pada pemilu menghasilkan para wakil rakyat yang belum sesuai harapan, belum dewasa atau belum berkualitas, tidak ada masyarakat menuduh bahwa pendidikan kewarganegaraan telah gagal atau salah. Disinilah uniknya perbedaan antara guru PAI dengan non PAI dilihat dari aspek kompetensi sosial.

Dari aspek kompetensi pedagogiek, peran atau tanggung jawab guru PAI dengan non PAI juga sangat terlihat jelas. Hal ini disebabkan karena perbedaan karakteristik ilmu PAI dan ilmu non PAI berbeda. Karakteristik ilmu PAI bersifat multi disiplin/ zigzag sedangkan karakter ilmu non PAI bersifat monodisiplin/monoton. Konsekeunsinya, gurun PAI juga harus memiliki wawasan lintas sector/multidisiplin.

 Ciri khusus yang membedakan dengan guru lainnya (non PAI), Guru PAI harus memiliki wawasan lintas sektor atau multi disiplin, karena materi PAI selalu berkaitan dengan materi diluar dirinya. Misalnya materi tentang sholat tidak cukup disampaikan tentang tatacara gerakan sholat dan dalil yang menguatkan. Materi sholat juga berkaitaan dengan kekhusyu’an (ilmu psikologi), berkaitan dengan persatuan dan kesatuan (sosiologi). Materi al qur’an hadis tidak cukup hanya disampaikan cara menulis dan membaca al qur’an dan ahdis, tetapi juga berkaitan dengan pemahaman kontekstual  atau asbabun nuzul/ asbabul wurudnya ( ilmu sosiologi, antropologi), materi fiqih tidak hanya berkaitan dengan bagaimana menjelaskan halal haram, wajib, sunah, haram, makruh tetapi juga berkaitan dnegan bagaimana membagi harta warisan, bagaiman menghitung nisab zakat (matematika). Dengan kata lain guru PAI harus lebih cerdas dibanding guru non PAI, karena menguasai ilmu diluar materi yang pokok suatu keniscayaan yang harus dilakukan.

Dalam menjalankan tugas profesinya guru memiliki 4 (empat) kompetensi yang terdiri dari:

  1. Kompetensi pedagogiek yaitu seperangkat pengetahuan dan ketrampilan yang berkaitan dengan proses pembelajaran[24].
  2. Kompetensi kepribadian yaitu seperangkat kualitas personal atau kepribadi yang mendukung kualitas pembelajaran[25]
  3. Kompetensi sosial adalah seperengkat penegetahuan dan ketrampilan yang berkaitan dengan komunikasi dengan orang lain untuk mensukseskan proses pembelajaran[26].
  4. Kompetensi profesional yaitu seperangkat kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki melalui proses pendidikan sehingga diharapkan mampu mewujudkan profesi guru yang ideal[27].

Guru sebagai jabatan profesi, harus mampu melaksanakan tugas pekerjannya didasarkan prinsip prinsip sebagai berikut:

  1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme
  2. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan dan ahlaq mulia.
  3. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidangnya.
  4. Memiliki tanggung jawab atas tugas pelaksanaanya profesionalitasnya
  5. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya
  6. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat
  7. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanaakn tugas profesinya
  8. Memiliki organisasi profesi yang memiliki kewenangan mengatur hal hal yang berkaitan dnegan bidang profesinya[28].
  9. Guru dan Kurikulum

Guru dan kurikulum ibarat dua sisi mata uang logam yang tidak boleh dipisahkan. Guru dan kurikulum saling mengisi dan melengkapi. Keberhasilan guru ditentukan oleh kualitas kurikulum dan kurikulum yang baik atau ideal dibutuhkan sososk guru yang berkualitas atau profesional.

Realitas kurikulum dilihat dari proses belajar mengajar atau pembelajaran, karena pembelajaran adalah contoh nyata pelaksanaan dari kurikulum. Melihat guru dan kurikulum berarti juga melihat guru dan pembelajaran.

Pembelajaran adalah proses belajar mengajar yang dilakukan guru bersama dengan peserta didik. Oleh sebab itu pembelajaran berarti adanya interaksi antara guru dan peserta didik dengan tujuan memberikan pemahaman materi pelajaran secara utuh dan komprehensif. Pembelajaran atau mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Berhasilnya  pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya.

Zamroni (2000:74)[29] mengatakan “guru adalah kreator proses belajar mengajar”. Ia adalah orang yang akan mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk mengkaji  apa yang menarik minatnya, mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya  dalam batas-batas norma-norma yang ditegakkan secara konsisten. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa orientasi  pengajaran  dalam  konteks  belajar  mengajar  diarahkan untuk  pengembangan  aktivitas  siswa  dalam  belajar.

Nasution (1982)[30] mengemukakan kegiatan mengajar diartikan sebagai segenap aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Dengan demikian proses dan keberhasilan belajar siswa    turut ditentukan oleh peran yang dibawakan guru selama interaksi proses belajar mengajar berlangsung.

Usman (1994)[31] mengemukakan mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar. Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa dan juga hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas, yang menunjang terhadap kegiatan belajar mengajar.

  Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa peran guru dalam konteks kurikulum adalah  sosok profesi yang bertugas untuk memberikan pemahaman isi kurikulum yang telah dirancang agar  siswa memiliki pengetahuan dan ketrampilan secara utuh. Hakeket  guru adalah profesi yang memiliki tugas utama memudahkan materi yang dianggap sulit oleh siswa, mensederhanakan persoalan yang dianggap rumit oleh siswa dan menjelaskan informasi yang dianggap  belum jelas oleh siswa.

Peran guru sangat dominan dalam pembelajaran, konsekuensinya guru harus memiliki kiat atau ketrampilan dalam membangkitkan minat belajar siswa dengan cara cara yang bervariasi baik  metode, pendekatan maupun bentuk pembelajaran. Untuk mewujudkan harapan tersebut, maka guru harus memiliki berbagai karakteristik sebagai berikut:

  1. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang kakek yang bersedia menjelaskan struktur keturunan atau nasab kepada cucunya. Guru adalah sosok profesi yang mampu menjelaskan struktur keilmuan kepada siwa sehingga memiliki pemahaman keilmuan yang utuh.
  2. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang nenek yang selalu bersedia bercerita kepada cucunya. Guru adalah profesi pendidikan yang harus memiliki kemampuan menceritakan materi kepada siswa sehingga siswa memiliki pengetahuan dan ketrampilan secara utuh.
  3. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang bapak yang senantiasa bertanggung jawab atas segala hal yang ada di keluarga. Guru sebagai profesi harus mampu bertindak dan bertanggung jawab atas segala hal yang ada di dalam proses pembelajaran.
  4. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang ibu yang senantiasa memiliki kasih sayang kepada anak anaknya. Guru sebagai profesi harus memiliki kasih sayang kepada siswanya.
  5. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang kakak yang senantiasa membantu kesulitan adiknya. Guru sebagai profesi harus memiliki kemampuan membantu kesulitan yang dimiliki siswanya.
  6. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang kakak ipar yang senantiasa tidak mau iktu campur urusan iparnya jika tidak diminta. Guru sebagai profesi pendidik harus mampu menahan keinginan untuk ikut campur tangan usuran siswanya jika tidak diminta.
  7. Guru harus memiliki karakteristik sebagai editor buku yang senantiasa meluruskan atau membenarkan teks atau tulisan orang lain. Guru sebaagi profesi pendidik harus memiliki kemampuan untuk meluruskan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
  8. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang jenderal yang senantiasa tegas dan berdisplin tinggi. Guru sebagai profesi pendidik harus smemiliki kemampuan untuk berjiwa disiplin yang tinggi dan tegas terhadap siswa demi membangun kepribadian dan sikap yang ideal.

Agar terwujud karakteristik tersebut, maka guru harus memiliki 10 ( sepuluh ) kemamuan dasar sebagai berikut:

  1. Menguasai bahan. Penguasaan materi bagi guru meliputi bahan pokok dan Pengayaan. Bahan pokok adalah bahan atau buku yang menjadi pedoman dalam pembelajaran. Sedangkan bahan pengayaan[32] adalah bahan yang menjadi pelengkap atau buku lain yang memiliki relevansi dengan materi pokok.
  2. Mampu mengelola interaksi pembelajaran[33] yaitu guru harus memiliki kemampuan memberikan pemahaman materi secara utuh kepada siswa.
  3. Mampu mengelola program pembelajaran[34] yaitu guru harus memiliki kemampuan menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi RPP, AMP dan pengembangan silabus.
  4. Mampu mengelola kelas[35] yaitu mampu memberikan motivasi agar siswa memiliki semangat tinggi untuk mempelajari mata pelajaran.
  5. Mampu menggunakan media pendidikan. Ada dua macam media dalama pendidikan yaitu alat pembelajaran dan alat peraga. Alat pembelajaran adalah sarana yang dapat digunakan semua mata pelajaran  sedangkan alat peraga adalah sarana yang berfungsi khusus untuk mempercepat pemahaman materi pelajaran dalam lingkup satu pokok bahasan tertentu. Oleh sebab itu alat peraga pokok bahasan sholat pasti berbeda dengan alat peraga pokok bahasan wudlu atau tayamum. Alat peraga haji pasti berbeda dengan alat peraga zakat fitrah, dll.
  6. Memahami landasan kependidikan[36], yaitu guru harus memahami benar tentang makna belajar, makna guru dan siswa agar pembelajaran benar benar sesuai dengan harapan.
  7. Memahami evaluasi, yaitu guru harus memiliki pemahaman yang tepat tentang evluasi. Bahwa evaluasi tidak hanya untuk mengetahui kualitas pemahaman siswa melainkan juga sebagai saran untuk mengetahui kekurangan guru dalam pembelajaran.
  8. Memahami fungsi bimbingan dan layanan (BK)[37] yaitu posisi BK jangan hanya diposisikan sebagai satpam atau polisi sekolah yang hanya mencari dan memberi sanksi terhadap kesalahan siswa.
  9. Memahami funsgi administrasi sekolah
  10. Menafsirkan hasil penelitian dalam bidang pendidikan. Guru dalam melakukan pembelajaran juga harus mampu menjelaskan hasil hasil penelitian yang ada keterkaitannya dengan pokok bahasan yang dijelaskan.

Hubungan antara guru dan kurikulum sangat dekat dan saling melengkapi. Artinya Guru yang baik adalah yang mampu sebagai pengembang kurikulum. Pengembangan Kurikulum dilakukan melalui penjelasan materi, penggunaan metode, pemanfaatan media, dan pelaksanaan evalusi dan pemberdayaan atau pemanfaatan fasilitas yang ada disekitarnya.

  1. Karakteristik Pelajaran PAI

Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki karakteristik yang berbeda dengan pelajaran diluar PAI. Guru PAI harus memahami secara tepat tentang karakteristik PAI. Jika PAI disamakan dengan pelajaran non PAI maka selama itu pula tidak akan mampu menjawab tantangan dan problem masyarakat.

Pelajaran PAI memiliki karakteristik yang bersifat integral, lintas sektor dan zig zag[38]. Artinya pelajaran PAI selalu berkaitan dengan ilmu ilmu lain di luar PAI misalnya berkaitan dengan ilmu psikologi, sosiologi, geografi, ilmu manajemen dan ilmu lainnya.

Pelajaran PAI akan dipahami secara utuh oleh siswa jika materi tersebut disampaikan dengan didukung dengan penjelasan ilmu lain di luar PAI. Menjelaskan pokok bahasan zakat fitrah tidka cukup hanya menjelaskan pengertian zakat, berapa nisob zakat, bagaimana makna atau hikmah zakat serta doa doa dalam ibadah zakat.  Mengajarkan materi PAI pokok bahasan zakat fitrah pasti berkaitaan dengan kemiskinan (ilmu ekonomi), berkaitan dengan pola pengelolaan zakat produktif (ilmu manajemen), berkaitan dengan  melatih kepekaan atau kepedulian dengan fakir miskin (ilmu psikologi dna ekonomi).

Mengajarkan pelajaran PAI pokok bahasan sholat tidak cukup hanya menjelaskan pengertian sholat, bacaan sholat, praktek sholat. Pokok bahasan sholat perlu dijelaskan tentang makna gerakan sholat dalam kehodupan sosial (ilmu sosiologi/antropologi), perlu juga menjelaskan tentang khusyu’ (berkaitan dengan ilmu psikologi).

Konsekuensinya, Guru PAI harus memiliki pengetahuan lintas sektor, artinya guru PAI  tidak cukup hanya memiliki pengetahuan norma norma ritual keagamaan melainkan harus selalu mengikuti dinamika atau perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara ekstrem dapat dikatakan bahwa guru PAI adalah sosok guru yang “serba bisa”, karena pelajaran PAI menghendaki kemampuan yang serba bisa. Mengajarkan fiqih pokok bahasan mawaris, guru PAI harus  paham ilmu matematika, mengajarkan pokok bahasan sholat pada materi sholat khusyu’, guru PAI harus juga memiliki pemahaman tentang ilmu psikologi.

Sampai disini, dapat dikatakan bahwa dalam pelajaran PAI tidak mengenal mis match (tidak relevan), karena karakteristik PAI adalah materi yang memgharuskan  mampu mamahami ilmu pengetahuan lintas sektor. Oleh sebab irtu jika ada lulusan PTAI jurusan PAI setelah lulus memegang mata pelajaran IPS, IPA, MTK, Olah raga, kesenian, bahasa Indonesia, bahas Inggris tidak dapat dikatakan mismatch, melainkan itu merupakan sebuah keniscayaan dari karakerisktik ilmu atau pelajaran PAI.

  1. Guru PAI yang Profesional

Ada istilah lain yangt berkaitan dengan profesional yaitu Profesi[39], Profesionalisme[40] dan  Profesionalisasi[41]. Predikat profesional akan muncul jika diawali dari adanya profesi, yang memiliki semangat atau keyakinan profesionalisme dan ada profesionalisasi. Tanpa di awali dari langkah langkah tersebut maka tidak akan tercapai yang namanya profesional.

Guru Profesional merupakan tuntutan masyarakat dan juga aturan. Artinya sosok guru profesional selain suatu keniscayaan aturan/regulasi juga menjadi keniscayaan harapan masyarakat.  Setiap Guru dituntut memiliki empat kompetensi yaitu Kompetensi kepribadian, Sosial, Pedagogiek dan professional. Guru PAI dan non PAI juga harus memiliki 4 kompetensi tersebut. Lalu dimana letak perbedaan antara guru PAI yang professional dan guru non PAI yang profesional.

Di atas sudah penulis jelaskan bahwa Guru PAI memiliki ruanglingkup sangat luas dan karakter materi PAI juga berbeda jauh dengan materi pelajaran non PAI dimana materi PAI harus selalu bersinggungan atau didukung dnegan materi lainnya. Perbedaan ini secara langsung berkonsekuensi dengan perbedaan peran, tugas dan tanggung jawab antara guru PAI dengan guru non PAI. Implikasinya profil profesional atau tidaknya guru PAI juga berbeda dengan guru non PAI.

Profesi secara umum adalah suatu pekerjaan yang didasarkan asumsi sebagai berikut :

  1. Pekerjaan itu dilakukan terus menerus untuk melayani orang lain/masyarakat.
  2. Pekerjaan itu memerlukan pendidikan atau ketrampilan khusus yang tidak semua orang bisa melaksanakan.
  3. Pekerjaan itu memerlukan pendidikan tersendiri dan memerlukan waktu yang cukup panjang.
  4. Pekerjaan itu memiliki kepercayaan tinggi dari masyarakat. Artinya masyarakat percaya penuh bahwa pekerjaan tersebut benar benar mampu melayani orang lain.
  5. Pekerjaan itu memerlukan komitmen tinggi untuk melakukan tugas dan tanggung jawabnya.
  6. Pekerjaan itu memiliki organisasi profesi yang mengatur rumah tangganya sendiri.

Indikator guru PAI yang profesional selalu dilihat dari perspektif kinerja dalam menjelaskan, memahamkan dan mengembangkan nilai nilai ajaran islam kepada peserta didik dan masyarakat. Oleh sebab itu semua kreteria atau persyaratan profesi guru, khusus untuk guru PAI harus ditambah satu lagi yaitu pekerjaan itu memerlukan kemampuan menjelaskan, memahamkan nilai nilai ajaran islam kepada masyarakat. Disinilah letak perbedaan esensial antara guru PAI yang profesional dengan guru non PAI yang profesional. Artinya guru PAI yang profesional sudah memenuhi kreteria guru Profesional tetapi guru profesional belum tentu memenuhi kreteria guru PAI yang profesional. Guru PAI yang profesional posisinya lebih tinggi dari pada guru non PAI.

Perbedaan itu tidak cukup hanya di dalam tingkatan lesan dan idealisme tetapi harus benar benar bisa di praktikkan dalam realitas kehidupan masyarakat dan realitas pembelajaran. Guru PAI yang profesional selain mahir dalam memberi motivasi belajar, trampil menggunakan metode dan pendekatan pembelajaran, ahli dalam melakukan gaya mengajar yang bervariasi, rajin melaksanakan pengabdian atau melayani masyarakat juga harus memiliki ketrampilan dan keahlian dalam memahamkan nilai nilai atau norma agama Islam kepada masyarakat dan peserta didik. Masyarakat dan peserta didik harus memiliki cara pandang terhadap ayat dan hadis secara tepat, utuh, proporsional sehingga benar benar mampu menampilkan dan menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang ramah, damai, demokratis, anti kekerasan dan memiliki toleransi tinggi dengan siapapun yang berbeda agama, suku, warna kulit dan golongan.

Guru PAI yang profesional setidaknya memiliki tiga misi yaitu ; pertama, misi dakwah Islam. Islam  harus bisa dijelaskan dan ditunjukkan dengan sikap, kepribadian dan perilaku yang menarik bagi semua manusia tanpa me,ihat asal usulnya. Islam diturunkan tidak hanay untuk numat islam saja, melainkan untuk semua manusia yang ada di muka bumi ini.

Kedua, misi pedagogiek. Pembelajaran memiliki peran sangat besar dalam merubah atau menanamkan keyakinan peserta didik. Guru yang baik adalah guru yang mampu mewujudkan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Pembelajaran efektif adalah pembelajaran yang memiliki informasi baru bagi siswa, sedangkan pembelajaran efisien adalah pembelajaran yang mampu menyimpan makna atau kesan yang menarik bagi siswa. Dengan kata lain proses pembelajaran itu dilakukan secara menyenangkan tidak menakutkan bagi peserta didik.

Ketiga, misi pendidikan. Guru selain bertugas dalam realitas pembelajaran juga memiliki tugas membimbing dan membina etika dan kepriabdian peserta dididk saat di sekolah ataupun diluar sekolah. Profil guru yang mampu dijadikan contoh (uswah) bagi peserta didik dan masyarakat merupakan peran penting dalam mensukseskan misi edukasi bagi guru.

 

  1. Kesimpulan/Penutup
  2. Perkembangan atau dinamika ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya yang sangat cepat mengharuskan guru PAI selalu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru yang profesional.
  3. Guru PAI yang profesional memiliki perbedaan yang esensial jika dibanding guru non PAI yang profesional khususnya jika dilihat dari ruanglingkup wilayah materi PAI dan karakteristik materi PAI yang berbeda dengan materi pelajaran non PAI.
  4. Guru PAI yang profesional selain memiliki kreteria guru profesi juga harus memiliki kreteria sebagai pendakwah Islam, sebagai pelaksana nilai nilai ajaran Islam dan juga sebagai contoh atau model umat beragama yang baik dan benar bagi masyarakat.
Catatan kaki :
[1]  PI dan PAI memiliki perbedaan yang esensial walaupun dalam hal hal lainnya bisa dikatakan sama. Sebagai praktisi dan akademisi di STAIN/IAIN/UIN harus memiliki pemahaman yang utuh tentang perbedaan antara PI dan PAI. PI lebih menekankan sistem yang berjalan sedangkan PAI lebih menekankan bagaimana proses pembelajaran dilaksanakan. PI lebih banyak bersentuhan dengan pola kepemimpinan, pola pengawasan, pola perencanaan dan pola evaluasi, sedangkan PAI  sering berkaitan dengan bagaimana pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, strategi menjelaskan materi , mengevaluasi hasil pembelajaran, menggunakan media atau sarana pembelajaran serta bagaimana menyesuaiakan dinamika perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembelajaran. PI akan dilaksanakan oleh pimpinan lembaga sedangkan PAI dilaksanakan oleh para Guru.

[2] Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1.

[3] Pootensi manusia yang dikembangkan setidaknya menyangkut tiga aspek yaitu Potensi kecerdasan intelektual (kognitif), Potensi kecerdasan sikap /moral/ kepribadian (Affektif) dan potensi kecerdasan otot atau mekanik (psikomotorik).

[4] Islam berasal dari turunan kata “salama” yang berarti kepatuhan, ketaatan dan ketundukan kepada Allah swt. Jika dipahami berasal dari kata “Salima” berarti kesejahteraan, tidak tercela dan tidak cacat. Lihat  Mohamamd Daud Ali (1998) dalam Pendidikan Agama Islam, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta. Hal 49.

[5] Nusa putra & Santi Lisnawati (2013), Penelitian Kualitatif PAI, Rosdakarya, Bandung, Jawa Barat. Hal 2.

[6] Knowing berarti, peserta didik dapat mengetahui dan memahami ajaran dan nilai nilai agaam Islam. Artinya peserta dididk harus memiliki kecerdasan intelektual untuk memahamai pesan yang terkandung did alam PAI.

[7] Doing berarti peserta didik memiliki ketrampilan untuk mempraktikkan ajaran dan nilai nilai yang ada di dalam PAI. Agama Islam tidak cukup di ketahui dan dipahami tetapi  pesan atau tata aturan beribadah harus bisa dilaksanakan, seperti gerakan sholat, membaca al qur’an harus bisa dilaksanakan oleh umat Islam.

[8] Being berarti peserta dididk memiliki ketrampilan menjadikan nilai nilai ajaran Islam menjadi sistem kehidupan umat Islam. Artinya Agama Islam tidak hanya untuk dihafal dan dipraktikkan tatacara peribadatannya, melainkan nilai nilai atau pesan yang terkandung didalamnya harus bisa dijadikan spirit atau sistem membangun kehidupan yang efektif dan efisien. Lebih jelas lihat: Nusa Putra Salam dalam Penelitian Kualitatif hal: 3.

[9] Kata tarbiyah menekankan kepada kualitas kecerdasan/ketrampilan secara intelektual/kognitif dalam artian pendidikan dalam artian tarbiyah lebih menekankan kepada penguasaan kecerdasan secara kognitif yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Dikatakan memiliki kecerdasan secara kognitif jika keenam tahapan dapat dikuasai atau dimiliki. 

[10] Kata ta’lim menekankan kepada etika pergaulan  dalam proses pendidikan atau pembelajaran antara siswa kepada guru dan siswa kepada sesama siswa. Bagaimana siswa memiliki kesadaran menghargai dan menghormati guru dan sesama teman dalam melaksanakan proses pembelajaran. Pendidikan dengan menggunakan kata ta’lim, lebih menekankan pentingnya etika, sikap sosial, sopan santun dan kepribadian dirinya  sendiri dan juga etika kepada orang lain khususnya kepada guru. Ditengah tengah era modernitas dan globalisasi dimana manusia menuntut keterbukaan dan kebebasan berimplikasi lunturnya sikap dan etika pergaulan antara siswa kepada guru dan sesama siswa itu sendiri. Banyak fenomena siswa menuntut gurunya melalui hukum pidana umum hanya dengan persoalan kecil dan tidak jelas. Akhirnya guru memiliki sikap masa bodoh kepada apa yang dilakukan siswa, karena ada rasa trauma atau ketakutan dengan langkah hukum dari pihak pihak lain jika guru dianggap melakukan kesalahan atau kekerasan terhadap siswa.

[11] Kata Ta’dib menekankan adanya kesadaran untuk mengetahui, menyakini dan memahami posisi Tuhan bagi manusia. Artinya pendidikan dengan kata Ta’dib menekankan tentang bagaimana siswa memiliki pengetahuan, pemahaman dan kesadaran terhadap posisi Tuhan bagi manusia. Apa yang dilakukan selalu disadari dan merasa di lihat oleh Tuhan. Hal ini berimplikasi kepada kecerdasan spiritual bagi siswa dalam artian memiliki ketrampilan melaksanakan nilai nilai keagamaan kedalam sistem kehidupan sosialnya.

[12] Epistemologi ( theory of knowledge) berasal dari bahasa Yunani “episteme” yang berarti knowledge atau science. Logos berarti ilmu. Berarti epistemologi adalah ilmu tentang pengetahuan atau ilmu untuk menemukan sebuah pengetahuan atau kebenaran. Pendidikan Islam memiliki cara atau mekanisme untuk menemukan kebenaran yang berbeda dengan pendidikan  barat ( untuk membedakan dengan pendidikan Islam). Pendidikan barat kebenaran diawali dari kekuatan rasio atau akal. Kekuatan akal pikiran diawali dari para pemikir masa lalu seperti Rene Descartes (1596-1650) yang memiliki konsep Cogito ergo sum yang berarti “Aku berfikir maka aku ada”. Kalimat ini menandakan pentingnya pikiran manusia, bahkan segala sesuatu atau kebenaran itu sendiri dilihat dari perspektif akal pikiran manusia. Ada atau tidaknya suatu kebenaran ditentukan oleh kemampuan berfikir manusia.

[13] Azumardi Azra (1998), Pendidikan Islam : Tradisi dan Moderenisasi Menuju Milenium Baru , Logis Wacana ilmu, Jakarta

[14] Pengantar Filsafat pendidikan Islam (1989),  Ma’arif, Bandung, Jawa Barat.

[15] Baca Undang Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 ayat 1.

[16] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ilmuwan diartikan orang yang ahli atau orang yang memiliki banyak pengetahuan mengenai suatu ilmu. Ilmuwan juga dapat diartikan orang yang berkecimpung dalam dunia ilmu pengetahuan, seperti senang membaca, menulis, meneliti. Dalam Islam, ilmuwan adalah manusia yang selalu takut (dekat) kepada Allah swt. Hal ini dijelaskan dalam Surah Faathir ayat 28. “ Dan demikianlah diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang binatang ternak ada yang bermacam macam warnanya dan jenisnya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba hamba-Nya, hanyalah ulama (ilmuwan). Kedudukan seorang ilmuwan (ulama) memiliki posisi sangat tinggi (mulia), setiap ulama (ilmuwan) yang selalu melaksanakan kegiatan sesuai dengan norma yang berlaku akan diberi beberapa kenikmatan dan derajat (posisi) yang tinggi dibanding lainnya. Hal ini di jelaskan dalam Surah Al Mujadalah : 11 “ .. Allah akan meninggikan orang orang yang beriman diantara kamu dan orang orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 

[17] Baca Undang Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 ayat 2.

[18] Baca Undang Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 35 ayat 2

[19] Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan dan ketrampilan yang dijadikan dasar untuk melaksanakan tugas atau profesinya. Seperangkat berarti banyak aspek, oleh sebab itu setiap guru harus memiliki banyak aspek yang terkait dengan pengetahuan dan ketrampilan sehingga mampu melahirkan kinerja guru yang profesional. Kompetensi mengharuskan para guru memiliki pengetahuan yang luas dan menyangkut lintas sektor.

[20] Kompetensi kepribadian meliputi sejumlah pengetahuan dan ketrampilan yang dijadikan modal untuk melatih sikap psikologi yang baik, seperti kesabaran, kedisplinan, keuletan, konsistensi, kejujuran, tanggung jawab, amanah dan sikap lain yang berkaitan dengan psikologi yang baik.

[21] Kompetensi sosial meliputi sejumlah pengetahuan dan ketrampilan yang dijadikan modal untuk membangun hubungan komunikasi dengan orang lain, seperti kualitas komunikasi, kesediaan saling menghormati dan menghargai, toleransi.

[22] Kompetensi pedagogiek meliputi sejumlah pengetahuan dan ketrampilan yang dijadikan modal untuk mewujudkan kualitas pembelajaran guru. Seperti kemampuan menjelaskan materi, kemampuan menggunakan media, kemamluan melaksanakan metode, dan kemampuan lain yang berkaitan dnegan proses pembelajaran.

[23] Kompetensi profesional meliputi sejumlah pengetahuan dan ketrampilan yang dijadikan modal untuk melahirkan konsep atau wawasan yang luas terhadap teori pendidikan yang disimbolkan dengan kepemilikan gelar sarjana.

[24] Guru harua memiliki berbagai kecerdasan dan ketrampilan yang meliputi kemampuan dan ketrampilan menjelaskan materi, memberi motivasi belajar siswa, menggunakan metode dan media, dan mampu melakukan evaluasi untuk kepentingan perbaikan pembelajaran dan juga pengemebangan manajemen.

[25] Guru harus memiliki ketrampilan mengelola potensi psikologi sehingga menjadi sikap dan karakter yang menarik bagi orang lain. Termasuk kompetensi ini adalah sabar, tanggung jawab, disiplin, ulet, komitmen, tidak mudah emosional, tenang dalam menghadapi segala persoalan.

[26] Guru harus memiliki kecerdasan dalam melakukan komunikasi dan interaksi dengan pihak lain, misalnya selalu menghormati orang lain, berjiwa toleran.

[27] Guru harus memiliki ketrampilan pengembangan dan aplikasi ilmu tentang pendidikana dan pembelajaran sehingga mampu menampilkan sosok guru yang ideal.

[28] Lihat Undang Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 7 ayat 1 huruf  a-i

[29] Zamroni. Dalam buku “ Paradigma Pendidikan Masa Depan”. Yogyakarta: Bigraf  Publishing tahun 2000

[30]  Nasution, S. Dalam buku,  Azas-azas Kurikulum. Bandung: Jemars tahun 1982

[31] Moh Uzer Usman dalam Buku,  Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, tahun 1994

[32]  Bahan pengayaan merupakan suatu keharusan bagi Guru Pendidikan Agama Islam. Hal ini terkait dengan karakter  materi PAI yang selalu terkait dan memerlukan penjelasan dari ilmu ilmu dari luar dirinya. Materi tentang khusyu’ dalam sholat akan mudah dipahami siswa jika dijelaskan menurut sudut pandang ilmu spikologi. Materi tafsir al qur’an dan hadis akan lebih mudah dipahami oleh siswa jika di jelaskan dari sebab sebab turunnya (asbabun nuzul, asbabul  wurudl). Menjelaskan sebab turunnya selalu terkait dengan ilmu sosiologi, antropologi, kependudukan dan ketatanegaraan. Dengan kata lain, materi pengayaan mengharuskan guru PAI harus memiliki wawasan luas dari berbagai disipilin ilmu pengetahuan atau biasa di sebut wawasan lintas sektor. Materi pengayaan adalah materi yang dicari dan dikembangkan oleh guru itu sendiri. 

[33]  Menekankan pada kemampuan guru memiliki, menguasai metode dan tehnik untuk mempercepat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan.

[34]  Menekankan pada aspek kemampuan dan ketrampilan menyusun perangkat pembelajaran atau administrasi pembelajaran.

[35] Menekankan pada aspek kemampuan dan ketrampilan memberi motivasi siswa dalam menerima materi pelajaran.

[36]  Berkaitaan dengan kemampuan  guru dalam memahami berbagai istilah yang ada di dalam pendidikan dan pembelajaran. Karena jika guru salah dalam memahami berbagai istilah akan berpotensi besar menghambat tercapainya kualitas pendidikan dan pembelajaran. Konsep yang harus dipahami secara tepat oleh guru seperti, apa dan siapa siswa, apa dan siapa guru, apa dan bagaimana mendidik dan mengajar, apa dan bagaiman membimbing, apa dan untuk apa evaluasi dilakukan. 

[37]  BK di sekolah sampai saat ini masih jauh dari harapan. Peran dan fungsi BK masih diposisikan sebagai pengaman dan ketertiban sekolah, sehingga guru BK tidak lebih sebagai “polisi” atau “satpam” sekolah yang bertugas memberikan sanksi kepada siswa yang dianggap bermasalah. Akhirnya guru BK ditakuti bukan di segani oleh siswa. Implikasi selanjutnya Guru BK di jauhi dan bukan didekati oleh siswa.

[38]  Materi PAI tidak akan bisa dipahami secara utuh oleh peserta didik dan masyarakat jika tidak dijelaskan melalui ilmu ilmu lainnya yang memiliki relevansi secara langsung. Misalnya menerangkan sholat khusu’ harus dijealaskan dengan ilmu psikologi. Menjelaskan materi zakat harus juga dijelaskan dengan ilmu ilmu manajemen (pengelolaan) dan ilmu kependudukan tentang pentingnya pengentasan kemiskinan. Integral artinya tidak bisa dipisah pisahkan antara materi satu dengan lainnya. Lintas sektor artinya, antara disiplin ilmu satu dengan lainnya selalu berkaitan,  saling memerlukan dalam menjelaskan agama. Zig Zag artinya, pembelajaran PAI selalu menyinggung materi diluar PAI dengan tujuan memberikan pemahaman yang utuh dan komprehensif bagi siswa.

[39]  Jabatan yang dimiliki seseorang.

[40] Suatu keyakinan yang kuat untuk memiliki jabatan tersebut. Profesionalisme guru berarti ada keyakinan dan keinginan yang kuat untuk selalu memiliki jabatan guru. Nasionalisme adalah memiliki keyakinan dan keinginan kuat untuk memiliki nasional Indonesia.

[41] Proses untuk melahirkan pekerjaan yang profesional. Proses itu dilakukan dengan pendidikan, pelatihan, kursus dan pendidikan jangka pendek.

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter