|  |  | 

Breaking News Populer

Islam dari Perspektif Teori Myth of Cave

img-responsive

Apa hubungannya Islam dengan Teori Myth of Cave? Mungkinkah Islam di kaitkan atau dilihat dari perspektif Teori Myth of Cave?. Teori Myth of cave adalah pendapat seorang pemikir yang jelas jelas tidak mengenal islam karena  pencetus teori Myth of Cave lahir sebelum Islam diturunkan kepada utusan Allah Rasulullah saw. Siapakah Mencetus Myth of cave? Dia adalah filosof murid kesayangannya Socrates bernama Plato yang hidup 427-347 SM.

Plato adalah sososk ilmuwan atau pemikir yang karyanya masih mendominasi paradigma berfikir masyarakat akademik sampai sekarang. Selain karya besar Plato yang bernama Republik, Plato juga memiliki teori yang tidak kalah pentingnya untuk dijadikan landasan berfikir dan bersikap dalam menjalani kehidupan sosialnya   yaitu teori Myth of Cave atau biasa di kenal dalam bahasa Indonesia Teori Gua.

Siapakah Plato

Plato adalah  salah satu pemikir atau ilmuwan  yang terlahir di Atena pada tahun 427 SM, dan meninggal pada tahun 347 SM di Atena pula pada usia 80 tahun. Plato  berasal dari keluarga aritokrasi yang turun temurun memegang politik penting dalam politik Atena. Plato bercita-cita menjadi seorang  negarawan, tapi karena situasi dan kondisi  politik pada waktu itu akhirnya tidak mendukung mewujudkan realisasi keinginannya. Orangtua (ayah) Plato, berasal dari keturunan bangsawan (raja) negara/kerajaan  Athena, Codrus dan raja Messenia, Melantus. Orangtua (ibu)  Plato bernama Perictione. Perictione berasal dari keluarga terpandang dan terpelajar,  saudara kandung di dalama keluarga kebanyakan memiliki profesi atau pekerjaan dalam bidang hukum dan sastra. Plato memiliki 3 saudara kandung, yakni 2 orang saudara lelaki bernama Adeimantus dan Glaucon serta seorang saudari bernama Potone. Tidak ada keterangan pasti apakah saudara-saudara kandung tersebut lebih tua atau lebih muda dari Plato. Sampai akhir hayatnya, wafat pada usia 80 tahun,  plato konsisten menjadi seorang tunggal  dalam artian tidak pernah menikah.

Kehidupan Plato diasuh atau dibimbing oleh orang tua angkatnya (pamannya) bernama Pyrilampes, yang akhirnya memiliki saudara bernama Demus. Selain berotak cerdas dan berlian, Plato dikenal sosok manusia yang memiliki sifat dan karakter rendah hati, berjiwa  mulia. Plato memiliki kebiasaan seorang yang memiliki kepekaan sosial tinggi, memiliki motivasi tinggi dalam menuntut ilmu dan belajar,  tidak memiliki jiwa sombong dan memiliki penguasaan dan ketrampilan dalam aspek bahasa, matematik, kesenian serta memiliki hobi mengikuti forum forum ilmiah seperti diskusi dan pelatihan diberbagai kesempatan.

Plato memiliki kegemaran mengekpos karya dan pemikiran gurunya  yang bernama Socrates. Artinya Plato memiliki perilaku selalu menyampaikan ide atau gagasan gurunya yaitu Socrates, sehingga masyarakat mengetahui dan memahami gagasan dan pemikiran Socrates melalui gagasan atau apa yang disampaikan oleh Plato diberbagai forum dan berbagai tulisan yang dipublikasikan. Artinya Plato adalah sososk murid yang setia kepada gurunya tidak hanya kesetiaan atau taat yang menyangkut masalah sikap dan kepriabdian serta pemikiran, tetapi juga menyangkut bagaimana mensosialisasikan ide atau gagasan kepada masyarakat. Komitmen Plato terhadap gurunya tidak cukup hanya taat terhadap pemikiran tetapi juga bagaimana Plato mensosialisasikan gagasan atau pemikiran gurunya kepada masyarakat umum sehingga nama besar Socrates dapat diketahui dan  dipahami masyarakat.

Karya Plato bernama republik contoh nyata komitmen Plato untuk menjunjung tinggi dan mensosialisasikan karya besar gurunya. Republik merupakan respons  Plato terhadap realitas hukum yang memperlakukan tidak adil kepada gurunya Socrates. Perlakuan ketidak adilan terhadap Socrates dalam pandnagan Plato disebabkan oleh sistem pemerintahan demokrasi busuk sehingga Plato tidak tertarik untuk menerapkan atau mengembangkan demokrasi tersebut. Berdasarkan itulah maka Plato memiliki filsafat politik yang diharapkan mampu merubah tatanan atau sistem pemerintahan yang mampu menghilangkan atau mengeliminir ketidakadilan dalam bidang hukum dan politik.

Sebagai seorang filosof atau ilmuwan, Plato memiliki kegelisahan terhadap realitas dunia, yang dikemas dalam teori Myth of Cave yaitu teori gua. Plato memiliki anggapan bahwa kehidupan dunia ibarat kenyataan di dalam gua. Jika seseorang baru saja keluar dari dalam gua, maka pandangan di sekitar gua terasa tidak jelas, samar dan buram.  Kenyataan atau fenomena dalam gua itulah yang akhirnya Plato memiliki pendapat bahwa dunia ini memiliki kenyataan yang samar atau subyektif, artinya kebenaran di dunia ini tidak mutlaq. Setiap orang memiliki kebenaran masing masing sesuai dnegan pengalaman dan cara pandang sendiri sendiri. Manusia tidak pantas mengklaim atau merasa dirinya benar sendiri, sepandai pandai manusia pasti  memiliki kekurangan dan kelebihan. Dalam mengembangkan ilmu, manusia tidak diperbolehkan merasa paling benar sendiri, justru kesediaan untuk bekerjasama atau saling bantu dan melengkapi merupakan kunci kesuksesan.

Perspektif Islam

Islam diturunkan ke bumi memiliki misi memberi kedamaian, kesejahteraan bagi semua yang ada di dalam bumi ini, tidak peduli itu mahluk hidup atau benda mati. Islam harus memberi ketenangan dan kenyamanan manusia, binatang, hewan, tumbuhan serta alam lainnya.  Dalam bidang sosial (kemanusiaan) Islam, memiliki misi membangun peradaban manusia agar menjadi manusia yang unggul, mampu memebri manfaat untuk dirinya dan orang lain.

Islam (al qur’an) memiliki norma sangat global (umum)  yang harus dipahami secara utuh oleh pemeluknya dengan berbagai pendekatan. Islam tidak bisa di lihat dan dipahami hanya dari satu perspektif misalnya perspektif hukum (fiqh) saja, atau tasawuf saja, atau sejarahs aja. Islam mengandung berbagai makna, berbagai pesan dan tujuan sehingga harus di lihat  dengan multi pendekatan yang dilakukan secara simultan.

Myth of Cave karya Plato memiliki makna kepada umat Islam khususnya dan umat manusia di muka bumi ini umumnya,  dalam hal menemukan dan mengembangkan informasi dan ilmu pengetahuan. Kunci sukses umat Islam terletak kepada kesediaan untuk bekerjasama dengan sesama dalam membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Sebaliknya kunci kegagalan jika umat Islam memiliki ego atau rasa paling benar, paling berhasil, paling sukses dalam melakukan apapun.  Kehidupan dunia apapun bidangnya memiliki kebenarn yang semu, atau subyektif. Artinya semua orang memiliki peluang dan kesempatan untuk meraih kebenaran. Hanya saja kebenaran yang diperoleh tidak bisa berlaku untuk semua.

Umat Islam tidak boleh memiliki pemahaman yang dianggap paling tepat terhadap agama (al qur’an dan hadis), apa yang ditulis di dalam al qur’an dan hadis memiliki makna sesuai dengan situasi dna kondisi normatif dan sosial. Islam tidak bisa di tegakkan hanay dengan satu pemahaman saja. Konsep jihad tidak bisa dipahami hanya dari sudut pandang normatif, bahwa jihad harus dengan mengangkat senjata atau perang. Jihad juga tidak bisa di lakukan dnegan cara menyerang orang yang dianggap kafir. Padahal istilah kafir itu sendiri masih perlu didiskusikan, apa dan seperti apa indiaksi orang kafir. Apakah kreteria kafir di zaman Rasulullah bisa di gunakan untuk kreteria kafir di zamans ekarang. Apakah kafir itu orang yang tidak beragama Islam atau orang yang tidak beragama sama sekali, atau orang irang yang tidak senang dengan agaam Islam. Masih banyak pertanyaan pertayaan yang masih perlu di perhatikan dan direnungkan terkait dengan istilah kafir.

Terminologi lain yang masih perlu di kaji dan direnungkan adalah, mengenai musyrik dan bid’ah. Masih banyak kelom;pok lain yang dengan mudah menjustifikasi orang atau kelompok lain itu musyrik dan bid’ah hanya dengan cara pandnag atau alasan alasan yangs angat normatif dan subyektif. Artinya kreteria seseorang dianggap musyrik dan bid’ah itu hanay dilihat dari satu dalil tanpa melihat dari berbagai persepktif. Sebuah ayat atau hadis pasti memiliki visi dna misi secara kontekstual, artinya apa yang dikatakan di dalam teks baik qur’an dan hadis pasti memiliki dimensi ruang dan waktu.

Tidak semua apa yang ditulis di dalam al qur’an itu harus dilaksanakan secara tektualis, tidaks emua apa yang dikatakan did alam hadis Rasul itu harus dilaksanakan secara tekstualis juga tanpa memperhatikan dimensi ruang dan waktu. Misalnya perintah tentang gotong royong, persatuan itu harus di sesuaikan dengan kondisi kekinian. Tehnik untuk mencapai masyarakat mau bergotong royong dan bekrjasama itu diserahkan kepad otoritas manusia itu sendiri. Istilah tentang dakwah, amal ma’ruf dan nahi mungkar yang ada did alam al qur’an maupun hadis itu harus dilaksanakan dengan berbagai cara atau pendekatan yang dikaitkand engan situasi dan kondisi kekinian.

Membaca al qur’am itu bermakna ibadah yang pasti orang yang membacanya memperoleh pahala, tetapi melaksanakan apa yang dipesankan di dalam alqur’an  adalah perilaku kebudayaan. Membaca lafat tentang jihad dan perang itu bagian dari ibadah karena pasti mendapat pahala. Melaksanakan bagaimana jihad dan bagaimaan perang yang dimaksudkan melaksanakan perintah al qur’an adalah budaya. Kebudayaan adalah selau dikaitkand engan sitausi dan kondisi masyarakat dimana berada. Kebudayaan orang arab jelas berbeda dengan kebudayaan orang Indoensia. Oleh sebaba itu umat Islam Indonesia tidak boleh memiliki keinginan sepertti orang arab saudi dalam memahami dan melaksanakan perintah al qur’an dan hadis.

Membaca ayat tentang pencuri itu dipotong tangannya, merupakan ibadah yang pasti mendapat pahala, tetapi melaksanakan  hukum potong tangan kepada pencuri adalah kebudayaan yang harus dipertimbangkan asas manfaat dan madharatnya bagi masyarakat  setempat. Jangan merasa dirinya paling benar, karena Plato yang nota benenya tidak pernah mengetahui agaam Islam saja memiliki teori tentang kebenaran subyektif dan perlunya saling kerjasama satu dengan lainnya. Myth of Cave adalah salah satu cara pandang yang perlu dicrmati dan dikembangkan oleh umat Islam agar Islam benar benar bisa berkembang secara optimal sebagai agama yang benar benar memiliki misi  mewujudkan kedamaian dan ksih sayang kepada siapapun. Intinya jangan melihat dan memahami islam dari sudut pandang yang sempit dan sangat terbatas, karena dengan cara pandanag yangs empit dan sangat trbatas, Islam tidak bisa menjadi agama yang rahmatan lil’alamii. Gua ibarat dinding pemisah yang menjaidkan umat Islam berfikir dan berwawasam sempit yang menjadikan keterbatasan dalam memberikan pemahaman Islam kepada orang lain. Mari kita hindari berfikir sempit dan tekstualis.

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter