|  | 

Komentar

Abu Hasan Al Asy’ari Vs Al Jubai : Perbedaan Tanpa Kekerasan

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Ikhtilaf al ummati rahmatun (perbedaan akan melahirkan kebaikan), kaidah ini perlu menjadi renungan semua pihak khususnya umat Islam. Artinya suatu perbedaan perlu dilakukan secara arif dan bijaksana sehingga memunculkan kebahagiaan atau melahirkan suatu produk yang positif baik secara sosial maupun agama.
Perbedaan dikalangan umat Islam sudah terjadi sejak zaman dahulu kala, bahkan lahirnya suatu aliran (madzab) juga disebabakan akibat adanya perbedaan pendapat diantara tokoh. Aliran atau faham muktazilah lahir disebabkan adanya perbedaan pendapat antara Syeh Hasan Al Basri tentang status orang Islam yang melakukan dosa besar. Syeh Hasan Al Basri adalah gurunya washil Bin Atho’, dalam suatu kesempatan terjadi perbedaan pendapat antara sang guru dengan sang murid, tentang status orang Islam yang melakukan dosaa besar. Dalam pandangan Syeh Hasan Al basri orang islam yang melakukan dosa besar tidak masuk kategori mukmin. Sementara pandangan Washil bin Atho, tetap menjadi mukmin. Karena terjadi perbedaan pendapat tersebut, maka akhirnya washil Bin Atho’ menyatakan memisahkan diri dari Gurunya. Akhirnya pemisahan itu diikuti oleh sebagian orang sehingga disebut aliran muktazilah.
Perkataan Mu’tazilah berasal dari kata I’tazala, artinya menyisihkan diri. Kaum Mu’tazilah berarti orang-orang yang menyisihkan diri. Berbeda-beda pendapat tentang sebab munasabab timbulnya firqoh Mu’tazilah itu. Dalam sebuah literature islam dinyatakan bahwa golongan ini muncul pada masa pemerintahan Bani Umaiyyah, tetapi baru menghebohkan pemikiran keislaman pada masa pemerintahan Bani ‘Abbas dalam masa yang cukup panjang.
Pada umumnya para ulama’ berpendapat bahwa tokoh utama Mu’tazilah adalah Washil ibn ‘Atha’. Ia adalah salah seorang peserta dalam forum ilmiah Hasan al-Bashri. Diforum ini muncul masalah yang hangat pada waktu itu,yaitu masalah pelaku dosa besar. Wasil berkata dalam menentang pendapat Hasan,”Menurut saya pelaku dosa besar sama sekali bukan mu’min, bukan pula kafir, melainkan ia berada diantara dua posisi itu.” Wasil kemudian menghindari forum Hasan dan membentuk forum baru di masjid yang sama.
Lahirnya aliran al asy’ariyah juga disebabkan dari adanya perbedaan antara Abu Ali Al Jubai yang nota benenya bapak tirinya Abu Musa Al Asy’ari. Al-Asy’ari sebagai orang yang pernah menganut paham Mu’tazillah, tidak dapat menjauhkan diri dari pemakaian akal dan argumentasi pikiran.ia menentang dengan kerasnya mereka yang mengatakan bahwa akal pikiran dalam agama atau membahas soal-soal yang tidak pernah disinggung oleh Rasulullah merupakan suatu kesalahan. Dalam hal ini ia juga mengingkari orang yang berlebihan menghargai akal pikiran, karena tidak mengakui sifat-sifat Tuhan. Pangkal perbedaan antara Abu Ali Al Jubai dengan Abu Musa Al Asy’ari adalah Tuhan memiliki sifat yang harus diyakini oleh umat islam, Tuhan akan dapat dilihat oleh umat Islam (mahluknya) besok di hari kiamat jika umat Islam memiliki amal perbuatan yang baik semasa hidup didunia, dan orang mukmin yang mengesakan Tuhan tetapi fasik, terserah kepada Tuhan, apakah akan diampuni-Nya dan langsung masuk syurga atau akan dijatuhi siksa karena kefasikannya, tetapi dimasukkan-Nya kedalam surga .
Perbedaan pendapat antara Al Jubaia dengan Al Asya’ari dapat dilihat dalam contoh percakapans ebaagi berikut:
• Abu Hasan Al-Asy’ary bertanya: Bagaimana menurut pendapatmu tentang tiga orang yang meninggal dalam keadaan berlainan, mukmin, kafir dan anak kecil.
• Al-Jubai: Orang Mukmin adalah Ahli Surga, orang kafir masuk neraka dan anak kecil selamat dari neraka.
• Al-Asy’ari: Apabila anak kecil itu ingin meningkat masuk surga, artinya sesudah meninggalnya dalam keadaan masih kecil, apakah itu mungkin?
• Al-Jubai: Tidak mungkin bahkan dikatakan kepadanya bahwa surga itu dapat dicapai dengan taat kepada Allah, sedangkan Engkau (anak kecil) belum beramal seperti itu.
• Al-Asy’ari: Seandainya anak itu menjawab memang aku tidak taat, seandainya aku dihidupkan sampai dewasa, tentu aku beramal taat seperti amalnya orang mukmin.
• Allah menjawab: Aku mengetahui bahwa seandainya engkau sampai umur dewasa, niscaya engkau bermaksiat dan engkau disiksa. Karena itu Aku menjaga kebaikanmu. Aku mematikan mu sebelum engkau mencapai umur dewasa.
• Al-Asy’ari: seandainya si kafir itu bertanya: Engkau telah mengetahui keadaanku sebagaimana juga mengetahui keadaannya, mengapa engkau tidak menjaga kemashlahatanku, sepertinya? Maka Al-Jubai diam saja, tidak meneruskan jawabannya .
Perbedaan yang terjadi diantara Syeh Hasan basri, Washil Bin Atho’, Ali Al Jubai dan Abu Musa Al Asy’ari merupakan bukti bahwa perbedaan pendapat tidak harus diikuti dengan sutua tindak kekerasan yang menyebabkan penderitaan bagi diri sendiri maupun orang lain. Teror atau segala bentuk kekerasan merupakan bukti ketidakmampuan dalam mengelola atau menjaga emosi ketika menghadapi perbedaan.

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter