|  | 

Populer

Selamat Datang UIN SAIZU Purwokerto

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Oleh: M. Saekan Muchith

Berdasarkan Peraturan Presiden ( Perpres) nomor 41 tahun 2021 tanggal 11 Mei 2021, Institut Agama Islam Negeri (IAIN ) Purwokerto telah resmi beralih kelembagaan menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. KH. Saifuddin Zuhri atau di singkat (SAIZU). Selain IAIN Purwokerto, ada 5 IAIN lain yang juga beralih kelembagaan yaitu IAIN Jember berubah menjadi UIN KH Achmad Siddiq, IAIN Tulungagung berubah menjadi UIN Sayyid Ali Rahmatullah, IAIN Samarinda menjadi UIN Sultan Aji Muhammad Idris, IAIN Surakarta menjadi UIN Raden Mas Said Surakarta dan IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati. Pemberian nama SAIFZU pada UIN Purwokerto sangat tepat dan akan menginspirasi perkembangan dan kemajuan dimasa mendatang.
Profil SAIZU selain sebagai tokoh nasional asli kelahiran Banyumas dan tokoh atau intelektual NU yang memiliki pemikiran keislaman dan kebangsaan sangat kuat saat menjabat sebagai Menteri Agama RI tahun 1962-1967 dikenal juga sebagai pejuang berdirinya lembaga pendidikan tinggi Islam yang sekarang menjadi STAIN, IAIN dan UIN. Setidaknya ada 3 (tiga) hal yang ada dalam pribadi seorang bernama SAIZU yaitu intelektual Islam (NU), Tokoh Nasional (kebangsaan) dan tokoh atau bapak perguruan tinggi Islam. Oleh sebab itu, arah pengembangan UIN SAIZU harus bertumpu pada 3 (tiga) hal;
Pertama, basis wacana keislaman harus bersifat ke nusantaraan, artinya UIN SAIZU harus menjadi pioneer pengembangan Islam yang bersumber minimal dari Al Quran, Hadis, Ijma’ ulama, dan qiyas. Kenapa demikian? Agar para dosen, mahasiswa dan para lulusan (Alumni) memiliki pengetahuan, pemahaman dan penerapan ilmu keagamaan yang bisa menjawab problem kehidupan umat. Konsekuensinya, harus ada 3 (tiga) pergeseran paradigma. Pertama, dalam hal berfikir, ada pergeseran dari “tradisi tektualis” menjadi “tradisi kontekstualis”. kedua, dalam hal tindakan, ada pergeseran dari tradisi “mengkoleksi teori” menjadi tradisi “melaksanakan teori”. Ketiga, dalam hal kemanfaatan atau kesalehan, ada pergeseran dari sebatas kesalehan induvidu menjadi kesalehan sosial (kelompok).
Kedua, selain memiliki kontribusi besar dalam wacara pemikiran Islam, UIN SAIZU harus juga berkontribusi besar dalam membangun dan memperkuat nilai nilai kebangsaan (nasionalisme). Wacara keislaman yang dikembangkan harus memperkuat kebangsaan bagi civitas akademika, alumni dan masyarakat. Hubungan Islam dengan negara (kebangsaan) bersifat saling melengkapi (komplementer) bukan berhadap hadapan ( vise a vise). Menurut Pierre Bourdieu (1977) dalam buku Outline of a Theory of Practice menjelaskan perlu adanya pendekatan budaya agar agama tidak sebatas sebagai simbol dan alat legitimasi kebenaran melainkan sebagai spirit untuk membangun peradaban umat manusia. Islam dipelajari bukan hanya untuk menentukan benar-salah, baik-buruk, iman-kafir tetapi juga untuk membangun sistem kehidupan (social system) yang mampu menumbuhkan peradaban yang menjawab problematika kehidupan.
Ketiga, Pemberian nama Saifuddin Zuhri (SAIZU) yang pada masa hidupnya dikenal pelopor dan pendiri Perguruan Tinggi Agama Islam, membawa konsekuensi perlunya percepatan perkembangan atau lompatan baik dalam manajemen kelembagaan maupun arah pengembangan keilmuan. Meskipun UIN SAIZU lahirnya belakangan harus berusaha menjadi perguruan tinggi agama terdepan dalam berkiprah di tengah tengah masyarakat. Saifudin Zuhri adalah pelopor berdirinya Perguruan tinggi agama, maka UIN SAIZU Purwokerto harus menjadi pelopor bagi STAIN, IAIN dan UIN di Indonesia.
Manajemen Lautan
Keberhasilan UIN SAIZU Purwokerto sangat ditentukan oleh proses manajerial atau kepemimpinan. Tiga agenda besar yang terinspirasi dari tokoh bernama Saifuddin Zuhri mutlaq perlu didukung dengan pendekatan kepemimpinan yang integratif, fungsional, kolegial dan berorientasi masa depan. Solusinya dengan manajemen berbasis filosofi lautan. Yaitu pola kepemimpinan yang mencoba mengimplementasikan nilai nilai yang ada dalam lautan, antara lain;
Pertama, setiap laut pasti memiliki air yang luas dan dalam. Pemimpin perguruan tinggi harus berwawasan keilmuan yang luas dan mendalam. Luas artinya memiliki wawasan keilmuan lintas bidang. Pengembangan wacana keilmuan di UIN tidak cukup hanya pada level ilmu keislaman yang bersifat dogma dan instrumental melainkan harus bersifat sosio-cultural. Problem umat Islam dan bangsa Indonesia tidak akan mampu di jawab dengan ilmu ilmu keislaman yang bersifat doktrin tetapi harus ada sinergi antara ilmu humaniora dengan ilmu doktrin keislaman. Mendalam artinya, pemahaman terhadap problem umat Islam tidak bisa sepotong sepotong melainkan harus utuh baik yang berkaitan dengan tekstual maupun kontekstualnya.
Kedua, laut memiliki gelombang yang tidak pernah berhenti. Kepemimpinan perguruan tinggi harus senantiasa selalu bergerak, berbenah dan berubah (dinamis) kapan saja, dimana saja dan dalam situasi apapun. Albert Einstain yang dikutip James Mannion dalam buku The Everything Great Thinkers Book, pemimpin yang hebat dan sukses adalah genius yaitu mampu memikirkan dan melakukan hal hal yang tidak dipikirkan orang lain. Artinya mampu melakukan terobosan arau inovasi baru.
Ketiga, laut berisi binatang yang beraneka ragam bentuk fisik dan karakter (insting). Pemimpin dan civitas akademika perguruan tinggi tidak boleh alergi atau takut dengan perbedaan yang dimiliki dosen, karyawan dan mahasiswa. Perbedaan ideologi, pemikiran dan orientasi kerja (motivasi) sebuah keniscayaan. Oleh sebab itu perlu dilakukan pola kepemiminan yang bisa mendorong atau menumbuh kembangkan semua potensi yang dimiliki civitas akademika UIN SAIZU.
Keempat, laut itu airnya suci dan mensucikan, segala isinya juga halal. Artinya perguruan tinggi harus menjadi tempat yang efektif untuk menyelesaikan berbagai permasalahan baik yang bersifat internal maupun publik. Kampus tempat untuk menemukan kedamaian, ketenangan, kemaslahata dan kebahagiaan untuk semua. Apa yang dilahirkan dari kampus juga mampu melahirkan kemanfatan bagi semua umat. Dengan kata lain kampus sebagai pusat penyelesaian masalah. (Central of problem solving).
Kelima, siapapun yang mengarungi atau berlayar di laut harus mengikuti arah gelombang ombak. Bila menerjang arah ombak maka akan celaka. Semua civitas akademika harus komitmen atau taat terhadap semua regulasi yang berlaku. Semua yang dilakukan harus berbasis aturan yang jelas, obyektif dan transparan. Bila ada yang dianggap bersalah harus benar benar berdasarkan regulasi yang obyektif bukan atas dasar subyektif (suka atau tidak suka). Jika ada yang dianggap berkarya dan diberi penghargaan juga harus berdasarkan indikator kinerja yang valid dan reliabel. Konsekuensinya, segala kebijakan harus didukung dengan Standar Operating Prosedur (SOP) yang detail dan bersifat tehnis aplikatif.
Keenam, laut pasti terhubung dengan berbagai pulau dan negara dibelahan dunia. Hal ini menggambarkan pentingnya jaringan kerjasama bagi setiap pemimpin. Edward Sallis (2007) dalam buku Total Quality Management in Education. Pemimpin yang berqualitas yang bisa berkomunikasi secara efektif dengan pelanggan (sasaran utama) baik pelanggan dalam (internal customer) maupun pelanggan luar (external customer). Diera digital dan global manusia dan kelompok tidak akan bisa hidup tanpa kerjasama dengan pihak lain. Kebersamaan, kerjasama dan pola hubungan sebagai kawan bukan sebagai lawan dengan siapapun dan pihak manapun harus terus ditingkatkan. Selamat datang UIN SAIZU semoga dalam perjalanya benar benar mampu mengembangkan dan mengaplikasikan pokok pokok pikiran tokoh besar Prof. Dr. KH. Saifuddin Zuhri. Selamat mengabdi untuk mengembangkan UIN SAIZU.

Dr. M. Saekan Muchith, S.Ag, M. Pd Dosen UIN Walisongo Semarang, Pernah Dosen UIN SAIZU Purwokerto dan STAIN Kudus.

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter