|  | 

Populer

Pandemi Covid 19, Agama dan Persaudaraan Manusia

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Oleh : M. Saekan Muchith

Pandemi Covid 19 yang melanda dunia sejak awal tahun 2020 merupakan titik balik proses penyadaran hakekat manusia yang sesungguhnya. Virus covid 19  bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu, kaya-miskin, pejabat-rakyat jelata, laki laki-perempuan, orangtua-anak anak/remaja. Virus yang pertama kali muncul di negeri China tersebut juga menyerang tanpa melihat asal usul agama, suku, warna kulit dan golongan. Artinya, kita sebagai manusia harus bersatu, rukun dan kompak untuk mencegah dan melawan penularan pandemi covid 19 agar segera berakhir.

Semua yang terjadi didunia ini tidak bisa lepas dari pengaruh Sang pencipta (Tuhan). Datang dan hilangnya  pandemi covid 19 juga ditentukan oleh kekuasaan Tuhan. Meskipun Tuhan Maha segala galanya, manusia masih memiliki kewajiban untuk berusaha (ihtiyar) agar situasi kehidupan sesuai yang diharapkan bersama. Tuhan memberikan kebebasan dan sekaligus kesempatan kepada ciptaanya untuk melakukan perubahan kehidupan. Tuhan akan memberikan imbalan (pahala) atau hukuman (dosa) secara adil dan proporsioanl (setimpal) dengan apa yang telah diperbuat oleh manusia.

Di mata Tuhan, semua manusai memiliki posisi sama, manusia yang memiliki amal baik (mulia) yaitu amal yang selalu memberikan manfaat untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat akan diangkat derajatnya menjadi manusia yang mulia atau terhormat dengan imbalan surga. Sudah selayaknya setiap manusia berloma lomba, berkompetisi dalam urusan yang bermanfaat atau kebaikan  (fastabiqul khoirat), bukan sebaliknya berkompetisi dalam urusan kemungkaran atau kejahatan.

Tuhan tidak pernah membeda bedakan mahluk ciptanya, oleh sebab itu  sangat tidak elok jika manusai yang nota benenya sebagai mahluk justru selalu membeda bedakan sesama manusia.  Semua manusia tanpa melihat asal usulnya, diajarkan untuk saling membantu, saling menghormati dan saling menghargai satu dengan lainya, agar terjadi situasi kehidupan yang aman, nyaman, damai, bahagia dan sejahtera lahir batin.

Hakekat Agama

Agama dari perspektif bahasa, terdiri dari A = tidak, Gama= kacau atau rusak. Agama berarti tidak kacau atau tidak rusak. Setiap orang yang beragama akan memiliki sikap, perbuatan (moral) yang baik dan  bermanfaat untuk dirinya, keluarga dan masyarakat (lingkunganya). Ilyas Ismail dalam “True Islam: Moral, Intelektual, Spiritual” (2013:11) menjelaskan bahwa setiap agama setidaknya memiliki lima dimensi yaitu dimensi doktrinal (aqidah), intelektual (pemikiran), devetional (ibadah), pengalaman keagamaan (religious experience) dan moral. Dengan kata lain, setiap agama setidaknya harus dipahami dalam  empat realitas;

Pertama, agama sebagai realitas Simbol (code), yaitu agama sudah barang pasti akan membedakan antara agama satu dengan lainya. Tidak ada agama yang memiliki kesaman dan perbedaan secara total.  Diantara agama ada sisi persamaan dan perbedaan, oleh sebab itu, nilai nilai agama yang berbeda dengan agama lain jangan dipaksakan untuk sama, dan nilai nilai yang sudah sama jangan dipaksakan untuk berbeda (dibedakan). Keyakinan yang kuat terhadap agama yang dianut jangan sampai menimbulkan kebencian keyakinan agama lainya. 

Kedua, agama sebagai realitas pemujaan/ibadah  (ritual), setiap agama pasti memiliki kaidah, aturan atau tatacara untuk menyembah/mengabdi kepada sang pencipta (Tuhan). Kualitas keagaman manusia ditentukan oleh sejauh mana kemampuan menjalankan tatacara ibadah kepada Tuhanya masing masing.

Ketiga, agama sebagai realitas moral /kepribadian (code of conduct), setiap agama selalu mengajarkan pentingnya moral kepribadian bagi pemeluknya. Banyak perilaku yang dilarang dan banyak juga perilaku (tindakan) yanag dianjurkan bahkan diwajibkan. Siapapun yang melanggar perintah  atau kewajiban maka akan mendapat hukuman dan barangsiapa yang mentaati perintah pasti akan mendapat ganjaran (imbalan) saat hidup didunia maupun diakaherat nanti.

Keempat, agama sebagai realitas sistem kehidupan (community system), setiap agama memiliki norma selain sebagai keyakinan juga untuk membangun tatanan kehidupan. Banyak norma atau nilai nilai agama yang harus dijadikan landasan untuk membangun sistem kehidupan yang baik sehingga melahirkan kehidupan yang aman, damai, bahagaia,sejahtera serta adil makmur bagi semua.

Agama yang penuh dengan norma atau ajaran yang mulia ini harus mampu menjadi pendorong, pembina, pengarah bagi manusia untuk melahirkan sikap dan perilaku yang baik dan damai. Namun realitas masih banyak menunjukan justru agama sering menjadi alat rekayasa sosial politik untuk mencari keuntungan pribadi yang akhirnya menafikan nilai nilai agama yang luhur bagi kehidupan bangsa Indonesia.

Civil Religion

Civil Religion lebih mudah diartikan sebagai “agama sipil”, “agama masyarakat” atau “agama damai”. Diskursus tentang Civil Religion merupakan anti tesa dari fenomena umat manusia yang seringkali menggunakan agama sebagai kepentingan pribadi dan kelompok. Agama sering dijadikan rekayasa sosial politik yang sarat dengan konflik dan kekerasan. Agama yang seharusnya sebagai tujuan utama, justru dirubah sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Akibatnya, sering terjadi konflik antar individu, antar kelompok bahkan antar negara-bangsa. Atas nama agama bisa melakukan ancaman kekerasan bahkan pembunuhan, dengan atas nama agama bisa menjustifikasi kesalahan pihak lain, dengan atas nama agama bisa seakan akan merasa mewakili Tuhan. Akibatnya agama tidak lagi  sebagai dogma yang ramah yang penuh kasih sayang, melainkan dogma untuk melegitimasi perilaku yang salah seakan akan menjadi benar.

Hakekat agama setidaknya memiliki dua peran, satu sisi berperan mengendalikan berbagai penyimpangan yang dilakukan pemeluknya, dan disisi lain berperan mempererat atau memperkokoh harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara. Civil religion merupakan salah satu upaya (ihtiyar) untuk mengooptimalkan peran agama baik sebagai pengendali berbagai penyimpangan maupun memperkokoh hamoni kehidupan.

Setidaknya  ada tiga  hal yang bisa dilakukan untuk memperkuat civil religion dalam realitas kehidupan sosial, yaitu;

Pertama, komitmen anti kekerasan. Setiap bentuk kekerasan harus dijauhi atau dihindari. Karena kekerasan dengan berbagai modus operasdinya tidak bisa dibenarkan oleh agama apapun. Orang yang memiliki komitmen Anti kekerasan akan mudah melahirkan sikap dan perilaku yang ramah, santun dan damai.

Kedua, komitmen nasionalisme. Nasionalisme merupakan doktrin untuk memiliki terhadap negara dan bangsa. Setiap agama memiliki ajaran atau doktrin selalu mencintai tanah airnya. Bahkan dalam Islam, cinta tanah air menjadi salah satu indikasi kualitas keimanan manusia (hubbul wathon minal iman yang artinya, cinta tanah air bagian dari iman).

Ketiga, kontekstualisasi agama. Agama memiliki banyak peran, selain sebagai dogma yang suci, juga sebagai spirit atau pendorong untuk menciptakan sistem kehidupan bermasyarakat. Jika agama hanya dipahami sebagai dogma ritual yang suci maka akan melahirkan sakralisasi agama yang tidak boleh diganggu oleh siapapun. Jika ada pihak yang dianggap meangganggu kesucian agama, akan mudah timbul konflik atau pertentangan diantara kelompok satu dengan lainya. Kontekstualisasi agama bermakna upaya secara sungguh sungguh menjadikan agama sebagai spirit membangun sistem kehidupan yang daman, aman, nyaman, sehingga terwujud tatanan kehiduan sosial yang bahagia dan sejahtera.

Pandemi Covid 19: Ujian atau Hukuman?

Bencana memiliki dua makna, satu sisi bisa sebagai ujian dan disisi lainya bisa bermakna hukuman (laknat). Bencana dimaknai sebagai ujian jika disikapi secara positif dan dijadikan sarana meningkatkan kualitas melakukan amal perbuatan yang baik dan bermanfaat. Dengan adanya bencana, umat manusia berusaha secara optimal untuk sadar terhadap semua kekurangan, kehilafan atau dosanya di masa lalu selanjutnya berusaha meningkatkan amal baiknya di masa depan. Bencana menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, dijadikan media untuk meningkatkan amal baik, dijadikan semangat untuk melaksanakan perintah Tuhan (beribadah). Dengan adanya bencana seperti pandemi covid 19, setiap manusia semakiin sadar pentingnya dekat kepada Tuhanya, selain sadar pentingnya bersatu, rukun antar sesama manusia.   

 Bencana dimaknai sebagai hukuman, jika disikapi  sebagai realitas negatif, dan justru dengan bencana manusia semakin menimbulkan perilaku yang negatif bagi manusia. Dengan bencana, umat manusia justru mengeluh, saling menyalahkan satu dengan lainya, semakin jauh dari Tuhan, sehingga semakin memunculkan sikap dan perilaku yang melanggar (mungkar) dalam kehidupan sosial. Bencana seperti pandemi covid 19  menjadi ajang kesempatan untuk saling menyalahkan, dijadikan kesempatan mengumpulkan keuntungan pribadi di atas penderitaan banyak orang, bahkan tidak segan segan menajidkan ajang saling fitnah, saling menjatuhkan satu dengan lainya.

Hidup ini ujian bagi setiap orang, firman Allah swt dalam Al Qur’an dijelaskan “ Maha Suci Allah  yang ditangan-Nya lah segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha pengampun”. (QS. Al Mulk : 1-2). Berdasarkan ayat tersebut, setiap orang hidup di dunia itu bagian dari ujian. Suasana bahagia atau menderita, semuanya proses  ujian dari Tuhan Yang maha Kuasa. Ujian dari Tuhan dimaksudkan untuk mengetahui kualitas sikap dan perilaku sehingga dapat diketahui siapa yang terbaik amalnya antara semua manusia. Oleh sebab itu ujian membutuhkan cara pandang dan sikap yang tepat terhadap semua peristiwa yang dirasakan setiap manusia. Ujian memerlukan kekompakan, persatuan dan kesatuan antar manusia tanpa harus memandang asal usulnya.

Mensikapi Pandemi Covid 19

Pandemi covid 19 melanda siapa saja tidak melihat asal usul, status sosial dan posisi atau stratifikasi manusia. Corona Virus yang sangat menakutkan setiap orang bisa menyerang siapa saja, kapan saja dan dimanapun berada. Berbagai langkah kebijakan sudah diambil pemerintah dengan maksud utama untuk menghentikan laju perkembangan virus tersebut.

Langkah dari pemerintah tidak cukup, tetapi harus didukung secara komprehensif dan masif dari semua elemen masyarakat. Pandemi covid 19 bukanlah hukuman atau laknat dari Tuhan, melainkan merupakan ujian atau cobaan kepada seluruh bangsa Indonesia khususnya dan umat manusai didunia pada umumnya. Ujian dimaksudkan untuk mengangkat derajat bangsa Indonesia, jika benar benar disekapi secara baik dan benar.

Langkah yang harus diambil agar seluruh bangsa Indonesia bisa terangkat derajat dan martabatnya, pasca pandemi covid 19 adalah sebagai berikut;

Pertama, Mendekatkan diri kepada sang pencipta (Tuhan) harus semakin ditingkatkan dan berkualitas. Ditingkatkan artinya intensitas beribadah secara seremonial harus ditambah, berkualitas artinya ibadah kepada sang pencipta (Tuhan) harus lebih bermakna bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Penghayatan terhadap nilai nilai ibadah harus benar benar dilaksanakan dalam kehidupan sosial. Semua yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari “intervensi” Tuhan. Semakin mendekat kepaad Tuhan, maka pandemi covid 19 akan cepat hilang dan pasca pandemi bangsa Indonesia akan semakin lebih baik dari sebelumnya. 

Kedua, harus ada perubahan  orientasi kehidupan dari yang bersifat individual menuju kehidupan bersifat sosial (kolektif), artinya harus ada komitmen untuk hidup bersama, rukun, damai, saling menghormati dan menghargai tanpa melihat asal usul agama, kelompok, warna kulit dan etnis. Membantu orang lain tidak perlu melihat asal usul agama, etnis dan sukunya. Sesama manusia memiliki kewajiban saling membantu untuk meringankan beban penderitaan bagi sesama.

Ketiga, Menjadikan agama tidak hanya sebatas  sebagai dogma ritual seremonial melainkan sebagai sarana atau spirit membangun sistem kehidupan umat manusia. Agama selain sebagai ladang mencari pahala yang berimplikasi surga dikemudian hari, juga harus menjadi pendorong menciptakan tatana sistem kehidupan yang aman, damai, bahagia dan sejahtera diantara manusia tanpa mempersoalkan asal usul agama, suku, golongan dna kelompok. Mengapa demikain? Karena setiap agama selalu mengajarkan kehidupan setara, saling menghormati dan menghargai diantara manusia tanpa harus ada sekat atau batas keagamaan, kesukuan dan keetnisan.

Semua nilai nilai agama yang ada di Indonesia harus bisa disatukan dalam rangka membangun kekuatan bangsa Indonesia untuk menghadapi wabah pandemi covid 19 khususnya dan problem problem kehidupan sosial budaya lainya, sehingga  bangsa Indonesia akan meningkat statusnya dari bangsa yang berkembang menjadi bangsa yang maju dan lebih beradab dibanding bangsa bangsa lain di dunia.

  

Dr. M. Saekan Muchith, S.Ag, M.Pd Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Ketua Dewan Pembina Yayasan Tasamuh Indonesia Mengabdi (TIMe) Jawa Tengah.

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter