|  | 

Breaking News

Ustadz Yasin dan Sosok Uwais Al Qarni

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Ketika mendapat kabar di WA group Alumni FAI UNISSULA saya kaget dan sekaligus sedih karena dosen saya dan juga seorang ustafz ( kiai) yang alim bernama Ustadz Drs. Yasin Asy’ari, SH, MSI  (selanjutnya saya panggil Ustadz Yasin) telah meninggalkan kita semua untuk sowan kepada Allah swt. Dengan berat hati ( sedih) saya telah ihlas dan ridlo guru/ dosen saya telah dipanggil Allah swt. Saya bersaksi Ustadz Yasin benar benar  orang baik dan saya yakin beliau akan mendapat tempat yang layak di surga-Nya.

Banyak sekali kenangan saya dengan Ustadz Yasin, setidaknya sekitar kurun waktu 3-5 tahun ketika saya menjadi mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ketua Umum Senat Fakultas Tarbiyah Unissula Semarang  di era tahun 90 an. Pada saat saya sebagai mahasiswa dan Ketua Umum Senat mahasiswa, Ustadz Yasin sering terlibat diskusi dan banyak sekali memberi inspirasi program kegiatan kemahasiswaan. Beberapa lama setelah lulus sekitar tahun 2005 an, saya bertemu di salah satu toko kitab di kota Kudus. Pada saat saya ucakan salam, ustadz Yasin menjawab salam seraya memandang saya dengan kaget dan kegirangan, langsung saya di dekap sambil berbisik di telinga saya, Alhamdulillah saya masih diberi umur panjang dan bisa ketemu mas Saekan. Setelah itu berbincang bincang dan bercerita masing masing pengalaman ditempat kerja. Ada satu pesan yang selalu saya ingat terus, apa pesanya? Singkat tapi penuh makna, ” Mas Saekan saya doakan selalu sukses dan  sesukses apapun orang tua adalah segala galanya. Jangan pernah menyepelekan orang tua, ayo terus kita bahagiakan orang tua kita”. Kemudian Ustadz Yasin bercerita bagaimana beliau membahagiakan ibunya yang pada waktu itu masih hidup bersama Ustad Yasin. Beliau bilang, apapun yang akan dikerjakan jika ibunya tidak boleh, walaupun menurut ustadz Yasin baik, beliau tidak akan melaksanakan. Bahkan Ustadz Yasin juga berusaha apapun yang dilakukan jangan sampai menyakiti hati ibunya. Pada saat bertemu saya, beliau belum studi lanjut S3 karena sang Ibu belum memberi izin untuk studi lanjut S3. Ustadz yasin melamar menajdi Dosen di Unissula itu juga atas saran dan izin dari Ibunya. Bahkan ( mohon maaf), saat bertemu saya beliau belum nikah, ternyata alasanya sangat mengejutkan. Beliau khawatir kalau menikah nanti  jangan jangan perempuan yang dinikahi tidak bisa membahagiakan  atau justru  menyakiti ibunya.  Beliau  belum yakin kalau menikah akan bisa menambah kebahagiaan bagi ibunya. Ustadz Yasin bahkan dengan tegas mengatakan, dirinya rela dan ihlas kurang atau tidak bahagia asal ibunya bisa bahagia. Membahagiakan orang tua kunci sukses segala urusan dunia dan akherat.

Sekelumit kisah ini, mengingatkan kita semua kepada sosok pemuda zaman dahulu  bernama Uwais al Qarni yaitu seorang tabi’in yang hidup dizaman Rasulullah tetapi tidak sempat bertemu Rasulullah Saw. Uwais al-Qarni lahir 594 M dan wafat 657 M berasal dari penduduk Qarn, Bareq, Asir, wilayah Arab Saudi dekat perbatasan di Yaman.

Uwais al Qarni dikenal sosoak pemuda yang sangat besar perhatianya kepada sang Bundanya. Pada saat sang Bunda sakit, Uwais al Qarni sangat perhatian dan rajin merawat ibunya. Apapun dilakukan demi sang bundanya, Pada suatu ketika Uwais al Qarni meminta izin untuk bertemu Rasulullah, bundanya memberi izin dengan catatan setelah bertemu Rasulullah harus segera kembali, karena ibunya sedang sakit membutuhkan peran dirinya. Bergegaslah Uwais al Qarni menuju Madinah, tetapi saat sampai Uwais al Qarni belum bisa bertemua Rasulullah karena sedang memimpin peperangan. Uwais al Qarni hanya menitipkan pesan kepada Aisyah (isteri baginda Rasulullah Saw) setelah itu Uwais al Qarni langsung pulang teringat Bundanya yang sedang sakit. Pada kesempatan yang lain, sang ibu meminta Uwais untuk mengantarkannya pergi haji. Uwais tidak mau menolak walaupun mereka dari  keluarga yang miskin, dengan sekuat tenaga Uwais al Qarni  menggendong ibunya yang lumpuh itu untuk berziarah ke Baitullah (Makkah).

Saking hormatnya kepada ibunya, walaupun belum sempat bertemu, Rasulullah pernah berpesan dalam suatu hadis  “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia (Uwais al Qarni) mintalah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi,” (HR. Ahmad).

Walaupun tidak sama persis, setidaknya ada titik singgungnya, antara sosok Uwais al Qarni dengan Ustadz Yasin dalam hal berbakti atau menghormati Ibunya. Semoga al marhum Ustadz Yasin bisa menikmati amal baiknya termasuk pahala berbakti kepada sang Ibunya sehingga bisa bertemu kedua orangtuanya di Surga Allah Swt, Selamat jalan Ustadz Yasin, jasa dan ahlaqmu Insya allah memberi inspirasi bagi seluruh civitas akademika dan  alumni Unissula serta seluruh lapisan  masyarakat Indonesia, Amien Yarobbal ‘alamiin.

M. Saekan Muchith  Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Unissula Semarang tahun 1993-1994.

           

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter