|  | 

Materi S1

Pembelajaran Andragogie

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Istilah Andragogi berasal dari bahasa Yunani yang berarti mengarahkan atau membimbing  orang dewasa. Sehingga dapat diartikan  proses untuk melibatkan peserta didik dewasa ke dalam suatu kegiatan dan/atau  pengalaman belajar. Andragogie pertama digagas  oleh Alexander Kapp, seorang pendidik dari Jerman, pada tahun 1833, dan kemudian dikembangkan menjadi teori pendidikan orang dewasa oleh Malconm Kowles seorang pendidik berkebangsaan Amerika Serikat. Pembelajaran Androgogie didasarkan pada empat asumsi, antara lain:

Pertama, Orang dewasa perlu dilibatkan dalam proses kegiatan agar mereka bisa menghayati semua tahapan sehingga memunculkan motivasi dalam meraih tujuan yang ditentukan. Keterlibatan dalam proses sangat berpengaruh dalam upaya mencapai tujuan.

Kedua, Pengalaman (Keikut sertaan dalam kegiatan ) menjadi dasar optimalisasi aktivitas  belajar . Semakin banyak terlibat (Pengalaman) semakin besar peluang untuk mencapai keberhasilan.

Ketiga, Orang dewasa paling berminat pada pokok bahasan belajar yang mempunyai relevansi langsung dengan pekerjaannya atau kehidupan pribadinya (Kesiapan untuk belajar).

Keempat, Belajar bagi orang dewasa lebih berpusat pada permasalahan (problem solving) dibanding pada isinya (Orientasi belajar). Lebih menekankan problem solving dari pada menjelaskan materi secara tektual (normatif).

Pembelajaran androgogie berarti proses pembelajaran yang dilakukan kepada peserta didik yang sudah dewasa  baik dari aspek usia kalender maupun usia koronologis dengana rentang usia antara 18-24 tahun. Mahasiswa mulai semester awal sudah amsuk kategori peserta didik dewasa, oleh sebab itu perlu diberlakukan pembelajaran dengan pendekatan androgogie.

Pembelajaran dimaksudkan untuk memanusiakan manusia dalam artian menumbuhkambangkan, membimbing dan memotivasi semua potensi yang ada dalam diri peserta didik yang dilakukan dengan metode yang sesuai dengan perkembangan psikologi.  Manusia setidaknyaa memiliki tiga makna, antara lain:

Pertama, manusai sebagai mahluk individu. Setiap harus mengetahui, memahami dan mengembangkan semua potensi yang ada dalam dirinya agar manusia menjadi lebih baik dan bermanfaat. Kedua, manusia sebagai mahluk sosial. Setiap manusia memiliki kewajiban melakukan komunikas, berinteraksi dnegan pihak lain yang ada di luar dirinya. Ketiga, Manusia sebagai mahluk susila atau agama (etik). Setiap manusia memiliki kewajiban melaksanakan norma atau etika dalam kehidupannya.

Pembelajaran harus mampu menumbuhkan atau mengaktifkan manusai sebagai individu, sosial maupun agama, sehingga menajdi manusia yangs empurna (insan kamil).

Pembelajaran andragogie bagi mahasiswa menekankan kepada tiga hal, yaitu Mandiri, tanggung jawab dan Stabil.

Pertama, Mandiri, Mahasiswa harus mulai berlatih menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi orang lain. Apa yang dilakukan itu benar benar atas kesadaran diri snediri bukan karena paksaan dari pihak manapun. Termasuk mengikuti perkuliahan mahasiswa harus dilakukan atas dasar kesadaran sendiri bukan karena paksaan atau takut dengan apapun atau siapapun.

Kedua, Tanggung jawab. Mahasiswa harus memiliki kemampuan memberikan argumentasi secara akademik (rasional) terhadap segala yang dilakukan.

Ketiga, Stabil. Mahasiswa harus berusaha untuk memiliki keseimbangan dalam mensikapi fenomena sosial. Antara akal/rasional dan hati/rasa, antara individu dan sosial, antara dunia dan akherat.

Berdasarkan ciri ciri pembelajaran andragogie, maka perkuliahan androgogie dilaksanakan lebih banyak problem solving atau kajian kasus untuk mencari solusinya secara akademik. Konsekeusninya mahasisiwa harus rajin membaca referensi sebagai bahan pengembangan bahan.

Keberhasilan mahasiswa dalam perkuliahan tidak hanya ditentukan oleh kualitas atau intensitas interaksi antara Dosen dengan mahasiswa di dalam kelas  baik dilakukan secara daring maupun luring. Tanggung jawab Dosen maksimal berkisar 20 % dalam penyampaian materi, sedangkan selebihnya 80 % menjadi tanggung jawab mahasiswa untuk mengembangkan melalui keseriusan dalam membaca referensi dan mengerjakan tugas yang diberikan dosen baik tugas mandiri maupun terstruktur.

Keberhasilan perkuliahan mahasiswa ditentukan oleh dirinya sendiri (motivasi), bukan dari pihak lain termasuk dosen. Jika ingin sukses maka mulai dari sekarang mahasiswa harus mengelola diri sendiri secara optimal, menumbuhkan motivasi secara terus menerus sehingga sukses dalam meraih cita cita.

Pesan saya, jika mahasiswa ingin sukses, maka harus segera menyesuaiakan diri (adaptasi) dengan lingkungan atau suasana kampus. Tinggalkan kebiasaan saat pelajar (SLTA), karena tradisi Pelajar berbeda dengan tradisi Mahasiswa. Selamat menjadi Mahasiswa, selamat menjadi calon calon intelektual dan pejuang kebenaran.

Salam MSM ( M. Saekan Muchith).

 

 

 

 

 

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter