|  | 

Buku

Buku Karakter Pembelajaran PAI : meneropong Pola Ppembelajaran MI, MTS dan MA

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Dr. M. Saekan Muchith, S.Ag, M.Pd

 

 

 

Karakteristik  Pembelajaran Pendidikan Agama Isla:

Meneropong Pola  Pembelajaran Pada JenjangMadrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS) dan Madrasah Aliyah (MA)

 

 

 

 

Diterbitkan Oleh

Yayasan Tasamuh Indonesia Mengabdi (YTime)

Kudus Jawa Tengah

 

 

 

ISBN 978-623-90262-0-2

Penuilis          : Dr. M. Saekan Muchith, S.Ag, M.Pd

Editor             : Fajrul Affi Zaidan Alkannur

Setting, Layout : Tim Redaksi YTime

Cetakan Pertama, November   2019

Cetakan Kedua : Maret 2020

 

 

 

Diterbitkan oleh :

Yayasan Tasamuh Indonesia Mengabdi (YTime)

Jl, Jepara Kudus Jawa Tengah

No telp 085225915656 email : yayasantime@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

Dilarang mengutip memperbanyak sebagian atau seluruhnya isi bukju ini tanpa sepengetahuan atau seizin tertulis dari penulis atau penerbit.

Hak penulis dilindungi undang undang

 

 

 

Pengantar

Guru memiliki peran yang sangat menentukan dalam upaya mewujudkan mutu pendidikan baik mutu input, proses dan out put. Guru yang dikenal dengan istilah “digugu dan dituru” memiliki kandungan makna sangat mendalam, karena sosok guru harus mampu memberi pencerahan, bisa dijadikan  inspirasi bagi peserta didiknya khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan juga Guru Madrasah memiliki beban yang sangat kompleks karena memiliki tugas dan tanggung jawab memberikan pencerahan dan pemahaman terhadap ajaran Islam agar Islam benar benar sebagai agama sempurna dan menyempurnakan.

Setidaknya Islam memiliki tiga makna yang harus dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan sosial. Pertama, Islam sebagai  simbol dan keyakinan (code). Agama Islam memiliki simbol simbol tertentu yang harus dipahami bagi para pemeluknya. Konsekuensinya setiap pemeluk Islam harus mengetahui dan memahami simbol yang ada di dalam agama Islam. Islam menjadi simbol tentang kualitas sikap dan kepribadian manusia. Setiap orang yang beragama pasti mengetahui dan memahami ajaran yang diperintahkan dan yang dilarang. Oleh sebab itu setiap orang yang beragama pasti memiliki ajaran dan keyakinan untuk selalu melaksanakan kebaikan dan kemanfaatan. Dari sinilah, mayoritas manusia mengatakan bahwa orang yang beragama adalah orang yang memiliki ikatan dan etika dalam menjalankan perilaku kehidupan sehari hari. Artinya Islam menjadi simbol kebaikan bagi pemeluknya.

Kedua, Islam sebagai proses peribadatan ritual (credo). Dalam hal Islam sebagai credo diyakini bahwa Islam akan tegak jika pemeluknya selalu melaksanakan proses ritual peribadatan. Islam tidak bisa lepas dari proses ritual peribadatan seperti sholat, zakat, puasa, haji dan  berdzikir. Indikasi seseorang layak disebut beragama yang baik dilihat dari sejauhmana menjalankan amalan peribadatan secara rutin. Jika pemeluk agama tidak menjalankan ritual peribadatan maka dikatakan kualitas agamnya rendah atau kosong. Islam sebagai credo mengandung makna bahwa Islam adalah suci, sacral karena lebih banyak berurusan dengan Allah SWT  dan utusan-Nya yaitu Rasul. Menjalankan ibadah agama berarti menjalankan dan dekat kepada Allah SWT  dan Rasul. Tidak menjalankan ibadah ritual berarti tidak dekat dan mengingkari perintah Allah  SWT dan Rasul. Saking suci dan ritualnya Islam,  berimplikasi mudah tersinggungnya para pemeluk Islam  jika ada orang lain yang dianggap mengganggu, merusak atau menistakan Islam. Banyak umat Islam melakukan unjuk rasa dengan alasan membela Islam  karena menganggap Islam telah dirusak atau dinodai oleh pihak pihak lain. Banyak sekali yang akhirnya masuk penjara karena dianggap telah menghina atau menistakan Islam.

Ketiga, Islam sebagai sistem kehidupan (community system). Islam selain menjadi code dan credo, juga menjadi sistem kehidupan bagi pemeluknya. Islam tidak cukup hanya dijadikan simbol kebaikan seseorang, Islam juga tidak cukup hanya dilaksanakan melalui ritual peribadatan (credo). Islam harus dijadikan falsafah hidup bagi pemeluknya dalam artian menjadi pegangan dan filosofi dalam kehidupan. Konsekuensinya Islam akan dijadikan pegangan manusia dalam menjalankan kehidupan sosialnya. Nilai nilai dan pesan agama benar benar dapat direalisasikan dalam kehidupan sosial, sehingga Islam benar benar mempengaruhi dan mewarnai semua aspek kehidupan manusia. Ibadah sholat tidak hanya dimaksudkan untuk memperoleh pahala yang bisa masuk surga, tetapi sholat memuat berbagai simbol dan pelajaran yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sosial. Misalnya makna takbir makna ruku’, makna sujud dan salam dalam sholat memiliki makna kepasrahan, ketawadluan dan keihlasan serta persatuan dan kesatuan diantara manusia.  Zakat fitrah tidak hanya dimaksudkan untuk syarat pensucian ibadah tetapi lebih kepada melaksanakan nilai nilai kepedulian kepada sesama yang secara ekonomi masih lemah (dhu’afa). Artinya zakat fitrah mengandung makna pentingnya saling membantu kepada fakir miskin dan anak yatim. Lebih dari itu, ibadah zakat mengandung makna pentingnya memiliki sistem atau strategi untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan umat Islam.

Realitas kehidupan menunjukan bahwa fungsi Islam lebih banyak didominasi dengan code dan credo. Islam sebagai community system belum banyak dilakukan para pemeluk Islam. Implikasinya, masih banyak umat Islam yang rajin menjalankan sholat, rajin puasa, ibadah haji dan umrah berkali kali, tetapi dalam kehidupan sosialnya masih memiliki sifat sombong, kikir, bahkan ketika diberi kepercayaan (amanah) sebagai pemimpin sering melakukan penindasan, pelanggaran hukum seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Anomali atau penyimpangan dalam beragama seperti yang saya paparkan tidak bisa dibiarkan secara terus menerus, salah satu upaya harus dilakukan perbaikan melalui jalur pendidikan dan pembelajaran. Dalam konteks pendidikan, upaya untuk melakukan perbaikan kehidupan sosial harus dimulai dari pendidikan dan pembelajaran. Hal ini didasarkan asumsi bahwa berbagai penyimpangan sosial dapat dipengaruhi dari gagalnya proses pendidikan dan pembelajaran.

Pendidikan agama Islam atau lembaga pendidikan keagamaan seperti madrasah dan pondok pesantren memiliki misi akademik (keilmuan) dan misi keagamaan (dakwah Islamiyah) yang harus dilaksanakan secara bersama sama dan sejalan. Artinya selain berusaha untuk melahirkan lulusan yang memiliki wawasan keilmuan juga memiliki tugas memberikan pencerahan dalam memahami agama Islam agar Islam benar benar sebagai agama yang mulia dan agung serta mampu mewujudkan sebagai agama yang rahmatan lil’alamiin.

Kedua misi yang dimiliki lembaga pendidikan agama menuntut kepada para Guru PAI harus memiliki wawasan keilmuan yang luas atau wawasan lintas sektor yaitu Guru PAI tidak cukup hanya memiliki wawasan ilmu keagamaan saja seperti Fiqh, Alqur’an Hadis, SKI dan Ahlaq, tetapi Guru PAI juga harus memiliki wawasan ilmu pengetahuan tentang psikologi, sosiologi, manajemen, hukum, antropologi dan ilmu ilmu humaniora lainya. Mengapa demikian? Karena memberi pemahaman Islam tidak cukup dijelaskan melalui ilmu keagamaan Islam saja, tetapi juga harus dijelaskan atau didukung dengan ilmu lainya.

Pembelajaran yang berhasil adalah yang dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi serta kemampuan peserta didik. Oleh sebab itu Guru harus mengetahui kemampuan awal peserta didik agar materi pembelajaran mudah di cerna dan dipahami. Karakter pembelajaran jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) berbeda dengan jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTS) dan juga berbeda dengan Madrasah Aliyah (MA). Dalam proses pembelajaran, Guru harus mengetahui karakteristiknya agar pembelajaran agama Islam benar benar efektif dan efisien.

Hadirnya buku berjudul Karakteristik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam : upaya meneropong pola pembelajaran di MI, MTS dan MA merupakan salah satu ihtiyar akademik dari penulis untuk membantu kepada para Guru PAI dan Guru madrasah agar dalam menjalankan tugas profesinya benar benar efektif, efisien dan optimal. Buku ini disusun diorientasikan untuk para guru PAI dan Guru madrasah serta para calon Guru PAI yang masih menimba ilmu (kuliah) di Fakultas Agama Islam (FAI) seperti Tarbiyah. Penulis mengharap hadirnya buku ini akan menjadi khazanah ilmu pengetahuan akademik dan metodologis bagi Guru PAI dalam menjalankan tugas profesinya.

Sebagai pendahuluan, bab I buku ini menjelaskna tentang Islam dan peradaban manusia.  Ternyata manusia pada zaman dulu sebelum masehi  sudah memiliki berbagai macam peradaban yang sangat bermakna bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu dizaman yang dikenal dengan zaman modern, globalisasi dan zaman millenial harus mampu melahirkan peradaban yang lebih baik dan lebih memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya dan umat Islam khususnya. Umat Islam harus tampil sebagai umat yang terpilih (choiru ummah) dalam melahirkan peradaban umat manusia.

Bab II menjelaskan tentang batasan pengertian yang dapat membedakan antara pendidikan Islam dan Pendidikan Agama Islam. Pengertian ini menjadi sangat penting agar karena perbedaan pengertian ini berpengaruh kepada tugas dan tanggung jawab serta pola atau model pembelajaran yang dilakukan oleh Guru. Guru PAI harus paham betul tentang apa, bagaimana yang harus dilakukan dalam pendidikan Islam dan seperti apa yang harus dilakukan dalam pendidikan Agama Islam.

Bab III menjelaskan tentang problematika pembelajaran PAI. Bab ini dimaksudkan memberikan bekal kemampuan dan ketrampilan Guru PAI dalam menghadapi berbagai persoalan pembelajaran. Problem pembelajaran PAI sangat kompleks dan berbeda dengan pembelajaran non PAI. Problem Pembelajaran PAI berkaitan dengan ideologi, metodologi dan kultur. Semua problem tersebut harus bisa dihadapi dan disikapi secara tepat dan proporsional. Jika gagal dalam menghadapi dan mensikapi berbagai problem pembelajaran, maka akan gagal dalam mewujudkan kualitas pendidikan Agama Islam.

Bab IV menjelaskan tentang bagaimana melaksanakan pembelajaran pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang nota benenya sebagai pendidikan dan pembelajaran pertama dan utama yang nantinya menentukan kualitas pendidikan dan pembelajaran berikutnya. Pembelajarana jenjang MI harus dilakukan dengan pola doktriner yaitu proses menanamkan dan meyakinkan peserta didik dalam meyakini agama Islam. Indoktrinasi agama Islam harus dikuasai oleh Guru PAI yang bertugas di jenjang MI/SD. 

Bab V menjelaskan tentang bagaimana melaksanakan pembelajaran jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTS) yang lebih menekankan aspek penguasaan teks keagamaan. Penulis menyebut pola pembelajaran di jenjang MTS bersifat tekstualis agama, yaitu Guru harus mampu memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang dalil dalil yang diperlukan dalam kehidupan sosial. Lulusan MTS akan mengetahui dalil atau alasan umat Islam menjalankan ibadah atau perbuatan sehari hari. Mengapa umat Islam diwajibkan sholat lima waktu, mengapa umat Islam wajib zakat, puasa ramadan dan haji bagi yang mampu. Dalil atau alasan alasan tersebut harus diketahui dan dipahami anak anak jenjang MTS.

Bab VI menjelaskan tentang bagaimana melaksanakan pembelajaran jenjang Madrasah Aliyah (MA) yang lebih mengutamakan rasionalisasi dalil, yaitu Guru dalam melaksanakan pembelajaran di MA harus mampu memberikan rasionalisasi dalil dalil keagamaan sehingga peserta didik benar benar mengetahui dan memahami pesan yang terkandung dalam agama Islam. Pola pembelajaran rasionalisasi dalil didasarkan asumsi bahwa agama Islam memiliki dua dimensi yaitu dimensi ta’aquly (rasionalitas) dan dimensi ‘ubudiyah (keyakinan).

Penulis menyadari bahwa manusia tidak bisa lepas dari khilaf dan salah, oleh sebab itu kritik dan saran dari pembaca yang budiman sangat diharapkan demi sempurnanya penerbitan buku selanjutnya. Selamat membaca, semoga buku ini memberikan manfaat untuk semua, amien yarobbal’alamiin.

 

                                                                                    Kudus,  Maret 2019

                                                                                    Penulis

 

 

                                                                                    Dr. M. saekan Muchith, S.Ag, M.Pd

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter