|  | 

Materi S2

Topik Inti Manajemen Strategis dan Mutu Pendidikan Islam

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Topik Inti  Mata kuliah Manajemen Strategi dan Mutu Pendidikan Islam

  1. Urgensi Manajemen Strategi dan Mutu bagi pendidikan Islam
  2. Pengertian, ruanglingkup dan permasaalahan Manajemen Strategi dan Mutu Pendidikan Islam
  3. Teori manajemen dan Mutu Pendidikan Islam
  4. Model Manajemen Strategi
  5. Visi, Misi dan Program kerja Kepala Sekolah
  6. Konsep Mutu dan Implementasi dalam pendidikan Islam
  7. Mutu pendidikan :Input, Proses, out put dan out came
  8. Pengendalian Mutu Pendidikan Islam
  9. Konsep dan Aplikasi MBS
  10. Analisis SWOT dalam pendidikan Islam
  11. TQM dalam pendidikan Islam
  12. Stratagi Marketing Pendidikan Islam
  13. Model Pembinaan SDM dalam Pendidikan Islam

Referensi :

Arbangi dkk (2016), Manajemen Mutu Pendidikan, Kencana , Jakarta

Arinda Firdianti (2018) Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam meningkatkan Prestasi belajar Siswa, Gre Publishing, Yogyakarta

Hasnani (2019), Pengendalian Mutu Sekolah, PT. Indragiri Dotcom, Riau

Irham Fahmi  (2013), Manajemen Strategis: Teori dan Alikasi, AlFabeta, Bandung Jawa Barat.

Ismail Sholihin (2012), Manajemen Strategik, Erlangga, Jakarta

Saekan Muchith (2019), TQM Dalam Pendidikan Islam : Studi TPQ Qiroati Kabupaten Kudus, Jurnal Penelitian Al Izzah IAIN Kendari.

Saekan Muchith (2019), Karakteristik Pembelajaran PAI: Meneropong Pola pembelajaran Jenjang MI, MTS dan MA, Yayasan Tasamuh Indonesia Mengabdi (Y-Time) Kudus, jawa Tengah.

Saekan Muchith (2011) Model Pembinaan Pengawas Sekolah di Lingkungan Kemenetrian Agama (Desertasi, tidak diterbitkan), Unnes Semarang.

Murniati (2008), Manajemen Stratejik, Peran Kepala Sekolah Dalam Pemberdayaan, Cita Pustaka Media Perintis, Bandung Jawa Barat

R Wayne Mondy (2008), Manajemen Sumber Daya Manusia, Penerrbit Erlangga, Jakarta

 

Apa dan Siapa Magister?

Pertama, Mampu mengembangkan pengetahuan,  Teknologi ,  dan atau seni di dalam bidang keilmuannya atau praktek profesionalnya melalui riset,  hingga menghasilkan KARYA INOVATIF dan TERUJI

Kedua, Mampu memecahkan permasalahan sains,  teknologi,  dan atau seni di dalam bidang keilmuannya melalui PENDEKATAN MULTIDISIPLINER.

Ketiga, Mampu mengelola riset dan pengembangan yang bermanfaat bagi masyarakat dan keilmuan, serta mampu mendapat PENGAKUAN NASIONAL MAUPUN INTERNASIONAL.

Inovatif  mengandung makna Karya ilmiah yang dihasilkan  (makalah dan tesis) harus ada yang baru dan dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Inovatif bermakna pengembangan yaitu mampu membuat konsep atau pendapat yang akademi/ilmiah berdasarkan teori yang ada. Tidak sekedar menjelaskan atau mendeskripsikan apa lagi menplagiasi (menjiplak) karya orang lain.

Teruji memiliki makna bahwa karya ilmiah yang dihasilkan dilakukan atau ditulis dnegan berdasarakan kaidah ilmiah. Misalnya metodologi menemukan permasalahan (problem Research), metode mendapatkan data (Valid dan Reliable) dan ditulis berdasarkan kaidah penulisan yang baik dan benar.

Kompetensi lulusan Perguruan Tinggi dapat dilihat dalam tiga hal : jenjang Sarjana : menjelaskan atau mendeskripsikan teori. Jenjang Magister mengembangkan teori dan janjeng Doktor adalah menemukan teori. Ketiga karakter tersebut harus terlihat dalam semua karya ilmiah yang disusun sejak mengikuti perkuliahan.

GARIS GARIS BESAR MATERI PERKULIAHAN

Problem Epistemologis Manajemen Pendidikan Islam

Pendidikan Islam memiliki problem epistemologis yang selalu menarik didiskusikan sepanjang zaman. Problem epistemologis juga menjadi salah satu penghambat sekaligus pendorong dinamika perkembangan mutu pendidikan Islam baik dari aspek materi maupun kelembagaan. Konsekeunsinya, sebagai akademisi Perguruan Tinggi Keagamaan (STAIN/IAIN/S dan UIN/S) harus mampu menjawab atau menjelaskan duduk persoalan tentang problem epistemologis tersebut. Dapat dikatakan problem epistemologis adalah upaya untuk menjelaskan perbedaan esensial antara pendidikan Islam dengan barat, sehingga dapat diketahui perbedaan secara jelas antara lulusan PTAIN dengan PTUN.

Manajemen Strategis (MANTRA)

Pertama, Manajemen Strategis (mantra) merupakan proses manajemen yang berkaitan dengan upaya menyusuan perencanaan, pelaksnaan dan evaluasi keputusan untuk mencapai unggulan yang kompetitif atau berkualitas baik proses maupun hasil. Mantra menekankan pada tiga hal pertama, proses penyusunan perencanaan (visi, misi), proses pelaksanaan keputusan (implementasi kebijakan) dan proses melakukan evaluasi keputusan/kebijakan. Salah satu dari sekian banyak Indikasi ketrampilan Mantra dari seorang pemimpin dapat dilihat dari keberhasilan mensosialisasikan atau memasarkan lembaga dna produk kepada stakeholders (publik).

Kedua, Keberhasilan mantra dalam suatu lembaga pendidikan harus didukung dengan ketrampilan pemimpin dalam penyelesaian masalah (problem solving) yang dilakukan dengan tahapan Identifikasi masalah, perumusan masalah, alternatif perumusan masalah,  pelaksanaan putusan masalah dan evaluasi keputusan masalah.

Ketiga, Mantra dalam lembaga pendidikan Islaam dapat dilaksanakan melalalui berbagai macam manajemen atau pengelolaan lembaga pendidikan seperti Manajemen berbasis madrasah/Sekolah (MBM/MBS), Manajemen Pengendalian Mutu, manajemen SDM dan manajemen personil, Manajemen Pemasaran.

Mutu Pendidikan Islam

Pertama, Mutu bersifat subyektif, artinya tergantung dari teori apa yang dijadikan basis pijakan. Mutu ada yang berkaitan dengan kepuasan pelanggan (stakeholders), ada yang berkaitan  dengan proses, dan juga ada yang berkaitan dengan standar yang ditentukan. Apapun teorinya, perlu ditemukan secara jelas perbedaan mutu pendidikan Islam dan mutu pendidikan selain pendidikan Islam.

Kedua, Mutu dalam pendidikan Islam memiliki berbagai macam yang haraus dipahami secara utuh bagi mahasiswa jurusan manajemen pendidikan Islam. Mutu pendidikan islam berkaitaan dengan Mutu materi (isi), mutu proses, mutu lulusan, Mutu Tenaga pendidik dan kependidikan, Mutu pengelolaan, mutu sarana prasarana, mutu biaya dan mutu evaluasi. Mutu pendidikan Islam harus mengacu kepada PP nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Ketiga, Secara umum mutu pendidikan Islam dikelompokan menjadi empat hal: mutu input, mutu proses, Mutu out put dan mutu outcome., yang harus dilihat secara sistemik. Hal ini berdasarkan empat pilar pendidikan yang terdiri dari Learning to know, learning to be, learning to do, learning to life together.

Catatan : materi ini bersifat garis garis besar yang akan dikembangkan dalam proses perkuliahan.

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter