|  |  | 

Breaking News Populer

M. Saekan : Sejarah Radikalisme & Terorisme

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Pendahuluan

Awal mulanya,radikalisme dipahami adalah upaya sungguh untuk memperoleh sesuatu secara total. Ada juga yang mengartikan bahwa radikalisme adalah melakukan suatu perubahan yang dilakukan secara keras dan totalitas. Sebenarnya istilah radikalisme bukan sesuatu yang membahayakan dan tidak perlu di risaukan, karena radikalisme menandakan suatu perbuatan yang lebih serius atau sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil secara optimal.

Pertanyannya, mengapa masyarakat takut  (minimal risau/gelisah) terhadap istilah dan gerakan radikal?  Bahkan pemikiran radikal juga ditakuti sebagian besar masyarakat dan umat Islam. Tulisan ini akan mencoba menelusuri akar sejarah radikalisme sehingga radikalisme tersebut di takuti atau dianggap bahaya oleh mayoritas masyarakat.

Penggunaan Istilah

Lukman Hakim seorang ilmuwan yang menjabat Wakil Kepala Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam kata pengantar buku berjudul “Islam dan Radikalisme di Indonesia” menjelaskan bahwa radikalisme digunakan oleh media massa, ataupun para pengamat dan akademisi diarahkan kepada gerakan gerakan Islam politik yang berkonotasi negatif. Radikalisme di samakan dengan kata “Ekstrem”, “militan”, “non toleran”, “ anti barat” dan “anti barat”.

Pasca peristiwa serangan 11 september 2001, istilah radikalisme bercampur aduk dengan istilah fundamentalisme, terorisme. Secara umum dapat dilihat bahwa radikalisme, fundamentalisme dan terorisme dijadikan istilah untuk menghina atau melecehkan kelompok kelompok Islam yang memperjuangkan nilai nilai atau semangat Islam dalam tatanan sistem kehidupan.

Munculnya istilah radikalisme yang dikonotasikan negatif bukan tanpa alasan, karena banyak fenomena sebagian kecil masyarakat khususnya umat Islam, dalam melakukan gerakan atau merespon kebijakan dilakukan dengan menggunakan simbol simbol Islam, bahkan kelompok gerakan yang menggunakan simbol simbol Islam juga sering melakukan aksi yang anarkhis dengan cara merusak tempat tempat umum, misalnya melakukan sweeping, menghancurkan tempat hiburan malam, merusak tempat tempat umum yang dianggap salah menurut kaca mata mereka sendiri tanpa memperhatikan etika dan norma hukum yang berlaku. Misalnya, ingin memberantas kemaksiyatan dilakukan dengan cara menyerang atau merusak tempat hiburan/tempat kemaksiyatan tersebut, ingin menegakkan dan menjaga kesucian bulan suci ramadhan dilakukan dengan cara mengintimidasi para pedagang yang berjualan disiang hari, ingin meluruskan ajaran Islam yang dianggap menyimpang atau sesat dilakukan dengan cara menyerang lokasi/tempat komunitas masyarakat yang dianggap memiliki ajaran yang menyimpang. Ingin mati sahid dilakukan dengan cara aksi bom bunuh diri yang diarahkan  kepada orang orang yang belum tentu bersalah, ingin melawan kedholiman bangsa Amerika, tetapi dilakukan dengan cara menyerang tempat/lokasi yang didalamnya belum tentu ada orang amerika, sehingga yang menjadi korban lebih banyak umat Islam dan bukan bangsa amerika. Ingin melawan orang orang kafir tetapi dilakukan dengan cara menyerang terhadap aparat keamanan (polisi).

Kekerasan dalam perspektif sejarah Islam

Fenomena kekerasan yang dapat disepadankan dengan radikalisme terjadi sejak zaman sahabat (kehidupan pasca Rasulullah). Dimana para sahabat Rasul juga tidak terlepas dari serangan kelompok kelompok lainnya yang menyebabkan kematian para sahabat rasul. Empat sahabat rasul hanya satu sahabat yaitu Sayyidina Abu Bakar Assidiq yang wafat secara normal. Tiga sahabat lainnya yaitu Sayyidna Umar bin Khottab, Sayyidina Ustman ibnu Afwan dan sayyidina Ali Ibnu Abu Tholib wafatnya adalah   dibunuh oleh sebagian kelompok lain dengan sebab yang berbeda beda.

Sahabat Umar Ibu Hattab dibunuh oleh seorang budah bernama Abu Luk luk, adapun faktor pembunuhan tersebtu disebabkan adanya iri, dengki atau dendam kesumat akibat sahabat Umar berhasil menaklukkan Persia menjadi wilayah Islam. Penyebaran Islam yang sangat cepat dan luas menyebabkan kebencian abu Luk Luk, sehingga sampai kepada pembunuhan kepada sabahat Umar ibnu khottab. Hal ini jelas terbunuhnya sahabat umar lebih disebabkan adanya perjuangan menegakkan atau menyebarkan agama Allah (agama Islam).

Sahabat Ustman Ibnu Affan dikenal seorang sahabat yang sangat ramah, dermawan, jujur dan adil. Meskipun demikian, Sahabat Ustman Ibnu Affan meninggal akibat terbunuh dari kelompok pemberontak yang mengepung rumah sahabat utsman ibnu affwa selama 40 hari. Hal ini disebabkan oleh adanya kebencian dari kelompok pemeberontak terhadap sahabat Utsman Ibnu Affan yang mengganti beberapa pejabat (gubernurt/bupati) yang dianggap kurang cakap, kurang adil dan kurang jujur. Orang orang yang diganti oleh sahabat Utsman ibnu affan tersebut tidak legowo menghadapi pergantian tersebut, akhirnya bersengkongkol untuk merobohkan  kekuasaan Utsman ibnu Affan dengan cara membunuh, akhirnya ustman bin affan terbunuh pada saat duduk membaca al-qur’an di dalam rumuanya sendiri. Hal ini jelas terbunuhnya utsman bin affan, dilatarbelakangi adanya persoalan intrik politik khususnya tidaka legowonya para pejabat yang diganti oleh utsman ibnu affan.

Sahabat Ali Ibnu Abi Tholib  dalam suatu riwayat hadit disebut sebagai sosok yang paling cerdas, orang pertama kali masuk Islam, bahkan diprediksikan masuk surga pertama tanpa hisab. Meskipun demikian, sahabat Ali Ibnu Abu Tholib wafat terbunuh ditangan seorang ulama besar bernama Abdurrahman ibnu mulzam. Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Abdurrahaman Ibnu Mulzam adalah seorang ulama yang rajin sholat tahajut (sholat malam), selalu puasa sunah senin-kamis, bahkan seorang hafal alqur’an (hafidz). Abdurrahaman ibnu mulzam berhasil membunuh Ali Ibnu Abu Tholib pada tanggal 17 ramadhan pada saat berangakat sholat subuh, pada saat akan masuk kedalam masjid, Abdurrahman Ibnu Mulzam berhasil menebas pedang kedahi Ali Ibnu Abnu Tholib. Pembunuhan itu terjadi, karena Ali Ibnu Abu Tholib tidak melaksanakan kaidah Laa hukmu illa lillah (tidak ada hukum selain hukum Allah/al-qur’an) Ali Ibnu Abu Tholib dianggap telah melaksanakan hukum selain al-qur’an karena melakukan musyawarah dengan kelompok lain dalam pemerintahannya, oleh sebab itu  dianggap kafir oleh Abdurrahman Ibnu Mulzam.

Kekerasan dalam perspektif ke-Indonesia-an

Kekerasan yang dapat disepadankan dengan radikalisme dan terorisme mulai muncul pasca runtuhnya rezim orde baru tahun 1998, dimana pasca runtuhnya rezim orde baru banyak tuntutan reformasi dalam segala aspek/bidang. Akibat keterbukaan yang menjadi esensi dari reformasi menyebabkan berbagai elemen masyarakat dengan leluasa untuk mengemukakan pendapatnya. Ada sebagian juga yang memiliki pendapat atau pikiran tentang memperjuangkan syaraiat islam dalam tatanan sistem Indonesia.

Kendati tidak dengan cara tegas dan formal ingin menjadikan negara Islam, pasca runtuhnya orde baru banyak muncul organisasi sosial kemasyarakat yang berbasis symbol Islam, seperti Front pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut tahrir (HT) dan Laskar Jihad (LJ). Ormas ini seringkali melakukan aksi yang melibatkan banyak massa dengan menggunakan simbol simbol Islam. Meskipun tidak secara ekspisit, tetapi masyarakat Indonesia dengan mudah memahami bahwa ormas tersebut memiliki keinginan untuk menegakkan atau menerapkan syariat Islam di bumi Indonesia.

Jika dilihat dari issu yang diusung dalam melakukan aksi, empat ormas tersebut memiliki penekanan issu yang berbeda. FPI muncul dengan  lebih menekankan kepada respon terhadap maraknya kemaksiyatan dan premanisme. MMI tampil kepermukaan membawa issu yang  menekannya respon terhadap ekonomi dan politik yang dianggap semakin tidak berdaya menghadapi tekanan pihak asing (khususnya Amerika). HT merespon dengan issu ketidak adilan tata hubungan antar bangsa yang semakin didominasi imperalisme barat/Amerika. LJ muncul menekankan issu ketidak mampuan pemerintah dalam menyelsaikan persoalan ditingkat lokal. 

Dari empat ormas tersebut, yang seringkali terlihat melakukan aksi kekerasan adalah ormas yang menggunakan atribut FPI. Sebagai contoh saja misalnya: Pertama, pada tanggal 1 juni 2008, ormas yang menggunakan atribut FPI menyerang aliansi kebangsaan kebebasan beragaam dan berkeyakinan (AKKBB) di monas Jakarta. Kedua, pada tanggal 30 april 2010, ormas yang menggunaakn atribut FPI mendatangi hotel bumi wiyata depok untuk membubarkan seminar waria yang sedang berlangsung. Ketiga, tanggal 24 juni 2010, ormas yang menggunakan atribut FPI membubarkan paksa pertemuan komisi X DPR RI di Banyuwangi Jatim. Keempat, tanggal 8 agustus 2010, ormas yang menggunakan atribut FPI menyerang jamaat gereja batak protestan (HKBP) di Bekasi.

Faktor Munculny Radikalisme

Dunia mengenal teori “kausalitas”, setiap peristiwa pasti ada sebab atau pemicunya. Radikalisme masyarakat baik radikal dalam pemikiran dan gerakan memiliki beberapa factor. Secara umum ada tiga factor penyebab munculnya radikaalisme, antara lain:

Pertama, Faktor agama. Radikalisme muncul bisa disebabkan karena adanya cara pandang atau pemahaman terhadap teks teks ajaran agama (alqur’an dan hadits). Ada tiga konsep dalam islam jika dipahami secara tekstual/literel memiliki potensi besar lahirnya gerakan radikalisme. Jihad, Perang dan kafir merupakan istilah yang perlu dipahami secara kontekstual. Artinya umat Islam harus mampu memahami ayat ayat yang secara tekstual terhadap ayat yang secara tekstual seakan akan memerintah perang, jihad dan kafir. Misalanya  QS An Nisa’: 76  “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah”.

  1. Al Baqarah:191 “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir”.
  2. Al baqarah : 193 “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang zalim”.
  3. Ali Imran:169 “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki”.
  4. Al Muhammad: 4 “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka”.

Kedua, Faktor Sosial Politik. Radikalisme muncul disebabkan juga oleh adanya sebagian kecil masyarakat yang merasa kecewa terhadap fenomena politik yang pernah terjadi. Masih ada sebagian kecil masyarakat (umat Islam) yang memiliki kekecewasan terhadap ditolaknya usulan tokoh tokoh Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Teuku Muhammad Hassan, terhadap kalimat “Kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” (piagam Jakarta). Kekecewaan tersebut di lakukan dnegan pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo (Bandung jawa barat) dan DI/TII Kahar Muzakkar (Sulawesi Selatan). Selain itu, masih ada sebagian kecil umat Islam yang merasa ada ketidak adilan dalam sistem kehidupan bangsa Indonesia. Mereka berkeyakinan bahwa keadilan dan kebenaran akan dapat ditegakkan hanya dengan pemberlakuakn syariat Islam. Tanpa syairaiat islam keadilan dan kemakmuran tidak akan tercapai.

Sebuah Solusi

Gerakana radikalisme perlu disikapi secara serius dan komprehensif, artinya untuk mengeleminir gerakan radikalisme, terorisme dan NII perlu dilakukan secara sungguh sungguh yang melibatkan berbagai pihak. Langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

Pertama,  perlu ada kelompok atau lembaga atau forum yang beranggota dari berbagai unsur masyarakat yang bertuga mendeteksi, menganalisis dan melakukan pembinaan terhadap elemen masyarakat agar masyarakat tidak memiliki cara fikir dan gerakan yang radikal. Kelompok ini minimal harus ada di setiap wilayah kabupaten.

Kedua, perlu ada peningkatan atau intensitas dari organisasi keagamaan dalam melakukan pembinaan (dakwah) Islam. Ketiga, perlu ada rumusan kurikulum dan pembelajaran di sekolah formal mulai dari tingkat  SD sampai perguruan Tinggi yang berorientasi atau berbasis konstekstual.

Keempat, rumusan materi khotbah disetiap masjid yang lebih menekankan cara berfikir yang konstekstual, sikap toleran dalam beragama.

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter