|  |  | 

Breaking News Populer

M. Saekan : Gus Ji Gang & Kota Kudus

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

 

Pendahuluan

Kabupaten Kudus merupakan kota kabupaten terkecil di Jawa Tengah. Jumlah penduduk Kabupaten Kudus pada tahun 2010 tercatat sebesar 764.606 jiwa terdiri dari 379.020 jiwa laki-laki dan 385.586 jiwa perempuan. Apabila dilihat penyebarannya, maka kecamatan yang paling tinggi jumlah penduduknya adalah Kecamatan Jekulo, Kecamatan Jati, Kecamatan Dawe dan yang paling terkecil jumlahnya yaitu kecamatan Bae. Kepadatan penduduk dalam kurun waktu lima tahun (2006 – 2010) cenderung mengalami kenaikan seiring dengan kenaikan jumlah penduduk. Pada tahun 2010 tercatat sebesar 1.798 jiwa setiap satu kilo meter persegi. Di sisi lain persebaran penduduk masih belum merata, Kecamatan Kota merupakan kecamatan yang terpadat yaitu 8.738 jiwa per km2. Undaan paling rendah kepadatan penduduknya yaitu 961 jiwa per km2.

No Kecamatan Luas ( Ha ) Penduduk ( jiwa ) Kepadatan Penduduk
1 Kaliwungu 3.271,28 90.219 2758
2 Kota 1.047,33 91.489 8738
3 Jati 2.629,80 97.291 3699
4 Undaan 7.177,04 68.994 961
5 Mejobo 3.676,52 69.080 1879
6 Jekulo 8.318,67 97.888 1181
7 Bae 2.332,27 61.966 2657
8 Gebog 5.445,97 93.491 1698
9 Dawe 8.584,00 94.188 1097

{ Sumber Kudus Dalam Angka Tahun 2011 }

Meskipun  kota terkecil di Jawa Tengah, Kabupaten Kudus memiliki berbagai khazanah budaya maupun industry yang beraneka ragam. Sentra industry di kabupaten Kudus dapat dilihat sebagai berikut:

 
NAMA DESA JENIS INDUSTRI
Desa Purwosari industri konveksi
Desa Janggalan industri konveksi, bordir, ukiran rumah adat Kudus/gebyok, makanan ringan
Desa Demangan Sablon, Ggybsum, Jok/kursi, Konveksi, Bordir, Tas/Topi, Makanan Ringan, Pengrajin Batik Tulis, Pembuatan Tempe, Pengrajin Benang, Industri rokok kecil, Pengrajin salon Audio, Pengrajin Gebyok/Ukir.
Desa Sunggingan Ukiran Joglo Antik, Lencana, Konveksi, Bordir, Percetakan, Kelis, Tahu
Desa Panjunan Jamu tradisional cap klanceng, sirup agung, roti, kecap cap babon, Tahu A Wibisono, Jenang Muncul, Jenang Keris, Jenang Bligo, Susu Muria, Onde-onde
Desa Wergu Kulon Kerajinan emas, perusahaan makanan kecil, roti dan kue basah, konveksi, perusahaan kecap
Desa Wergu Wetan Industri rumah tangga, industri tempe, sablon
Desa Mlati Kidul Pembuatan Souvenir/miniatur alat-alat transportasi, Pembuatan Gordyn, Sablon
Desa Mlatinorowito Pembuatan Souvenir/miniatur alat-alat transportasi, Pembuatan Gordyn, Sablon
Desa Mlati Lor :Pemgrajin Kawat (jebakan tikus, alat rumah tangga, kompor), Kecap Niki Echo, Sirup, Makanan ringan
Desa Nganguk Sablon, kecap, Pembuatan Per/Jok, Konveksi, Bordir, Produksi Tas, produksi rempeyek, Es cream Petruk, Produksi Dompet, Produksi kue kering
Desa Kramat Kerajinan Barongsai, kerajinan peralatan rumah tangga (kompor, dandang, tong sampah, dll)
Desa Demaan Lencana, Krupuk kulit, Keciput, Jenang, Roti, Konvenksi, Kerajinan kandang jangkrik
Desa Langgardalem Makanan ringan/roti, Konveksi, kerajinan sandal, Budaya Rebana Fatayat
Desa Kauman Rukuh bordir, kerudung bordir, Konveksi, Makanan ringan
Desa Damaran Bordir, Konveksi, Kain Pel, Makanan Kecil
Desa Kerjasan Bordir, Konveksi, Makanan ringan
Desa Kajeksan Bordir, Tas, Konveksi Rukuh, Kerajinan Sepatu dan sandal, Gordyn dan Laundry
Desa Krandon Kerajinan Septu, sandal, tas, kerajinan rumah tangga, bordir, konveksi
Desa Singocandi Kacang goreng, kacang ayu, emping jagung, marning, kue bolu, kue dodol, kue semprit, kedelai goreng, kacang goreng jepara.
Desa Glantengan Roti kacang, Krupuk rambak
Desa Barongan Perusahaan Rokok Pamor, Perusahaan Rokok Langsep, Pande Besi, Limun, Roti Anugrah, Roti Idjo, Makanan ringan keciput, Suttle cock, Getuk ketela
Desa Kaliputu Jenang, Konveksi, Daur ulang plastik
Desa Burikan Pembuatan Tempe, Perusahaan Air Mineral Squaria, Budidaya ikan lele

 (Kudus dalam angka tahun 2011).

Selain sentra industri, Kota Kudus juga memiliki sebutan budaya (kultural) yang mengandung filoshofi yang sangat mendalam. Tidak hanya sebagao kota santri, kota Kudus juga menyimpan akronim budaya yang biasa di sebut “GUSJIGANG”, sebuah akronim mbudaya yang menyimpan makna luhur bagi masyarakat Kudus dan sekirarnya jika benar benar mampu mengimplentasikan kedalam realitas kehidupan nyata.  Sebutan budaya tersebut  memiliki banyak filosofi atau makna yang perlu dikaji sebagai salah cara untuk mengembangkan atau membangun wilayah diera modern (kekinian).

Karakteristik Budaya Kota Kudus

Filosofi kota kudus yang diakui memiliki makna mendalam adalah “Gus Ji Gang” yang merupakan singkatan dari kata Gus (tokoh agama yang memiliki kharisma/kekuasaan), Ji (ngaji yaitu proses mendalami atau menyebarkan ajaran Islam), Gang (berdagang /berbisnis/wiraswasta gang ). Jika filosofi itu yang digunakan maka, Kota kudus dilihat dari aspek sejarah ditentukan oleh tiga orang tokoh yang memiliki ciri khusus berbeda, yaitu:

Pertama,  tokoh yang memiliki karakter tokoh agama dan memiliki kekuasaan/charisma (GUS) yaitu Ja’far Shodiq yang dikenal dengan sebutan Kanjeng Sunan Kudus. Kedua, tokoh yang memiliki karaktersitik ngaji atau santri (JI) yaitu memegang nilai nilai keagamaan yang kuat meskipun tidak memiliki kekuasaan yang tinggi, yaitu Kiai Telingsing, dan , Ketiga, tokoh yang memiliki karakteristik wirasawsta atau berbisnis/berdagang  (GANG) yang disimbolkan dengan seorang tokoh bernama Sung Ging An.

Gus Ji Gang bisa bermakna sebuah karakteristik masyarakat kudus yang terdiri dari tiga macama yaitu Pertama, (GUS) berarti bagus pekertinya (sikap dan perilakunya) , kedua, (JI) berarti rajin ngaji yaitu mendalami ilmu ilmu agama Islam sehingga dapat disebut santri. Ketiga, (GANG)  yang berarti memiliki kepandaian atau keuletan dalam berdagang/berbisnis.  Tiga macam karakteristik itulah yang sampai sekarang mendominasi masyarakat Kudus.

Pertanyaannya, apakah tiga karakteristik itu hanya dijadikan mitos sejarah yang hanay dibicarakan dan diceritakan ataukah mitos tersebut perlu ditransformasikan atau diimplementasikan kedalam sistem kehidupan basyarakat baik dalam sistem sosial maupun birokrasi pemerintahan.  

Masyarakat  Kudus secara umum memiliki tiga macam karakteristik yang perlu diimplementasikan kedalam realitas kehidupan masyarakat dan pemerintahan. Tiga karakteristik tersebut adalah :

  1. Kultur tokoh/ketokohan, yaitu masyarakat Kudus memiliki semangat sebagai tokoh yaitu orang yang memiliki kharisma/kewibawaan. Kewibawaan atau ketokohan seseorang akan muncul jika dibarengi dengan kualitas  intelektual seperti, cerdas, kreatif, inovatif, dinamis,  kualitas sosial seperti, toleran, saling menghargai dan menghormati maupun kualitas moral seperti, disiplin, jujur, komitmen kepada kebenaran dan keadilan. Tanpa diimbangi dengan hal tersebut maka charisma hanya bersifat fiktif atau semu.
  2. Kultur santri/ngaji, yaitu masyarakat Kudus harus memiliki semangat untuk selalu konsisten dan menjalankan ajaran syariat agama (Islam). Artinya memiliki ikatan kuat dalam menjalankan pesan atau ajaran Islam. Santri secara bahasa dimaknai seorang pelajar yang sedanag menimba ilmu (mondok), oleh sebab itu pelajar yang sudah tidka mondok lagi tidak dikatakan santri. Dalam artian yang lebih luas, terutama dalam konteks sosiologis (ta’rif istilahi), santri bermakna “setiap orang Islam yang relatif taat dalam menjalankan ajaran Islam” baik ia alumnus pesantren atau bukan. Dengan demikian ia merupakan kebalikan dari muslim abangan, sebuah istilah bagi seorang muslim yang tidak taat. Dari kedua ta’rif santri secara lughawi maupun secara istilahi di atas dapat dipahami jika keduanya mengacu pada satu pemahaman : bahwa seorang santri adalah seorang muslim yang dalam perilaku kesehariannya akan selalu berusaha menjadi representasi atau mewakili ajaran Islam ideal (QS Al Baqarah 2:207).
  3. Kultur berbisnis, wirasawsta, bedagang, yaitu masyarakat Kudus memiliki semangat untuk berwiraswasta/berbisnis dengan cirri (a) disiplin, jujur, tekun (b) berani menanggung resiko dengan penuh perhitungan yang matang (c) mempunyai daya kreasi , motivasi dan imajinasi (d) hidup efisien, tidak boros, tidak pamer kekayaan (e)  mampu menarik orang lain, karyawan untuk bekerjasama (f)  mampu menganalisa, melihat peluang-peluang

 Membangun Kudus Melalui Spirit “Gus Ji Gang”

Akronim budaya Kudus yang bernama “Gus ji gang”, tidak cukup hanya dihafal dan disampaikan dalam forum forum seminar. Filosofi ini mutlaq perlu diimplekmentaiskan kedalam realitas kehidupan masyarakat Kudus baik masyarakat umum maupun masyarakat birokrasi atau kekuasaan. Konsekuensinya seluruh elemen masyarakat perlu melakukan berbagai langkah untuk membumikan sebudatn budaya tersebut agar masyarakat Kudus benar benar sesuai dnegan nilai nilai atau pesan budaya Gus Jigang.

Persoalan sangat penting, spirit  Gus Ji Gang perlu diimplementasikan kedalam berbagai program dan kebijakan pemerintah kabupaten Kudus. Artinya pemerintah kabupaten Kudus harus memiliki berbagai program atau kebijakan yang mengarah kepada terwujudnya filsofi “ Gus Ji Gang”.

Pertama, kebijakan yang bernuansa GUS dari filsofi “Gus Ji Gang”, yaitu Kabupaten Kudus harus memiliki konsep dan keberanian untuk mewujudkan kota  Kudus sebagai kota yang masyarakatnya memiliki kharisma, sikap dan perilaku yang bagus dibanding wilayah lainnya. Kabupaten yang masyarakatnya memiliki kualitas intelektual, kualitas sosial dan kualitan moral yang lebih dibanding wilayah lainnya. Konsekuensinya, kabupaten Kudus harus memiliki kebijakan yang melahirkan keunggulan dalam berbagai bidang misalnya Unggulan pendidikan (sekolah) yang tidak cukup hanya mengandalkan banyaknya sekolah yang berlabel RSBI, tetapi benar benar sekolah yang unggul baik dari aspek ketrampilan intelektual (kognitif) , ketrampilan sikap dan kepribadaian (affektif) dan ketrampilan mekanik khsuusnya merespon perkembangan ilmu pengetabhuan dan teknologi (psimotorik). Selain itu pemerintah Kudus juga harus memiliki atau mendesain unggulan wisata, dimana Kudus memiliki dua lokasi wisata religi yang nberpotensi untuk dikembangkan secara optimal agar wisata religi benar benar bermanfaat untuk pembangunan manusia seutuhnya dan juga perlu adanya unggulan kebersihan (adipura), unggulan birokrasi (pelayanan prima), sehingga masyarakat Kudus benar benar terwujud dan terjamin kesejahteraan secara fisik maupun psikhis.

Kedua, kerbijakan yang bernuansa JI dari filosofi “Gus Ji Gang”, yaitu kabupaten Kudus harus memiliki program dan kebijakan yang mengarahkan masyarakatnya memiliki semangat untuk mendalami ilmu ilmu keagamaan sehingga memiliki kualitas keberagamaan yang sesuai dengan dinamika dan perkembangan zaman. Misalnya, pola keberagaman yang toleran, pluralisme, anti teroris. Kabupaten Kudus harus mampu menjadi pioneer wilayah yang selalu meningkatkan kualtas toleransi beragama dan , pluralisme serta multikulraslisme agama, sosial dan budaya. Hal ini sejaland engan yang diajarkan kanjeng sunan Kudus dalam melakaukan dakwah islam dan sosial. Konsekuensi nyata, pemerintah kabupaten Kudus perlu memiliki pusat kajian atau lembaga penelitian yang berciri khusus mengkaji persoalan sosial keagamaan yang bernuansa toleran, anti radikalisme (kekerasan) sehingga terwujud kedamaian dan ketentraman bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya.

Ketiga, kebijakan yang bernuansa GANG dari filosofi “Gus Ji gang”, yaitu kabupaten Kudus harus smemiliki program danm kebijakan yang mengarahkan masyarakat Kudus memiliki semangat untuk mengembangkan perekonomian secara optimal. Oleh sebab itu penataan sektor sekctor perekonomian harus dikelola secara optimal dan selalu memperhatikan perkembangan perekonomian masyarakat kecil. Penataan pasar modern harus berdasarkan semangat menghidupkan pasar tradisional, sehingga para pedagang kecil tetap eksis meskipun dibangaun pasar modern. Kudus harus menjadi pusat perekonomian masyarakat minimal pantura bagian timur, oleh sebab itu Kudus perlu memiliki berbagai fasilitas yang memadahi untuk perwujudkan pusat prekonomian, misalnya perlu ada bandara udara, perlu penambahan hotel yang representative untuk para investor atau pebisnis, perlu ada obyek wisata yang memadahi untuk kunjungan wisata.

Keempat, sebagai konsekuensi masyarakat religius dan santri yang disimbolkan dengan bangunan monumental berupa manera dan makam waliyullah kanjeng sunan Kudus dan kanjeng sunan Muris, maka sudah saatnya memulai untuk membangun sebuah monument wali yang dapat dijadikan pusat informasi bagi para penziarah khususnya tentang semangat dan sepak terjang dakwah Islam kedua wali tersebut. Implikasi dari bangunan sebuah monument tersebut, bahwa para penziarah tidaka hanay melakukan aktivitas ritual keagamaan semata melainkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan khususnsya tentang sejarah sepak terjang keberhaislan dakwah Islam yang dilaksanakan Kanjeng Sunan Kudus dna kanjeng Sunan Muria. Pengaruh dalam jangka panjangnya, para pendatang atau peziarah akan mampu mentaladai sikap dan perilaku waliyullah tersebut khsuusnay dalam misi menyebarkan dan mengembangkan agama Islam.

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter