|  |  | 

Breaking News Komentar

M. Saekan : SOCRATESME DAN FALSAFAH IQRA’

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Menyandingkan Nomenklatur “Socratesme” dan Iqra’” terasa asing dan aneh ditelinga umat Islam (muslim). Socrates adalah pemikir yang hidup di abad sebelum Islam dan dilihat dari ideologi atau agamanya jelas bukan pemeluk agaam Islam (bukan Muslim). Sementara iqra’ adalah didasarkan oleh turunya wahyu pertama kali turun yaitu surah Al Alaq 1-5 di Gua hira pada waktu Muhamamad pada usia 41 tahun.

Socrates adalah seorang pemikir (filsuf) yang hidup pada 469-399 SM di Athena. Socrates lahir dari lingkungan keluarga yang kategori miskin, pekerjaan bapaknyas ebagai tukang bangunan dan ibunya berpoefesi sebagai bidan desa. Postur tubuh Socrates juga kategori kurang menarik bagi orang lain, tubuhnya pendek, hitam, wajahnya biasa dan memiliki sikap dan keperibadian yang suka menyendiri (tidak suka gaul /membaur bersama temannya). Sikap seperti ini disebabkan karena Socrates secara ekonomi maupun fisik dibawah rata rata teman sebayanya di bangku sekolah.  Ada kelebihan yang patut dijadikan inspirasi, justru saat fisik dan perekonomian di bawah rata rata, Socrates menajidkan “cambuk” atau motivasi untuk mengembangkan kemamapuannya dalam bidang pengetahuan. Socrates berjanji dalam hatinya, “saya boleh rendah ekonomi dan penampilan fisiknya, tetapi saya ingin menunjukkan kepada public bahwa di masa mendatang saya adalah orang yang hebat dan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.

Socrates memiliki anggapan bahwa manusia primitive adalah yang memiliki keyakinan yang bersifat subyektif, tahayul, terpusat kepada benda atau alam. Manusia primitive memiliki keyakinan bahwa yang mengendalikan nasib atau masa depan manusia adalah dewa, alam dan benda benda lain yang dianggap memiliki kekuatan yang besar. Sebaliknya manusia yang maju atau modern adalah yang memiliki cara fikir rasional berupaya menggunakan akal pikiran yang dimiliki secara optimal. Apa yanag dilihat, dirasakan dan apa yang ada disekitarnya selalu dilihat  dan dipahami sesuai dengan cara fikir akan rasional. Kekuatan akal pikiran merupakan kunci memperoleh keberhasilan. Tujuan hidup bukan untuk mencari kekayaan materi dan ketenaran, kehidupan yang hakiki (yang sebenarnya) adalah menjalani kebenaran dan keadilan. Kebenaran dan keadilan harus dicapai dnegan tanpa konflik.

Socrates dikenal tokoh keilmuan yang selalu cinta terhadap kebenaran dna keadilan. Selama hidupnya dihabiskan dengan menemukan atau mencari kebenaran yang dilakukan dengan berbagai cara. Kebenaran diawali dari kemampuan mengenal dirinya sendiri (instrospeksi). Dalam pesannya Socrates mengatakan “ Kenalilah dirimu sendiri, kesadaran sejati diperoleh bukan hanya dari mengamati hal hal yang eskternal melainkan diperoleh melalui instrospeksi”.

Kebenaran juga dapat diperoleh melalui proses interaksi dnegan orang lain. Socrates memiliki konsep “Dialog Socratik” dan “Dialog Dialektik”. Dialog socratik adalah proses menemukana kebenaran yang dilakukan dengan cara  dialog diantara beberapa orang  deengan suasana ayang ramah, akrab, penuh dengan akademik (keilmuan).  Dialoh Socratik  menafikan atau menjauhkan dengan saling otot atau akekerasan fisik, saling merasa benar dan merendahkan lainnya sehingga suasana dialog tidak nyaman. Apa yang didialogkan merupakan materi yang benar benar mengembangkan wacana keilmuan dan kebenaran. Sedangkan dialog dialektik adalah proses menemukan kebenaran yang dilakukan dnegana cara saliong mengevaluasi kekurangan dan kelebihan satu dnegan lainnya, sehingga masing masing orang mengetahui kekurangan dna kelebihan dalam mengemukakan pendapat atau kebenaran.

Iqra’ adalah perintah membaca yang dimuat dalam surat al alaq 1-5 yang berbunyi “  Bacalah dengan menyebut Tuhanmu yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,  Yang mengajarkan manusia dengan perantaran kalam, Dia  mengajarkan kepada manusia apa yang tidak dikatahui”.

Ayat pertama kali turun yang berisi lima ayat menjelaskan tentang perintah dari Tuhan kepada Mahluknya (manusia) untuk membaca.  Obyek bacaan meliputi fenomena formal dan non formal, obyek tektualis dan obyek kontelstualis. Intinya dengan perintah membaca, manusia khususnya umat islam harus memiliki semangat untuk mengetahui, mehamai dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari membaca fenoemna alam semesta. Membaca mengandung makna kemampuan menemukan berbagai peroslaan yang ada di dalam kehidupan masyarakat. Membaca memiliki makna normative dan sosiologis. Membaca secara normative adalah membunyikan huruf atau abjat dalam lembaran tertentu. Sednagkana membaca secara sosiologis adalah upaya untuk memahami dna mengetahui makan dibalik semua peristiwa yang diciptakan Allah swt. Mengetahu makna dibalaik bumi atau alam jagat raya beserta isinya.   

Hubungan antar Socrates dan falsafah Iqra’ sangat jelas  dan harus dijadikan bahan isnpirasi bagi umat islam. Seorang Socrates yang nota benenya bukan seorang muslim dan tidak pernah tau tentang ayat pertama kali turun (iqra’) memiliki semangat tinggi mengoptimalkan potensi akal pikiranya untuk menemukan kebenaran. Semestinya, sebagai orang islam (muslim) yang secara ideologis (keyakinan) dan secara akademik terikat dengan pesan surat pertama kali turun, harus lebih besar semangat untuk mengoptimalkan akal pikirannya. Sebagai muslim harus lebih cerdasadibanding umat lain, seorang muslim harus lebih produktif dalam mengembangkan ilmu disbanding umat lain, seorang muslim harus lebih sukses mengamalkan ilmu pengetahuan dibanding umat lainnya. Karena umat selain islam tidak memperoleh kewajiban membaca dan mengembangkan potensi berfikir, sementara umat Islam memiliki  tugas dan tanggung jawab mengembangkan potensi berfikir atau falsafah membaca.

Ayat pertama kali turun, tidak cukup hanya dihafal, diketahui kandungan ayatnya, juga tidak cukup hanya ditulis sebagai hiasan dinding. Lima ayat yang pertama kali turun merupakan ayat yang menyimpan makna sangat besar bagi kemajuan peradaban suatu bangsa. Ciri masyarakat yang beradab atau modern setidaknya memiliki cirri sebagai berikut:

Pertama, memiliki semangat untuk melakukan perubahan. Setiap orang memiliki potensi untuk melakukan perubahan baik pada aspek fisik maupun non fisik (psikis). Keberhasilana melakukan perubahan terletak pada kemampuan memahami  fenomena yang ada disekitarnya. Dengan kata lain, perubahan harus didukung dengan kemampuan dan kemauan manusia untuk membaca apa yang ada di sekilingnya.

Kedua, memberdayakan teknologi. Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi sudah pasti tidak bisa dihindari. Proses kehidupan manusia semakin hari semakin banyak ditentukan oleh tehnologi. Idealitas teknolgi adalah untuk menciptakan pola kehidupan manusia menajdi mudah dan sederhana. Tetapi dalam realitasnya teknologi tidak semuanya menjadikan tata kehidupan menjadi mudah dan sederhana. Justru dengan teknologi kehidupan menjadi rusak. Kemampuan memanfaatkan atau memberdayakan teknologi perlu didukung dengan kemamapuan  memahami makna yang ada di balik teknologi. Lagi lagi memberdayakan teknologi diperlukan semangat manusia dalam memahami konsep membaca.

Ketiga, Bercirikan industrial. Masyarakat industri ditandai dengan pola hidup atau pencaharian yang bergantung dari perusahaan atau industri. Kehidupan sehari hari dihabiskan di kantor atau perusahan untuk bekerja menghasilkan uang guna memenuhi kehidupan keluarganya. Apa yanag dikerjakan sesuai dengan arah manajerial perusahaan yang lebih menekankan pertimbangan atau orientasi keuntungan yang sebanyak banyaknya. Proses mencapai keuntungan, perusahaan lebih banyak mempergunakan alat bantu yang namanya teknologi. Dengan demikian, masyarakat industri juga ditandai dengan sarana teknologi dalam memenuhi kebutuhan sosialnya. Konteks kehidupan  industry diperlukan profil manusia yang cerdas, kreativ dana penuh inisiatif dalam menjalankan tugas yang diberikan. Kehidupan  yang sangat kompetitif akan selalu dialami oleh setiap manusia. Konsekuensinya setiap manusia harus memiliki kecerdasan yang tinggi dalam menjalani tugas dan tanggung jawab dalam mengemban amanah yang diberikan. Lagi lagi, suasana masyarakat industri dibutuhkan kesediaan manusia untuk membaca fenomena, karena dnegan rejin membaca akan melahirkan kreativitas dan inisiatif yang mampu dijaidkan penentu suksesnya menjalani kompetisi diantara sesama manusia.

Keempat, Perubahan pola pikit dari cara berfikir kosmosentris (terpusat pada alam) menjaid cara fikir antroposentris (terpusat pada manusia). Manusia dikatakan modern jika memiliki asumsi bahwa manusia itu memiliki potensi segala galanya dalama mencapai keberhasilan. Manusia memiliki semua potensi yang harus dikembangkan secara optimal sehingga manusia benar  benar mampu menjalankan tuags didunia secara optimal. Lagi lagi, untuk mencapai profil manusia yang mampu mengembangkan semua potensinya harus di awali dengan kesadaran dna kemauan untuki membaca baik dalam arti formalaa maupun sosial.

Antara Socrates dan falsafat iqra’ (membaca) di kalangan umat Islam  sangat dekat, artinya seorang socrates yang nota benenya tidak pernah tau tentang  al qur’an, tidak memiliki keyakinan beragama Islam, tidak  pernah mengetahui atau mengerti dengan baik tentang falsafah iqra sepanjang hayatnya, tetapi secara substansi Socrates dapat dikatakan mampu melaksanakan pesan yang ada di dalam ayat pertama kali turun.   Oleh sebaba itu sebagai umat Islam harus mampu mengambil hikmah dari semangat yang dimiliki Socrates dalam mengembangkan potensi membaca untuk menemukan kebenaran dalam kehidupan. Hal yang perlu diambil hikmah dalam konteks ini bahwa umat Islam harus cerdas, pinter, kreatif, lenuh inisiatif dalam memahami realiats sosial, sehingga umat islam mampu sebagai komuniats yang unggul (khoiro ummah) diantara komunitas lainnya. Umat islam harus mampu menjadi pioneer (uswah) dalam amenjaga kebersihan, melestarikan lingkungan, mewujudkan tatana atau sistem kehiduan yang santun, damai dan demokratis. Umat islam juga haruis lebih produktif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan informasi. Karena pesan dari ayat pertama kali turun memberikan perintah semangat membaca secara optimal bagi setiap manusia baik melaksanakn iqra dalam artian formal maupun iqra dalam artian sosial.

 

           

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter