|  | 

Komentar

Jangan Membenci Hanya Karena Beda Agama

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Islam membolehkan membenci siapapun asalnya dilakukan dengan alasan yang tepat dan obyektif. Tepat artinya kebencian dilakukan terhadap obyek yang sesuai atau layak untuk dibenci. Obyektif artinya kebencian dilakukan berdasarkan bukti bukti yang kuat dan benar tidak asal asalan alias subyektif. 

Secara umum dapat dikatakan bahwa kebencian itu layak dilakukan kepada segala hal yang buruk, merugikan orang lain, atau yang berdampak negatif bagi individu atau kelompok. 

Membenci tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan asumsi dan dugaan negatif ( subyektif) karena hanya akan melahirkan fitnah dan dan kejahatan tersendiri.

Keburukan atau kejahatan tidak bisa dilihat dari aspek formal (simbol) semata. Sehingga  kebencian juga tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan formalitas (simbol) seperti agama, suku, warna kulit dan kelompok.

Agama apapun pasti tidak akan mengajarkan atau membolehkan membenci hanya berdasarkan perbedaan agama/ keyakinan, suku, warna kulit dan kelompok. 

Allah berfirman “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. ( QS. Al Hujaraat : 13).

Berdasarkan firman Allah tersebut, hakekat manusia terletak pada kualitas sikap kepribadian (taqwa). Konsekuensinya manusia harus lebih mengedepankan kualitas kepribadian dari pada simbol fisik atau formalitas. 

Perbedaan agama atau keyakinan, suku, warna kulit dan kelompok tidak bisa dijadikan dasar untuk membenci siapapun. Karena hal tersebut tidak menggambarkan kualitas sikap kepribadian dan perilaku. Artinya agama atau keyakinan, suku, ras dan kelompok memiliki peluang melahirkan kepribadian dan perilaku baik atau buruk. 

Bisa saja seseorang membenci keyakinan/ agama, suku, ras dan kelompok yang berbeda karena mereka memiliki kepribadian dan perilaku yang buruk,  merugikan, mengganggu bahkan merusak. Tetapi bisa juga menjadikan kawan atau sahabat dengan yang berbeda agama, suku, ras dan kelompok karena mereka memiliki kepribadian dan perilaku yang baik dan bermanfaat. (M. Saekan Muchith (2019: 35), Karakteristik Pembelajaran PAI, Tasamuh, Jawa Tengah). 

Bagaimana Dengan  Rasulullah?

Rasulullah pernah bersahabat dengan Kafir, Yahudi dan Nasroni karena memiliki sikap dan kepribadian baik antara lain;

Pertama, orang kafir bernama Mu’thim bin Adi selalu melindungi Rasul setelah Abu Thalib Wafat dari upaya pembunuhan dari Abu Jahal dan kawan kawanya. 

Kedua, orang kafir bernama Abdullah bin Uraiqit  adalah setia menjadi penunjuk jalan Rasul saat hijrah ke madinah agar selamat dari ancaman orang orang kafir.

Ketiga, orang Yahudi bernama Mukharriq ikut berjuang untuk  membantu/ membela Rasul saat perang Uhud, sampai akhirnya meninggal. Rasul berkata ” Ia Yahudi terbaik”.

Keempat, Pendeta yang bernama Buhaira alias Jurjis yang memberi informasi kepada Abu Thalib bahwa Muhamad akan terancam keselamatan jiwanya jika perjalanya diteruskan sampai di kota Syam.

Kelima, Pendeta bernama Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Uzza yang memberi penjelasan tentang  peristiwa yg di alami muhamad saat menerima wahyu pertama di gua hira. 

Rasulullah juga pernah memusuhi orang yang seagama (muslim) karena mereka memiliki sikap dan perilaku yang buruk antara lain : 

Pertama, Abu Sarah karena menjadi pengkhianat saat diangkat menjadi sekretaris mengumpulkan alquran karena terlalu mementingkan pribadi dari pada kepentingan umat Islam. 

Kedua, Abdullah Ubai bin Sahlul, menjadi penghianat sampai meninggal, karena  terlalu cinta buta terhadap kekuasaan. 

?

Di era globalisasi yang dikenal dengan generasi 4.0 diperlukan cara fikir yang selalu mampu memahami berbagi ragam perbedaan. M. Saekan Muchith ( 2017: 24) dalam buku Visi Kepemiminan Berbasis Filosofi Laut, bahwa manusia yang sukses harus bisa memahami dan sekaligus mengimplementasikan apa yang terkandung dalam lautan dimana manusia bisa menerima berbagai macam perbedaan yang justru mampu melahirkan kemanfaatan (halal) seperti hal semua yang ada didalam lautan menjadi bersih, suci dan halal. 

Jangan hanya berbeda agama tanpa memahami sikap kepribadian dan perilakunya, kemudian seakan akan membenarkan munculnya rasa kebencian diantara sesama umat manusia. 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter