|  | 

Populer

Memaknai Istilah Khilafah Dalam Al Qur’an

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Masyarakat seringkali menyebut dan memperbincangkan tentang khilafah dalam sistem tatanegara (pemerintahan) Indonesia. Sebagian ada yang mengatakan khilafah tidak cocok dengan bangsa Indonesia karena keragaman agama, budaya, warna kulit dan suku. Pancasila, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika merupakan konsensus final tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Sebagian lainya mengatakan bahwa khilafah itu merupakan ajaran Islam yang harus ditegakan oleh seluruh umat Islam dimanapun dan kapanpun.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan khilafah berasal dari kata (kha-la-fa) yang berarti menggantikan. Menurut Wikipedia definisi khilafah merupakan preposisi dari kata khalifah yang didasarkan dari kata Khalifah sepertti yang tersebut dalam Surah Al Baqarah ayat 30. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat “ Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata : mengapa Engkau hendak menjaidkan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Khilafah yang dimaksudkan sebagian umat Islam Indonesia adalah sistem  pemerintahan Islam yaitu pemberlakuan Islam secara formal atau simbolis kedalam pemerintahan Indonesia.  Pemberlakuan hukum Islam seperti Hukum potong tangan bagi para pencuri (QS. Al Maidah : 38-39), hukum jilid atau rajam bagi para pezina (QS. An Nur : 2) dan hukum qishash bagi para pembunuh (QS. Al Baqarah : 178-179) merupakan sebuah keniscayaan yang harus dilaksanakan. Orang atau pejabat yang memimpin disebut Khalifah dan dapat juga disebut amirul mukminin. Misalnya kekhalifahan Abu bakar Ash Shiddiq disebut Khalifatu Ar Rasulullah (Pengganti Nabi Muhamamd SAW), pada saat kekhalifahan Umar Ibnu Khattab disebut Amirul Mukminin (Pemimpinya orang beriman), dan kekhalifahan Ali Ibnu Abu Thalib disebut Imam Ali. Dalam Ash Shawa’iq al Muhriqah, Al-Haitsami berkata, “Ketahuilah bahwa para shahabat berijma’ bahwa mengangkat imam setelah usainya masa kenabian adalah wajib, bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban yang paling penting. Buktinya, mereka sibuk mengangkat pemimpin daripada mengurus pemakaman Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.”.

Dari sinilah mulai muncul dua istilah yaitu khalifah dan khilafah. Kedua istilah itu pada dasarnya sama karena khilafah itu akar katanya dari khalifah yang berarti pengganti, pemimpin, penguasa di muka bumi. Sebagian ada yang terkesan “memaksakan” makna dengan membedakan arti khalifah dan khilafah. Khalifah diartikan orang yang memimpin atau produk kepemimpinan sedang khilafah itu dimaksudkan sistem atau tatacara memimpin suatu negara (sistem berkuasa). Khalifah yang berarti penguasa, pemimpin atau pengganti kepemimpinan di muka bumi banyak dijelaskan di dalam alqur’an, sedangkan khilafah yang diartiken sistem pemerintahan atau sistem kepemimpinan Islam secara tekstual tidak ada didalam arqur’an. Terdapat diberbagai surah dalam Al qur’an yang menjelaskan khalifah dengan berbagai maknanya;

Pertama, khalifah dengan istilah inni ja’ilun fil ard khalifah dikaitkan dengan penegasan Allah swt bahwa dunia itu perlu ada pemimpin atau penguasa. Firman Allah swt “ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat “ Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata : mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al Baqarah : 30).

Malaikat sempat “protes” atau menyampaikan aspirasi keberatan jika Allah menjadikan  manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Alasanya manusia memiliki potensi melakukan kejahatan atau pertumbahan darah. Allah memberikan penjelasan dangan kalimat Aku (Allah) lebih mengetahui dari pada kamu (Malaikat). Artinya justru dengan menjaidkan manusia sebagai khalifah akan mampu mengatur, membimbing, membina dan mengelola semua potensi yang ada di bumi untuk kemaslahatan (menafaatkan) bagi seluruh manusia. Karena banyak aturan yang harus dijadikan landasan manusia dalam mengatur, membimbing dan menjadi khalifah di muka bumi.

Khalifah dalam ayat ini, lebih menekankan peran atau fungsi pengganti atau wakil Allah dalam mengelola, mengatur semua yang ada di dunia agar apa yang diciptakan oleh Allah swt benar benar bisda dimanfaat untuk kesejahteraan dana kemakmuran manusia. Oleh sebab itu setiap khalifah harus selalu memahami, mentaati dan menjalankan aturan sebaik baiknya dengan tujuan utama mewujudkan kesejahteraan, kedamaian, dan keadilan bagi manusia.

 Kedua, Khalifah dengan istilah khulafa dan yastakhlifakum dikaitkan dengan   penegasan Allah swt, bahwa kaum (zaman) yang tidak sesuai ketentuan-Nya akan diganti dengan penguasa yang baik, adil dan tidak mudah mengikuti hawa nafsunya.  Hal ini sesuai dnegan firman-Nya “ Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan seadil adilnya dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesunguhnya orang orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan” (QS. Shaad : 26). “ Apakah kamu tidak percaya dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki laki diantaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti pengganti (khulafa’: yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (dari pada kaum Nuh). Maka ingatlah nikmat nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan (QS. Al ‘araaf : 69). “ Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan temepat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana istana di tanah tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan” (QS. Al ‘araaf : 74).  “ Kaum Musa berkata: Kami telah ditindas (oleh Firaun) sebelum kamu dan kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab “ mudah mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kami khalifah di muka bumi_nya, maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu”. (QS. Al ‘araaf : 129)  “ Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan mengganti (yastakhlif) dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang orang lain” (QS. Al An’am ayat 133). Artinya, apa bila ada suatu kaum atau zaman yang tidak mampu menjalankan kedamaian, kesejahteraan, keadilan dna kemakmuran bagi rakyatnya maka akan diganti dnegan kepemimpinan yang baik dan ideal. Konsekuensinya setiap pemimpin harus selalu memeprhatikan nbilai nilai keadilan, kesejahteraan dan kedamaian bagi semua.

Ketiga, Khalifah dengan istilah Khulafa al ardl dikaitkan dengan peringatan Allah kepada mansuia yang mudah melupakan nikmat yang diberikan dari Allah swt. Seperti firman-Nya “ Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apa bila ia berdoa kepada-Nya dan yang menjadikan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingat-Nya”. (QS. An Naml : 62). Hal ini merupakan sindiran atau peringatan bahwa banyak pemimpin di muka bumi ini yang mudah lupa diri setelah mereka menjadi penguasa atau pemimpin. Sikap dan perilakunya mudah berubah setelah menduduki jabatan sebagai pemimpin atayu penguasa. Awalnya baik berubah menjadi jelek, awalnya bijaksana berubah menajid tiak bijaksana, awalnya sabar berubah menjadi emosional, awalnya dekat denagn rakyat berubah menjadi jauh dengan rakyat, awalnya selalu dekat dan perhatian kepada rakyat berubah mendholimi rakyat.

 Keempat, Khalifah dengan istilah Khalaaifa fi ardl dikaitkan dengan banyak ragam jenis pemerintahan atau kekuasaan yang bisa dilaksanakan di dunia. Seperti irman Allah swt “Dialah yang menjadikan kamu khalifah khalifah (khulaifa fi alrd) di muka bumi. Barang siapa yang kafir maka akibat kekafiranya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhanya dan kekafiran orang orang  yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka”. (QS. Faathir : 39). Artinya khalifah memiliki berbagai macam bentuk atau sistem yang bisa dilaksanakan dengan tetap mempertimbangkan ketenangan, kedamaian, kesejahteraan, keadilan dna kemakmuran. Di negara yang mayoritas penduduknya muslim, system kepemimoianya juga bervariasi, ada yang sistem kerajaan (Arab Saudi, Kuwait, Yordania), Sistem Republik Presidensial (Iran), Sistem Republik Semi-Presidensial (Mesir), Sistem Parlementer (Turki). Sistem monarkhi konstitusional (Maroko), dan sistem Presidensial (Indonesia). Sistem Federal Parlementer Monarkhi Konstitusional (Malaysia).

Kelima, Khalifah dengan istilah liyastakhlifahum dikaitkan dengan janji Allah bahwa pengausa yang beriman dan beramal sholih akan banyak membawa kemanfaat bagi manusia. Seperti Firman-Nya “Dan Allah telah berjanji kepada orang orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang orang sebelum mereka berkuasa dan sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridloi-Nya untuk mereka dan Dia benar benar akan menukar keadaan mereka sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang tetap kafir sesudah janji itu maka mereka itulah orang orang yang fasik”. (QS. An Nuur : 55). Artinya, setiap pemimpin atau penguasa di dunia harus memiliki kepribadian yang baik yaitu memiliki motivasi dan orientasi yang baik (beriman) dan mampu menyusun program atau perbuatan yang baik dan bermanfaat (amal sholih). Hanya dengan dua modal itulah sistem kepemimpinan akan menjadi kuat, berwibawa dan bermartabat karena mampu mewujdukan kedamaian, kesejahteraan, keadilan dna kemakmuran bagi semuanya.

Keenam, khalifah dengan istilah khalaifa (Penguasa penguasa) dikaitkan dengan bagian dari proses ujian dari Allah swt. Sesuai firman -Nya “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa penguasa (khulaaifa) di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi maha penyayang”. (QS. Al An’am : 165).

 Ketujuh, khalifah dengan istilah khulaaifa (Penganti penganti) dikaitkan dengan pengawasan Allah kepada manusia terhadap apa yang dikerjakan. Sesuai firman –Nya “ Kemudian Kami jadikan kamu pengganti pengganti (khulaaifa) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat”. (QS. Yunus : 14).

Berdasarkan ayat tersebut, dapat dikatakan bahwa istilah khilafah yang diartikan sistem pemerintahan Islam tidak pernah disebut dalam alqur’an. Istilah khalifah  mengandung berbagai makna yang intinya adalah kemampuan memimpin suatu kaum atau bangsa yang dilakukan dengan baik dengan tetap berorientasi utama kedamaian, kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran bagi rakyat. Mengusung atau memperjuangkan khilafah (sistem negara Islam) sama sekali tidak memiliki dasar dari alqur’an, artinya sistem atau tatacara membangun suatu negara tidak diatur di dalam Islam. Islam hanya memberikan rambu rambu dalam membangun pemerintahan selalu memperhatikan atau mengedepankan rasa keadilan, kesejahteraan, kedamaian, persatuan dari seluruh elemen yang ada.

 

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter