|  | 

RISET

Hasil Penelitian TQM TPQ Qiro’ati

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Total Quality Management Pendidikan Islam

(Studi TPQ Qiro’ati di Kabupaten Kudus Jawa Tengah)

 Oleh : M. Saekan Muchith

 

Abstract

 

Kudus Regency Central Java is known as the city of santri. One of the characteristics has the most non-formal Islamic education institutions and boarding schools compared to other regions in Central Java. Until 2018 Kudus Regency has 86 Islamic boarding schools, 1050 Al-Quran learning centre for children (TPQ) and 310 Madrasah Diniyah (Madin). Among the Islamic education institutions there are TPQ with Qiro’ati learning methods as many as 360 institutions.

Al-Quran learning centre for children (TPQ) with the Qiro’ati learning method has its own uniqueness when viewed from the process and output. Steps in managing institutions and learning have consistency and commitment to the regulations that have been set. The uniqueness in TPQ Qiro’ati needs to be socialized so that it can inspire other Islamic educational institutions in managing the institutions and learning processes.

This research is seen from its type categorized as a qualitative research process which is aimed at describing or describing what is in the research location. Bogdan and Taylor in Lexy J Moleong (1995) that research with qualitative methods is research that aims to produce descriptive data in the form of written words or impressions of people and observed behavior. Based on the opinion of Bagdan and Taylor above, this study aims to obtain data from the location of the study both in the form of written data or interviews from research data sources.

The technique of data retrieval is done by observation, interviews, documentation then the results of data acquisition are done with technical domain analysis, taxonomy analysis and cultural theme analysis, so that researchers will be able to uncover various problems according to the determined problem formulation.

In general, facts and data were found that the management of the TPQ Qiro’ati was initiated from a very mature and systematic plan both from the ustadz/ustadzah recruitment aspects. Supported by a very consistent and tiered implementation and coaching. Requirements as ustadz/ustadzah are also determined by qualifications and competencies which are truly consistently implemented and always maintained throughout the period. The process of completing or graduating santri is carried out through tiered examinations from the institutional level (TPQ), sub-district (rayon) and district levels. After being declared graduated by all levels, santri were also tested openly as a doctoral program promotion test.

The stages of all this, as a form of management transparency to the public so as to provide a greater level of trust from the community. What was done in the management of the TPQ Qiro’ati was in accordance with the spirit of the general community dynamics which automatically required the public to be open to information.

 

Keywords : Quality management, TPQ Qiro;ati, Islamic education

Author: Lecturer in Islamic Education Management Postgraduate of IAIN Kudus Central Java

Abstrak

 

Kabupaten Kudus Jawa Tengah dikenal dengan kota santri. Salah  satu cirinya memiliki lembaga pendidikan Islam non formal dan pondok pesantren terbanyak di banding wilayah lain di Jawa Tengah. Sampai tahun 2018 Kabupaten Kudus memiliki 86 pondok pesantren, 1050 Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) dan 310 Madrasah Diniyah (Madin). Diantara lembaga pendididikan Islam tersebut terdapat TPQ dengan metode pembelajaran Qiro’ati sebanyak 360 lembaga.

Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) dengan metode pembelajaran Qiro’ati memiliki keunikan tersendiri jika dilihat dari proses dan out putnya. Langkah langkah dalam pengelolaan lembaga dan pembelajaran memiliki konsistensi dan komitmen terhadap regulasi yang telah ditetapkan. Keunikan yang ada di TPQ Qiro’ati perlu disosialisasikan agar bisa menginspirasi lembaga pendidikan Islam lainya dalam melakukan pengelolaan lembaga dan proses pembelajaran.

Penelitian ini dilihat dari jenisnya dikategorikan sebagai proses penelitian  kualitatif yaitu bertujuan mendeskripsikan atau menggambarkan apa yang ada di lokasi penelitian. Bogdan dan Taylor dalam Lexy J Moleong (1995) bahwa Penelitian dengan metode kualitatif adalah penelitian yang bertujuan menghasilkan data deskriptif berupa kata kata tertulis atau lesan dari orang orang dan perilaku yang diamati. Berdasarkan pendapat Bagdan dan Taylor diatas maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dari lokasi penelitian baik yang berupa data tertulis atau wawancara dari sumber data penelitian.

Tehnik pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi kemudian hasil perolehan data dilakukan dengan tehnis analisa domain, analisa taksonomi dan analisa tema budaya, sehingga peneliti akan mampu mengungkap berbagai persoalan sesuai rumusan masalah yang ditentukan.

Secara umum ditemukan fakta dan data bahwa pengelolaan TPQ Qiro’ati diawali dari perencanaan yang sangat matang dan sistematis baik dari aspek rekrutmen Ustaz/Ustadzah. Didukung dengan pelaksanaan dan pembinaan yang sangat konsisten dan berjenjang. Persyaratan sebagai Ustad/Ustadzah juga ditentukan  kualifikasi dan kompetensi yang benar benar konsisten dilaksanakan dan selalu dipertahankan sepanjang masa. Proses ketuntasan atau kelulusan santri dilakukan melalui ujian berjenjang dari tingkat  lembaga (TPQ), tingkat kecamatan (rayon) dan kabupaten. Setelah dinyatakan lulus oleh semua jenjang, santri juga di uji secara terbuka sebagai layaknya ujian promosi program doktor.

Tahapan semua ini, sebagai wujud transparansi manajemen kepada publik sehingga memberikan tingkat kepercayaan semakin besar dari masyarakat. Apa yang dilakukan dalam pengelolaan TPQ Qiro’ati sesuai dengan semangat dinamika masyarakat melenial yang secara otomatis menghendaki adanya keterbukaan informasi oleh masyarakat (publik).

Kata Kunci : Manajemen Mutu, TPQ Qiroa’ti, Pendidikan Islam

 

Penulis : Dosen  Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Kudus Jawa Tengah

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pendahuluan
  2. Latar Belakang

Pendidikan Islam merupakan sub sistem pendidikan nasional (pendidikan bangsa Indonesia).  Artinya pendidikan Islam memiliki kemiripan dengan pendidikan nasional meskipun juga banyak perbedaanya. Sebelum pendefinisikan pendidikan Islam terlebih dahulu dipaparkan definisi pendidikan yaitu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan  potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulai, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UUSPN nomor 20 tahun 2003, pasal 1 ayat 1).

Pendidikan Islam sebagai sub sistem dari pendidikan nasional merupakan bagian integral dari pendidikan nasional yang memiliki proses, tujuan dan target yang lebih spisifik  dalam hal yang terkait dnegan perintah dan larangan Allah swt sehingga menjadi kualitas manusia seutuhnya. Perbedaan   pendidikan Islam dengan pendidikan nasional (pendidikan barat/Indonesia) dapat dilihat dari berbagai aspek antara lain:

Pertama, menurut Yusuf Qardhawi seperti yang dikutip Azumardi Azra (1998) bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang menekankan kepada pentingnya pembentukan manusia seutuhnya yang menekankan pengembangan akal dan  hatinya, rohani dan jasmaninya, ahlaq dan ketrampilannya.  Pendidikan Islam  memiliki ruang lingkup yang sangat kompleks dan menyangkut berbagai aaspek sehingga sangat sulit  dijangkau atau dicapai tujuan atau targetnya. Oleh sebab itu pendidikan Islam merupakan proses yang tiada henti atau berakhir.

Kedua, Menurtu Ahmad D. Marimba (1989) bahwa pendidikan Islam adalah  proses bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum hukum Islam, menuju terbentuknya kepribadian utama menurut Islam. Pendidikan Islam  mengandung makna proses mengarahkan orang lain sesuai aturan yang  berlaku sehingga terbentuk kualitas kepribadian sesuai norma norma Islam. Pendidikan Islam lebih diarahkan sesuai dengan ketentuan norma Islam dalam alqur’an dan hadis. Pendidikan berarti pendidikan yang sesuai dengan norma Islam.

Ketiga,  menurut penulis ( M. Saekan Muchith), pendidikan Islam dan pendidikan barat dapat dilihat dari 2 (dua)  perbedaan antara lain:

(1) dari aspek muatan materi/substansi materi yang diajarkan. Pendidikan Islam setidaknya menyangkut tiga macam substansi materi yaitu Tarbiyah, Ta’lim dan Ta’dib. Tarbiyah lebih menekankan  optimalisasi kecerasan intelektual (kognitif) yaitu upaya untuk membimbing peserta didik agar memiliki kualitas intelektualitas atau optimalisasi pengembangan rasio/akal pikiran. Ta’lim proses pendidikan yang menekankan pembentukan sikap, etika atau moral kepribadian. Oleh sebaba itu ta’lim lebih menekankan bagaimana peserta didik memiliki sikap dan kepribadian yang baik dengan sesama manusia, dengan lingkungan. Ta’dib adalah proses pendidikan yang menekankan pentingnya mengenal dan memahami kekuatan diluar manusia yaitu adanya Allah swt. Pendidikan barat tidak akan mengajarkan ketiga aspek tersebut, pendidikan barat mayoritas hanya optimalisaia intelektual (kognitif/tarbiyah) saja, sedangkan pendidikan Islam minimal harus tiga aspek diajarkan secara bersama sama.

(2) dari aspek epistimologi. Pendidikan Islam dalam menemukan kebenaran dimulai dari posisi wahyu (al qur’an dan hadis), kemudian akal pikiran dan realitas. Dengan kata lain epistemologi pendidikan Islam memiliki jenjang wahyu, akal/pikiran, realitas/empirik. Sedangkan pendidikan barat berangkat dari kekuatan akal pikiran dan empirik.

Dilihat dari aspek idealitas, pendidikan memiliki tujuan yang sangat mulia karena secara prediktif pendidikan Islam mampu melahirkan kualitas orang yang memiliki ketrampilan (skill) secara utuh sehingga memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dalam menghadapi problematika kehidupan sosial. Kenapa demikaian? Pendidikan Islam melatih dan membimbing manusia memiliki kesiapan hidup di dunia dan akherat sehingga akan mampu menjadi profil manusia yang bahagian di dunai dan aakherat sesuai dengan doa yang dipanjatkan setiap hari “ Robbana aatina fil dunya hasanah, wafi al akherati hasanah, waqina adza  ba al naar”.

Idealitas pendidikan Islam belum sepenuhnya sesuai harapan. Secara empiris pendidikan Islam justru mengalami banyak kelemahan yang itu  muncul dari kalangan umat Islam sendiri. Dilihat dari perspektif materi, pendidikan Islam masih dipahami proses pendidikan yang hanya mengajarkan cara membaca dan menulis al qur’an dan mengajarkan hafalan doa doa ibadah  pokok (mahdhah). Istilah lainya di sebut “Ngaji” yaitu belajar membaca dan menulis al qur’an.

Dari perspektif manajerial, pendidikan Islam dipahamai dikelola asal asalan sehingga tidak  tertib administrasi. Pengelolaan atau manajemen pendidikan Islam masih bertumpu kepada asumsi keihlasan yang sempit sehingga pasrah tanpa dibarengi dengan pertimbangan rasionalitas. Bekerja di lembaga pendidikan Islam dilandasi dengan karena Allah (lillahi ta’ala) yang tidak didukung dengan langkah langkah rasional. Masih banyak masyarakat (umat Islam) sendiri yang memiliki persepsi “miring” dan “rendah” terhadap kualitas lulusan dan kualitas pengelolaan pendidikan Islam.

Dari perspektif dukungan dana (biaya) pendidikan seakan akan tidak boleh dengan biaya mahal. Umat Islam itu sendiri yang seringkali memiliki kepribadian ganda, satu sisi menilai wajar untuk mengeluarkan biaya tinggi dalam pendidikan music, olahraga, tetapi disisi lain tidak mau mengeluarkan biaya tinggi untuk pendidikan Islam. Sikap kepribadian ini merupakan ironi tersendiri bagi pengelolaan dan pengembangan pendidikan Islam, sehingga menyebabkan sulitnya pendidikan Islam berkembanag setara dengan pendidikan lainnya.

Pendidikan di Indonesia terdiri dari pendidikan formal dan non formal. Pendidikan Islam juga memiliki dua jenis yaitu pendidikan Islam formal seperti madrasah Ibtidaiyah (MI/SD), madrasah Tsanawiyah (MTS/SMP) dan madraah aliyah (MA/SMA/SMK). Sedangkan pendidikan Islam non Formal adalah madrasah diniyah dan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ).

Pembelajaran pendidikan TPQ memiliki metode yang berbeda beda, sebagian TPQ ada yang menggunakan metode Iqra, metode Yanbu’a dan metode Qiro’ati.

Metode Qiro’ati adalah proses membelajarkan al qur’an yang berdasarkan /menggunakan buku Qiro’ati yang disusun oleh KH. Ahmad Dachlan Salim Zarkasyi.  Dengan metode Qiro’ati tersebut, maka akahirnya TPQ nya juga di sebut TPQ Qiro’ati. Praktik pembelajarannya TPQ metode Qiro’ati memiliki perbedaan dengan TPQ metode selain Qiro’ati. Perbedaan dapat dilihat dari beberapa hal yaitu :

  1. Memiliki kesinambungan antara halaman satu dengan halaman berikutnya.
  2. Memiliki kesinambungan antara jilid satu dengan jilid seterusnya.
  3. Disesuaikan dengan usia anak yang belajar al qur’an
  4. Kata akata dan kalimatnya tidak keluar dari ayat ayat dalam al qur’an
  5. Setiap pokok bahasan atau materi sudah secara otomatis menerapkan tajwid
  6. Dilengkapi petunjuk mengajar disetiap pokok bahasan.

(http://www.Qiro’atipusat.or.id, diunduh pada tanggal 21 juni 2018).

Keunikan yang dimiliki TPQ Qiro’ati akan memberikan banyak manfaat untuk pengembangan mutu kelembagaan pendidikan Islam jika dikaji, diteliti dan disosialisaikan secara ilmiah. Dengan kajian, penelitian dan publikasi, masyarakat akan mudah mengetahui secara rasional dan obyektif tentang berbagai inovasi yang dilakukan oleh TPQ dnegan metode pembelajaran Qiro’ati.

Berdasarkan asumsi dan realitas pengelolaan TPQ metode Qiro’ati tersebut, maka peneliti berpendapat perlu dilakukan peneliian lebih mendalam tentang mutu secara sistematis dan komprehsif yang dipraktikan oleh TPQ metode Qiro’ati. Oleh sebab itu peneltiain ini diberi judul  MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN ISLAM  (Studi  Kasus TPQ Metode Qiro’ati di Kabupaten Kudus).

Penelitian ini didasarkan pada 5 (lima) rumusan masalah antara lain:

  1. Bagaimana Konsep mutu yang dipahami para pengelola TPQ metode Qiro’ati?
  2. Bagaimana nilai nilai mutu pendidikan Islam yang ada di dalam proses pembelajaran TPQ metode Qiro’ati?
  3. Bagaimana nilai nilai mutu pendidikan Islam yang ada didalam pembinaan kualifikasi dan kompetensi guru TPQ metode Qiro’ati?
  4. Bagaimana nilai nilai mutu pendidikan Islam yang ada di dalam proses ujian bagi peserta didik TPQ metode Qiro’ati?
  5. Bagaimana nilai nilai mutu pendidikan Islam yang ada di dalam pengembangan kelembagaan TPQ metode Qiro’ati?

Penelitian ini ddilakukan memiliki beberapa tujuan yang ingin di temukan. Ada lima tujuan penelitian  sebagai berikut:

  1. Peneliti ingin mengetahui tentang konsep mutu yang dipahami para pengelola TPQ  metode Qiro’ati
  2. Peneliti ingin menemukan nilai nilai mutu pendidikan Islam yang ada di daam proses pembelajaran TPQ  metode Qiro’ati.
  3. Peneliti ingin menemukan nilai nilai mutu pendidikan Islam yang ada didalam pembinaan kualifikasi dan kompetensi guru TPQ metode Qiro’ati.
  4. Peneliti ingin menemukan nilai nilai mutu pendidikan Islam yang ada di dalam proses ujian bagi peserta didik TPQ metode Qiro’ati.
  5. Peneliti ingin menemukana nilai nilai mutu pendidikan Islam yang ada di dalam pengembangan kelembagaan TPQ metode Qiro’ati.

Dilihat daria spek teoritis dan praktis, penelitian memiliki beberapa manfaat sebagai berikut :

  1. Manfaat Teoritis. Penelitian ini memiliki manfaat teoritis yaitu untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan atau informasi tentang pendidikan Islam khususnya wacana mutu pendidikan Islam yang dipraktikkan di Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) metode Qiro’ati.
  2. Manfaat Praktis. Penelitian ini memiliki manfaat praktis bagi bebrapa elemen, antara lain:
    • Manfaat bagi pengelola TPQ metode Qiro’ati: Penelitian dapat dijadikan bahan pengembangan manajerial untuk di masa mendatang, sehingga TPQ metode Qiro’ati semakin mampu mempertahkan dan meningkatkan mutunya secara optimal.
    • Manfaat bagi tenaga pengajar: Penelitian ini dapat dijadikan bahan evaluasi dan peningkatan ketrampilan para guru dalam melaksanakan pembelajaran di TPQ metode Qiro’ati.
    • Manfaat bagi masyarakat: Penelitian ini dapat dijadikan tambahan informasi bagi masyarakat, sehingga masyarakat memiliki pengetahuan secara utuh tentang TPQ metode Qiro’ati.
    • Manfaat bagi Peneliti; Penelitian ini dapat dijadikan bahan pengayaan atau tembahan pengalaman bagi peneliti sehingga di waktu mendatang akan lebih bermutu dalam melakukan penelitian.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu penelitian ini bertujuan mendeskripsikan atau menggambarkan apa yang ada di lokasi penelitian. Bogdan dan Taylor dalam Lexy J Moleong (1995) bahwa Penelitian dengan metode kualitatif adalah penelitian yang bertujuan menghasilkan data deskriptif berupa kata kata tertulis atau lesan dari orang orang dan perilaku yang diamati. Berdasarkan pendapat Bagdan dan Taylor diatas maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dari lokasi penelitian baik yang berupa data tertulis atau wawancara dari sumber data penelitian.

Penelitian ini perlu didukung data yang valid dan reliable, oleh sebab itu pengambilan data penelitian ini digunakan dengan beberapa cara antara lain:

Pertama, metode observasi yaitu proses melakukan pengamatan sikap dan perilaku yang terjadi di lokasi penelitian. Metode ini dimaksudkan untuk mengetahui berbagai fenomena yang terjadi tentang manajemen mutu lembaga pendidikan di TPQ Qiro’ati Kabupaten Kudus Jawa  Tengah.

Kedua, metode wawancara, yaitu proses melakukan dialog atau memberikan pertanyaan kepada elemen elemen yang dianggap memiliki kewenangan dan sesuai dengan tema penelitian. Wawancara akan dilakukan kepada para pengurus TPQ Qiro’ati yang ada di Kabupaten Kudus Jawa Tengah, kepada beberapa kepala TPQ Qiro’ati dan perwakilan para guru/ustad/ustadzah yang menjalanakn tugas di TPQ Qiro’ati di kabupaten Kudus Jawa Tengah

Metode Dokumentasi, yaitu proses mengumpulkan dokumen atau data tertulis tentang kelembagaan atau organisasi TPQ Qiro’ati. Dokumentasi tentang manajemen mutu TPQ Qiro’ati bisa diperoleh dari pengurus pusat, wilayah ataupun daerah. Dokumentasi ini dipergunakan untuk memperkuat atau mendukung data penelitian yang diperoleh peneliti melalui metode observasi dan wawanacara.

Data yang diperoleh melalui metode tersebut, kemudian dilakukan analisis secara detail sehingga peneliti dapat menemukan makna di balik data yang terjadi dilapangan /lokasi penelitian.

Analisa data penelitian ini menggunakan metode analisis data versi Spradly yang dikutip oleh Sugiyono yaitu analisis data yang dilakukan dengan empat tahap, yaitu analisa domain, analisa taksonomi, analisa komponensial dan analisa tema budaya.

Analisa domain dilakukan untuk melakukan pemaknaan data  secara umum tentang manajemen mutu yang dilaksanakan di TPQ Qiro’ati di Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Analisa domain ini sebagai tahapan analisa awal untuk mengetahui gambaran umum tentang fokus penelitian yang telah ditetapkan oleh peneliti.

Analisa Taksonomi dilakukan untuk melakukan pemaknaan data berdasarkan kategori yang telah ditentukan oleh peneliti. Kategori yang ditentukan adalah kategori persepsi mutu dari pengelola TPQ Qiro’ati, kategori nilai nilai mutu dalam proses pembelajaran, kategori nilai nilai dalam kompetensi tenaga pendidik dan nilai nilai pengembangan kelembagaan.

Analisa Komponensial dilakukan untuk menemukan keunikan atau spesifik dari masing masing kategori yang telah ditentukan. Analisa komponensial ini untuk menemukan spesifikasi dari persepsi mutu dari pengelola, menemukan spesifikasi proses pembelajaran, kualifikasi tenaga pendidik dan pengembangan kelembagaan yang telah dan akan dilakukan.

Analisa tema Budaya (Kultural) dimaksudkan untuk menemukan hubungan atau keterkaitan antara apa yang ada di lokasi penelitian dan teori yang ada. Analisa tema budaya (cultural) ini akan menemukan makna tentang manajemen mutu secara keseluruhan yang dilakukan di TPQ Qiro’ati sehingga dapat dipublikasikan kepada publik.

Dengan empat tahapan analisa data ini, penelitian ini akan dapat ditemukan gambaran nyata tentang menejemen mutu dilembaga pendidikan Islam khususnya yang dilaksanakan di TPQ metode Qiro’ati yang ada di kabupaten Kudus, Jepara, Pati dan Demak Jawa Tengah.

Data dan analisa data harus dipastikan kepastiannya atau validitas dan reabilitasnya. Untuk menjaga akurasi data atau biasa disebut validitas dan reabilitas data, maka peneliti melakukan langkah langkah sebagai berikut: Pertama, Perpanjangan pengamatan. Observasi atau pengamatan yang dilakukan peneliti tidak cukup hanya sekali atau dua kali dan dengan durasi waktu yang singkat. Pengamatan akan dilakukan secara berulang ulang dan dalam durasi waktu yang lama minimal 30-60 menit. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang valid dan realiabel. Kedua, triangulasi yaitu peneliti akan melakukan cros cek data atau informasi kepada pihak pihak yang memiliki kewenangan dan sesuai dnegan tema penelitian. Triangulasi ini dimaksudkan agar data hasil wawancara benar benar terjadi akurasinya.

  1. Fokus penelitian

Penelitian ini berjudul “Manajemen Mutu Pendidikan Islam (Studi Kasus Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) Metode Qiro’ati di Kabupaten Kudus Jawa Tengah).

Mutu memiliki makna dan ruanglingkup sangat luas, sehingga tidak mungkin semua aspek dalam mutu dikaji oleh peneliti. Manajemen  dalam penelitian ini memiliki makna proses mempertahankan dan meningkatkan sesuatu  secara rutin, sistematis dan komprehensif sehingga dapat dicapai apa yang telah ditentukan.

Mutu dalam penelitian ini memiliki makna sedikitnya dua hal, yaitu mutu dalam artian suatu proses yang memiliki nilai tambah atau keunikan bagi elemen lain. Hal ini sesuai dengan kretria mutu menurut JM Juran yaitu mutu adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan proses yang menarik bagi pihak pihak lain.

Aspek kedua mutu dalam penelitian ini adalah aktivitas sesuai dengan kreteria yang telah ditetapkan. Hal ini sesuai dengan konsep Philip B Crosby yang menyatakan bahwa mutu adalah kegiatan yang disesuaikan atau konsisten dengan kreteria yang telah ditentukan.

Manajemen mutu dalam penelitian ini adalah proses mempertahankan dan meningkatkan proses yang sesuai kreteria yang ditentukan  lembaga pendidikan Islam (TPQ Qiro’ati) yang meliputi aspek Mutu proses pembelajaran, mutu tenaga pendidik (Ustadz/Ustadzah), mutu proses tes atau ujian akhir dan mutu dalam pengembangan kelembagaan yang telah dan akan dilakukan. 

  1. Kerangka Teori

Setiap lembaga termasuk lembaga pendidikan Islam khususnya Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) yang menggunakan metode Qiro’ati (atau disingkat TPQ Qiro’ati) juga mendambakan mutu dalam perencanaan, proses maupun  hasil (out put) serta mutu pengembangan kelembagaan.

Edward Salis dalam buku Total Quality Management in Education menjelaskan bahwa dalam Mutu menyangkut berbagai aspek dan memiliki ruanglingkup sangat luas. Mutu menyangkut tentang proses, hasil, sarana dan termasuk kultur atau budaya organisasi. Oleh sebab itu mutu bisa berupa sistem atau norma, proiduk perilaku maupun produk barang dan /atau jasa.

Taman pendidikan Al Qur’an (TPQ) Qiro’ati merupakan suatu lembaga pendidikan Islam yang memiliki  tugas dan tanggung jawab melakukan proses, melahirkan produk berupa produk barang (manusia) dan jasa ( sikap dan kepribadian yang dilakukan manusia).

Edward Deming menjelaskan bahwa mutu adalah terkait dengan kesenangan atau kecocokan pelanggan. Sesuatu dikatakan memenuhi kreteria mutu jika pelanggan atau masyarakat banyak yang cocok atau senang terhadap proses dan produk dari perusahaan. Mutu dalam konteks ini selalu dilihat dari sejauhmana masyarakat  sebagai pelanggan memiliki kesenangan terhadap proses maupun produk yang dihasilkan perusahaan, semakin banyak masyarakat senang semakin tinggi /besar mutu yang akan diperoleh, sebaliknya semakin sedikit masyarakat yang senang maka semakin kecil peluang untuk meraih mutu.

JM Juran menjelaskan bahwa mutu adalah proses yang memiliki keunikan atau ketertarikan bagi pelaku maupun orang lain. Dalam konteks ini, mutu dilihat atau diukur sejauhmana proses yang dilakukan perusahaan memiliki keunikan atau nilai tambah dibanding lainnya.

Philip B Crosby menjelaskan bahwa mutu adalah proses yang dilakukan disuatu perusahaan sesuai dengan kreteria yang ditentukan atau tidak. Dalam konteks ini, mutu dilihat atau diukur dari aspek sejauhmana proses dan hasil itu sesuai dengan kreteria atau ketentuan yang telah ditetapkan.

Penelitian ini, akan melihat manajemen mutu yang ada di Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) metode Qiro’ati menurut cara pandang teori JM Juran dan Philip B Crosby yaitu manajemen mutu dilihat dari hal hal unik yang ada di dalam proses dan mutu dilihat dari aspek sejauhmana TPQ Qiro’ati konsisten terhadap kreteria yang telah ditentukan sebelumnya.

  1. Pembahasan
  2. Sejarah singkat TPQ Qiro’ati

Kehadiran TPQ Qiro’ati diawali  dari keresahan, ketidakpuasan dan juga  prihatin Almarhum KH. Dachlan Salim Zarkasyi ketika melihat proses belajar mengajar Al Qur’an di Madrasah, Mushalla, Masjid dan lembaga masyarakat muslim  pada umumnya.  Dalam pandangan KH Dachlan Salim Zarkasyi, ternyata masih banyak masyarakat yang belum dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar, apa lagi dilihat dari kualitas tajwidnya. Oleh sebab itu perlu adanya panduan, bimbingan dan pembelajaran yang intensif dan sistematis.

Keresahan itulah  yang mendorong Almarhum KH Dachlan Salim Zarkasyi pada tahun 1963 memulai menyusun metode baca tulis Al Qur’an yang sangat praktis. Berkat usaha yang gigih dan atas ridlo  Allah SWT, akhirnya KH Dachlan Salim Zarkasyi berhasiul  menyusun 10 jilid yang dikemas sangat sederhana. Almarhum KH Dachlan Salim Zarkasyi dalam perjalanan menyusun metode baca tulis Al Qur’an sering melakukan studi banding keberbagai pesantren dan madrasah Al Qur’an dan sampai ke Pondok Pesantren Mambaul Hisan Sidayu Gresik Jawa Timur (tepatnya pada bulan Mei 1986) yang pada saat itu dipimpin oleh Almukarram KH Muhammad.

 Selama proses penyusunan buku atau kitab sebeneyak 10 jilid, Almarhum KH Dachlan Salim Zarkasyi rajin melakukan studi banding atau silaturrahmi. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi dan data yang sempurna sehingga buku yang ditulis akan memiliki kontribusi besar dalam pembelajaran TPQ Qiro’ati. Banyak lokasi yang dituju untuk menjalin kerjasama atau silaturrahmi diantaranya Pesantren Sedayu Gresik  yang memiliki santri berusia 4-6 tahun. Menurut KH Muhammad, Pondok Pesantrn yang dipimpinnya telah dirintis tahun 1965 dengan jumlah muridnya 1300 orang siswa yang datang dari berbagai kepulauan yang ada di Indonesia.

Selain malang melintang berkunjung keberbagai pondok pesantren dan TPQ, akhirnya Almarhum KH Dachlan Salim Zarkasyi memutuskan untuk mendirikan TPQ Al qur’an sekaligus mempraktikan dan menguji metode yang diciptakan. Tepat pada tanggal 1 Juli 1986, Almarhum KH Dachlan Salim Zarkasyi resmi membuka atau mendirikan TK Al qur’an dengabn metode pembelajaran Qiro’ati yang disusun sendiri.  Berkat Inayah Allah SWT, diluar dugaan dalam perjalanan 7 bulan ada beberapa siswa yang telah mampu membaca beberapa ayat Al Qur-an serta dalam jangka 2 tahun telah menghatamkan Al Qur’an dan mampu membaca dengan baik dan benar (bertajwid).

Akibat kualitas metode pembelajaran yang diciptakan TK Al Qur’an yang dipimpinnya makin dikenal masyarakat dari berbagai pelosok wilayah Jawa Tengah. Dari keberhasilan inilah, banyak yang melakukan studi banding dan meminta petunjuk cara mengajarkan metode yang diciptakannya. KH Dachlan Salim Zarkasyi terus menerus melakukan evaluasi dan meminta penilaian dari para Kiyai Al Qur’an atas motode yang diciptakannya. Atas usul dari Ustadz A. Djoned dan Ustadz Syukri Taufiq, metode ini diberi istilah dengan nama “QIROATI” yang artinya BACAANKU (pada saat itu ada 10 jilid) (Disarikan dari (http://www.Qiro’atipusat.or.id, diunduh pada tanggal 21 juni 2018).

  Pengelolaan TPQ metode Qiro’ati memiliki keunikan dalam proses pembelajaran, pembinaan guru/ustadz/dan sistem evaluasi tahap akhir. Keunikan tersebut tidak dilakukan oleh pendidikan lainnya meskipun pendidikan formal di semua jenjang. Ditengah tengah problem internal pendidikan Islam khususnya dukungan dana dan persepsi masyarakat, TPQ dengan metode Qiro’ati tetap eksis bahkan semakin berkembang dalam pengelolaan dan peningkatan kualitas dalam proses pembelajaran, kualifikasi tenaga pengajar (ustadz/ustadzah) dan kualitas lulusan.

 Secara umum dapat digambarkan pengelolaan dan peningkatan mutu TPQ metode Qiro’ati sebagai berikut:

Pertama, Pola pembelajaran menggunakan pola tematik dan dikelompok berdasarkan jenjang atau jilid, sehingga peserta didik sangat mudah untuk memahami  pelajaran yang disampaikan. Langkah ini merupakan proses untuk mempertahankan dan meningkat mutu proses pembelajaran. Peserta dididk mengetahui secara jelas tahapan materi yang akan dipelajari, sehingga siswa bisa belajar sebelumnya. Dari pola seperti inilah maka peserta dididk cepat untuk mengenal dan membaca al qur’an secara fasih sesuai dengan ketentuan tatabahasa (tajwid).

Kedua, Kualifikasi tenaga pengajar. TPQ  dengan metode Qiro’ati selalu menjaga kualitas membaca al qur’an (kefasihan) dan kemampuan mengajarkan al qur’an dengan metode Qiro’ati. Hal ini dilihat dari adanya organsiasi yang dibentuk untuk membina kemampuan membaca al qur’an dan ketrampilan mengajarkan al qur’an yang sesuai dengan metode Qiro’ati yaitu adanya Lembaga Pengajar Guru Qiro’ati (LPGQ) yang melakukan pertemuan secara rutin bulanan.

Ketiga, Kompetensi tenaga pengajar. TPQ metode Qiro’ati memiliki ketentuan untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensi para tenaga pengajar. Semua tenaga pengajar di TPQ metode Qiro’ati harus lulus dan bersertifikat yang dikeluarkan pengurus Qiro’ati di tiap tiap kabupaten. Guru atau tenaga pengajar yang belkum memiliki sertifikat lulus fasih membaca alqur’an versi Qiro’ati tidak diperbolehkan mengajarakn Qiro’ati di TPQ metode Qiro’ati. Setiap tiga bulan sekali, seluruh tenaga pengajar di lakukan pengetesan kemampuan membaca al qur’an, untuk diketahui kualitas kefasihan membaca alqur’an, jika tenaga pengajar mengalami kemunduran atau penurunan kualitas kefasihan, maka tidak diperbolehkan mengajar di TPQ metode Qiro’ati.

 Keempat, metode ujian akhir. TPQ metode Qiro’ati, menerapkan sistem ujian akhir secara bertahap, yaitu ujian dihadapan penguji, ditingkat lokal lembaga TPQ dan ditingkat kecamatan. Sehingga peserta didik dapat dinyatakan lulus harus lulus dalam ujian lokal tingakat TPQ dan ujian ditingkat kecamatan. Tahap akhir, peserta didik harus dites atau diuji secara terbuka dihadapan masyarakat umum yang hadir dalam proses wisuda.

Berdasarkan gambaran umum tersebut diatas, TPQ metode Qiro’ati memiliki sistem yang baku untuk menerapakan dan meningjatkan mutu secara utuh dan kompreehnsif, mulai dari sistem seleksi, sistem pembelajaran dan sistem ujian serta sistem kualifikasi dan kompetensi tenaga pengajar.  Keunikan yang dilaksanakan TPQ metode Qiro’ati perlu dikembangkan dan keketahui masyarakat umum agar apa yang diterapkan di TPQ metode Qiro’ati dapat dilakukan juga di lembaga pendidikan lain baik pendidikan formal maupun non formal.

  1. Mutu Menurut Pandangan Pengelola TPQ Qiro’ati

Secara umum mutu dipahami sesuatu yang sesuai harapan. Apa yang diharapkan bisa menjadi keinginan itu bagian dari mutu. Mutu juga dipahami sesuatu yang terbaik bag manusia. Hal ini sesuai Firman Allah Dalam Al Qur’an Surah Ali Imran ayat 110 “ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar dan beriman kepada Allah “. Berdasarkan ayat ini, dijelaskan bahwa manusia yang bermutu adalah yang mau dan mampu atau komitmen untuk mengajak kepada kebaikan/kebenaraan dan mencegah atau mengingatkan kepada keburukan/kejahatan. Target akhir yang diperoleh terwujudnya komitmen mempertahankan dan terus mengembangkan keimanan kepada Allah swt.

Para pengelola TPQ Qiro’ati memahami bhawa mutu adalah sesuatu yang dekat atau melekat dalam masyarakat. Artinya apa yang dianggap baik oleh masyarakat maka dianggap baik oleh TPQ Qiro’ati. Proses pengelolaan dan pembelajaran selalu diorientasikan untuk memenuhi anggapan amsuyarakat tentang kebaikan dan kualitas. Tugas utama para pengelola TPQ Qiro’ati tidak cukup memberikan pesan atau janji melainkan harus benar benar mampu memberkan bukti bukti yang bisa memebrikan atau meyakinkan masyarakat.

Berdasarkan wawancara 22 maret 2017 kepada Koordinator TPQ Qiro’ati Kabupaten Kudus (KH. Mustain Yanis) dikatakan “ Pendiri TPQ Qiroati  Almarhum KH Dachlan Salim Zarkasyi, selalu  mengatakan bahwa masyarakat pada hakekatnya tidak butuh janji janji tetapi lebih membutuhkan bukti. Kami yakin masyarakat secara pelan pelan akan semakin banyak yang tertarik  kepada TPQ qiroati setelah mengetahui mutu lulusan dari TPQ Qiroati. Langkah kami tidak terlalu rumit yaitu dengan cara menunjukkan kepada masyarakat tentang kualitas lulusan atau hasil TPQ Qiroati yaitu dengan cara pada saat ujian /Imtas  dipublikasikan di hadapan masyarakat dengan diuji oleh guru atau tim dari kecamatan dengan disaksikan banyak orang (masyarakat).”

Hal yang sama dikatakan KH. Halimi, bahwa mutu bagi TPQ Qiro’ati adalah masyarakat. Karena TPQ Qiro’ati dan juga TPQ lainya memiliki “ruh” pesantren dan komitmenya adalah meneruskan perjuangan para ulama dan kiai. Melalui wawancara tanggal 10 April 2017, dikatakan “Ruh TPQ Qiro’ati adalah pesantren dan Kiai, oleh sebab itu kami harus selalu mengikuti apa yang telah dilakukan para ulama dan kiai. Apa yang di cintai Kiai?, menurtu saya yang sangat dicintai Kiai dan yang selalu didekati Kiai adlaah masyarakat, karena para kiai memiliki tugas mulia mengajak untuk meningkatkan keimanan kepada Allah swt”.

Pandangan atau konsep Mutu menurut pengelola TPQ Qiro’ati sejalan dengan kosnep Mutu menurut Edward Deming, dimana Mutu diartikan kesesuaian dengan kepuasan pelanggan (masyarakat). Mutu dianggap terwujud jika masyarakat atau pelanggan merasa puas dengan proses dan produk yang dilakukan suatu perusahaan/lembaga.

Jika diterapkan dalam dunia pendidikan Islam, mutu pendidikan Islam dianggap terwujud jika masyarakat memberikan kepercayaan kepada lembaga dengan cara berbondong bondong mengirim putra putrinya untuk menuntut ilmu di lembaga pendidikan. Dengan demikian, TPQ Qiro’ati dikatakan bermutu jika masyarakat lebih banyak mengirim putra putrinya untuk menuntut ilmu di TPQ Qiro’ati.

  1. Proses Pembelajaran TPQ Metode Qiro’ati.

Menurut logika pendididikan sebagai sebuah sistem, mutu atau keberhasilan ditentukan oleh berbagai aspek dimana masing masing aspek memiliki peran yang berbeda satu dangan lainnya. Aspek pembelajaran memiliki peran sangat signifikan disbanding dengan aspek lainnya. Hal didasarkan asumsi bahwa pembelajaran adalah suasana dimana berbagai aspek saling bertemu untuk saling mempengaruhi. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar ( UU nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 20).

Para pengelola TPQ Qiro’ati menyadari bahwa proses pembelajaran memiliki peran sangat besar dalam meraih kualitas seperti yang diharapkan. Perhatian terhadap proses pembelajaran sangat besar dalam rangka mencapai mutu yang diharapkan. Konsistensi dalam menentukan syarat kualifikasi dan kompetensi sangat besar, sehingga semua ustadz/ ustadzah harus benar benar mampu mempertahankan dan mengembangkan kualifiaksi dan kompetensi yang dipersyaratakan agar bisa tetap terus menjadi Ustadz/Ustadzah di TPQ Qiro’ati.

Koordinator Wilayah Kabupaten Kudus KH. Mustain Yanis mengatakan bahwa TPQ Qiro’ati menaruh perhatian besar dalam hal konsistensi kepemilikan kualifikasi dan kompetensi para Ustadz/Ustadzahnya. TPQ Qiro’ati memiliki standar kualifikasi dan semua Ustadz/Ustadzah wajib memiliki sertifikat (Syahadah) yang dikeluarkan Qiroati setelah mengikuti pelatihan dalam waktu tertentu dan dinyatakan lulus dan layak sebagai Ustadz/Ustadzah di TPQ Qiro’ati. “ kami punya ketentuan pak, semua Ustadz dan Ustadzah yang mengajara di TPQ Qiroati, wajib lulus pendidikan dan pelatihan sebagai Guru TPQ Qiroati yang dinyatakan dengan perolehan setitikat atau biasa di sebut syahadah. Tidak peduli itu sarjana (S1) atau Pascasarjana, kalau ingin melamar menjadi Ustadz/Ustadzah di TPQ Qiroati ya dites dulu, untuk diketahui kemampuan atau kelayakan menjadi Ustadz/Ustadzah. Jadi tidak asal terima (rekrut) Ustadz/Ustadzah” (wawancara tanggal 26 maret 2017).

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar ( UU No 20 tahun 2003, pasal 1 ayat 20). Para pengelola TPQ Qiro’ati memandang bahwa proses pembelaharan memiliki arti sangat penting dalam melahirkan mutu pendidikan, artinya semakin berkualitas dalamproses pembelajaran akan semakin besar peleuang kualitas pendidikan. Berdasarkan rumusan undang undang sistem pendidikan inilah, para pengeoola TPQ Qiroati memiliki perhatian dan komitmen tinggi dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan Focus Group Discussion (FGD) bersama ustadz/ustadzah dan pengelola TPQ Kecamatan Bae Kabupaten Kudus pada bulan oktober 2017, diperoleh beberapa hal sebagai berikut;

Pertama, Kualitas Ustadz/Ustadzah sangat menentukan kualitas pembelajarand an pendidikan, oleh sebab itu para Ustadz/Ustadzah TPQ Qiroati harus benar benar memiliki kualifiaksi dan kompetensi sesuai yang ditentukan. Kualifiaksi Ustadz/Ustadzah harus memiliki syahadah (sertifikat) dari pengelola TPQ yang diperoleh melalui pelatihan. Dalam memperoleh syahadah dalam kurun waktyu yang bervariasi, ada yang mencapai 3 tahun, bahkan 4 tahun. Salah satu Ustadzah TPQ Qiro’ati Nasrul Ummah II Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae Kudus bernama Istifaiyah, S.Ag mengatakan bahwa untuk memiliki syahadah, harus memerlukan waktu 4 tahun, sama dengan masa perkulihannya di jenjang Sarjan (S1), Ustadzah lainnya bernama Ruaidah, S.Pd.I lebih lama disbanding Istifaiyah, S.Ag, yaitu sampai mencapai waktu 5,5 tahun baru dinyataakn lulus dan memiliki syahadah. Hal ini menandakan seriusnya proses  dan kreteria seseorang Ustadz/Ustadzah untuk bisa dinyatakan layak sebagai Ustadz/Ustadzah di TPQ Qiro’ati.

Kedua, jumlah kelas atau bisa di sebut Rombongan belajar (Rombel) ditentukan setiap satu Ustadz/Ustadzah mengajar maksimal 20 santri. Walaupun ditentukan setiap 1 Ustadz/Ustadzah mengajar maksimal 20 santri, tetapi keenyataannya dari pengelola TPQ menekankan pada jumlah maksimal 15 santri. Hal ini diharapkan agar kualitas pembelajaran benar benar dapat dijaga, dipertahankan dan dikembangkan.

Ketiga, Materi pembelajaran tidak hanya materi yang berkaitan dengan kemampuan maca tulis al qur’an melainkan meliputi materi yang berkaitan dneagn kemampuan menjalankan nilai nilai agama di dalam keluarga dan masyarakat. Selain di ajari tentang baca tulis alqur’an, para santri juga diajari tentang berbagai bacaan dan hafalan do’a  kehidupan sehari hari, kemampuan memimpin tahlil, dan etika dan kepribadian dalam bergaul kepada kedua orang tua, keluarga dan masyarakat.

Keempat, ketuntasan penguasaan materi dilakukan dengan cara optimal dan sempurna, yaitu para santri dinyatakan naik atau pindah halaman jika benar benar lancer dalama membaca dan benar dalam mahrujul hurufnya, sehingga tidak semua santri setiap hari bisa dinyatakan naik atau pindah halaman materi pembelajaran atau buku jilid qiro’ati. Kemampuan dan ketrampilan santri dalam mempraktikan mahrujul huruf benar benar menjqdi indikasi untuk menyatakan santri layak di nyatakan pindah halaman buku jilid qiro’ati atau tidak.

  1. Pembinaan Kualifikasi dan Kompetensi Guru TPQ metode Qiro’ati.

Kemampuaan dan kompetensi Ustadz/Ustadzah TPQ Qiro’ati selalu dipantaudan diawasi, apakah para Ustadz/Ustadzah benar benar masih memiliki kemampuan dan ketrampilan membaca dan menulis alqur’an atai tidak. Walaupun sudah mendapatkan syahadah dan dinyatakan layak sebagai Ustadz/Ustadzah, jika dalam kurun waktu tertenu setelah di evaluasi ternyata kemampuannya berkurang, maka diperlakukan berbagai langkah untuk membina, jika setelah di lakukan pembinaan ternyata kemampuan membaca dan menulis alqur’an tidak ada perkembangan (progress) maka sertifikat yang sudah pernah di terima ditarik dan dinyatakan tidak layak menjadi tenaga pengajar di TPQ Qiro’ati.

Wawanca dengan KH. Halimi (Koordinator Materi TPQ ) pada tanggal 12 april 2017 menyatakan bahwa pihak pengelola TPQ memiliki jadual secara periodik untuk melihat, mengecek dan memantau kemampuan baca tulis al qur’an untuk semua Ustadz/Usdtadzah yang ada di TPQ Qiro’ati.  “ Begini Pak. Kami dari TPQ Qiro’ati itu memiliki tradisi atau aturan untuk memantau kemampuan BTQ bagi para Ustadz/Ustadzah disetiap jenjang, ditingkat kecamatan dan tingkat kabupaten bahkan ditingkat pusat,  tujuanya selain untuk ajang silaturrahiim juga untuk memantau kemampuan para Ustadz/Ustadzah dalam belajar atau meningkat kemampuan BTQ”.

Pembinaan kualifikasi dan sekaligus kompetensi merupakan wujud nyata komitmen pengelola TPQ Qiro’ati dalam mempertahankan dan terus mengembangkan kualitas bagi para tenaga pendidiknya. Hal ini didasarkan bahwa kualitas tenaga pendidik memiliki peran sangat besar dalam melahirkan kualitas bagi lulusan.

Forum pembinaan kepada para Ustadz/Ustadzah dilakukan secara formal dalam artian dilaksanakan secara terstruktur dan rutin. Dalam wawancara dengan KH. Mustain Yanis (Koordinator TPq Tingkat kabupateb Kudus) tanggal 16 oktober 2017  dijelaskan “ Forum yang dijaidkan ajang untuk memantai mutu para Ustadz/Ustadzah dbernama  Majelis Mua’allimil Qur’an (MMQ) yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan sekali dikuti semua Ustadz/Ustadzah TPQ Qiro’ti. Tempat berlansungnya MMQ berpindah pindah dari satu TPQ ke TPQ lainya. Materi MMQ menekankan kegiatan  membaca al-Qur’an secara tartil, dari juz 1-30”.

Berdasarkan data di atas, dapat dikatakan bahwa mutu dalam kualifikasi dan kompetensi para Ustadz/Ustadzah TPQ Qiro’ati benar benar dilaksanakan secara optimal, utuh dan komprehensif. Optimal artinya target yang diharapkan tidak cukup memenuhi standar yang ditentukan tetapi diatas yang ditentukan. Utuh mengandung maksud mutu yang diharapkan tidak cukup hanya dalam satu aspek tetrtentu melainkan menyangkut berbagai aspek. Komprehensif berarti mutu yang diharapkan dilakukan oleh berbagai elemen.

Kualifikasi dan kompetensi para Ustadz/ Ustadzah TPQ Qiro’ati memiliki jaminan mutu yang dapat dihandalkan. Setidaknya dalam pandangan Suwito (2015:15) yang mengatakan bahwa mutu memiliki tiha hal, pertama, proses mengajak dan mengarahkan untuk mencapai tujuan yang diharapkan, kedua, mutu adalah bagian dari komunikasi dengan berbagai elemen pendidikan dana ketiga, mutu bagian dari gaya kepemimpinan dalam mengoptimalkan atau memberdayakan potensi yang dimiliki. Forum MMQ memiliki  tiga makna mutu yang digambarkan oleh Suwito. MMQ selain bentuk dari gaya kepemimpinan dan cara komunikasi, juga memiliki tujuan untuk mengajak dan mengarahkan agar kualitas bacaanm dan tulisan para Ustadz/Ustadzah TPQ Qiro’ati benar benar tetap terjaga dan dapat dipastikan dapat dikembangkan secara optimal.

Pendidikan Islam seperti TPQ Qiro’ati secara kelembagaan dan sosial memiliki tujuan sangat mulia yaitu ingin melahirkan lulusan (santriwan/wati) yang tidak hanya terampil dalam membaca dan menulis serta melafalkan do’a-do’a harian melainkan harus mampu melahirkan sosok manusia yang utuh baik dari aspek kecerdasan intelektual (kognitif), kecerdasan sikap kepribadian (afektif) maupun kecerdasan fisik/otot (psikomotorik).

  1. Saekan Muchith (2006: 22) dalam buku Issu Issu Kontemporer Pendidikan Islam, menjelaskan bahwa pendidikan agama Islam harus melebihi pendidikan umum (non pendidikan Islam), karena pendidikan umum secara normatif memiliki tujuan sangat mulia baik yang menyangkut aspek fisik maupun non fisik, oleh sebab itu pendidikan Islam harus melebihi target yang ditentukan oleh pendidikan umum. TPQ Qiro’ati akan memberikan bukti nyata bahwa dilihat dari aspek proses dan produk/hasil bisa melebihi target yang ditentukan oleh pendidikan diluar pendidikan Islam.

Kelebihan dalam berbagai aspek yang dimiliki TPQ Qiro’ati jika dibanding dengan pendidikan lainnya akan sangat mudah terwujud, karena tenaga pendidik yang menjadi faktor dominan memiliki kualifikasi dan kompetensi yang selalu dipantau, diarahkan dan dikembangkan secara rutin dan sistematis. Profesi Guru dan Dosen yang memiliki ikatan dan kompensasi lebih besar belum memiliki aturan dalam pengawasan kualitas kompetensi secara rutin dan sistematis seperti halnya yang dilakukan dilingkungan TPQ Qiro’ati. Belum pernah ada forum formal yang memiliki kewenangan untuk mencabut sertifikat profesi pendidik (Guru dan Dosen) karena dinyatakan kompetensi pendidikannya menurun.

  1. Evaluasi (Ujian) Bagi Santri TPQ Metode Qiro’ati.

Proses pendidikan memiliki tiga poros yang tidak bisa ditinggalkan yaitu Input, Proses dan Output. Kesempurnaan ketiga poros tersebut akan terwujud jika dilakukan proses evaluasi. Karena evaluasi merupakan proses untuk memberikan kepastian kualitas yang dimiliki lembaga pendidikan. Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 menjelaskan bahwa evaluasi adalah keegiatan pengendalian, penjaminan dan pemetaan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggung jawaban penyelenggaraan pendidikan. (Pasal 1 ayat 21).

Dalam perspektif ilmu manajemen, evaluasi selalu diletakan di tahapan terakhir karena evaluasi berfungsi untuk mengetahui, memetakan dan mengendalikan mutu yang telah ditetapkan. Evaluasi atau disebut imtaz dilakukan dengan cara yang utuh dan komprehensif sehingga benar benar bisa melahirkan kualitas lulusan yang dapat dihandalkan. Sistem ujian (imtaz) bagi santri TPQ Qiro’ati memiliki perbedaan yang unik jika disbanding dengan lainnya. Berdasarkan wawancara dengan Kepala TPQ Nahrul Ummah II Desa Ngembalrejo tanggal 11 juli 2018, diperoleh data bahwa proses ujian  (imtas)  dilakukan dengan tiga tahap, pertama imtas ditingkat lembaga yaitu ujian dihadapan Ustadz/Ustadzahnya sendiri, kedua imtaz ditingkat kecamatan dengan penguji koordinator TPQ tingkat kecamatan, dan sekaligus dilakukan pembinaan jika santri belum mencapai kreteria nilai yang ditentukan. Nilai minimal dinyatakan lulus jika santri memperoleh nilai 9 (Sembilan), bagi santri yang belum mampu meraih nilai 9 (Sembilan) diberi kesempatan ujian tiga kali. Ketiga, imtaz ditingkat kabupaten (cabang). Pada tahap inilah yang menentukan apakah santri layak atau tidak dikutkan haflah (wisuda).

Proses ujian yang dilakukan dengan berbagai tahap, dan dengan prosedur dan kreteria yang jelas dan kongkrit secara prediktif akademik akan mampu melahirkan lulusan yang berkualitas. Tahapan yang berjenjang dengan penguji yang berbeda dapat menjadi sarana penguatan kemampuan psikologis (mental) ara santri.

Selain tahapan yang berjenjang, materi ujian meliputi 8 (delapan) bahasan (bab) antara lain:

  1. Fashohah
  2. Tartil
  3. Ghorib Qur’an
  4. Tajwid
  5. Surat Pendek
  6. Do’a doa harian
  7. Wudlu dan
  8. Sholat

Selain tahapan yang berjenjang dan materi yang lengkap, proses ujian para santri juga bersifat terbuka (promosi) yaitu pada saat wisuda (haflah). Para santri yang dinyatakan lulus, pada saat haflah dites secara terbuka dihadapan forum dan peserta atau orang tua juga dipersilahkan ikut menguji dengan materi sesuai ruang lingkup 8 (delapan) bahasan tersebut. Oleh sebab itu kemampuan dan ketrampilan santri dalam memahami materi akan sangat mudah diketahui oleh masyarakat.

  1. Pengembangan Kelembagaan TPQ Metode Qiro’ati

TPQ Metode Qiro’ati tidak hanya berhenti pada proses pembelajaran baca tulis al qur’an secara benar dan tepat dari sisi mahrujul huruf (tafwid), melainkan berkembang kepada kemampuan menghafal alqur’an secara cepat, teat dan benar dari aspek mahrujul huruf (tajwid).

Menyiapkan kader akder penghafal alqur’an (Hafidz/Hafidzah) merupakan langkah strategis dan taktis di era globalisasi yang dikelilingi peluang manusia untuk melakukan kejahatan. Menghafal al qur’an bisa membentengi ahlaq atau kepribadian manusia dari segala hal yang berpotensi merugikan dirinya sendiri dan masyarakat. Para penghafal al qur’an akan menjadi manusia yang sempurna diantara manusia lainnya. Sesuai sabda Rasulullah Saw “sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari Muslim).

Kemulyaan yang diperoleh dari hafal Al qur’an akan berimplikasi kemulyaan  derajat dalam kehidupan dunia dan akherat. Oleh sebab itu setiap orang yang hafal al qur’an lebih diutaman sebagai imam atau pemimpin suatu kaum (masyarakat. Sesuai sabda Rasulullah Saw, “ Yang mengimami suatu kaum adalah yang paling banyak hafalan Kitab Allah. kalau dalam bacaan (hafalan) itu sama, maka yang lebih mengetahui sunnah. Kalau dalam sunah sama, maka yang paling dahulu hijrahnya. Kalau dalam hijrahnya sama, maka yang paling dahulu masuk Islam. Dan jangan seseorang menjadi Imam atas saudaranya dalam kekuasaannya. Dan jangan duduk di tempat duduk khusus di rumahnya kecuali atas seizinnya. (HR. Bukhari Muslim).

Hadis yang diriwayatkan oleh Amir bin Wailah dijelaskan “sesungguhnya Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan Umar di Asfan. Dimana dahulu Umar telah mengangkatnya di Mekkah. Maka beliau mengatakan, “Siapa yang anda angkat untuk penduduk wadi (Mekkah)? Maka dia menjawab, “Ibnu Abza? (Umar) bertanya, “Siapa Ibnu Abza? Dijawab, “Diantara budak-budak kami. Berkata, “Apakah anda angkat untuk mereka seorang budak? Dijawab, “Beliau pembaca (penghafal) Kitab Allah Azza Wajalla dan beliau pandai dalam bidang ilmu Faroid (ilmu warisan). Maka Umar mengatakan, “Maka sesungguhnya Nabi kamu semua sallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Kitab ini suatu kaum dan merendahkan kaum lainnya.” (HR. Muslim).

Akibat kemulyaan yang dimiliki setiap penghafal alqur’an maka dalam kehidupan sehatri harinya akan diteman para malaikat. Sesuai sabda Rasulullah Saw “Perumpamaan orang yang membaca Qur’an sementara dia telah menghafalkannya. Maka bersama para Malaikat yang mulia. Dan perumpamaan yang membaca dalam kondisi berusaha keras (belajar membacanya) maka dia mendapatkn dua pahala.’ (HR. Bukhori Muslim).

Begitu besarnya keunggulan manusia yang hafal alqur’an maka TPQ qiroati memiliki komitmen untuk melakukan pengembangan kelembagaan dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan baca tulis alqur’an para santri. Artinya para santri yang sudah lulus dari TPQ Qiro’ati harus memiliki semangat untuk mengembangkan kemampuan pengetahuan dan pemahaman tentang alqur’an.

Pengelola TPQ Qiro’ati memberikan kesempatan dan fasilitas kepada para lulusanya untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan mengetahui, memahami dan mengaplikasikan Al Qur’an. Berdasarkan wawancara dengan Koordinator TPQ Qiro’ati Tingkat kabupaten Kudus (KH. Mustain Yanis al Hafidz) pada tanggal 16 april 2017 dijelaskan bahwa  TPQ Qiroa’ti yang menekankan pada ketrampilan baca tulis alqur’an bisa dikembangkan menjadi penghafal Al Qur’an (hafidz) tanpa harus mondok (meninggalkan rumah) dalam waktu tertentu. “ Begini Pak.. kalau selama ini masyarakat beranggapan, kalau anaknya ingin menjadi hafidz atau penghafal alqur’an itu harus mondok atau meninggalkan rumah sampai bertahun tahun. Lha.. TPQ Qiro’ati ingin memberikan bukti bahwa manyarakat yang ingin menjadi hafidz tidak harus meninggalkan rumah dalam kurun waktu tertentu. TPQ Qiro’ati dengan metode yang dimiliki bisa memberikan jaminan, anak anak bisa hafal alqur’an dengan tetap bisa sekolah formal, bisa tetap membantu pekerjaan orang tua di rumah”.

 Program pengembangan TPQ Qiro’ati bernama Pasca TPQ Tahfidz atau disingkat dengan TPQT dan pasca TPQ Diniyah atau disingkat TPTD. TPQT dan TPQD ini melaksanakan metode pembelajaran yang bisa menjamin para santri bisa hafal Al Qur’an dalam waktu yang relatif singkat. TPQT diwujudkan dalam pendidikan formal (sekolah) bernama SD Qiroati dan SMP Qiroati yang memiliki perbedaan dengan SD dan SMP selain Qiroati. Perbedaannya dengan lainya, SD dan SMP Qiroati memiliki pelajaran yang sama dengan SD dan SMP lainya, pernbedaanya SD dan SMP Qiroati pada saat lulus memiliki target hafal Al Qur’an denagn jumlah juz tertantu. Jika sekolah di SD dan SMP Qiroati selama 9 tahun, maksimal dapat dipastikan sudah hafal alqur’an sebanyak 30 Juz. Pada usia  15 tahun jika anak disekolahkan di SD dan SMP Qiroati dipastikan sudah menjadi penghafal Al Qur’an dengan tidak harus meninggalkan sekolah formalnya.

Bagi masyarakat yang tidak senang dengan sekolah formal, maka TPQ Qiroati menyedikan bentuk pendidikan non formal bernama Diniyah, yaitu lembagaa pendidikan dibawah pengelolaan Qiroati yang menerima para sanatri lulusan TPQ Qiroati dnegan penekannya menghafal alqur’an dalam waktu 3 tahun atau setara dnegan SMP/MTS.

TPQ Qiro’ati salah satu lembaga pendidikan Islam di kabupaten Kudus Jawa Tengah yang bisa menyakinkan masyarakat tentang kualitas proses dan hasil pendidikan, karena  mampu memberikan tawaran  dan sekaligus bukti TPQ Qiro’ati benar benar menjungjung tinggi dan berkomitmen terhadap mutu pendidikan. Hadirrnya TPQ Qiro’ati dalam pandangan Abuddin Nata (2012:377)  disebut sebagai proses mendeteksi, dan mengatasi semua kelemanahan atau penyakit umat Islam.

Realitas Obyektif, umat Islam memiliki banyak kekuranagan yang harus segera di selesaikan melalui jalur jalur pendidikan informal, formal dan non formal. Kekurangan yang mendesak dihadapi menyangkut tentang cara pandang atau pemahaman dan aplikasi nilai nilai ajaran Islam kedalam realitas kehidupan sosial. M. Saekan Muchith (2016:171-172), akar persoalan umat Islam seperti radikalisme diawali dari pemahaman nilai nilai agama yang bersifat tekstualis seperti perintah perang (QS Al Baqarah :193), perintah memerangi atau membunuh orang kafir (QS. Muhamad : 4), perintah memerangi kepada orang orang yang tidak beriman (QS.at Taubah : 29).

Berbagai kekurangan atau kelemahan yang dimiliki masyarakat harus di selesaikan melalui jalur pendidikan. Dengan asumsi sistemik, pendidikan adalah proses menjadikan manusia lebih sempurna secara fisik dan non fisik (lahir batin). Salah satu hal yang tidak boleh dilupakan dan dihilangkan dari proses pendidikan adalah terwujudnya budaya perusahaan (company culture) yaitu proses membangun sistem nilai, kepercayaan dan kebiasan secara terus menerus yang meliputi persoalan intelektualitas, sikap kepriabdian (moral) dan perilaku atau tindakan. Kualitas yang utuh dari pendidikan menyangkut tentang persoalan tradisi atau budaya kehidupan manusia yang meliputi cara fikir, sikap, tindakan, produk pemikiran dan juga produk ketrampilan fisik (artifax). Syahu Sugian (2006: 231)  mengatakan Total Quality Mutu (TQM)  adalah realitas budaya yang dimiliki suatu perusahaan yang berkaitan dengan system nilai, kepercayaan dan keyakinan serta kebiasaan baik yang melekat secara terus menerus dalam diri karyawan.

Proses pendidikan yang dilakukan TPQ Qiro’ati mulai dari perencanaan sampai dengan out put dan pengembangan kelembagaan akan mampu melahirkan sosok kepribadian manusai secara utuh dalam aspek fisik maupun non fisik. Dengan berbagai tahapan yang cukup ketat, maka pendidikan Islam seperti TPQ Qiro’ati akan melahirkan manusia yang berfikir besar, berjiwa besar dan berorientasi jauh kedeman untuk membangun masa depan. Indonesia memerlukan para pemimpin dan warga masyarakat yang tidak saja memiliki pengetahuan tetapi benar benar mampu mengamalkan nilai nilai yang di ambil dari realitas kehidupan masyarakat.

  1. Saekan Muchith (2017:8-9), Pendidikan Islam sekurang kurangnya memiliki 4 (empat) aspek yang tidak boleh di tinggalkan yaitu aspek transcendental, rasional, moral dan teknologi. Sebagai perwujudkan bahwa pendidikan adalah proses humanisasi, maka empat hal dalam pendidikan harus selalu melakat dalam proses dan hasil.
  2. Kesimpulan
  3. Mutu yang dipahami oleh para pengelola TPQ metode Qiro’ati, tidak hanya bersifat fisik dan non fisik  melainkan lebih ditekankan kepada kepuasan atau kepercayaan dari masyarakat.
  4. Mutu pendidikan Islam yang ada di dalam proses pembelajaran TPQ metode Qiro’ati didukung dnegan kualifikasi dan kompetensi para Ustadz/Ustadzah yang sangat ketat sehingga kemampuan dan ketrampilan para Ustadz/Ustadzah benar benar dapat dipercaya.
  5. Mutu pendidikan Islam yang ada didalam pembinaan kualifikasi dan kompetensi guru TPQ metode Qiro’ati dilakukan secara rutin, sistematis dan mengikat. Artinya proses pembinaan benar benar berpengaruh kepada kualitas para Ustadz/Ustadzah karena jika ditemukan ada Ustadz/Ustadzah dinyatakan berkurang atau turun ompetensinya mendapat sanksi dicabut sertifikat (syahadah) sehingga dinyatakan tidak boleh menjadi Ustadz/Ustadxah di TPQ Qiro’ati.
  6. Mutu pendidikan Islam yang ada di dalam proses ujian bagi peserta didik TPQ metode Qiro’ati jauh berbeda dengan proses yang ada di dalam pendidikan pada umumnya. Dinyatakan lulus harus melalui berbagai tahapan dan materi yang cukup banyak serta di uji oleh berbagai elemen mulai dari Ustadz/Ustadxahnya sendiri, penguji tingkat kecamatan dan kabupaten serta penguji dari umum ada saat haflah (wisuda).
  7. Mutu pendidikan Islam yang ada di dalam pengembangan kelembagaan TPQ metode Qiro’ati, dilakukan secara sistematis karena antara TPQ dan lembaga pendidikan selanjutnya benar benar melakukan pengembangan baik dari aspek materi maupun target yang akan dicapai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

  1. Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan : Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Kencana, Jakarta, 2012
  2. Azumardi Azra, Pendidikan Islam : Tradisi dan Moderenisasi Menuju Milenium Baru , Logis Wacana ilmu, Jakarta, 1998.
  3. Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat pendidikan Islam, Maarif, Bandung, Jawa Barat, 1989.
  4. Edward Salis, Total Quality Management, Ircisod, Daerah istimewa Yogyakarta., 2007.
  5. Jerome S Arcaro, Pendidikan Berbasis Mutu, Prinsip prinsip dan tata langkah penerapan mutu, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006.
  6. Lexy J Moleong, Metode Penelitiaan Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung Jawa Barat, 1995..
  7. Muhaimin dkk, Manajemen Pendidikan dan Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, Prenada Media, Jakarta, 1995
  8. Saifudin Azis, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, Kalimedia,Yogyakarta, 2015.
  9. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung Jawa Barat, 2008.
  10. Saekan Muchith, Issu Issu Kontemporer Pendidikan Islam (buku Daros), tidak diternbitkan, STAIN Kudus.. 2006
  11. ————————–, Radikalisme Dalam Dunia Pendidikan (Jurnal Addin, edisi Februari ), STAIN Kudus Jawa Tengah, 2006.
  12. —————————, Kepemimpinan STAIN Kudus Berbasis Filosofi laut, STAIN Kudus Press, 2017.
  13. Suwito, Manajemen Mutu Pesantren, Deepublish, Sleman Yogyakarta, 2005.
  14. Nasution, Metode Penelitian Naturalistic Kualitatif, Tarsito, Bandung Jawa Barat, 1992.
  15. Syahu Sugian, Kamus Manajemen Mutu, PT Gramedia, Jakarta, 2006.
  16. Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003.
  17. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan.

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter