|  | 

RISET

Hasil Penelitian Tentang Wawasan Guru PAI

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Wawasan Keilmuan dan Wawasan Kebangsaan

(Studi Pada Guru PAI Kabupaten Kudus Jawa Tengah)

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran secara detail tentang wawasan atau cara pandang keilmuan dan wawasan kebangsan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang ada di kabupaten Kudus. Dengan diketahuinya kedua wawasan tersebut, akan dapat diketahui kualitas profesi yang dimiliki baik yang berkaitan dengan pengembangan keilmuan dan penguatan cinta tanah air Indonesia.

Metode penelitian mengunakan  metode kualitatif dengan tehnik pengambilan data melalui wawancara, angket dan Focus Group Discussion (FGD) yang diberikana kepada para Guru PAI di Kabupaten Kudus Jawa Tengah dengan jumlah sampel 108 Guru PAI yang terdiri dari Guru PAI Jenjang Sekolah Dasar (SD), jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK).

Hasil penelitian menggambarkan bahwa wawasan keilmuan dan wawasan kebangsaan Guru PAI di kabupaten Kudus tidak berfungsi secara simultan dan pararel, artinya belum tentu Guru PAI yang memiliki wawasan keilmuan tinggi diiringi dengan wawasan kebangsan yang tinggi, begitu juga sebaliknya. Namun secara umum wawasan kebangsan para Guru PAI relevan dengan penguatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kata Kunci : Wawasan Keilmuan, wawasan Kebangsaan, Guru PAI

 

Penulis adalah Dosen Pascasarjana (S2) IAIN Kudus Jawa Tengah.

 

 

Abstrac 

This study examined the understanding about the scientific insights and national insights of the teachers of Islamic Education in Kudus Regency. By understanding these two insights, the quality of teachers will be able to know how they can relate between scientific development and the strengthening of the nationality.

 The research method uses qualitative methods with data collection techniques through interviews, questionnaires and Focus Group Discussion (FGD) with teachers of Islamic Education in Kudus Regency, Central Java.  The sample of this study is around 108 teachers of Islamic Education at Elementary School (SD), Junior High School (SMP), and Senior High School (SMA / SMK).

The results of the study found that scientific insight and nationality insight of teachers of Islamic Education in Kudus Regency do not function simultaneously and parallel, The result show that it is not certain that teachers of Islamic Education who have high scientific insight are accompanied by high national insight, and vice versa. But in general the nationalist insight of the teachers of Islamic Education is relevant to strengthening the Unitary Republic of Indonesia (NKRI).

 Keywords: Scientific insight, Nationality insight, teachers of Islamic Education

 

Pendahuluan

Islam merupakan salah satu agama yang memiliki tujuan mulia untuk mensejahterakan kehidupan umatnya. menurut tokoh bernama Sayyid Quthub Islam dikatakan sebagai agama sempurna (kamil), agama paripurna (mutakamil) dan juga dikatakan sebagai agama universal (syamil). Menurut Kamus Pintas Agama Islam, Agama Islam diartikan sebagai bentuk kepatuhan, kepasrahan seseorang baik secara lahir maupun batin terhadap ajaran Allah swt dan ajaran yang dibawa Oleh Muhamamd Rasulullah saw.

Islam tidak cukup hanya dijadikan ajaran rutin atau seremonial bagi para pemeluk. Islam harus menjadi sistem kehidupan (spirit) yang berarti akan menjadi pedoman atau filosofi kehidupan sehingga apa yang dilakukan pemeluk agama sesuai apa yang dipesankan dalam ajaran agama (kitab suci). Islam harus dijelaskan atau disampaikan secara jelas agar umat Islam mampu memahami secara utuh apa yang seharusnya dilakukan dalam kehidupan sosial.

Menurut M. Saekan Muchith (2008 : 148-149), dijelaskan bahwa Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)  dilihat dari perspektif tuntutan profesinya memiliki tugas dan tanggungt jawab besar untuk melahirkan umat Islam yang mampu memahami Islam secara utuh sehingga Islam benar benar mampu menjadi agama yang kamil mutakamil dan syamil. Konsekuensinya, setiap guru PAI harus memiliki kompetensi seperti yang dipersyaratkan dalam undang undang yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogiek dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik adalah seperangkat kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh guru yang mencerminkan suasana hati atau psikologis dalam menjalankan tugas sehari hari. Kompetensi sosial adalah seperangkat pengetahuan dan ketrampilan yang berkaitan dengan interasksi atau komunikasi dengan pihak pihak lain. Kompetensi pedagogik adalah seperangkat pengetahuan dan ketrampilan yang berkaitan dengan interaksi belajar mengajar dengan peserta dididk. Kompetensi profesional adalah pengetahuan dan ketrampilan yang berkaitan dengan penguasaan materi secara utuh dan komprehensif. Guru dikatakan profesional jika memiliki penguasaan materi pokok atau formal dan materi pengayaan atau tambahan.

Guru PAI secara sosial memiliki tugas dan tanggung jawab menjadi inspirasi dan contoh kepada peserta dididk dan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dna bernegara. Sebagai profesi yang dikenal dengan akronim “di gugu dan ditiru”, harus mampu menunjukkan sikap, kepribadian dan berperilaku dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Antara Islam dan berbangsa atau bernegara memiliki keterkaitan yang sangat erat. Ibarat dua sisi mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan. Guru juga diharuskan mampu mengejawantahkan nilai nilai dari pendidikan yang selalu mengedepankan perubahan yang dimiliki oleh peserta didik baik perubahan secara fisik (kognitif), sikap kepribadian (affektif) dan ketrampilan mekanik (psikomotorik) (UUSPN Pasal 1 ayat 1).

Guru tidak cukup hanya bertindak sebagai pemindah pengetahuan (transfer of knowledge), guru haraus mampu berperan lebih luas dan komprehensif yaitu bertindak sebagai pembimbing, inspirasi, pendorong (motivator), contoh (uswah), pembuat keputusan, dan pemberi solusi terhadap persoalan yang dihadapi peserta didik. Luasnya peran yang dimiliki Guru maka konsekuensi pertama dan utama guru harus memiliki wawasan yang luas untuk mendukung optimalisasi peran profesi yang dimilikinya.

Karakteristik Guru agama Islam atau biasa di sebut Guru PAI memiliki  kewenangan lebih luas dibanding guru non PAI baik dalam menjalankan aktivitas persolan, sosial dan profesional. Karakteristik keilmuan Pendidikan Agama Islam berbeda dengan karakteristik ilmu non PAI. Karakter ilmu PAI bersifat Zigzag, sedangkan karakteristik ilmu non PAI bersifat linier. Artinya materi yang di miliki pendidikan agama Islam selalu berkaiatan dengan ilmu lain diluar dirinya. Sedangkan karakteristik ilmu non PAI tidak harus didukung dengan ilmu lain diluar dirinya. Contoh materi aqidah akhlaq dalam lingkup bahasan sholat akan lebih efektif jika dijelaskan dengan ilmu psikologi dan sosiologi. Ilmu psikologi diperlukan ketika menjelaskan tentang indikasi dari kreteris khusu’ yang menjadi barometer keberhasilan ibadah sholat. Sedangkan ilmu antropologi dan sosiologi sangat diperlukan  manakala untuk menjelaskan makna dari semua gerakan sholat mulai takbirotul ihram sampai dengan salam. Semua ibadah yang diajarkan dalam Islam selalu memiliki makna ritual dan sosial yang membawa konsekuensi hadirnya ilmu lain untuk menjelaskan tentang Islam yang ideal. Ilmu tafsir secara jelas memerlukan dukungan ilmu lain seperti psikologi dan sosiologi, karena ilmu tafsir tidak bisa dilepaskan dengan asbabun nuzul yang secara otomatis berbicara bagaimana situasi dan kondisi masyarakat atas turunnya ayat al qur’an. Ayat al qur’an diturunkan oleh Allah kepada Rasul Muhamamad saw  selalu memiliki konteks sosial yang melatarbelakangi. Sehingga guru PAI dalam menjelaskan dan mengajarkan tafsir harus memahami ilmu ilmu psikologi dan sosiologi (M. Saekan Muchith 2019 : 20-24).

Dalam proses pendidikan dan pembelajaran, Guru memiliki peran sangat dominan untuk mensukseskan kualitas pendidikan baik kualitas proses maupun out put. Guru dituntut memiliki bekal pengetahuan dan ketrampilan yang utuh dna komprehensif dalam menjalantugasnyas ebagai pendidik dan pengajar. Guru mata pelajaran memiliki tugas dan tanggung jawab menjelaskan dan memberi pemahaman peserta didik agar memiliki wawasan pengetahuan dan ketrampilan baik ketrampilan intelektual (kognitif) ketrampilan sikap kepribadian (affektif) dan ketrampilan mekanik (psikomotorik).

Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI), dilihat dari struktur keilmuan memiliki tugas dan tanggung jawab sangat luas dan besar.  Guru PAI diuntut menjalankan peran keilmuan, peran sosial dana peran keagamaan yang harus bersinergi secara  utuh dan komprehensif. Guru PAI memiliki misi menjalankan nilai nilai ajaran islam yang didalamnya memiliki sub materi yang lengkap dan menyangkut semua elemen kehidupan. Materi PAI tidak cukup hal hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial selama di dunia tetapi juga berkaitaan dengan hal hal kehidupan diakherat. Dengan demikian, misi profesi guru PAI secara akademik berkaitan dengan kehidupan dunia dan akherat.

Kehidupan dunia berkaitan bagaimana menjalani kehidupan sosial yang berkaitan dengan hubungan antar manusia (sosial), bagaimana bersikap antara manusia dengan lingkungan, bagaimana hubungan antar manusia dengan kekuasaan (negara/politik) dan bagaimana kaitannya manusia memperoleh dan menggunakan atau membelanjakan materi (uang) serta bagaimana manusia memanfaatkan teknologi informasi. Urusan dunia yang berkaitan dengan  ilmu pengetahuan, teknologi, sosial budaya, politik dan ekonomi secara umum menjadi tanggung jawab para Guru PAI. Hal ini didasarkan asumsi bahwa agama Islam didalamnya mengankut berbagai kehidupan manusia.

Kehidupan akherat juga menjadi urusan dan tanggung jawab guru PAI, karena agama mengajarkan hal hal yang berkaitan dengan kesejahteraan di dunia dna akaherat. Urusan akherat berarti berkaitan dengan tatacara berhubungan antara manusia dengan sang Pencipta (allah swt). Dengan kata lain guru PAI memiliki tugas yang berkaitan dnegan ubudiyah dan muamalah. Konsekuensinya Guru PAI harus memiliki kemampuan dan ketrampilan yang ideala dalam memberikan pemahaman materi kepada siswa. Guru PAI harus memiliki wawasan keilmuan yang optimal dan juga memiliki wawasan kebangsaan yang tepat. Artinya Guru PAI harus memiliki kesadaran untuk memebrikan kekuatan peserta didik dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berdasarkan asumsi tersebut, maka guru PAI mutlaq perlu memiliki wawasan atau pandangan yang luas dan tepat baik yang berkaitan dengan menjealskan atau memahamkan materi  maupun yang berkaitan dengan bagaiamana bersikap sebagai warga negara yang baik dalam artian memiliki wawasan kebangsan yang tepat. Antara agama dan  kebangsaan merupakan dua sisi mata uang logam yang tidak bisa di pisahkan, satu dnegan lainnya saling mengisi. Oleh sebab itu, maka menurut peneliti penting kiranya di temukan jawabannya tentang bagaimana profil atau kualitas wawasan keiljuan dan kebangsan guru PAI yang ada di kabupaten Kudus.

Untuk mencari jawab yang tepat tentang pentingnya wawasan guru PAI yang terkait dengan keilmuan agama Islam dan bagaimana etika berbangsa dan benegara maka penelitian ini diberi berjudul “ Wawasan Keilmuan dan Wawasan Kebangsaan Guru PAI di Kabupaten Kudus Jawa Tengah”.

Kajian Literatur

Wawasan Keislaman

Wawasan keislaman adalah cara fikir atau cara pandang terhadap sesuatu obyek yang terkait dengan keyakinan beragama (Islam). Artinya bagaimana pemeluk agama Islam  itu memahami makna atau simbol yang ada di dalam agama yang diyakini, oleh sebab itu wawasan keislaman  merupakan faktor dominan untuk melahirkan sikap dan perilaku pemeluk agama Islam (Umat Islam). ( Yunahar Ilyas dkk,1993: 135). Wawasan keislaman bagi Guru PAI memiliki makna tentang potret atau kualitas cara pandang Guru PAI terhadap pesan agama Islam yang ada di dalam Al Qur’an dan hadist.

Wawasan Kebangsaan

Wawasan Kebangsaan adalah cara pandang terhadap bangsa atau Negara, sehingga mampu melahirkan rasa memiliki (empati) kepada sebuah negara (nasionalisme). (Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online).  Wawasan kebangsaan bagi Guru PAI mengandung makna sosok atau potret pemahaman Guru PAI terhadap cara berbangsa dna bernegara. Wawasan kebangsaan yang tepat dan ideal bagi Guru PAI, akan memiliki pengaruh besar dal;am melahirkan sikaap dna perilaku peserta didik dalam berbangsa dan bernegara. Kualitas kebangsaan yang baik tidak akan mempertentangkan antara Islam dan Pancasila atau negara.

Metodologi

Penelitian dengan pendekatan kualitatif ini memiliki tiga rumusan permasalahan, pertama, bagaimana wawasan keilmuan Guru PAI di kabupaten Kudus Jawa tengah?, kedua, bagaaimana wawasan kebangsaan Guru PAI di kabupaten Kudus Jawa tengah/ dan ketiga, bagaimana orientasi pembelajaran Guru PAI untuk menguatkan wawasan keilmuan dan wawasan kebangsaan bagi peserta didik.

Peneliti ini dilakukan dengan mengambil sampel  100  guru PAI yang terdiri dari Guru PAI Sekolah menengah Pertama (SMP) dan Guru PAI Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Sekolah menengah kejuruan (SMK) yang ada di Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Tehnik pengambilan data dilakukan dengan  menyebaran angket semi terbuka, yaitu angket berisi pilihan tetapi juga ada kesempatan untuk memilih sendiri selain pilihan yang ditentukan oleh peneliti. Selain angket, peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa guru untuk menguatkan atau mendalami informasi yang terkait dengan rumusan masalah penelitian.

Penelitian ini difokuskan pada dua hal yaitu wawasan keilmuan dan wawasan kebangsaan. Wawasan keilmuan (keislaman)  yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan dan ketrampilan guru PAI dalam memahami dan menjelaskan keilmuan yang berkaitan dengan PAI yang terdiri dari empat aspek (a) Akidah Ahlaq (b) Al Qur’an dan Hadis (c) Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan  (d) Hukum Islam (fiqh). Materi agama tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus memerlukan penjelasan ilmu lain seperti psikologi, sosiologi, ilmu eksakta, ilmu manajemen. Wawasan keilmuan dimaksudkan menguatkan atau memperdalam  kemampuan dan ketrampilan guru PAI dalam pengembangan  profesi Guru PAI yang ideal.

Wawasan kebangsaan dalam penelitian ini mengandung makna tentang bagaimana kemampuan dan ketrampilan guru PAI mampu memposisikan dirinya terkait dengan jiwa nasionalisme (rasa memiliki suatu bangsa). wawasan kebangsaan ini di tandai dengan bagaimana cara pandnag guru PAI terhadap Pancasila sebagai dasar negara, bagaimana sikap bertoleransi dengan agama non muslim, pemahaman dan pengetahuan tentang pemberlakuan syariat Islam bagi bangsa Indonesia yang berdasarkan pancasila.

Menurut Sugiono (2001: 56) ada beberapa macam teknik sampling yang dapat digunakan dalam suatu penelitian. Penelitian ini menggunakan Sampel acak berdasar area, yaitu Guru PAI dimasing masing area SMP, SMA dan SMK dikelompokan sendiri kemudian masing masing area diambil sampel secara acak. Jumlah sampel sebanyak 100 Guru PAI yang terdiri dari Guru PAI SMP sebanyak 50, Guru PAI SMA 30 dan Guru PAI SMK sebanyak 20.

Hasil  dan Pembahasan

c.1 Wawasan keislaman Guru PAI

Setiap guru PAI harus memiliki kualitas materi keilmuan dalam bidang ilmu ilmu keislaman secara  utuh dan komprehensif. Hal ini didasarkan asumsi bahwa Guru PAI memiliki tugas utama menjelaskan, memahamkan dan mengamalkan ajaran islam baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain (peserta didik). Ilyas Ismail (2003:101) menjealskan secara umum ajaran Islam di kelompokkan menjadi dua hal yaitu ajaran pokok (dasar/normatif) dan ajaran tidak pokok atau pengembangan. Guru PAI setiap menjalankan tugas profesinya tidak akan lepas dari kedua ajaran tersebut. Artinya guru PAI pasti akan menjelaskan bagaimana peserta didik mengetahui dan memahami serta mengamalkan ajaran dasar/pokok di satu sisi, dan sisi lain guru PAI juga akan menjelaskan bagaimana agama (ajaran) Islam mampu dipahami dan dilaksanakan sesuai dinamika ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.

Wawasan keislaman guru PAI dilihat atau didasarkan dalam proses pembelajaran kepada peserta didik. Seberapa jauh Guru PAI memiliki  kemampuan untuk menjelaskan dan memahamkan agama Islam kepada peserta didik melalui proses pembelajaran.  Alasan peneliti melihat berdasarkan pembelajaran, karena pembelajaran memiliki pengaruh atau faktor dominan dalam mempengaruhi orang lain.

Terhadap pertanyaan tentang penekanan dalam pembelajaran “ Sebagai Guru PAI, apa yang anda tekankan pada saat melaksanakan pembelajaran? Mayoritas Guru PAI sebanyak 76 Guru PAI atau  76% memiliki pandangan  bahwa menjelaskan materi agama yang baik dan tepat sudah secara otomatis mengajarkan atau mendidik cara berbangsa yang baik. Sedangkan ada sebagian lagi sebanyak 20 Guru PAI atau setara dengan 20% mengatakan bahwa  menjelaskan cara berbangsa yang tepat juga sudah bagian dari ajaran Islam, sedangkan 4 Guru PAI atau setera dengan 4 % tidak menjawab atau tidak memebrikan jawaban. 

Berdasarkana data tersebut, dapat dikatakan bahwa Guru PAI di kabupaten Kudus telah memahami arti pentingnya pendidikan. Esensi pendidikan adalah bagaimana membimbing peserta didik dalam meraih pengetahuan dan ketrampilan (potensi) agar peserta didik mampu hidup bersama di masyarakat. hal ini dapat dilihat dalam rumusan penegrtian pendidikan seperti yang digariskan dalam Undang Undang sistem pendidikan ansional nomor 20 tahun 2003. hakekat pendidikan adalah melahirkan potensi peserta didik menjadi ketrampilan kehidupan baik yang berkaitan dengan agama maupun yang berkaiatan dengan berbangsa dan bernegara (Pasal 1 ayat 1)

Guru PAI dalam pembelajaran dapat dimaknai bahwa proses pembelajaran harus dilaksanakan secara sistematis yaitu materi yang disampaikan harus benar benar sesuai dengan jenjang keilmuan, jenjang psikologis dan jenjang sosial. John Dewey (2002:11-12) memiliki teori Pengalaman yaitu keberhasilan pendidikan ditentukan juga oleh sejauhmana peserta didik memiliki pengalaman yang nyata dari realitas kehidupan. walaupun tidak serta merta pengalaman itu menjadi bagian dari pendidikan. Guru harus mampu memilih dan memberikan/menghadirkan pengalaman yang relevan dengan misi pendidikan.

Terhadap pertanyaan hubungan antara Islam dan Pancasila “ Bagaimana hubungan pancasila dengan agama Islam?, Mayoritas Guru PAI, sebanyak 80 guru atau setara dengan  80 % Guru PAI  mengatakan bahwa pancasila dan Islam saling mengisi atau saling melengkapi karena substansi dari pancasila juga diajarkan dalam Islam seperti pentingnya keimanan/tauhid (sila pertama), pentingnya berbuat baik kepada sesama manusia (Hablum minan naas), (sila ke dua),Islam juga mengajarkan persatuan (sila ke tiga), Islam juga mengajarkan pentingnya musyawarah atau demokrasi (sila keempat) dan Islam sangat menjunjung tinggi keadilan secara merata dan proporsional (sila kelima).

Sebagaian lagi sebanyak 15  atau setara  15 % Guru PAI mengatakan bahwa menjalankan pancasila berarti menjalankan warga negara yang baik dan menjalankan Islam akan memperoleh kualitas keimanan dan ketaqwaan. Walaupun tidak bisa diberdakan secara total, sebenarnya antara pancasila dengan Islam masih terhadap hubungan yang relevan atau interaktif dan fungsional.

Sedangkan sebagian lagi sebanyak 5 atau setara dengan 5 % Guru PAI mengatakan bahwa pancasila menjadi urusan negara (publik) sedangkan Islam menjadi urusan pribadi minimal internal umat Islam sendiri. Sehingga pancasila dan Islam sesuatu yang berbeda.

Selain pengumpulan data melalui angket, peneliti juga melakukan wawancara dengan guru PAI yang lain, dengan harapan untuk melengkapi informasi lebih mendalam tentang wawasan yang dimiliki Guru PAI. Wawancara peneliti dengan Guru PAI SMK Wisudakarya diperoleh keterangan bahwa pembelajaran perlu adanya metode integratis atau perpaduan, agar hasil yang diperoleh bisa maksimal khususnsya persoalan keagamaan dnegan kebangsaan.

“ Guru PAI dalam pembelajaran harus memiliki penguasaan konseptual yang komprehensif dan tidak parsial. Islam perspektif kesejarahan yang dinamis serta mendialogkan konsep Islam dengan kebutuhan hari ini menjadi sangat penting dilakukan”(wawancara dengan Sholikhin Guru SMK Wisuda karya tanggal 6 juni 2018)”.

Berdasarkan data tersebut, berarti Guru PAI harus memiliki wawasan keilmuan lintas sektor atau lintas bidang, Tidak cukup hanya menguasai wawasan ilmu keislaman saja melainkan juga harus memiliki wawasan ilmu lain yang mendukung dengan pemahaman ilmu keagamaan.

Lebih lanjut Sholikhin menjelaskan bahwa :

“ Islam dan kebangasaan akan dapat dipahami jika dilakukan dengan metode yang terpadu, artinya Guru PAI harus mampu menggunakan metode yang bervariasi dan komprehensif” (Wawancara tanggal 6 juni 2018).

Selain menekankan kepada meteri, Guru PAI harus juga memahami dan mampu mengaplikasikan metode yang tepat dan komprehensif. Guru PAI selain berperan sebagai pendidik dan pengajar juga harus mampu memiliki sikap dan perilaku yang multi peran, karena guru tidak cukup hanya bertugas menyelesaikan persoalan keilmuan tetapi juga masalah sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Multi peran yang dimiliki oleh Guru PAI memberikan makna bahwa guru PAI harus “ serba bisa” karena karaketristik ilmu yang dimiliki ilmu keagamaan menuntut seseorang harus memiliki keilmuan yang multi peran.

Guru PAI tidak cukup hanya berperan atau berfungsi sebagai pendidik dan pengajar, tetapi guru PAI juga berperan sebagai pendakwah Islam (mubaligh) disekolah formal. Esensi mubaligh adalah bagaimana memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat agar memiliki pengetahuan dan pemahaman yang utuh dan komprehensif tentang Islam.

Guru PAI di Kudus memiliki kualitas cara pandang terhadap materi pembelajaran yang mampu menguatkan landasan bersikap (beragama) dan juga menguatkan cara bernegara dan berbangsa. cara pandang Guru PAI di Kudus dapat dikatakan bersifat interaktif antara wawasan keislaman dan kebangsaan, karena guru PAI di Kudus memiliki pandnagan antara Islam dan kebangsaan (Pancasila) saling bersinergi.

Menurut analisis peneliti Guru PAI memiliki cara pandang sepeti itu dis ebabkan oleh beberapa faktor;

Pertama, dilihat dari karakter metodologi pembelajaran. Materi PAI mengharuskan kepada Guru PAI untuk melaksanakan atau mengimplementasikan metode yang integratif dengan menekankan pendapaian kesempurnaan konsep terhadap sesuatu. Bruce Jay & Marsha Weil (2980:25-28) menjelaskan panjang lebar tentang metode consep sebagai dasar berfikir yang optimal terhadap suatu obyek.

Kedua, dilihat dari perseptif struktur berfikir, Guru PAI di Kudus memiliki cara fikir yang sistematis. Hal ini bisa dilihat atau dirasakan cara berfikir guru PAI Kudus terhadap dua hal yang sering diperdebatkan yaitu antara islam dan pancasila atau kebangsaan). Guru PAI Kudus memiliki cara fikir yang tepat terkait dengan etika berbangsa dna bernegara. Antara islam dan kebangsaan tidak diperdebatkan atau tidak dibedakans ecara ekstrim melainkan diasumsikan sebagai dua hal yang saling melengkapi. Memiliki  kualiats beragama yang baik akan berpengaruh kepada cara berbangsa yang baik pula.

Ketiga, Dilihat dari perspektif kesadaran berbangsa dan bernegara. Guru PAI di Kudus memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang cocok dengan situasi dan kondisi (dinamika) bangsa Indonesia. Dari penyebaran angket dan juga wawancara sebagian guru, para Guru PAI di Kudus memiliki kesadaran berbansga sangat besar.  meminjam istilah M. Dawam Rahardjo (2012: 33-40), Guru PAI memiliki nalar ideologi yang cukup baik dna kuat.  Hal ini dapat dilihat dari cara pandang guru PAI yang mengakui pentingnya berbansga dan bernegara yang ideal akan berpengaruh kepada kesadaran dalam memahami agama islam yang ideal. Guru PAI Kudus memiliki cara fikir terhadap Islam secara arif dan damai, sehimngga wawasan keilmuan para Guru PAI akan mampu melahirkan lulusan pendidikan yang mampu memahami dana melaksanakan nilai nilai ajaran Islam secara utuh dalam kehidupan sosialnya.

c.2  Data Tentang Wawasan Kebangsaan Guru PAI Kudus

Wawasan kebangsaan dalam penelitian ini dimaksudkan suatu cara pandang atau cara fikir terhadap tatacara berbangsa dna bernegara sebagai bangsa Indoensia. Artinya seperti apa cara fikir atau cara pandnag guru PAI terhadap tatcara berbangsa dan bernegara sebagai bangsa Indonesia. Indikasi wawasan kebangsaan dilihat dari seperti apa pemahaman guru PAI antara Pancasila dengan agama Islam dan juga bagaimana guru PAI memiliki cara pandang tentang mengucapkan selamat hari raya kepada selain agama islam (non Muslim) serta cara pandnag bagaimana tentang pandangan Guru PAI terhadap pemberlakuan syariat Islam di negara Republik Indonesia.

Terhadap pertanyaan “Bagaimana hubungan antara pancasila dan agama Islam?” dapat dikatakan mayoritas Guru PAI sebanyak 80 Guru PAI atau sebesar   80 % guru menjawab antara pancasila dan agama Islam adalah saling melengkapi,  saling bersinergi dan saling berkaitan sehingg tidak perlu dipersoalkan. dapat dikatakan bahwa Guru PAI di Kudus memiliki pemahaman bahwa Pancasila dan Islam tidak bertentangan, justru saling melengkapi. Pemahaman atau cara pandang seperti ini akan menjadikan kualitas sikap dan perilaku peserta dididk dalam beragama yaitu beragama yang santun dan damai.

Cara pandang terhadap tentang hubungan Pancasila dengan Islam akan melahirkan kualitas toleransi dalam diri Guru PAI. Terhadap pertanyaan tentang mengucapkan selamat hari raya kepada non muslim, diperoleh hasil sebanyak 70 Guru PAI atau sebesar 70 %, guru PAI berpendapat atau setuju bahwa mengucapkan selamat hari raya kepada mon muslim itu merupakan toleransi yang tidak terkait dengan urusan keagamaan, karena bisa mempererat rasa  nasionalisme.  Sebanyak 5 Guru PAI atau sebanyak  5 % mengatakan bahwa mengucapkan selamat hari raya kepada non muslim merupakan bentuk kesalahan dalam toleransi agama. Artinya Guru PAI yang memiliki persepsi mengucapkan selamat kepada non muslim termasuk kesalahan dalam kategori sangat kecil. Sedang lainnya sebanyak 25 Guru PAI atau 25 % mengatakan bahwa mengucapkan selamat hari raya kepada non muslim merupakan konsekuensi bangsa Indonesia karena akan memperkuat rasa persatuan dan kesatuan dan akan memperteguh NKRI.

Wawasan Kebangsaan juga dilihat dari cara pandang terhadap praktik atau model kerja bakti. di rumah ibadah. Terhadap kerja bakti di rumah ibadah sebanyak 75 Guru PAI atau sebesar 75 %  mengatakan bahwa jika non muslim ikut kerja  bakti di masjid sebenarnya boleh asalkan tidak ikut masuk ke dalam masjid, begitu juga sebaliknya, Umat Islam boleh kerja bakti di gereja atau tempat ibadah non muslim asalkan tidak sampai masuk di dalam ruang teempat ibadah rumah ibadah non muslim.  Artinya Kerja bakti di rumah ibadah  agama lain hanya sampai di luar gedung atau bangunan. karena kerja bakti sepeti itu diposisikan sebagai bagian dari saling menghormati dan menghargai sesama manusia agar tetap terjalin hidup rukun walaupun berbeda agama. meskipun demikian, pola kerja bakti tidak mengganggu atau merugikan kualitas keagamaan yang telah diyakini atau dimiliki.

Cara pandang atau wawaan kebangsaan dilihat dari perspektif pemberlakuan syariat Islam di Indonesia. Terhadap pertanyaan yang berkaitan dengan pemberlakuan syariat Islam. Sebanyak 82 Guru PAI atau sebesar 82 % menyatakan bahwa pemberlakuan syariat Islam secara formal di indonesia akan memecah kesatuan dan persatuan bangsa. Sebanyak  8 Guru PAI atau 8  % menjawab pemberlakuan syariat Islam di Indonesia tidak ada masalah karena pemberlakuan syariat Islam di Aceh ternyata juga tidak ada persoalan. Sebesar 10 Guru PAI atau sertara dengan 10 % mengatakan bahwa jika mampu mengamalkan Pancasila secara baik dan benar sudah secara otomatis sama dengan menjalankan syariat Islam.

 Ada yang menarik terhadap wawasan kebangsaan guru PAI di Kudus, yaitu terhadap persoalan memilih pemimpin non muslim. Terdapat data bahwa sebanyak 45 guru PAI atau setara dengan 45 % bahwa memilih pemimpin non muslim walaupun di negara pancasila tetap tidak boleh karena tokoh yang muslim masih banyak. Hampir separo dari sampel, Guru PAI memiliki cara fikir bahwa memilih pemimpin non muslim itu tidak boleh karena masih banyak pemimpin muslim yang berkualitas. Sedangkan sebanyak 35 Guru PAI atau setara dengan 35 % mengatakan bahwa dalil atau dasar larangan memilih pemimpin non muslim itu masih debatebel atau multi tafsir, oleh sebab itu tidak perlu membesar besarkan cara pandang tersebut. Sebesar 20 Guru PAI atau sebesar 20 % mengatakan bahwa dalam negara pancasila boleh boleh saja memilih pemimpin non muslim. 

Terhadap non muslim yang meninggal, maka sebanyak 75 guru PAI atau setara dengan 75 % mengatakan bahwa jika ada non muslim meninggal tetap ikut ikut mendatangi rumah non muslim (takziyah) tetapi tidak ikut ritual pemakaman karena jika mengikuti bertentangam dengan toleransi. Sebanyak 20 Guru PAI atau seetara dnegan 20 % mengatakan bahwa dalam negara pancasila, dip[erbolehkan mengikuti proses ritual pemakaman asalkan niatnya untuk menghormati bukan untuk mengikuti ajaranya. Sebesar 5 Guru PAI tidak memebrikan jawaban. 

Berdasarkan data di atas, dapat penulis katakan bahwa wawasan kebangsaan para Guru PAI di Kudus bersifat nasionalisme–relegius, artinya cara pandang dan sikap dalam berbangsa tidak bertentangan atau merugikan kualitas mehamai agama yang di yakini. Apa yang dipahami terhadap cara berbangsa dan cara pandang beragama tidak saling merugikan, tetapi bersifat complementer (saling melengkapi). Wawasan kebangsaan yang bersifat nasionalis-relegius dapat dijaidkan modal untuk membimbing dan mendidik serta melahirkan kualitas lulusan pendidikan yang sesuai dengan cita cita bangsa Indonesia yaitu Islam yang menebarkan rasa kasih sayang sesama manusia tanpa melihat asal usul agama, ras, suku, golongan/atau kelompok (Islam rahmatan lil’alamiin).

c.3. Data tentang Orientasi  pembelajaran Guru PAI

Rumusan ini berkaitan dengan penggalian informasi atau data yang berkaitan dengan strategi Guru PAI dalam melakukan proses pembelajaran yang mampu menguatkan wawasan kebangsaana dan wawasan keislaman, sehingga akan melahirkan lulusan yang berkualitas baik secara personal dan sosial serta spiritual.

Menurut Undang Undang Sistem Pendidikan dijelaskan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada lingkungan belajar (Pasal 1 ayat 20). Artinya pembelajaran ini minimal ada empat faktor yang ikut menentukan kesuksesan belajar yaitu Pendidik, Peserta didik (siswa), lingkungan dan suasana atau sistem komunikasi atau interaksi.

Terhadap pertanyaan apa yang anda tekankan pada saat melaksanakan pembelajaran kepada siswa. Yang menjawab pentingnya mendahulukan menjadi warga negara yang baik baru kemudian tentang memeluk agama Islam yang baik 35 orang atau setara dengan 35 %. Yang menjawab warga negara yang baik sama dengan menjalankan nilai nilai agama Islam 40 orang atau setara dengan 40 %.  Yang menjawab tentang kebangsaan itu lebih penting karena wawasan kebangsaan itu urusanu umum dan agama urusan  pribadi 25 orang atau setara dengan 25 %.

Berdasarkan data tersebut, dapat dikatakan bahwa pola pembelajaran PAI dimaksudkan untuk membimbing atau membentuk minimal 2 sikap kepribadian yaitu sikap kepribadian dalam menjalankan nilai nilai atau pesan agama Islam dan sikap kepribadian dalam menjalankan nilai nilai kebangsaan. Kedua sikap kepribadian tersebut dilaksanakan secara integratif dan pararel antara satu dengan lainnya sehingga akan melahirkan kualitas lulusan yang ideal.

Pembelajaran agama Islam dan kualitas kebangsaan memiliki relevansi sangat signifikan (M. Hamdan Araiyah, 2006:13-14).  Nilai nilai kebangsaan dari pancasila merupakan landasan utama pembentukan karakter manusia. Proses pembentukan katakter dilakukan melalui proses pembelajaran yang integral. Pengintegrasian pola pembelajaran yang dilakukan Guru PAI di Kudus Jawa Tengah secara akademik dan metodologis akan mampu melahirkan lulusan yang ideal.

Ruanglingkup materi Pendidikan Agama Islam (PAI) setidaknya meliputi empat hal yaitu Al-Qur’an hadis, Aqidah Ahlaq, Fiqih dan Sejarah kebudayaan Islam (SKI). Ruang lingkup atau wilayah kajian PAI lebih luas jika dibanding dengan materi pelajaran non PAI. karena materi pelajaran bersifat lintas /multi sektor sedangkan materi non PAI itu mono sektor. Sebaik apapun materi pelajaran jika tidak di kelola atau dikemas secara tepat, tidak akan bermakna apa apa bagi siswa ataupun kualiats proses pendidikan dan pembelajaran. pembelajaran pada hakekatnya adalah proses mengelola atau melakukan manajemen kelas agar apa yang direncanakan dapat tercapai melalui proses pembelajaran.

Kualitas lulusan atau hasil pembelajaran selain ditentukan oleh lengkapnya materi, ada yang lebih penting lagi yaitu kualitas manajerial atau pengelolaan materi pelajaran. Artinya Guru PAI selain menguasai secara sempurna ruanglingkup materi juga harus memiliki kemampuan mendesain atau mengelola pembelajaran. Kualitas penyampaian materi pelajaran ditentukan oleh berbagai faktor dan juga ditentukan oleh metodologi yang dilakukan oleh Guru.

Bobbi De Porter & Mike Hernacki (2006: 122-125) menjelaskan bahwa Kualitas kurikulum ditentukan oleh tiga faktor yaitu Ketrampilan akademis, ketrampilan hidup dan tantangan tantangan fisik.  Salah satu kuncinya maka pembelajaran harus dilakukan dengan cara menyenangkan.

Ada beberapa kekuatan yang dimiliki oleh guru dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat melahirkan kualitas lulusan yang ideal baik dalam aspek kemampuan intelektual (kognitif), kemampuan sikap /kepribadian (affektif) maupun kemampuan mekanik (psikomotorik).  Keberhasilan proses pembelajaran ditentukan juga oleh sikap dan kekuatan psikologis yang dimiliki oleh masing masing Guru.

Guru PAI secara metodologis memiliki kekuatan yang berbeda dengan guru lainnya, karena guru PAI memiliki keterkaitan dengan nilai nilai keagamaan atau religiusitas dalam menjalankan aktivitas pembelajaran. Kathy Paterson (2007:10-41), ada beberapa kekuatan psikologis yang harus dipraktikkan guru termasuk guru PAI dalam prose pembelajaran agar materi dapat dipahami secara optimal oleh peserta didik. kekuatan tersebut antara lain :

  1. Kegembiraan
  2. Memiliki rasa kasihan yang kuat
  3. Memiliki rasa empati
  4. Toleransi
  5. Rasa Hormat
  6. Tegas
  7. Percaya Diri
  8. Penghargaan diri
  9. Memiliki ketekunan
  10. Memiliki Kompetensi sosial , dan
  11. Memiliki ketenangan dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan pribadi maupun permasalahan orang lain (peserta didik).

Kesimpulan

Berdasarkan data dan pembahasan, dapat dikatakan bahwa wawasan keilmuan dan kebangsaan Guru PAI di kabupaten Kudus Jawa Tengah bersifat sinergis atau komplementer yaitu saling melengkapi satu denagn lainya. Implikasi dari komplementaria wawasan keilmuan dan kebangsan yang dimiliki Guru PAI akan memperkuat jiwa nasionalisme melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sehingga akan berdampak pada karakter lulusan pendidikan yang memiliki kualitas ideal baik yang berkaitan dnegan kecerdasan inteletkual (kognitif), kecerdasan sikap (affektif ) dan kecerdasan mekanik (psikomotorik).

 

 

Referensi

  1. A Ilyas Ismail (2013), True Islam, Moral, Intelektual, Spiritual; Pengantar Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Mitra Wacana Media, Jakarta
  2. Bruce Joyce & Marsha Weil (1980), Models of Teaching,: Secon Edition, Prentice-Hall, Inc Engliwood Cliffts, New Jersery,
  3. Emzir (2008), Metodologi Penelitian Pendidikan: Kuantitatif dan Kualitatif (edisi Revisi), PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.
  4. John Dewey (2002), Pengalaman Pendidikan (alih bahasa) John De Santo, Penerbit Kepel Press, Yogyakarta.
  5. Kathy Paterson (2007), 55 Teaching Delemmas : Sepuluh Solusi terpilih untuk menjawab tantangan di kelas, Grasindo PT. Gramedia Widiasaarana Indonesia, Jakarta
  6. Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) versi onlie/ Daring (Dalam Jaringan)
  7. Lexy J Moleong (1995), Metode Penelitiaan Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung Jawa Barat
  8. Dawam Rahardjo (2012), Kritik Nalar Islamisme dan kebangkitan Islam, Penerbit Freedom Institut, Jakarta
  9. Hamdar Arraiyah (ed) ((2016), Pendidikan Islam : Memajukan Umat dan memperkokoh Kesadaran Bela Negara, Penerbit, Kencana
  10. Saekan Muchith (2008), Pembelajaran Kontekstual, Rasail, Semarang Jawa Tengah.
  11. Saekan Muchith (2009), Issu Issu Kontemporer Pendidikan Islam (buku daros), STAIN Kudus Jawa Tengah.
  12. Saekan Muchith (2017), www.saekankudus.com (web personal), Karakteristik Ilmu Pendidikan Agama dan Ilmu Keagamaan.
  13. Saekan Muchith (2017), Visi Kepemimpinan STAIN Kudus Berbasis Filosofi Laut, STAIN Press
  14. Syarif Yahya (2014), Kamus Pintar Agama Islam; Tauhid, Syariat, Akhlak, Politik, Sastra dan Peradaban : Penganatar Prof. Dr. H. Afif Muhammad, MA, Nuansa Cendekia, Bandung Jawa Barat
  15. Sugiono (2008), Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung Jawa Barat.
  16. Sukardi (2006), Penelitian Kualitatif-Naturalistik Dalam Pendidikan, Usaha Keluarga, Yohyakarta.
  17. Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  18. Undang Undang Nomor 14 tahun 2005 Tentanag Guru dan Dosen
  19. Yunahar Ilyas dkk (1993), Muhamamdiyah-NU : Orientasi Wawasan Keislaman, Kerjasama LPPI UMY, LKPSM NU, Pon Pes Al Muhsin, Yohyakarta.

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter