|  | 

Materi S2

Bahan Perkuliahan S2: Perencanaan Pendidikan & Biaya Pendidikan

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

A. TUGAS PERKULIAHAN

Bentuk Tugas : Diskusi Pro Kontra

Perintah :

  1. Membuat makalah sesuai tema yang telah ditentukan
  2. Setiap kelompok terdiri dari 2 (dua) mahasiswa
  3. Presentasi makalah dimulai tanggal 19 September 2019

Tema/Topik Makalah :

  1. Manajemen Pendidikan Antara Islam dan Barat: Endang Listyowati dan Irwan Alwi Hidayat (Kelompok Pro). Moh Syofii dan Izzatin Nisa (Kelompok Kontra). Sistematika Makalah minimal sebaga berikut: Pendahuluan (berisi tentang alasan alasan akademik mengapa tema itu perlu atau penting). Pembahasan (berisi Pengertian dan ruang lingkup manajemen, pengertian dan ruang lingkup manajemen pendidikan, alasan mahasiswa terhadap pro atau kontra terhadap topik makalah). Kesimpulan
  2. Manajemen Pendidikan Antara Ilmu dan Seni: Luluk Nur Rohmah dan Angga Ardinata Dwi Cahaya (Kelompok Pro) dan Moh Rudi Setiawan dan Sholihati (Kelompok kontra). Sistematika makalah minimal sebagai berikut: Pendahuluan (berisi tentang alasan alasan akademik mengapa tema itu perlu atau penting). Pembahasan (berisi Pengertian dan ruang lingkup ilmu pengetahuan, perbedaan antara ilmu pengetahuan dan seni, alasan mahasiswa terhadap pro atau kontra terhadap topik makalah). Kesimpulan
  3. Teori Perencanaan Pendidikan antara Islam dan Barat : Maulidya Rifsanjani dan Sahal Mahfud (kelompok Pro) dan Ahmad Ali dan Suryo Pradiwinoto (Kelompok Kontra). Sistematika makalah minimal sebagai berikut: Pendahuluan (berisi tentang alasan alasan akademik mengapa tema itu perlu atau penting).Pembahasan (berisi Pengertian dan ruang lingkup Perencanaan pendidikan, Teori perencanaan, alasan mahasiswa terhadap pro atau kontra terhadap topik makalah). Kesimpulan
  4. Biaya Pendidikan antara Gratis dan Biaya Tinggi (mahal) : Ahmad Mujib Anshori dan Ali Mas’ud (kelompok Pro) dan Azizatul Muna dan Indah Arifatul Muawanah (kelompok Kontra). Sistematika makalah minimal sebagai berikut: Pendahuluan (berisi tentang alasan alasan akademik mengapa tema itu perlu atau penting).Pembahasan (berisi Pengertian dan ruang lingkup serta berbagai macam jenis biaya pendidikan, alasan mahasiswa terhadap pro atau kontra terhadap topik makalah). Kesimpulan

                                                                                

                                                                                          ———————-0000—————-

 

b. POKOK POKOK MATERI PERKULIAHAN

Pendahuluan

Pendidikan merupakan sistem terbuka (open system) yang selalu dipengaruhi atau menyesuaikan dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya. Artinya para pelau (insane) pendidikan (Tenaga Pendidik dan Tenaga kependidikan) harus memiliki kemampuan melakukan kreasi dan inovasi dalam melaksanakan tugasnya.

Melakukan kreasi dan inovasi tidak bisa dilakukan dengan tiba tiba tanpa ada perencanaan yang matang terlebih dahulu. Perencanaan dalam konteks ilmu manajemen memiliki peran pertama dan utama yang harus dipahami oleh tenega pendidik dan tenaga kependidikan secara utuh. Artinya setiap Guru dan tenaga kependidikan lainya harus memahami apa dna bagaimana menyusun dna mengimplementasikan perencanan dalam pendidikan.

Selain perencanaan yang matang  dalam aspek akademik dan administratif, juga diperlukan perencanaan anggaran (biaya) pendidikan agar proses menejemen pendidikan serta metodlogi pembelajaran bisa berjalan sesuai harapan. Dengan demikian, antara perencanaan dan biaya pendidikan menjadi sangat penting, ibarat dua sisi mata uang logam yang tidak mungkin dipisahkan.

Berdasarkan asumsi akademik inilah, maka perlu diberikan garis garis besar materi perkuliahan Mahasiswa Pascasarjana (S2)  mata kuliah Perencanaan dsn Biaya pendidikan.

Pentingnya Guru Mampu menyusun Perencanan pendidikan

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan juga Guru madrasah memiliki beban yang sangat kompleks karena memiliki tugas dan tanggung jawab memberikan pencerahan dan pemahaman terhadap ajaran Islam agar Islam benar benar sebagai agama sempurna dan menyempurnakan.

Setidaknya Islam memiliki tiga makna yang harus dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan sosial. Pertama, Islam sebagai  simbol dan keyakinan (code). Agama Islam memiliki simbol simbol tertentu yang harus dipahami bagi para pemeluknya. Konsekuensinya setiap pemeluk Islam harus mengetahui dan memahami simbol yang ada di dalam agama Islam.

Kedua, Islam sebagai proses peribadatan ritual (credo). Dalam hal Islam sebagai credo diyakini bahwa Islam akan tegak jika pemeluknya selalu melaksanakan proses ritual peribadatan. Islam tidak bisa lepas dari proses ritual peribadatan seperti sholat, zakat, puasa, haji dan  berdzikir. Indikasi seseorang layak disebut beragama yang baik dilihat dari sejauhmana menjalankan amalan peribadatan secara rutin. Jika pemeluk agama tidak menjalankan ritual peribadatan maka dikatakan kualitas agamnya rendah atau kosong.

Ketiga, Islam sebagai sistem kehidupan (community system). Islam selain menjadi code dan credo, juga menjadi sistem kehidupan bagi pemeluknya. Islam tidak cukup hanya dijadikan simbol kebaikan seseorang, Islam juga tidak cukup hanya dilaksanakan melalui ritual peribadatan (credo). Islam harus dijadikan falsafah hidup bagi pemeluknya dalam artian menjadi pegangan dan filosofi dalam kehidupan. Konsekuensinya Islam akan dijadikan pegangan manusia dalam menjalankan kehidupan sosialnya. Nilai nilai dan pesan agama benar benar dapat direalisasikan dalam kehidupan sosial, sehingga Islam benar benar mempengaruhi dan mewarnai semua aspek kehidupan manusia.

Realitas kehidupan menunjukan bahwa fungsi Islam lebih banyak didominasi dengan code dan credo. Islam sebagai community system belum banyak dilakukan para pemeluk Islam. Implikasinya, masih banyak umat Islam yang rajin menjalankan sholat, rajin puasa, ibadah haji dan umrah berkali kali, tetapi dalam kehidupan sosialnya masih memiliki sifat sombong, kikir, bahkan ketika diberi kepercayaan (amanah) sebagai pemimpin sering melakukan penindasan, pelanggaran hukum seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

 

Pengertian  Guru PAI

Memahami siapa guru yang sebenarnya, terlebih dahulu kita bandingkan pengertian antara guru dan dosen. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar dan menengah.

Rumusan ini secara jelas menjelaskan bahwa obyek atau wilayah kerja profesi guru ada di sekolah formal mulai Pendidikan Usia Dini, Pendidikan Dasar (SD/MI), pendidikan menengah (MTS/SMP/SMA/ SMK). Jika mereka mendidik dan mengajar di lembaga pendidikan non formal mereka tidak bisa disebut sebagai Guru. Konsekuensinya, setiap Guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan melaksanakan proses pembelajaran seperti mampu menjealskan materi, menggunakan metode, memanfaatkan sumber belajar, melaksanakaan evaluasi dan lainya.

Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui  pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Guru dan dosen walaupun memiliki persamaan yaitu sama sama sebagai pendidik profesional, tetapi jika dilihat dari tugas utamanya memiliki perbedaan sangat tajam. Guru ruanglingkup kerjanya terbatas di pendidikan  formal (sekolah) pada jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar (MI/SD/ MTS/SMP) dan pendidikan mengah (MA/SMA/SMK) yang ditunjukkan dengaan tindakan mendidik, mengajar, membimbing, melatih, mengevalausi dan menilai. Konsekeunsinya guru harus lebih konsentrasi melaksanakan tugas pembelajaran di sekolah formal saja. Kegiatan selain proses pembelajaran  di sekolah formal tidak menjadi tugas dan tanggung jawabnya seperti melakukan pengabdian kepada masyarakat dan mengembangkan ilmu pengetahuan di forum publik.

Guru yang ideal adalah guru yang rajin dan disiplin melakukan pembelajaran siswa selama di sekolah yang ditunjukkan dengan ketrampilan menyusun desain pembelajaran, memberi motivasi siswa untuk belajar, menggunakan metode dan media secara tepat, dan mampu melakukan penilaian yang dapat dijadikan bahan pengembangan program di sekolah. Setiap jam pembelajaran harus berada di sekolah, jika pada jam sekolah berlangsung guru berada di luar sekolah maka itu bisa menjadi bukti pelanggaran profesi.

Secara tehnis, guru yang ideal harus  melaksanakan   jam tatap muka sekurang kurangnya 24 jam tatap muka dan sebanyak banyaknya 40 jam tatap muka dalam satu minggu. Hal ini menggambarkan bahwa waktu guru dihabiskan untuk melaksanakan proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Guru tidak wajib melaksanakan kegiatan yang bersentuhan dengan kegiatan di masyarakat.

Berbeda dengan dosen, walaupun sama sama sebagai pendidik profesional, tetapi dosen selain pendidik profesional juga disebut sebagai ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitiaan dan pengabdian masyarakat. Sebagai dosen memiliki ruang lingkup sangat luas tidak hanya di dalam pendidikan formal (kampus) tetapi juga di dalam realitas kehidupan masyarakat. Artinya dosen tidak hanya bertugas membimbing dan melatih para mahasiswanya tetapi juga harus mampu menyebarluaskan ilmu pengetahuan melalui berbagai media baik melalui perkuliahan (pendidikan/pengajaran), melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Konsekuensinya, dosen tidak bisa dituntut selalu di dalam kampus untuk melaksanakan perkuliahan dengan mahasiswa, karena jika hanya itu yang dilaksanakan akan mengakibatkan kurang optimalnya tugas utama sebagai dosen.

Selain melakukan perkuliahan bersama mahasiswa, dosen juga harus melakukan penyebaran dan pengembangan ilmu melalui seminar, diskusi, penerbitan buku, penelitian dan penerbitan hasil hasil penelitian. Disinilah perbedaan utama antara guru dan dosen.

Guru diwajibkan memiliki empat kompetensi yang terdiri dari kompetensi kepribadian,  kompetensi sosial, kompetensi pedagogiek dan kompetensi profesional. Kempat kompetensi tersebut harus diketahui, dipahami dan dilaksanakan oleh guru dalam menjalankan tugas dan fungsinya agar guru tetap bisa dikatakan sebagai pendidik profesional.

Dari aspek kompetensi inilah, dapat diketahui perbedaan antara guru PAI dengan guru non  PAI. Guru PAI adalah pendidikan profesional yang memiliki tugas memberi pemahaman materi agama Islam kepada peserta didik dan masyarakat. Guru PAI setidaknya memiliki dua tugas yaitu  melaksanakan tugas sebagai pendidik dan pengajar di sekolah dan juga memiliki tugas memberikan pemahaman materi agama Islam kepada peserta didik agar peserta didik dan masyarakat memiliki cara pandang atau pemahaman terhadap agama (al qur’an dan hadis) secara tepat yang ditandai dengan sikap dan perilaku yang santun, damai serta  anti kekerasan.

Perbedaan nyata antara guru PAI dengan guru non PAI terletak pada aspek kompetensi sosial dan pedagogiek. Kompetensi sosial bagi guru PAI lebih luas ruanglingkupnya dibanding guru non PAI, karena guru PAI secara langsung maupun tidak langsung dituntut mampu memberikan pencerahan tidak hanya kepada peserta dididk di sekolah tetapi juga kepada masyarakat di luar sekolah. Walaupun di luar jam sekolah, Guru PAI tidak boleh menghindar jika ada masyarakat yang bertanya atau meminta pendapat tentang berbagai hal kehidupan dan keagamaan. Guru PAI tidak boleh lari dari permasalahan yang dihadapi masyarakat. Agama yang melekat kepada diri guru PAI memiliki konsekeunsi dakwah Islam secara nyata kepada masyarakat.

Jangan disalahkan jika, ada tawur antar pelajar sedang marak, banyak aksi radikalisme dan terorisme, banyaknya oknum pejabat yang korupsi, sikap dan moralitas sosial masyarakat rendah yang ditandia dengan mudahnya konflik horizontal, oknum anggota wakil rakyat mudah bertengkar, profesi guru PAI menjadi sasaran “kesalahan”. Artinya semua orang menengok kepada profesi Guru PAI yang dianggap ada kesalahan atau kurang optimal.

Berbeda dengan posisi guru non PAI, walaupun tim nasional belum pernah menang ditingkat ASEAN, ASIA bahkan Dunia, ketika pengurus PSSI masih berselisih pendapat sampai muncul dualisme kepengurusan, ramainya publik menuduh ada mafia bola sampai dibentuk Satgas Anti mafia Bola oleh Polri, tidak pernah ada orang yang menuduh pendidikan olahraga telah gagal atau salah. Pada pemilu menghasilkan para wakil rakyat yang belum sesuai harapan, belum dewasa atau belum berkualitas, tidak ada masyarakat menuduh bahwa pendidikan kewarganegaraan telah gagal atau salah. Disinilah uniknya perbedaan antara guru PAI dengan non PAI dilihat dari aspek kompetensi sosial.

Dari aspek kompetensi pedagogiek, peran atau tanggung jawab guru PAI dengan non PAI juga sangat terlihat jelas. Hal ini disebabkan karena perbedaan karakteristik ilmu PAI dan ilmu non PAI berbeda. Karakteristik ilmu PAI bersifat multi disiplin/ zigzag sedangkan karakter ilmu non PAI bersifat monodisiplin/monoton. Konsekuensinya, guru PAI juga harus memiliki wawasan lintas sektor/multidisiplin.

Ciri khusus yang membedakan dengan guru lainnya (non PAI), Guru PAI harus memiliki wawasan lintas sektor atau multi disiplin, karena materi PAI selalu berkaitan dengan materi diluar dirinya. Misalnya materi tentang sholat tidak cukup disampaikan tentang tatacara gerakan sholat dan dalil yang menguatkan. Materi sholat juga berkaitaan dengan kekhusyu’an (ilmu psikologi), berkaitan dengan persatuan dan kesatuan (sosiologi). Materi al qur’an hadis tidak cukup hanya disampaikan cara menulis dan membaca al qur’an dan hadis, tetapi juga berkaitan dengan pemahaman kontekstual  atau asbabun nuzul/ asbabul wurudnya (ilmu sosiologi, antropologi), materi fiqih tidak hanya berkaitan dengan bagaimana menjelaskan halal haram, wajib, sunah, makruh dan mubah tetapi juga berkaitan dengan bagaimana membagi harta warisan, bagaimana menghitung nisob zakat (matematika). Dengan kata lain guru PAI harus lebih cerdas dibanding guru non PAI, karena menguasai ilmu diluar materi menjadi  suatu keniscayaan yang harus dilakukan.

Dalam menjalankan tugas profesinya guru memiliki 4 (empat) kompetensi yang terdiri dari: (a) Kompetensi pedagogiek yaitu seperangkat pengetahuan dan ketrampilan yang berkaitan dengan proses pembelajaran. (b) Kompetensi kepribadian yaitu seperangkat kualitas personal atau kepribadian yang mendukung kualitas pembelajaran (c) Kompetensi sosial adalah seperangkat pengetahuan dan ketrampilan yang berkaitan dengan komunikasi dengan orang lain untuk mensukseskan proses pembelajaran. (d) Kompetensi profesional yaitu seperangkat kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki melalui proses pendidikan sehingga diharapkan mampu mewujudkan profesi guru yang ideal.

Guru sebagai jabatan profesi, harus mampu melaksanakan tugas pekerjaannya didasarkan prinsip prinsip sebagai berikut:

(a) Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan ideaalisme

(b) Memiliki komitmen untuk meningkat mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan dan ahlaq    

      mulia.

(c) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dnegan bidangnya. (d) Memiliki tanggung jawab atas tugas  profesionalitasnya

(e) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya

(f) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan dengan

     belajar sepanjang hayat

(g) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesinya

(h) Memiliki organisasi profesi yang memiliki kewenangan mengatur hal hal yang berkaitan

     dengan bidang profesinya.

Pengertian & Ruling Perencanaan

  1. CE Beeby dalam buku (1967) “ Planning and the Educational Administrator”, Educational Planning is the exercising of foresight in determining the policy, priorities and cost an educational system, having due regard for economic and politic realies for the system potential for growth and for the need of the country and the pupils served by system”. (Hakekat Perencanaan pendidikan lebih menekankan kemampuan seorang pemimpin dalam melihat atau memprediksi masa depan dalam hal kebijakan, menentuakn skala prioritas, biaya yang disesuaikan denagn dinamika dan realitas kehidupan sosial).
  2. A.R Tilaar (1999) Dalam buku Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional mengatakan bahwa Perencanaan pada hakikatnya merupakan suatu proses yang mengarahkan berbagai usaha untuk mencapai suatu tujuan.
  3. Hadari Nawawi (1983) Dalam Buku Administrasi Pendidikan. Perencanaan merupakan langkah menyusun penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu
  4. Yusuf Enoch (1995) dalam Buku Dasar Dasar Perencanaan Pendidikan, Perencanaan Pendidikan adalah proses memeprsiapkan seperangkat alternative keputusan bagi kegiatan masa depan yang diarahkan kepada pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan berbagai kenyataan dan dinamika Ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.
  5. Saekan Muchith, Perencanaan Pendidikan adalah Konsep atau rancangan pemikiran untuk melakukan proses pendidikan mulai dari awal sampai akhir sesuai standar yang ditentukan. Perencanan berbeda dengan persiapan dan pendahuluan. Persiapan hanya menekankan kegiatan sebelum dimulai peristiwa, sedangkan perencanaan menyangkut semua tahapan peristiwa atau kegiatan yang berbentuk konsep atau pemikiran.

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa ruang lingkup (ruling) perencanaan pendidikan bersifat komprehensif yaitu menyangkut persoalan fisik, non fisik, akademik-administratif, Human Research-Material Research. Secara rinci dapat dirumuskan, perencanaan pendidikan meliputi :

  1. Perencanaan SDM : Perencanaan Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, Kesiswaan, orang tua (wali)
  2. Perencanaan Fisik /Sarana : Perencanaa tata kelola gedung dan lingkungan sekolah, tata kelola ruang kelas (ruang belajar)
  3. Perencanaan Akademik :Perencanaan penyusunan perangkat/administarsi pembelajaran, perencanaan kurikulum, perencanaan pembelajaran
  4. Perencanaan anggaran : Perencnaan pertanggung jawaban penerimaan dna penggunaan anggaran pendidikan

Macam Macam Perencanaan Pendidikan

Perencanaan pendidikan bisa dilihat dari berbagai aspek sehingga melahirkan macam macam perencanaan pendidikan.

  1. Perencanaan menurut dimensi waktu : Perencanaan jangka pendek, menengah, panjang
  2. Perencanaan menurut dimensi sifat : Perencanaan Kualitatif dan Kuantitatif
  3. Perencanaan menurut dimensi Sektor kewilayahan : Perencanan ekonomi, perencanaan pendidikan, perencanaan sosial, perencanan budaya, perencanaan agama dll
  4. Perencanaan menurut dimensi kewenangan : perencanaan kelembagaan (institusional), perencanaan regional, perencanaan nasional (Messo, Mikro dan  Makro)

Pendekatan Menyusun Perencanan Pendidikan

  1. Pendekatan Permintaan /tuntutan masyarakat
  2. Pendekatan Ketenaga Kerjaan
  3. Pendekatan Sistem

Strategi menyusun Perencanan Pendidikan

Perencanaan bisa disusun berdasarkan asumsi  dua teori yaitu Teori Konflik dan teori Struktural Fungsional.

Teori konflik adalah istilah dalam Bahasa Inggris “Conflict Theory” yang bermula dari pertentangan kelas sosial antara kelompok masyarakat, kelompok ini terdiri dari kelompok tertindas dan kelompok penguasa sehingga akan mengarah pada bentuk perubahan sosial, baik yang mengarah pada dampak positif ataupun yang mengerah pada dampak negatif. Diakui atau tidak lembaga pendidikan menjadi salah satu lembaga yang melakukan penindasan dan pemberdayaan. Secara umum ada tiga macam konflik : Konflik Budaya, Konflik Sosial dan Konflik pendidikan. Tokoh teori konflik antara lain: Karl Marx, Leis Coser, Ralf Dahrendorf

Teori  structural fungsional sangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yaitu menganggap masyarakat sebagai organisme biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang saling ketergantungan, ketergantungan tersebut merupakan hasil atau konsekuensi agar organisme tersebut tetap dapat bertahan hidup. Sama halnya dengan pendekatan lainnya pendekatan structural fungsional ini juga bertujuan untuk mencapai keteraturan sosial. Peran lembaga pendidikan menekankan kepada keteraturan sikap dan perilaku manusia. Tokoh Teori Struktural fungsional antara lain :August Comte, Émile Durkheim dan Herbet Spencer.

Urgensi Biaya Pendidikan

Regulasi bangsa Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar 1945, Bab XIII, Pasal 3, menyebutkan bahwa” Setiap warga negara mendapatkan pendidikan dan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Guna pembiayaan tersebut dalam Undang – Undang Dasar 1945, Bab XIII, Pasal 31 ditegaskan bahwa “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen (20 %)  dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”

Biaya pendidikan secara ekplisit juga ditegaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN)  Nomor 20 Tahun 2003, bagian keempat, pasal 11 bahwa “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”.

Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 Tahun 2005 yang disempurnakan menajdi Peraturan pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) menjelaskan bahwa secara garis besar biaya pendidikan terdiri dari :

  1. Biaya investasi yaitu biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia, dan modal kerja tetap.
  2. Biaya operasi yaitu meliputi gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji, bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, trasportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya
  3. Biaya personal yaitu diantaraanya  biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.

Macam macam Biaya Pendidikan

Berbicara tentang keuangan dalam  aspek kehidupan khususnya pendidikan menjadi sangat penting. Dalam terminologi manajemen /administrasi keuangan, khususnya adminsitrasi keuangan bidang pendidikan, keuangan dibedakan antara biaya (cost) dan pembelanjaan (expenditure).

Biaya (cost) adalah nilai besar dana yang diprakirakan perlu disediakan untuk membiayai kegiatan tertentu, misalnya kegiatan akademik, kegiatan kesiswaan, dan sebagainya. Sedangkan pembelanjaan (expenditure) adalah besar dana riil yang dikeluarkan untuk membiayai unit kegiatan tertentu, misalnya kegiatan praktikum siswa. Oleh karena itu, seringkali muncul adanya perbedaan antara biaya yang dianggarkan dengan pembelanjaan riil.

Secara umum, pembiayaan pendidikan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu;

1 Biaya rutin (recurring cost) yaitu mencakup keseluruhan biaya operasional penyelenggaraaan pendidikan, seperti biaya administrasi, pemeliharaan fasilitas, pengawasan, gaji, biaya untuk kesejahteraan, dan lain-lain.

  1. Biaya modal (capital cost) yaitu sering pula disebut biaya pembangunan mencakup biaya untuk pembangunan fisik, pembelian tanah, dan pengadaan barang-barang lainnya yang didanai melalui anggaran pembangunan.

Biaya Pendidikan Vs Sekolah Gratis

Setiap mendengar kata Biaya selalu dikaitkan dengan beban materi (uang) yang dihadapkan dengan kata Gratis. Asumsi biaya selalu dikaitkan dengan persoalan material dan uang sehingga kekayaan dan kemiskinan juga dilihat dari aspek material atau uang.

Pendidikan tidak mungkin di lakukan tanpa biaya, karena dalam realitas kehidupan biaya menjadi persoalan sangat penting, pertama dan utama. Persoalanya apa dna bagaimaan biaya pendidikan itu? Apa saja bentuk atau wujud dari biaya pendidikan?

Mayoritas (hampir semua) kepala daerah atau pemerintah menjadikan issu utama pendidikan dalam setiap konstelasi politik. Sekolah Gratis menajdi jargon utama yang doianggap bisa memenangkan kompetisi politik. Tidak pernah ada kesadaran psikologis dan sosial, bahwa kata sekolah Gratis bisa menjadi “candu” atau “Racun” masyarakat dalam melaksanakan proses pendidikan. Oleh sebab itu eprlu ada kajian mendalam dan akademik tentang bebrrap pertanyaan dibawah ini :

  1. Apa dan bagaimaan sebenarnya Biaya pendidikan itu?
  2. Meliputi apa saja yang termasuk dari biaya pendidikan?
  3. Apakahs etiap Gtatis identik tidak mengeluarkan biaya pendidikan?
  4. Bagaimana konsekuensi masyarakat (oranagt ua) siswa jika ada kebijakan sekolah gratis?.
  5. Bagaimana mekanaisme menghitung biaya pendidikan yang efektif dan efisien?

Buku yang perlu ditela’ah

  1. CA Anderson (1976) The Social Context of Educational Planning : Paris Unesco)
  2. CE Beeby (1967)  Planning and the Educational Administrator. (Unecso)
  3. A.R Tilaar (1999), Beberapa Agenda Reformasi Pendikan Nasional, Tera Indonesia.
  4. James AF Stoner (1993), Perencanaan & Pengambilan Keputusan Dalam Manajemen, Reneka Cipta, Jakarta.
  5. Jusuf Enoch ( 1995) Dasar Dasar Perencanaan Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta
  6. Saekan Muchith (2008) Pembelajaran Kontekstual, Rasail, Semarang
  7. Saekan Muchith (2017), Kepemimpinan Berdasarkan Filosofi Laut, STAIN Press
  8. Saekan Muchith (2019), Karakteristuk Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) : Meneropong Pembelajaran di MI, MTS dan MA, YayasasnTtasamuh IndonesiaMmengabdi (YTIME), Jawa Tengah
  9. Philip H Coombs (1968), The World Educational Crisis : New York : Oxford University Press).

 

 

 

 

 

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter