|  | 

Populer

Jihad, Perang dan Radikalisme Dalam Islam

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Realitas kehidupan di dunia, banyak fenomena yang bertentangan dengan misi Islam yang sebenarnya yaitu rohmatan lil’alamiin yaitu Islam adalah pemberi rasa aman, nyaman, bahagia dan sejahtera bagi semua mahluk yang ada di alam semesta ini. Misi rahmatan lil’alamiin tidak hanya untuk manusia saja melainkan seluruh ciptaan Allah yang ada di muka bumi. Konsekuensinya Islam apapun alasnnya harus mampu menghadirkan tatanan sistem yang mampu menjamin keamanan, kenyamanan, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi seluruh mahluk tanpa melihat asal usul agama, ras, golongan dan kelompoknya.

Terminologi jihad dan  perang, memiliki jarak atau pemisah yang sangat tipis, sehingga antara jihad dan perang sekan akan sulit dibedakan, mana perilaku yang termasuk kategori jihad dan mana yang masuk kategori perang. Bahkan ada yang memiliki pemahaman, satu satunya jihad yang sebenarnya jika manusia itu berani berlaga di medan perang.

Al qur’an secara ekplisit persoalan jihad tertera dalam surah Ash Shaaf 10-11 “ Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?”(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” . Ayat lain juga dijelaskan dalam surah An Nisa’ : 95” ”Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ´uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,” .

Berdasarkan ayat tersebut, tidak hanya kata yang bisa dipahami bahwa terminologi jihad itu dilakukan dengan kekerasan yang berakibat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Islam  memberikan gambaran kepada umat manusia khususnya umat Islam bahwa Rasulullah Muhammad, diutus untuk memberikan kabar gembira dan juga memberikan peringatan kepada seluruh manusia tanpa pandang bulu atau tanpa melihat agama, suku, golongan, kelompok, suku dan warna kulit.

Rasulullah diperintahkan oleh Allah swt, dalam mengajak ataupun memberikan peringatan harus dengan cara cara yang baik, santun, penuh kedamaian. Cara cara seperti itu akan menambah indahnya atau citra positif agama Islam di mata orang lain baik sesama Islam maupun non Islam. Sesuai dengan surah As Shaba” : 28  “Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada sekalian umat manusia, untuk memberi khabar gembira (dengan syurga) dan untuk memberi peringatan (dengan neraka), tetapi kebanyakkan manusia tidak mengetahui.” . Ayat ini jelas mengajarkan pentingnya umat Islam memiliki sikap dan perilaku yang santun, damai kepada siapapun sehingga menjadikan citra Islam positif di mata umat Islam itu sendiri ataupun dimata orang lain.

Apapun namanya seperti jihad dan perang harus dilakukan hanya untuk menyampaikan kebenaran dan dilakukan dengan  cara cara yang baik dan terhormat sehingga akan mampu mengangkat harkat dan martabat umat Islam.

Dua istilah dalam Islam yaitu Jihad dan perang berpotensi melahirkan sikap dan perilaku yang keras atau radikal sehingga menjadi faktor dominan merusak citra Islam di mata dunia internasional. Dua istilah memiliki karakter subyektif, artinya bisa ditafsirkan atau dimaknai sesuai dnegan setting sosial budaya dan psikologi masing masing pembaca. Jihad dan perang bisa melahirkan karakter dan perilaku yang berujung kekerasan atau radikal, tetapi juga bisa melahirkan sikap dan perilaku yang santun, damai, toleran dan demokratis.

Banyak ayat yang secara tekstualis menjelaskan perintah jihad dan perang, antara lain:

Pertama, Perang diperintahkan tetapi umat Islam harus menyadari bahwa perang itu sesuatu yang memiliki aspek negatif. Perang menjadi alternatif terakhir untuk mempertahankan keselamatan dan keutuhan pribadi, masyarakat dan agama. Seperti dalam firman Allah “ Telah diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Dan bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagimu. Dan bisa jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu buruk bagimu. Alloh mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216) .

Kedua, Perang diperintahkan kepada umat Islam tetapi tidak boleh berlebihan. Seperti Firman Allah swt “ Dan perangilah di jalan Allah orang orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang melamputi batas. ( Al Baqarah 190). Ayat ini memebrikan penekanan bukan pada perintah perang tetapi lebih kepada sikap atau karakter yang berlebihan atau melampui batas. Oleh sebab itu umat Islam tidak boleh bersikap dan berperilaku yang berlebihan dalam hal apapun.

Ketiga, Membunuh dieprbolehkan kepada orang orang kafir, seperti firman Allah swt “ Dan bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kamu dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan dna janganlah kamu memerangi mereka dimasjidl haram, kecuali jika mereka memerangi kamu ditempat itu. Jika mereka memerangi kamu ditempat itu maka bunjuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang orang kafir” (QS Albaqarah 191). Ayat ini sebenarnya tidak mengandung perintah untuk membunuh atau berbuat kasar kepada orang kafir, tetapi lebih kepada perhatian kepada umat Islam harus selalu waspada dan selalu menghindari adanya fitnah. Fitnmah akan menebar kebencian dan menyebabkan orang lain menderita. Selain itu ayat ini mengandung pelajaran perlunya ada keseimbangan dalam bersikap dan perilaku. Kekerasan atau perang diperbolehkan jika benar benar mendesak atau dhorurat dalam situasi dan kondisi tertentu.

Diakui atau tidak teks dalam ayat tentang perintah jihad dan perang menjadi polemik yang menarik sampai sekarang dan perlu dicari solusi untuk melahirkan sikap dan perilaku yang idela dalam konteks berbangsa dan bernegara. Jihad masih cenderung dimaknai melawan orang non muslim dan perang itu terkesan diperbolehkan untuk melawan ortang kafir atau non muslim. Pemehaman seperti inilah yang menyuburkan sikap dan perilaku yang radikal atau kriminal.

Jihad yang “Salah kaprah”

Jihad selalu dipahami “perang suci” (holy war) yang dilakukan dengan cara menggunakan senjata tajam, senjata api serta bom bunuh diri. Oleh sebab itu jihad identik dengan kekerasan, kriminalitas, teroris, tidak berperikemanusiaan, melanggar HAM dan demokrasi. Jihad yang seperti ini mengandung makna negatif, menakutkan bagi orang lain, dibenci banyak orang bahkan menjadi musuh bersama umat beragama dan negara.

Meskipun jihad bermakna negatif, menurut sebagian kelompok tetap dipahami tindakan suci yang harus selalu dikobarkan untuk memberantas kemaksiatan. Kelompok ini meyakini, jihad dengan cara seperti didasarkan firman Allah “ Perangilah dijalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah melampaui batas, karena sesunggnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah “ (QS Al Baqarah:190 dan 193).  Dalam surat lainnya  dijelaskan “ Orang-orang yang beriman berperang dijalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang dijalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaetan itu” (QS. An Nisa’: 76).

Bagi kelompok masyarakat yang memahami ayat diatas secara tekstual, layak dikatakan melakukan “Jihad anarkhis”, karena akan  melahirkan perilaku atau gerakan “radikal”, “ekstrem”, “militan”, “ non toleran” bahkan bisa disebut “anti barat”. “Jihad anarkhis” ini akan melahirkan tipologi gerakan yang cenderung melakukan aksi-aksi jika dilihat dari ukuran “normal” termasuk kategori sangat kasar dan tidak rasional. Misalnya menghancurkan segala hal yang dianggap (menurut keyakinannya) tidak sesuai dengan ajaran Islam. Beberapa tempat hiburan, didatangi dan dirusak karena dianggap pusat kemaksiyatan. Bertindak kasar kepada para penjual makanan yang jualan siang hari selama bulan suci ramadhan. Menghancurkan dengan cara bom bunuh diri terhadap beberapa hotel atau restoran yang dianggap milik orang Amerika/non muslim, meskipun didalamnya juga banyak orang Islam atau orang timur.

“Jihad anarkhis” seperti ini jelas tidak akan efektif untuk memperjuangkan Islam, karena tidak sesuai dengan dinamika dan tuntutan kehidupan masyarakat dalam tataran lokal, regional dan global. Tuntutan dan budaya masyarakat sudah berubah secara drastis jika dibanding dengan masa kehidupan zaman dahulu (zaman ketika rasulullah masih hidup). Dizaman sekarang dituntut mewujudkan sistem demokrasi dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM), oleh sebab itu perjuangan terhadap Islam (jihad) juga harus memperhatikan demokratisasi dan HAM. Konsekuensinya harus ada pergeseran jihad dari “jihad anarkhis” menuju “jihad humanis”, yaitu suatu cara berjuang menegakkan agama Allah yang dilakukan dengan cara santun, damai, tanpa kekerasan, penuh toleransi  dan selalu menjung tinggi HAM.

Akar  Sejarah Terorisme

Terorisme, radikalisme dan fundamentalisme merupakan istilah yang sebenarnya memiliki makan substansi yang berbeda, tetapi dalam kenyataannya diperlakukan seakan akan ada persamaan. Ketiga istilah tersebut memiliki makna yang sama yaitu sama sama menjadikan sesuatu yang menakutkan bagi manusia tidak hanya yang beragama non muslim tetapi juga menakutkan bagi orang yang beragama Islam.

Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Dari sinilah teroror sebenarnay suatu perbuatan yang lebih banyak bernuansa kekerasan atau criminal dan jelas jelas merugikan diri sendiri maupun orang lain. Teror berkaitaan dengan perusakan dan tidak ada etika atau aturan yang dijadikan pedoman. Teror merupakan hal yang berbeda dengan perang, karena perang memiliki kaidah atau etika yang harus dijunjung tinggi oleh pihak pihak yang terlibat peperangan.

Radikalisme lebih tertuju usaha secara komprhensif, mendalam dan dilakukan dengan acara cara yang cepat. Radikalisme awalnya lebih kepada hal yang berkaitan dnegan cara pandang atau cara fikir dalam menghadapi realitas kehidupan sosial.

Fundamentalisme merupakan suatu siskap dan perbuatan yang lebih mengarah kepada usaha untuk memperkuat terhadap keyakinan yang dimiliki dan berusaha melaksanakan keyakinannya kedalam realitas kehidupan  masyarakat. Selain tiga istilah tersebut, ada istilah lagi yang jelas di jelaskan di dalam islam (Al-qur’an dna hadits) yaitu perang. Perang merupakan istilah yangs ecara ekplisit diterangkan di dalam al-qur’an. Tetapi ayat ayat yang menjelaskan tentang perang perlu dipahami secar arif, bijaksana (kontekstual).

Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil. Terorisme tidak bisa dikategorikan sebagai Jihad; Jihad dalam bentuk perang harus jelas pihak-pihak mana saja yang terlibat dalam peperangan, seperti halnya perang yang dilakukan Nabi Muhammad yang mewakili Madinah melawan Makkah dan sekutu-sekutunya. Alasan perang tersebut terutama dipicu oleh kezaliman kaum Quraisy yang melanggar hak hidup kaum Muslimin yang berada di Makkah (termasuk perampasan harta kekayaan kaum Muslimin serta pengusiran).

  Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau !”.(QS 4:75).

Teroris secara sosiologis sebenarnya berkaitan dengan kepentingan kelompok kelompok besar dalam konteks percaturaan dunia dalam mengsukseskan misi kepentingan politik dan bisnisnya. Terorisme sebenarnya sebuah istilah yang sangat jauh dari pesan agama Islam. Terorisme sebenarnya diawali dari proses transaksi kepentingan politik dan juga bisnis antar kelompok kelompok tertentu yang dikemas dengan issu issu agama.

Pada tahun 1948, Syayid Qutb merasakan adanya fenomena yang tidak logis menurut logika manusia yang beragama dan berbangsa. Negara mesir yang mayoritas beragama Islam jelas jelas melakukan kolaboratif dengan negara Inggris yang akhirnya mengganggu kesejahteraan bangsa Mesir. Pada tahun 1968, Mesir masuk sebagai negara yang kacao balao penuh penderitaan bagi rakyat Mesir. Pada tahun 1948, Mesir di guncang gelombang protes besar besaran protes anti Inggris yang dilanjutkan ingin mengusir tentara Inggris dan  juga raja Mesir kala itu yang bernama Raja Farouk dari negara Mesir. 

Fenomana bangsa Mesir pada tahun 1948 dapat dilihat dari realitas internal dan eksternal. Secara internal, bangsa Mesir sedang mengalami berbagai kritik yang dilancarkan dari tokoh tokoh internal seperti Sayyid Qutb, dimana dalam pandangan Sayyid Qutb melihat bahwa Raja Farouk kala itu sosok seorang raja yang lebih senang bermewah mewahan dan berpoya poya yang melupakan kesejahteraan rakyatnya. Olerh sebab itu Sayyid Qutb melontarkan berbagai kritik melalui karya sastranya yang akhirnya memicu kemarahan raja Farouk yang memerintahkan penangkapan terhadap sayyid Qutb.  Sedangkan secara eksternal, pemerintah mesir telah melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan negara Inggris yang akhirnya menjadikan cikal bakal berdirinya bangsa Israel di wilayah Arab. Setelah berkahirnya perang dunia ke II (PD II) sekitar tahun 1945, Amerika bersama sekutunya Inggris melakukan persengkokolan dengan negara Mesir yang akhirnya menyetujuhi gerakan zeonis yang dijadikan modal gerakan orang Israel.

Istilah teroris mulai familier di telinga masyarakat dunia dan umat Islam khususnya setelah adanya peristiwa peledakan menara kembar WTC tanggal 11 september 2001. Istilah teroris selalu dikaitkan denagn seorang tokoh besar yang bernama Osma Bin Laden. Lawrence Wright (2011) menjelaskan bahwa Sosok nama Osama Bin laden mulai menjadi perhatian dunia dimulai sejak bulan agustus 1996, ketika Osama Bin Laden menyatakan perang terhadap Amerika Serikat dari dalam sebuah gua di Negara Afghanistan.

Terorisme dan radikalisme merupakan dua istilah yang seakan akan sama secara substansi, sehingga istilah radikalisme menjadikan momok (pobhia) bagi semua orang tidak hanya orang non muslim tetapi juga momok menakutkan bagi seorang yang beragama Islam.

Endang Turmudzi dan Riza Sihbudi (2005) menjelaskan bahwa dalam konteks religio-politik Islam cap fundamentalisme dan radikalisme sering dipergunakan dengan nada sinis terhadap istilah atau gerakan yang dilakukan umat Islam misalnya menyebut Republik Islam Iran, Hamas, Imam Khomeini, Ikhwanul Muslimin. Dalam konteks internal Indonesia juga ada istilah atau oragnisasi seperti Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir  Indonesia (HTI), Laskar Jihad (LJ), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).

Kekerasan dalam perspektif Sejarah Islam

Kekerasan adalah suatu sikap dan perbuatan yang menyebabkan orang lain menderita atau sengsara. Kekerasan lebih cenderung suatu perbuatan yang tidak mengindahkan etika, norma dan aturan yang ada di dalam agama maupun sosial. Kekerasan lebih bersifat fisik, artinya perbuatan itu dikatakan sebuah kekerasan jika menyebabkan kerusakan secara fisik. Indikator utama dilihat dari persepktif fisik, meskipun banyak juga kekerasan fisik juga berimplikasi kepada hal hal yang sifatanya  psikhis maupun sosiologis.

Fenomena kekerasan sudah terjadi sejak zaman sahabat (kehidupan pasca Rasulullah). Dimana para sahabat Rasul juga tidak terlepas dari serangan kelompok kelompok lainnya yang menyebabkan kematian para sahabat rasul. Empat sahabat rasul hanya satu sahabat yaitu Sayyidina Abu Bakar Assidiq yang wafat secara normal. Tiga sahabat lainnya yaitu Sayyidna Umar bin Khottab, Sayyidina Ustman ibnu Afwan dan sayyidina Ali Ibnu Abu Tholib wafatnya adalah   dibunuh oleh sebagian kelompok lain dengan sebab yang berbeda beda.

Sahabat Umar Ibu Khattab dibunuh oleh seorang budah bernama Abu Luk luk, adapun faktor pembunuhan tersebtu disebabkan adanya iri, dengki atau dendam kesumat akibat sahabat Umar berhasil menaklukkan Persia menjadi wilayah Islam. Penyebaran Islam yang sangat cepat dan luas menyebabkan kebencian abu Luk Luk, sehingga sampai kepada pembunuhan kepada sabahat Umar ibnu khottab. Hal ini jelas terbunuhnya sahabat umar lebih disebabkan adanya perjuangan menegakkan atau menyebarkan agama Allah (agama Islam).

Sahabat Ustman Ibnu Affan dikenal seorang sahabat yang sangat ramah, dermawan, jujur dan adil. Meskipun demikian, Sahabat Ustman Ibnu Affan meninggal akibat terbunuh dari kelompok pemberontak yang mengepung rumah sahabat utsman ibnu affwa selama 40 hari. Hal ini disebabkan oleh adanya kebencian dari kelompok pemeberontak terhadap sahabat Utsman Ibnu Affan yang mengganti beberapa pejabat (gubernurt/bupati) yang dianggap kurang cakap, kurang adil dan kurang jujur. Orang orang yang diganti oleh sahabat Utsman ibnu affan tersebut tidak legowo menghadapi pergantian tersebut, akhirnya bersengkongkol untuk merobohkan  kekuasaan Utsman ibnu Affan dengan cara membunuh, akhirnya ustman bin affan terbunuh pada saat duduk membaca al-qur’an di dalam rumuanya sendiri. Hal ini jelas terbunuhnya utsman bin affan, dilatarbelakangi adanya persoalan intrik politik khususnya tidaka legowonya para pejabat yang diganti oleh utsman ibnu affan.

Sahabat Ali Ibnu Abi Tholib  dalam suatu riwayat hadit disebut sebagai sosok yang paling cerdas, orang pertama kali masuk Islam, bahkan diprediksikan masuk surga pertama tanpa hisab. Meskipun demikian, sahabat Ali Ibnu Abu Tholib wafat terbunuh ditangan seorang ulama besar bernama Abdurrahman ibnu mulzam. Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Abdurrahaman Ibnu Mulzam adalah seorang ulama yang rajin sholat tahajut (sholat malam), selalu puasa sunah senin-kamis, bahkan seorang hafal alqur’an (hafidz). Abdurrahaman ibnu mulzam berhasil membunuh Ali Ibnu Abu Tholib pada tanggal 17 ramadhan pada saat berangakat sholat subuh, pada saat akan masuk kedalam masjid, Abdurrahman Ibnu Mulzam berhasil menebas pedang kedahi Ali Ibnu Abnu Tholib. Pembunuhan itu terjadi, karena Ali Ibnu Abu Tholib tidak melaksanakan kaidah Laa hukmu illa lillah (tidak ada hukum selain hukum Allah/al-qur’an) Ali Ibnu Abu Tholib dianggap telah melaksanakan hukum selain al-qur’an karena melakukan musyawarah dengan kelompok lain dalam pemerintahannya, oleh sebab itu  dianggap kafir oleh Abdurrahman Ibnu Mulzam.

Kesimpulan

Islam tidak membenarkan atau memerintahkan umatnya untuk melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan jihad dan perang. Jihad harus dilakukan oleh semua umat Islam tetapi harus tetap memeprhatikan etika, kontekstual situasi sehingga tidak merugikan siapapun. Jihad lebih tepat dipahami suatu usaha yang sungguh sungguh atau serius sehingga setiap usahanya selalu berhasil dengan  hasil yang sesuai harapan.

Perang dilakukan oleh umat Islam dengan tujuan untuk mempertahankan kebenaran atau membela diri. Perang yang dilakukan dengan motif atau tujuan kekuasaan, materi dan ambisi pribadi ataupun kelompok jelas tidak dibenarkan oleh ajaran atau norma Islam. Pada zaman sekarang sangat sulit mengatakan bahwa perang itu untuk tujuan keagamaan atau memperjuangkan kebenaran dan agama, mayoritas bahkan dapat dikatakan semua perang di zaman sekarang hanya bertujuan untuk ekonomi (kapitalis), ambisi (politik), sehingga perang di zaman sekarang tidak sesuai dengan perang yang dilaksanakan pada zaman Rasul.

Kesalahan memahami terminologi jihad dan perang akan menimbulkan perilaku kekerasan atau anarkhisme dalam kehidupan sosial. Banyak fenomena kekerasan atau anarkhisme lebih didominasi oleh pemahaman ayat yang tidak kontekstual. Hanya dengan pemahaman kontekstualitas ayat itulah akan dapat dieliminir atau menghilangkan perilaku anarkhis (radikalisme).

 

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter