|  | 

Jurnal

Rembang “Bangkit” Menuju Era Global

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Media online m.kbr.id Sabtu tanggal 20 Pebruari 2016 memuat berita dengan judul sangat menarik, visioner dan progresif “ Baru dilantik, Bupati Rembang Usul Ubah Slogan Daerah”. Dalam pandangan Bupati Rembang periode 2016-2021, bahwa bahwa Slogan “bangkit” nampaknya kurang  relevan dengan era sekarang. Kalau hanya bangkit saja, terus kapan majunya? Begitu kira kira yang terpikir dalam benak sang Bupati Rembang KH. Abdul Hafidz yang juga seorang Ulama, Kiai dan juga  Mubaligh.

Seperti biasa setiap idea tau gagasan baru,  selalu muncul pro dan kontra. Gagasan Bupati Rembang yang ingin merubah slogan juga mendapat respon dari berbagai elemen. Media mataairradio.com pada Rabu 2 Maret 2016 menulis berita berjudul “ Wacana Pergantian Slogan Rembang Bangkit Ditentang”. Salah seorang pegiat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Rembang bernama Suparno menilai bahwa kabupaten Rembang tidak perlu merubah slogan dari “Bangkit” menjadi “Madani”, karena slogan Bangkit justru memiliki makna  terus mengajak, memotivasi dan selalu mengingatkan. Wakil Ketua DPRD Rembang Bisri Cholil Laquf meminta agar Bupati memberikan penjelasan yang detail tentang usulan mengganti slogan Rembang dari “Bangkit” menjadi “Madani” atau “Kota Santri”.

Terlepas dari pro dan kontra, gagasan Bupati yang ingin merubah slogan daerah layak di acungi jempol bahkan jempol 2 bila perlu. Kenapa? Slogan daerah menurut saya merupakan basis ideologi pembangunan, basis ideologi perjuangan  dan sekaligus basis ideologi pergerakan. Jika seorang Bupati memiliki gagasan untuk merubah atau menyesuaikan slogan daerah berarti seorang Bupati itu memiliki basis pemikiran yang jelas, kongkrit dan berorientasi jauh kedepan. Gagasan yang cemerlang dan kegigihan Bupati dalam membangun Kabupaten Rembang harus di ikuti oleh berbagai elemen masyarakat agar masyarakat Rembang benar benar bisa menjalani kehidupan sosial yang aman, nyaman, bahagia dan sejahtera.

Buku karya Moh Sugiharyadi berjudul “ Politik, Pendidikan, Budaya dan Agama, Pemikiran Mewujudkan Kesejahteraan Berbangsa” dapat dipahami sebagai salah satu respon terhadap gagasan Bupati Rembang yang cukup dinamis, inovatif dan visioner dalam membangun masyarakat Rembang. Buku ini juga menunjukan kegelisahan anak mudah terhadap berbagai fenomena sosial di Indonesia pada umumnya dan di kabupaten Rembang khususnya yang dituangkan melalui karya ilmiah sehingga bisa diuji, dikomentari atau di kritisi  oleh siapapun dengan cara atau metode yang ilmiah juga.

Masyarakat Pantura umumnya dan warga Rembang khususnya, pasti tidak asing dengan hadis yang berbunyi “Man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa Robbahu”, barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhanya. Mengenal dirinya tidak hanya besifat personal tetapi juga bersifat sosial atau komunitas. Mengenal Tuhanya berarti memperoleh kebaikan, kebahagiaan dan kesejahteraan dunia akherat. Artinya jika menghendaki kebaikan, kebahagiaan dan kesejahteraan harus mengetahui secara mendalam tentang apa yang ada di dalam dirinya dan yang ada disekitarnya. Jika berharap terwujudnya kesejahteraan bagi warga Rembang maka sudah seharusnya mengetahui dan memahami apa dan bagaimana etika, kultur, norma yang berlaku di wilayah kabupaten Rembang.   

George Ritzer (1996) dalam buku “Modern Sociology Theory” menjelaskan bahwa kualitas kehidupan suatu masyarakat (komunitas) ditentukan oleh sejauhmana mampu memahami, menghayati dan melaksanakan nilai nilai sosial yang terkandung dalam aspek kehidupan seperti  politik, pendidikan, budaya dan agama dan aspek lainnya. Oleh sebab itu mengetahui dan memahami berbagai fenomena yang terjadi dalam proses politik, proses pendidikan, proses budaya serta proses beragama (keberagamaan) menjadi penting bagi setiap anggota masyarakat. Buku karya Moh Sugiharyadi, memiliki maksud mengajak kepada seluruh masyarakat khususnya warga kabupaten Rembang agar lebih mengetahui dan memahami serta menganalisis berbagai fenomena dan fakta fakta politik, pendidikan, budaya dan agama. 

Anomali Masyarakat

Anomali dimaksudkan munculnya berbagai keanehan keanehan yang ada ditengah tengah masyarakat. Keanehan bisa menjurus kepada kesalahan atau pelanggaran norma dan etika, bisa juga hanya sekedar lucu saja. Anomali muncul disebabkan oleh cepatnya perkembangan atau dinamika ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.  Ketidak berdayaan mengahdapi tekanan dan dinamika ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya maka masyarakat akan mudah terjadi keanehan bahkan juga penyimpangan dari kaidah norma dan etika.

Antony Giddens (1993) dalam buku “ New Rules of Sociological Method” bahwa Problem yang menjelma sebagai ketegangan atau konflik masyarakat di sebabkan oleh tiga hal; Pertama, tidak adanya standar norma atau nilai yang mengikat. Artinya elemen amsyarakat sudah tidak lagi percaya dan mengikuti norma dan etika yang ada dalam realitas kehidupan. Kedua, kurangnya ruang untuk aktualisasi atau artikulasi pemikiran, sikap dan gerakan sehingga masing masing elemen merasa terganggu atau kurang nyaman dalam kehidupan. Ketiga, kurangnya tokoh atau panutan yang mampu menggerakkan akal rasional, sikap dan perilaku bagi masyarakat. Artinya, para tokoh tidak lagi bisa dijadikan panutan (uswah) bagi masyarakat dalam menjalani proses kehidupan sosial.

Disadari atau tidak di era sekarang banyak sikap dan perilaku  masyarakat yang tidak sesuai dengan norma dan etika sosial terutama dalam persoalan politik, pendidikan, budaya dan agama. Politik seakan akan menjadi “barang dagangan”, politik menjadi “Pasar transaksi”, politik menjadi aspek yang “menghalalkan” segala cara. Sudah biasa orang berpendapat, dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi hanya kepentingan.  Dalam aspek pendidikan juga  sering terjadi pelanggaran fitrah pendidikan. Pendidikan yang seharusnya mengembangkan seluruh potensi peserta didik justru membunuh atau memangkas pengembangan potensi. Pendidikan yang memiliki misi mendidik, membimbing dan melatih justru terjebak pada proses penindasan. Pendidikan yang seharusnya mendewasakan malah berbalik mengkerdilkan. Pendidikan yang memiliki tujuan melahirkan ketrampilan terkadang berubah hanya melahirkan manusia manusia yang bermalas malasan.

Budaya bangsa Indonesia yang sarat dengan kekompakan, keharmonisan, kegotong royongan sudah terasa hilang tanpa pesan. Agama yang memiliki misi mewujudkan kasih sayang dan perdamaian disalah pahami untuk melakukan kedholiman dan penindasan. Agama mengharuskan dakwah dengan bijaksana, ucapan yang baik tetapi dalam realitasnya dilakukan dengan penuh caci maki dan ujaran kebencian. Agama yang seharusnya menjadi system nilai kehidupan hanya dipahami sebatas amalan ritual dan seremonial. Akibatnya agama seakan akan hanya ada di tempat ibadah, forum pengajian dan pondok pesantren.

Ini semua merupakan contoh kecil berbagai anomali atau keanehan keanehan yang dilakukan masyarakat dalam memahami aspek kehidupan khususnya aspek politik, pendidikan, budaya dan agama. Fenomena ini tidak mungkin dibiarkan terus berkembang semakin buruk. Masyarakat harus dibimbing dan diberdayakan agar menjadi lebih cerdas dalam membaca zaman baik kekinian maupun era global.

Membaca zaman berarti memiliki pengetahuan, pemahaman dan perilaku yang tepat , utuh dan komprehensif terhadap  politik, pendidikan, budaya dan agama. Mengapa? Karena keempat aspek tersebut memiliki peran sangat signifikan dan dominan untuk melahirkan kualitas kehidupan bagi bangsa Indonesia. Artinya apa bila gagal dalama memahami makna politik, pendidikan, budaya dan agama maka akan berpotensi besar munculnya kegagalan dalam proses kehidupan, sebaliknya berhasil dalam memahami makna politik, pendidikan, budaya dan agama maka akan sukses dalam berbangsa dan bernegara.

Penyakit kebangsaan

Upaya membangun kesadaran berbanagsa dan bernegara (nasionalisme) diawali dari gagasan seorang tokoh generasi mudah bernama  dr. Soetomo dengan mendirikan organisasi sosial bernama Boedi Oetomo (BO) pada tahun 1908. Rentang waktu yang dapat dikatakan relatif lama untuk memperjuangkan sebuah cita cita luhur yaitu ingin memiliki suatu bangsa yang berbudaya atau beradab dalam konteks nasional maupun internasional. Walaupun sudah mencapai usia satu abat lebih, bangsa Indonesia belum sepenuhnya mampu meraih cita cita luhur seperti yang diinginkan para pendahulu bangsa khususnya dr Soetomo.

Terdapat  tiga hambatan yang dialami oleh bangsa Indoensia mulai dari tingkat akar rumput, sampai tingtkat elit yang saya sebut penyakit kebangsaan. Setidaknya ada tiga macam penyaakit kebangsaan yang menghambat tercapainya cita cita luhur bangsa Indonesia.

Pertama penyakit pada level elit. Para elit bangsa belum sepenuhnya bisa dijadikan panutan (uswah) bagi rakyat kecil. Para wakil rakyat ( DPR) yang notabenenya memperjuangkan rakyat ternyata belum mendapat kepercayaan dari rakyat. Hasil survey penulis di Yayasan Tasamuh Indonesia Mengabdi ( TIME) Pada desember 2017, kepuasan mahasiswa terhadap kinerja DPR hanya mencapai 11 %. Sedang sisanya 89% menyatakan tidak puas terhadap kinerja DPR.  Di tahun 2012  penulis bersama pusat penelitian STAIN Kudus juga melakukan survey   tentang persepsi masyarakat terhadap Partai Politik ( Parpol). Hasilnya sangat mengejutkan, hanya 2 % yang menyatakan bahwa parpol berjuang untuk aspirasi rakyat. Sebesar 62% mengatakan parpol berjuang hanya untuk dirinya sendiri. Sedangkan yang 31% menyatakan parpol sering berjanji tapi tidak ditepati. Sisanya 5 % menyatakan tidak tau. Dari perspektif sosiologis, faktor penyebab rendahnya kepercayaan terhadap elit bangsa lebih disebabkan tidak konsisten antara apa yang di ucapkan dengan perilaku. Para tokoh bangsa belum banyak yang memiliki kesantunan dalam berbicara. Masih banyak kita jumpai para elit bangsa lebih mengedepankan emosional dari pada rasional dalam mensikapi persoalan bangsa ini.

Kedua, penyakit kebangsaan pada level konstitusi. Bangsa yang sudah merdeka selama 73 tahun ternyata masih ada sebagian elemen yang  belum bisa menerima pancasila sebagai dasar negara. Berlindung dibalik alasan berdakwah mereka mengajak untuk mendirikan sistem negara Islam ( khilafah) yang secara otomatis tidak menerima pancasila sebagai dasar negara. Untungnya pemerintah dengan cepat dan tegas melarang ormas yang nyata nyata tidak setuju dengan pancasila sebagai dasar negara. Pelarangan ormas tersebut dikuatkan oleh putusan Pengadilan Tata Usaha Negara tanggal 7 mei 2018.Terlepas dari pro dan kontra, apapun alasanya jika ingin menjadi bangsa yang besar dan bermartabat maka diskursus tentang dasar negara harus dianggap final ( selesai). Artinya ruang untuk mendiskusikan mengganti dasar negara harus ditiadakan. Sedikit aja dibuka ruang untuk mendiskusukan tentang kemungkinan mengganti dasar negara  berarti sudah membuka pintu gerbang untuk memulai suatu perpecahan antar suku, etnis, agama dan golongan.  Implikasi lain dari penyakit kebangsaan pada level konstitusi adalah maraknya gerakan atau aksi terorisme. Mereka berkeyakinan bahwa negara bersama aparaturnya yang menjaga pancasila dan NKRI dianggap kafir sehingga wajib di perangi. Bukti nyata ganasnya aksi terorisme dapat dirasakan dalam kerusuhan di mako brimob tanggal 9 mei 2018 yang menelan 5 korban dari polisi dan 1 orang dari napi terorisme. Serangan bom bunuh diri  oleh terorisme di tiga gereja di Surabaya pada hari minggu pagi jam 06.45 – 07.30 wib tanggal  13 mei 2018 yang mengakibatkan 10 orang meninggal dan 40 korban luka luka. Ledakan bom teroris berlanjut di Rrusunawa Sidoarjo Jawa Timur  hari mingu malam jam 21.00 wib yang menewaskan 4 orang pelaku teroris. Sehari berikutnya yaitu hari senin 14 mei 2018, terjadi lagi serangan aksi bom bunuh diri di depan Mapolresta Surabaya yang mengakibatkan 4 orang meninggal dan 6 korban luka luka. Aksi teroris masih terus berlanjut, pada hari rabu tanggal 16 mei 2018 pukul 09.15 wib Markas Polda Riau di Jalan Gajah Mada Pekanbaru diserang 8 orang terduga teroris yang mengakibatkan 1 polisi gugur, 4 teroris tewas dana 4 orang lainya tewas.

Ketiga, penyakit kebangsaan pada level akar rumput (grassroot). Terkoyaknya sendi sendi kebangsaan di sebabkan oleh konflik horisontal. Masih sering terjadi konflik atau tawuran antar kelompok, antar desa, antar pelajar  serta antar organisasi yang ternyata disebabkan hal yang ringan, kecil dan sepele. Ikatan persaudaraan antar sesama manusia  sudah mulai luntur. Hubungan antar orangtua dan anak sudah tidak lagi harmonis. Karena sering terjadi orangtua membunuh anak kandung, anak kandung menyiksa orang tua. Orang tua membuang bayi yang baru dilahirkan. Dan masih banyak fenomena anomali yang kita lihat setiap hari.  Komunikasi antara siswa dengan guru  sering tidak berdasar etika. Belum hilang dari ingatan kita, di Surabaya  ada pelajar menghajar gurunya sampai tewas. Tidak sedikit  juga oknum  guru sering melakukan pelecehan seksual kepada anak didiknya, padahal guru seharusnya   membimbing, membina serta mengembangkan potensi intelektual, moral dan spiritual para peserta didiknya.

Mengimunisasi Pancasila

Saat sekarang dapat dikatakan dasar negara bangsa Indonesia yaitu Pancasila  sedang di serang virus penyakit bernama Radikalisme dan Terorisme. Jika Pancasila kalah kuat dengan kedua virus tersebut maka dipastikan Pancasila akan jatuh sakit bahkan bisa mati.  Upaya memberikan kekebalan ( imunisasi) kepada Pancasila merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditunda lagi. Diakui atau tidak Pancasila sebagai dasar negara menjadi incaran kelompok kelompok radikal dan teror. Mereka beranggapan, Pancasila tidak tepat diberlakukan di Indonesia yang cocok berlaku di Indoensia  adalah sistem negara Islam (Khilafah).

Hasil Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) tahun 2010 hingga 2011, yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo Guru Besar Sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Secara detail data menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Diperkuat dengan hasil survei  The Pew Research Center pada 2015 lalu, mengungkapkan di Indonesia, sekitar 4 % atau sekitar 10 juta orang warga Indonesia mendukung ISIS, dimana  sebagian besar dari mereka merupakan anak-anak muda.

Seperti layaknya virus pada umumnya, virus penyakit radikalisme dan terorisme di kembangbiakan melalui berbagai media seperti media forum keagamaan dan media sosial seperti seperti Facebook, Twitter, instagram, WhatsApp (WA)  dan linkedin. Menurut Solahudin, Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia melalui hasil risetnya tahun 2017 mengatakan bahwa  media sosial seperti Facebook, Twitter, WhatsApp (WA), Instagram mempercepat masuknya paham radikalisasi. Akan tetapi, rekrutmen anggota kelompok teror masih kerap dilakukan tanpa perantara media sosial dalam artian melalui forum forum pertemuan secara langsung antara pendoktrin dnegan calon kader teroris.

Khalil Abdul Karim  (1995) bahwa ada tiga unsur yang terkait dengan virus radikalisme dan terorisme yang ujung ujungnya mengganti Pancasila sebagai dasar negara. Tiga unsur itu adalah  aktor intelektual atau Penyebab, yaitu bisa menjelma manusia secara personal atau organisasi  yang mengsupport, mendorong dan memotivasi tumbuhnya faham radikalisme dan terorisme. Dalam konteks ini adalah para penceramah, mubalig, nara sumber  dan siapapun yang memiliki cara fikir radikal, tekstualis dan anti Pancasila serta NKRI. Elemen yang selalu mengusung issu pemberlakuan syariat Islam atau sistem negara khilafah. Mereka berkeyakinan bahwa hanya sistem syariat Islam  yang mampu mensejahterakan rakyat. Padahal belum pernah ada sistem negara khilafah yang benar benar mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Unsur kedua adalah media atau sarana. Dalam hal ini media sosial seperti Facebook, Twitter, instagram,WhatsApp (WA) linkedin dan juga buku buku populer yang dijual di berbagai toko. Di Zaman sekarang yang dikenal dengan zaman digital,  masyarakat sangat mudah terpengaruh dengan konten konten yang ada di twitter, facebook, instagram, WA dan linkedin maupun  buku. Posting informasi melalui sosial media sangat cepat merasuk ke dalam hati sanubari para pembaca yang dikenal  dengan generasi melenial. Besarnya pengaruh sosial media,  masyarakat sangat percaya semua informasi yang diterima dari sosial media  pesan tanpa melakukan klarifikasi (tabayun). Setiap detik, menit dan jam, postingan konten konten faham radikalisme dan terorisme sangat mudah di terima oleh masyarakat Indonesia.

Unsur ketiga adalah pelaku (aktor). Dalam unsur ini menyangkut pelaku teror yang biasa di kenal dengan “pengantin”. Banyak anak anak mudah baik lagi laki maupun perempuan telah menjaid korban faham radikal. Bukti nyata aksi teroris dengan cara bom bunuh diri dilakukan oleh satu keluarga yang didalamnya ada anak anak yang masih remaja. Pelaku teroris ini dapat dikatakan korban dari unsur kedua dan pertama. Kuatnya pengaruh daru unsur pertama dalam memanfaatkan unsur kedua, maka mengakibatkan mudahnya mencari pelaku aksi radikal dan teror.

Imunisasi yang sukses dilakukan dengan memasukan anti virus yang lebih kuat agar mampu membunuh virus yang menyebabkan munculnya penyakit. Virus penyakit pancasila yang bernama  radikalisme dan terorisme harus di lawan dengan anti virus yang mampu menjadikan kuat atau kebal Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Anti virus yang perliu diinjectke dalam kehidupan bangsa Indonesia adalah Berfikir Kontekstual, Wawasan Kebangsaan (Nasionalisme) dan Islam Indonesia (Nusantara).

Injeksi virus anti radikalisme dan terorisme harus dilakukan secara simultan dan masif. Simultan artinya masing masing elemen, lembaga, organisasi dan kelompok harus saling bersinergi saling mendukung langkah langkah yang dilakukan untuk  melawan faham radikalisme dan aksi terorisme. Jangan saling jegal, saling menghambat sehingga kebijakan atau langkah melawan faham radikal dan teror tidak bisa berjalan efektif. Masif mengandung makna, upaya untuk melawan radikalisme dan terorisme harus dilakukan secara terus menerus melalui berbagai sarana atau media. Pengawasan semua orang atau tokoh yang berpotensi melakukan provokasi tumbuhnya faham radikalisme dan terorisme harus terus ditingkatkan. Sikap tegas aparat dan pejabat yang berwenang untuk menindak tegas para pendukung faham radikal dan terorisme jangan sampai berhenti ditengah jalan. Sikap Rektor Undip dengan cepat mendeteksi dan melakukan langkah langkah tegas terhadap dosennya yang terbukti mendukung radikalisme dan anti pancasila perlu diacungi jempol. Ketegasan Rektor Undip perlu ditiru oleh pihak pihak lain agar faham radikalsiem dan anti pancasila bisa hentikan dan disadarkan kejalan yang benar yaitu bergeser berfikir kontekstual, wawasan kebangsan (nasionalisme), bagi umat Islam harus memahami dengan benar tentang Islam nusantara.

Ada enam  kreteria yang dapat dijadikan ukuran untuk menjustifikasi seseorang itu bisa dikatakan memiliki faham radikal dan anti pancasila, Pertama, tercatat sebagai pengurus organisasi yang memiliki faham radikal dan anti pancasila atau pro khilafah. Kedua, terdaftar sebagai anggota organisasi yang memiliki faham radikal dan anti pancasila.  Ketiga, tidak terdaftar  sebagai pengurus dan anggota tetapi aktif (hadir) mengikuti kegiatan yang dilakukan organiasasi yang memiliki faham radikal dan anti pancasila.  Keempat, mendukung atau memfasilitasi kegiatan yang berisi faham radikal dan anti pancasila seperti, memberikan sumbangan, ikut mensosialisasikan kegiatan, menyuruh orang lain atau mengajak untuk hadir dalam kegiatan, memperbolehkan rumah atau kantornya dijadikan lokasi kegiatan. Kelima, menulis atau mensosialisasikan pendapatnya yang mendukung faham radikal dan anti pancasila. Keenam, mengkoleksi dan atau memposting tulisan atau pendapat orang lain yang mendukung faham radikal dan anti pancasila.

Guru  Bekerja  Tanpa Perlindungan

Guru dan dosen salah satu jenis profesi yang diakui oleh pemerintah dan memiliki tugas utama mencerdaskan anak bangsa secara lahir maupun batin, cerdas intelektua dan cerdas kepribadian. Dalam menjalankan tugasnya, para Guru dan juga dosen sering dijadikan “tumbal”, kambing hitam atas kegagalan pendidikan. Filosofi Guru yang sering dikatakan sosok yang “Digugu” dan “Ditiru” sudah hilang ditelan zaman. Mengapa?, karena Guru sering di ancam oleh siswanya sendiri. Ingat.. !! kasus Guru honorer di Surabaya yang mendapat kekeraan dari siswanya hingga meninggal hanya gara gara memberi peringatan kepada siswanya agar berkata dan bersikap yang baik.

Banyak berbagai kasus yang ujung ujungnya guru harus meringkuk di panjara atau tahanan karena dianggap melakukan kekerasana kepada para siswanya. Ancaman profesi guru tidak hanay dari para siswanya, dari masyarakat (orangtua siswa ) juga kurang memebria penghargaan kepada kinerja Guru yang telah dilakukan. Hasil survei  Yayasan Tasamuh Indonesia Mengabdi (Time) di Jateng menyebutkan sebagian besar  masyarakat setuju jika ada guru yang melakukan kekerasan diproses melalu jalur hukum. Hal ini bisa diartikan sebagian besar masyarakat belum sadar dan belum menghargai guru sebagai profesi yang mulia dan harus dihargai oleh semua pihak. Survei yang dilakukan selama dua minggu yaitu tanggal 5 sampai 17 Februari 2018 dengan jumlah  762 responden telah memberikan respons atau jawaban sesuai opsi pilihan yang telah ditentukan.

Terhadap pertanyan, bagaimana sikap anda jika ada Guru yang melakukan kekerasan dilaporkan ke aparat hukum/polisi? Yang menjawab A (Setuju) sebanyak 492 (65 persen), Yang menjawab B (Tidak Setuju) sebanyak 245 ( 32 persen), dan Yang menjawab C (Ragu Ragu) sebanyak 25 ( tiga persen).Berdasarkan hasil survei ini, akan berimplikasi tidak optimalnya para Guru  dalam menjalankan tugas dan profesinya. Karena dibawah bayang bayang penjara atau tahanan. Padahal apa yang dilakukan Guru kepada siswa tidak selamanya bermaksud menyakiti, tetapi lebih kepada membentuk disiplin dan ketertiban.

Tugas guru sangat berat karena harus membimbing, mengarahkan,  semua potensi siswa agar tumbuh dan berkembang secara optimal menuju arah yang positif. Dalam rangka membimbing dan mendisiplinkan mungkin perlu langkah langkah yang sedikit ketat dan keras agar siswa benar memiliki kesediaan untuk mentaati dan patuh kepada apa yang diharapkan oleh Guru.

Guru dan dosen adalah profesi yang memiliki tugas yang sangat berat dan rumit. Dikatakan berat karena guru dalam tugasnya menjadi tumpuhan dan harapan utama dalam mencapai kesuksesan belajar siswa. Apabila siswa gagal dalam belajar, maka guru menjadi orang pertama yang disalahkan. Sukses atau gagal, baik atau buruk, pintar atau tidak pintarnya siswa semuanya menjadi tanggung jawab guru. Dikatakan rumit karena dalam membimbing dan membina serta mengembangkan pengetahuan, kepribadian dan ketrampilan menyangkut berbagai aspek dan potensi yang sangat kompleks.

Undang Undnag Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005 secara jelas telah mengatur dan mengamanahkan perlunya Perlindungan bagi profesi Guru dan Dosen. Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi dan /atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas. Perlindungan dimaksud dalam ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Perlindungan hukum sebagaimaan dimaksud pada ayat (2)  mencakup perlindungan hukum terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokarsi atau pihak lain. Perlindungan profesi sebagaimana pada ayat (2) mencakup  perlindungan pemutusan hubungan kerjan yang tidak sesuai dengan peraturan perundang undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam penyampaian pandangan, pelecehan terhadap profesi dan pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas. Perlindunagn keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap resiko gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam, kesehatan lingkungan kerja dan resiko lain. (Pasal 39 ayat 1-5).

Tidak hanya Guru, Dosen juga berhak mendapatkan perlindungan profesi agar dalam menjalanakn tuagsnya benar benar nyaman. Dalam Undang Undang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005, secara tegas memberi amanah bahwa Dosen wajib mendapatkan perlindungan. Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi dan /atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas. Perlindungan dimaksud dalam ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Perlindungan hukum sebagaimaan dimaksud pada ayat (2)  mencakup perlindungan hukum terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokarsi atau pihak lain. Perlindungan profesi sebagaimana pada ayat (2) mencakup  perlindungan pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundang undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam penyampaian pandangan, pelecehan terhadap profesi dan pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat Dosen dalam melaksanakan tugas. Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap resiko gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam, kesehatan lingkungan kerja dan resiko lain. (Pasal 75 ayat 1-6).

Harmoni Beragama

Semua agama khususnya Islam diturunkan untuk menciptakan kedamaian, ketenangan dan kemaslahatan bagi semua yang ada di bumi ini. Ayat yang berbunyi Wamaa Arsalnaaka illa Rahmatan lil’alamiin ( Dan tidaklah Kami (Allah swt) mengutus engkau (Muhammad SAW), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam ( QS. Al Anbiya: 107), membuktikan  bahwa Islam memiliki misi utama menciptakan kedamaian tidak hanya untuk sesama umat Islam (Muslim) tetapi juga kepada semua manusia apapun agamanya.

Islam sebagai agama bersifat utuh dan komprehensif, artinya Islam akan tegak lurus mampu mengemban misi mewujudkan kedamaian jika para pemeluknya memiliki cara fikir dan pemahaman dengan menggunakan pendekatan dari berbagai aspek kehidupan (multi pendekatan). Setidaknya menggunakan cara fikir atau pemahaman kontekstual, tidak yang bersifat tekstual dan dogmatik formal. mengapa demikian? karena ayat al qur’an  dan hadis memiliki makna untuk menjawab tantangan atau problem kehidupan masyarakat yang senantiasa berubah sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat. Teks ayat dan hadis tetap sepanjang zaman, tetapi cara memahami atau memaknai isi atau pesan harus disesuaikan dengan persoalan masyarakat. Banyak ayat dan hadis yang memerlukan  pemahaman dari berbagai ahli (ulama) sehingga ayat dan hadis itu melahirkan perbedaan pandangan /ikhtilafiyah).

Di era yang disebut globalisasi dimana problem atau tantangan kehidupan manusia semakin hari makin kompleks, harus diimbangi dengan cara fikir yang kreatif dan kontekstual, bukan malah sebaliknya disikapi dengan cara fikir dogmatis dan tekstualis. Di zaman yang moderen dimana manusia harus semakin kuat dalam membangun komunikasi dan saling menghargai perbedaan justru diikuti dengan sikap dan perilaku saling hujat,  satu dengan lainnya dengan alasan dakwah Islam, amar makruf, menegakan agama, menjaga akidah, jihad dan lain sebagainya. masing masing orang dna kelompok merasa memiliki hak untuk menghakimi atau menjustifikasi kesalahan dan dosa orang lain.

Dalil “Man Tasyabbaha Bi Qaumin  Fahuwa Minhum” yang disampaikan juru dakwah dengan pemahaman tekstualis dan dogmatis  seakan akan menjadi pembenaran untuk saling menjustifikasi perbuatan sesama muslim yang dianggap kafir dan juga bid’ah. Berbekal dalil tersebut, mereka melarang meniup terompet, memakai pakaian yang mirip orang non muslim, membunyikan lonceng dengan alasan menyerupai kaum non muslim sehingga termasuk bagian dari orang kafir. Lebih jauh lagi mereka tidak segan segan melarang para penjual terompet dan menjual lonceng alasan menyerupai kaun kafir. Lebih parah lagi, pada saat bulan desember, beredar fatwa/pendapat yang dishare lewat berbagai media sosial yang mengatakan bahwa mengucapkan selamat natal kepada kaum nasroni berarti merusak keyakinan atau keimanan umat Islam karena dianggap menagkui kelahiran yesus, mengakui Tuhan yesus sebagai tuhannya orang nasrani.   

Bagaimana mungkin menuliskan atau mengucapkan selamat natal kepada orang nasrani bisa merusak keyakinan? Kalau alasannya mengakui kelahiran Yesus dan mengakui Yesus sebagai Tuhan kaum nasrani, maka tidak usah dengan cara mengucapkan selamat natal, juga bisa dikategorikan mengakui kelahiran Yesus dan juga mengakui Yesus sebagai Tuhannya kaum nasrani. Kita sebagai bangsa Indonesia juga telah mengakui Kristen sebagai agama remi di Indonesia, ketika kita mengakui agama kristen sebagai agama resmi di Indonesia secara otomaatis kita juga telah mengakui Tuhannya orang kristen dan sekaligus mengakui kirab sucinya orang kristen. Ketika kita liburan di tanggal 25 desemebr, berarti juga telah mengakui adanya hari natal dan secara otomaatis juga telah mengakui hari kelahiran Yesus.

Harmoni beragama di Indonesia terasa semakin jauh dari harapan, jika para pemeluk agama (Islam Khususnya) memiliki cara pandang tekstual atau dogmatis yang hanya akan melahirkan pemahaman formal atau hitam putih. Agar harmoni beragama dapat tercapai, maka diperlukan pemahaman dan cara fikir yang kontekstual terhadap ayat al qur’an dan hadis. Boleh kita berbeda pemahaman tetapi jangansampai menghukumi perbuatan seseorang. Justifikasi atau menentukan seseorang kafir atau msyrik dan juga bid’an tidak menjadi kewenangan manusia. Tugas manusia hanya berihtiyar untuk melakukan hal yang terbaik untuk dirinya sendiri dan saling menghargai dan menghormati terhadap keyakinan masing masing. Jika ingin melakukan amar makruf juga harus dilakukan dengan yang makruf, jangan sampai melakukan amar ma’ruf tetapi di lakukan dengan cara cara yang mungkar. Harmoni beragama merupakan sebuah keniscayaan bagi bangsa Indonesia yang secara realitas multi agama, multi suku, multi etnis dan multi warna kulit. Kita harus bisa mengurangi dan menghilangkan saling klaim kebenaran untuk digeser saling menghargai dan menghormati perbedaan.

Warga Rembang dan Filosofi Nahwu

  Nahwu shorof adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang berbicara tentang kaidah  dalam bahasa arab, sehingga dapat diketahui karakteristik kata perkata (mufrod) dan juga susunan atau kesempurnaan  kata perkata (murokkab). Dengan nahwu shorof suatu kata dan kalimat bisa bermakna secara sempurna. Tanpa ada ilmu nahwu shorof suatu kata atau kalimat tidak akan bisa dipahami arti, maksud dan tujuannya. Dengan kata lain nahwu shorof merubah sesuatu yang belum bermakna menjadi lebih bermakna, suatu yang tidak ada artinya menjadi lebih berarti, sesuatu yang tidak jelas tujuannya menjadi lebih jelas tujuannya, sesuatu yang masih remang remang menjadi terlihat jelas, sesuatu yang masih kosong menjadi berisi. Itulah fungsi ilmu nahwu sharaf dalam Islam.

Ilmu nahwu shorof tidak hanya dipahami dalam konteks kata atau dalam menyusun kata kata. Semua yang ada di dunia ini pasti mengandung hikmah atau pelajaran bagi manusia untuk dijadikan pedoman dalam menjalani proses kehidupan sosial. Sebagai umat Islam yang memeluk agama yang sempurna, agama yang berisi semua persoalan kehidupan harus selalu mengambil hikmah dibalik semua yang ada didalam kehidupan dunia. Bukankah orang yang sukses adalah orang yang selalu mau dan mampu mengambil hikmah atau makna positir dari setiap fenomena yang dialami. Semakin banyak mengambil makna positif semakin besar peluang keberhasilan, sebaliknya semakin kecil atau sedikit mengambil hikmah atau makna positif dan kehidupan akan semakin kecil dan sempit meraih keberhasilan.

Ada istilah  pokok dalam nahwu shorof adalah, Fi’il, Fail, Isim, mubtada’, khobar dan hurf. Ketika dirinci lebih detail akan melahirkan istilah baru misalnya, Fiil Madhi, Fiil Mudhori dan fiil Amar. Isim juga beranak pinak menjadi isim fiil, isim aswat. Ketika berbicara hurf juga akan beranak pinak menjadi huruf jeer, huruf nasab dll, artinya didalam ilmu nahwu shorof banyak makna yang harus kita pahami sebagain pedoman dalam kehidupan sosial.

Pertama, Fi’il, dalam ilmu nahwu di sebut kata kerja. Yaitu menunjukkan keadaan sedang melaksanakan atau menjalankan tugas/ pekerjaan tertentu. Artinya sebagai manusia yang baik harus memiliki tugas, pekerjaan yang jelas sehingga mudah untuk meraih kesuksesan. Karena suatu kesuksesan akan sulit diraih jika tidak diimbangi dengan kejelasan pekerjaan tertentu. Orang yang yang tidak jelas jenis pekerjaannya akan sulit diprediksi untuk menjadi orang sukses. Oleh sebab itu istilah fi’il yang dikenal sebagai kata kerja dalam ilmu nahwu shorof harus menjadi inspirasi bagi semua untu memiliki pekerjaan, tugas atau kegiatan yang jelas. Orang yang sukses atau orang besar adalah orang yang mampu memiliki atau menjalankan pekerjaan atau tugas yang diberikan.

 Kedua, Fail, dalam ilmu nahwu di artikan yang melaksanakan pekerjaan atau biasa disebut subyek. Dalam konteks kehidupan sosial, fa’il adalah seseorang yang rajin menjalankan tugas atau pekerjaan yang diberikan. Setiap orang yang sanggup atau rajin atau trampil melaksanakan atau menjalankan tugas atau pekerjaan yang diberikan pantas di sebut sebagai Fa’il. Setiap ada fiil disitu ada fa’il, artinya setiap pekerjaan atau tugas yang direncanakan atau diberikan hatus dilaksanakan dengan baik dan benar. Setiap manusia hidup di dunia selain sebagai fi’il juga harus mampu berperan sebagai fa’il, yaitu setiap manusia pasti menghendaki kesuksesan. Apa yang diinginkan harus direncanakan secara baik dan dilaksanakan dengan cara cara yang baik dan benar. Fa’il dalam konteks kehidupan sosial mengharuskan setiap manusia harus mampu atau sanggup melaksanakan tugas yang telah dimiliki atau di berikan kepada dirinya. Walapun memiliki atau diberi tugas sebaik apapun jika tidak dilaksanakan secara baik dan benar maka orang tersebut akan gagal dan tidak berarti serta tidak ada manfaatnya baik untuk dirinya maupun untuk orang lain atau masyarakat.

 Ketiga, Isim, dalam ilmu nahwu shorof disebut kata benda, yaitu sebuah wujud atau produk yang dapat dilihat dan dirasakan baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Isim yang selalu dikaji atau dibahas dalam ilmu nahwu shorof mengandung makna bahwa setiap orang yang menjalankan tugas atau pekerjaan (Fi’il dan Fa’il) harus menghasilkan produk yang baik dan benar atau berkualitas. Benda yang dimaksud dalam ilmu nahwu dan shorof jika di implementasikan kedalam kehidupan sosial, tidak harus berupa material (artifak) benda atau produk bisa muncul dari olah pikir, olah hati atau rasa serta olah raga fisik. Dengan simbol Isim yang ada dalam ilmu nahwu mengandung makna bahwa setiap orang yang memiliki pekerjaan atau tugas, hatus dilaksanakan atau dijalankan dengan sebaik baiknya sampai melahirkan produk atau hasil yang nyata dan memberikan manfaat untuk dirinya dan orang lain. Produk yang dilahirkan oleh manusia bisa berupa produk olah pikir yaitu mampu melahirkan ide atau gagasan yang cemerlang yang bisa diambil manfaat untuk orang lain dan masyarakat. Selain itu setiap manusia harus juga mampu melahirkan produk dari olah hati atau rasa dalam artian setiap manusia harus memiliki sikap dan kepribadian yang baik berdasarkan norma sosial dan agama. Setiap manusia juga harus mampu melahirkan produk berdasarkan oleh kerajinan fisik atau tangan berupa kerajinan yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Dengan kata lain, Isim dalam ilmu nahwu shorof mengandung makna setiap yang dikeluarkan oleh setiap orang harus baik dan memberikan manfaat untuk dirinya dan orang lain. Apa yang dikatakan harus kata yang baik, apa yang dipikirkan harus pikiran yang baik, apa yang diciptakan harus juga ciptaan yang baik.

Keempat, Mubtada’, dalam ilmu nahwu shorof biasa di artikan sebuah permulaan. Permulaan bisa diwujudkan dengan suatun persiapan, perencanaan atau niat. Artinya segala sesuatu yang diinginkan atau diharapkan harus di awali dengan niat yang tulus atau baik dan juga diawali dari persiapan atau perencanaan yang matang. Mubtada’ memiliki makna sangat baik bagi kehidupan manusia. Suatu pekerjaan dan produk atau hasil yang telah direncanakan harus dimulai atau diawali (mubtada’) dengan niat atau persiapan atau perencanaan yang ideal. Mubtada’ memiliki faktor sangat dominan bagi manusia untuk meraih kesuksesan masa depan. Apa yang diharapkan harus diawali dari suatu niat dan persiapann yang matang. Islam mengajarkan pentingnya niat, karena segala sesuatu yang dikerjakan manusia sangat tergantung dari niat yang dimiliki. Suatu pekerjaan yang kelihatannya banyak menghasilkan pahala besar seperti ibadah sholat, puasa, zakat, haji dan shidaqah bisa tidak menghasilkan pahala apapun disebabkan jeleknya niat (bisyuukin niat), tetapi sebaliknya suatu pekerjaan yang terlihat tidak akan mendatangkan pahala seperti kerja bakti, menghadiri rapat dikantor, menghadiri pertemuan rutin RT atau menghadiri undangan rapat di keluarahan, jika didasarkan dengan niat yang baik karena Allah swt (bi chusnin niat) maka akan menghasilkan pahala yang baik besok di akherat.

Agar warga Rembang benar benar bisa bangkit di era global, maka harus memiliki cara pandang, sikap kepribadian dan perilaku yang ideal khususnya dalam hal berpolitik, dalam menjalankan proses pendidikan, mensikapi budaya dan mamahami dan mengamalkan nilai nilai agama. Buku karya Moh Sugiharyadi ini sudah membarikan banyak informasi tentang bagaimana menjadi warga negara yang baik sehingga bisa mewujudkan kesejahteran bagi semua.. Mengakhiri tulisan ini, saya tutup dengan sebagian lirik lagunya  Dewi Persik  berjudul “Indah Pada Waktunya”: “Sebelum Sisa umurku habis/Takkan pernah aku menyerah/Ku tetap bermimpi dan bermimpi/Sampai Indah pada waktunya”.

Selamat menikmati buku ini, semoga buku ini pada waktunya nanti bisa memberi keindahan bagi bangsa Indonesia pada umumnya dan warga Rembang khususnya dan bisa  memberi inspirasi bagi generasi mudah untuk terus berkarya. Amien YRA.

 

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Agama Republik Indoensia (2012) Al Qur’an dan Tafsirnya, Jakarta, Tidak dijual belikan).
  2. Antony Giddens (1993) dalam buku New Rules of Sociological Method, Standford University Press, California.
  3. George Ritzer (1996) Modern Sociology Theory, New York : McGraw-Hill Intrnational Editions.
  4. Khalil Abdul Karim (1995) Al Islam baina ad daulah Diniyyah wa ad Daulah al Madaniyah, Sina, Cairo,Mesir.
  5. Saekan Muchith (2018), Guru dan Dosen adalah Profesi Tanpa Perlindungan (Kompasiana, 4 Juni 2018)
  6. Saekan Muchith (2018) Saatnya Pancasila Harus “Diimunisasi” (Kompasiana, 31 Mei 2018).
  7. Saekan Muchith (2018), Kreteria Terlibat Radikal dan Anti Pancasila (Kompasiana, 28 Mei 2018).
  8. YayasanTasamuh Indonesia Mengabdi (Y-TIME) dengan Visi “Hadir Mencerahkan” Kudus Jawa Tengah, Hasil Survey bulan Desember 2017 dan Bulan Pebruari 2018
  9. Undang Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter