|  | 

Populer

Pembelajaran Menuju Kecerdasan Spiritual :Tanggapan untuk Mungin Edy Wibowo

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Akibat perubahan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya masyarakat, sudah seharusnya ada perubahan pembelajaran dalam pendidikan. Sebab, pendidikan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa secara paripurna tidak hanya menyangkut kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional, moral, dan spiritual. Artinya, semua pikiran, sikap, dan tindakan mencerminkan makna bagi setiap diri sendiri dan umat di sekilingnya. Kecerdasan spiritual harus merupakan tujuan akhir pendidikan nasional. Dengan begitu, pendidikan mampu menghasilkan sumber daya manusia tangguh, berakhlak mulia, serta mampu beradaptasi dalam berbagai tantangan dan tuntutan yang berkembang (Mungin Edy Wibowo, Suara Merdeka, 30 April 2001).

Profil kecerdasan spiritual bagi para lulusan pendidikan dapat dilihat melalui etika merespons perkembangan sosial dan perilaku sehari-hari dalam melakukan tanggung jawabnya sebagai manusia di muka bumi.

Kecerdasan spiritual menandakan ada kemampuan dalam diri para lulusan pendidikan untuk menjadikan agama bukan lagi sebagai dogma atau norma, melainkan sebagai budaya atau inspirasi dalam menjalankan proses kehidupan. Kecerdasan spiritual mengharuskan para lulusan pendidikan mampu menjadikan agama sebagai panglima pembangunan. Kecerdasan spiritual mengandung makna, agama sebagai spirit kehidupan. Kemunculan perilaku korupsi, kolusi, nepotisme, dan tindakan sewenang-wenang disebabkan kemerosotan moral bagi para pengambil keputusan dan orang-orang yang ditokohkan oleh masyarakat.

 Realitas Pembelajaran

Pembelajaran dalam dunia pendidikan selama ini masih menggunakan metode tradisional, yaitu pembelajaran sekadar menyampaikan materi pengetahuan (transfer of knowledge) bukan menanamkan nilai dan moral (transfer of value). Guru dalam pembelajaran masih memiliki peran dominan. Guru dijadikan atau menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber materi pelajaran. Pendekatan yang digunakan hanya pendekatan ceramah, diskusi, atau tanya jawab. Pendekatan pemecahan masalah, kajian lapangan, ataupun telaah kasus belum dapat diimplementasikan dalam pembelajaran. Pembelajaran ini masih sangat sekuler, karena mata pelajaran diposisikan terpisah dari materi pelajaran lain. Pendidikan agama baru dilaksanakan dalam legal formal (hukum), pendidikan agama belum menjadi inti kurikulum. Akibatnya, pendidikan agama belum mampu mewarnai dan menjiwai kurikulum dalam proses pendidikan. Pendidikan agama hanya sebatas komponen kurikulum yang memiliki kedudukan sama dengan materi pelajaran umum lain, seperti matematika, fisika, biologi, olahraga, dan kesenian. Akibatnya, tanggung jawab guru sebatas seperti halnya ruang lingkup materi pelajaran yang mereka ajarkan. Guru olahraga, matematika, biologi, ataupun kesenian merasa tidak memiliki tanggung jawab pembinaan moral siswa. Mereka menyerahkan semua problem siswa kepada guru agama saja.

Pembelajaran yang mengarah kepada kecerdasan spiritual perlu diawali dari penciptaan sistem penyusunan kurikulum yang menjadikan pendidikan agama (keimanan) sebagian inti kurikulum pendidikan. Pendidikan agama tidak lagi dijadikan komponen mata pelajaran, tetapi benar-benar mewarnai segala jenis mata pelajaran yang diajarkan di lembaga pendidikan. Mewujudkan pembelajaran bernuansa kecerdasan spiritual dapat dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut.

Pertama, ada komitmen semua komponen aparat pendidikan mengenai pentingnya pendidikan keagamaan (keimanan) menjadikan inti kurikulum pendidikan. Dengan demikian, tidak perlu lagi berdiskusi tentang perlunya pendidikan agama sebagai inti kurikulum atau tidak.

Kedua, diperlukan kualifikasi tenaga pengajar (guru) yang memiliki kemampuan pengetahuan lintas sektor. Artinya, guru agama tidak hanya memiliki pengetahuan sebatas mata pelajaran yang diajarkan. Guru agama di samping memiliki ilmu pengetahuan agama juga memiliki wawasan pengetahuan di luar mata pelajaran agama Islam, misalnya pengetahuan sosiologi, antropologi, kewarganegaraan, pemerintahan dan politik.

Ketiga, perlu direalisasikan penanaman keimanan melalui mata pelajaran selain mata pelajaran agama. Bagaimana mata pelajaran IPA, matematika, biologi, fisika, olahraga, kesenian, kewarganegaraan, dan sosiologi dapat dijadikan sarana untuk menanamkan dan menumbuhkan kualitas keimanan dan moralitas bagi siswa. Karena, selama ini penanaman dan pembinaan keimanan dan akhlak siswa hanya dilakukan melalui mata pelajaran agama (untuk SMU) dan fiqih, tauhid, bahasa arab, dan sejarah Islam (untuk madrasah). Mata pelajaran ini hanya mengajarkan bagaimana memiliki pengetahuan kognitif yang kering terhadap materi afektif.

Keempat, perlu dilakukan pembinaan kemampuan para guru dalam pembelajaran. Pendekatan, metode, dan teknik baik guru agama maupun mata pelajaran umum hendaknya menumbuhkan kualitas keimanan siswa melalui berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pemberian wawasan pengetahuan keagamaan bagi guru mata pelajaran umum dan pemberian wawasan pengetahuan umum bagi guru pengampu mata pelajaran agama.

Kelima, sebaik-baik penyusunan materi kurikulum jika tidak didukung sistem suasana kondusif tidak akan efektif. Konsekuensinya, dalam proses pendidikan perlu diciptakan lingkungan agamis untuk pembelajaran. Mulai dari etika pergaulan antara guru dan siswa, semua guru, sesama siswa, antara pimpinan dan bawahan harus benar-benar mencerminkan etika pergaulan yang penuh kekeluargaaan, kesejahteraan, dan penghormataan sesama dengan menjunjung tinggi nilai dan norma keagamaan. Di samping itu, perlu kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran terutama sarana yang dapat mendukung penanaman kualitas keimanan siswa.

Keenam, iklim kepemimpinan harus mencerminkan upaya penciptaan, penanaman, dan pembentukan kualitas keimanan. Konsekuensinya, pola kepemimpinan harus senantiasa mengikuti tingkat perkembangan dan tuntutan budaya masyarakat. Metode uswantun hasanah (suri teladan) seperti dipraktekkan Rasul menjadi inti pelaksanaan kepemimpinan dalam sebuah lembaga pendidikan. Pada era reformasi seorang pemimpin harus benar-benar ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, jangan sampai berubah menjadi ing ngarsa ngumbar angkara, ing madya numpuk bandha, tut wuri nyerimpeti. Setelah dilaksanakan pembelajaran yang berorientasi kecerdasan spiritual, akan tercipta profil siswa memiliki muatan pengetahuan kognitif secara maksimal, yang maksimal pula dalam muatan moralitas.  (SUARA MERDEKA, Senin, 28 Mei 2001)

 

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter