|  | 

Jurnal

FENOMENA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA : Studi di Kabupaten Kudus

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Abstrak

Pendidikan Islam merupakan sesuatu yang menarik dicermati. Pendidikan Islam memiliki keunikan baik dilihat dari makna, materi maupun orientasi tujuannya. Secara umum  pendidikan Islam memiliki tujuan membina atau melatih peserta didik (masyarakat) agar memiliki karakter, sikap atau mental sesuai dengan nilai nilai agama Islam. Proses pendidikan Islam akan selalu sejalan dan seirama dengan dinamika atau kondisi masing masing wilayah. Oleh sebab itu fenomena pendidikan Islam akan memiliki variasi sesuai dengan karakteristik masing masing wilayah.

Kabupaten Kudus terkenal dengan Kabupaten yang memiliki banyak sebutan, diantaranya, dari perspektif ilmu antropologi, kudus dibagi dengan dua wilayah yaitu Kudus wetan (timur)  dan Kudus kulon (barat). Kudus wetan (timur) masyarakatnya dikenal memiliki karakteristik terbuka, dan kurang memiliki komitmen terhadap nilai nilai ke Islaman (santri), sedangkan kudus kolun (barat) dikenal masyarakat yang memiliki karakteristik wirausaha dan santri. Dilihat dari perspektif ilmu sosial, Kudus dikenal dengan kota Industri, karena banyaknya perusahaan yang berdiri di antaranya Pabrik Rokok Djarum, Pabrik Pencetakan kertas Pura barutama, Perusahaan Polytron (pabrik elektronik), pabrik produksi makanan khas kudus Jenang Mubarok (atau dikenal jenang 33), masih banyak lagi pabrik rokok kecil lainnya. Dilihat dari perspektif Islam, Kudus dikenal sebagai kota santri, kota qur’an, karena mayoritas masyarakatnya beragama Islam dan memiliki komitmen tinggi terhadap pendidikan sistem pesantren. Dikatakan kota qur’an karena di Kudus terdapat pondok pesantren tahfid, yang berkembang secara pesat dan santrinya tidak hanya dari wilayah Jawa Tengah dan Indonesia tetapi juga ada dari luar negeri.

Pendidikan Islam di Kabupaten Kudus dari aspek filosofis dipengaruhi oleh falsafah kehidupannya tokoh penyebar Islam pertama yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria, dimana pendidikan Islam lebih menekankan pentingnya pembelajaran pluralisme dan toleransi diantara tidak hanya antar suku, kelompok dan golongan tetapi juga harus melakukan toleransi antar agama. Produk pendidikan Islam di Kudus memiliki karakter yang lebih banyak dipengaruhi oleh karakteristik Sunan Kudus dan Sunan Muria, yaitu kuatnya jiwa independensi, tidak mudah dipengaruhi pihak pihak lain dalam mengambil keputusan. Hal ini dapat dilihat sikap masyaraakt Kudus dalam memilih pendidikan, lebih senang mensekolahkan anaknya di sekolah swasta Islam dari pada sekolah negeri atau sekolah swasta umum.

Dalam konteks sikap politik, masyarakat Kudus tidak mau dipengaruhi atau diatur oleh tokoh agama/kiai dalam menentukan pilihan politiknya, Oleh sebaba itu posisi kiai/tokoh agama/pengasuh pesantren tidak mampu mengkondisikan santrinya atau masyarakat dalam mengarahkan pilihan politik pada saat pemilihan umum tingkat nasional maupun pemilihan umum diwilayah propinsi atau Kabupaten. 

Kata Kunci :  Pendidikan Islam, Santri,  Sunan Kudus, Sunan Muria

Penulis adalah Dosen Pada IAIN Kudus, Peneliti Pada Yayasan Tasamuh Indonesia mengabdi (TIME) Kudus  Jawa Tengah

Pendahuluan

Pendidikan Islam memiliki usia sama dengan usianya Islam turun di muka bumi. Ayat pertama kali turun kepada Rasululullah Muhammad merupakan bukti nyata bahwa pendidikan Islam telah diajarkan Allah melalui utusannya yaitu Muhamamd saw.  Pendidikan Islam selalu melekat dalam diri manusia yang memeluk agama Islam, oleh karenanya setiap umat Islam memiliki tugas dan tanggung Jawab untuk mempelajari, memahami, menyebarkan dan mengembangkan pendidikan Islam secara optimal.

Pendidikan Islam telah dilakukan sejak Rasulullah saw, menciptakan lembaga pendidikan Islam yang bernama al arqom, yaitu system pendidikan dan pengajaran pertama kali yang dilaksanakan umat Islam dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan dan pembentukan sikap dalam memperjuangkan nilai nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Semangat untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta komitmen memperjuangkan nilai nilai Islam terus dilakukan oleh para penerusnya yaitu pada sahabat, tabiin, tabiin sampai sekarang.

Indonesia secara faktual adalah satu satunya negara yang berpenduduk mayoritas muslim di dunia. Dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak  259 juta,  jumlah penduduk muslimnya berkisar 93 % ( setara dengan 240  juta), artinya pendidikan Islam akan dipelajari, dipahami, disebarkan, serta dikembangkan oleh 240 juta pemeluk Islam. Jika dilihat dari perspektif kewilayahan, Indonesia di Bagi menjadi beberapa wilayah tingkat propinsi (Gubernur) dan Kabupaten (Bupati/Walikota).  Indonesia memiliki 34 (tigapuluh empat) Propinsi, dan wilayah Kabupaten /kotamadia sebanyak 512 Kabupaten/kotamadya.

Jawa tengah adalah wilayaha propinsi di Indonesia yang memiliki jumlah penduduk terbanyak nomor dua setelah Jawa timur, jumlah penduduk Jawa tengah sebanyak 34, 6 juta penduduk. Jika dilihat dari prosentase jumlah penduduk Indonesia, 13, 51 % dari jumlah penduduk Indonesia berada di wilayah Jawa tengah. Oleh sebab itu, wilayah Jawa tengah layak menjadi obyek kajian tentang fenomena pendidikan Islam, karena mayoritas penduduk beragama Islam maka pendidikan Islam akan menarik untuk dikritisi atau di kaji secara akademik.

Kabupaten Kudus salah satu Kabupaten yang ada di wilayah Jawa Tengah yang memiliki karakteristik atau keunikan tersendiri khususnya dalam aspek fenomena pendidikan Islam. Kudus satu satunya kota di wilayah Jawa Tengah yang memiliki predikat atau sebutan sebagai kota santri, kota qur’an dan kota industri. Artinya di dalam Kabupaten Kudus terdapat dua aspek atau dua cirri yang menarik untuk dikaji yaitu kamka anai nilai nilai santri (keIslaman) dan nilai nilai industri (kewurausahaan). Dua makna ini tidak pernah ada atau tidak pernah dimiliki wilayah kaabupaten atau kotamadya lainnya di Jawa tengah, apalagi di wilayah Indonesia.

Pendidikan Islam di Kabupaten Kudus perlu dikaji, dikritisi agar mampu menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia khususnya di wilayah asia tenggara umumnya. Nilai nilai keIslaman dan keindustrian suatu wilayah perlu di rumuskan kedalam sistem pengelolaan lembaga pendidikan sehingga mampu melahirkan lulusan yang memiliki pengetahuan, ketrampilan yang optimal sehingga mampu menajdi kontribusi yang nyata dalam pembangunan bangsa secara lahir dan batin.

Makalah ini akan mengkaji tentang fenomena pendidikan Islam yang ada di Kabupaten Kudus Jawa Tengah, yang meliputi beberapa aspek antara lain (a)  bagaimana pendididikan Islam di Kudus jika dilihat dari aspek sejarah (historis), (b) seperti apa proses atau pelaksanaan pendidikan Islam yang ada di Kabupaten Kudus (c) bagaimana tipologi masyarakat Kudus terhadap proses pelaksanaan pendidikan Islam dan proses politik yang ada di wilayah Kabaten Kudus.

Gambaran Umum Kabupaten Kudus

Kabupaten Kudus adalah wilayah Kabupaten terkecil di wilayah Jawa Tengah dengan jumlah penduduk sebanayak  823.650.  Populasi umat Islam sebanyak 97 % setara dengan 798.940. Artinya sebanyak 798.940 umat Islam menghuni Kabupaten Kudus. Berdasarkan web pemerintah Kabupaten Kudus, disebutkan bahwa berdirinya Kabupaten Kudus tidak lepas dari dua nama tokoh Islam yaitu Ja’far Shodiq yang biasa di kenal dengan sebutan Sunan Kudus dan  raden Umar Said yang dikenal dengan sebutan Sunan Muria. Dua tokoh penyebar Islam inilah yang dijadikan inspirasi pengembangan pendidikan Islam di Kabupaten Kudus.

Kabupaten Kudus lebih dikenal masyarakat santri karena mayoritas masyarakat Kudus dalam menjalani kehidupan social lebih menekankan  simbol-simbol kultur santri, diantara indikator yang dapat dijadikan indikator santri antara lain (a) mayoritas masyarakat kudus memiliki kulutur sosial agama ahlussunah waljama’ah (warga nahdliyyin) (b) memiliki simbol religius yang sangat monumental yaitu adanya menara  yang dikenal dengan sebutan menara Kudus yang dibangun oleh kanjeng Sunan Kudus (c) memiliki dua makan wali yaitu sunan Kudus lokasi makammya di belakang Masjid Agung Al Aqsho dan Sunan Muria yang lokasi makamnya di puncak Gunung Muria. (d) memiliki ikatan kultur keagamaan yang sangat kuat yang ditandai dengan kultur keagamaan masyarakat daerah menara Kudus yang dikenal dengan istilah antropologis “Wong Kudus Kulon” yaitu terdiri dari desa Damaran, Kerjasan, Kajeksan, dan Kauman. Didaerah yang dikenal Kudus kolun ini memiliki tradisi yang cukup menarik seperti buka luwur yang dilakukan secara rutin setiap tanggal 10 suro (Muharrom) yang disertai dengan berbagai kegiatan ritual keagamaan maupun ritual budaya dan dandangan yaitu  tradisi budaya keagamaan yang dilakukan menjelang datangnya bulan suci ramadhan. (e) indikator lain adalah mayoritas sekolah swasta memiliki hari libur hari jum’at kususnya sekolah atau madrasah yang dibawah naungan Lembaga pendidikan ma’arif Nadhlatul Ulama.

Sunan Kudus yang bernama asli Ja’far Shodiq dikenal sosok orang yang suka mengembara untuk mencari ilmu pengetahuan, atas kegigihan melakukan pengembaraan ilmu pengetahuan, Sunan Kudus lebih dikenal  orang yang sangat mendalami ilmu pengetahuan agama dibidang Ilmu Mantiq (logika), Ilmu Fiqh, Ilmu Tauhid dan ilmu Hadits. Sunan Muria ayang dikenal dengan nama Raden Umar Said  adalah anak dari Sunan kalijaga, yaitu sosok salah satu wali yang dikenal dengan dakwah Islam dengan menggunakan pendekatan budaya yaitu melalui gamelan atau pendekatan sosiokultural.

 Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan. Nama Ja’far Shadiq diambil dari nama datuknya yang bernama Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib yang beristerikan Fatimah az-Zahra binti Muhammad. Ja’far shodiq putra dari pasangan Sunan Ngudung (Sayyid Utsman Haji) dengan Syarifah Dewi Rahil binti Sunan Bonang. Lahir pada 9 September 1400M/ 808 Hijriah. Bapaknya yaitu Sunan Ngudung adalah putra Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha (Raja Pandita/Raden Santri) yang berhijrah fi sabilillah hingga ke Jawa dan sampailah di Kekhilafahan Islam Demak dan diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus lahir di Palestina, 9 September 1468 M, wafat di Kudus 05 mei 1550.

Sunan Muria atau yang biasa dikenal dengan  nama Raden Umar Said atau Raden Said. Menurut beberapa riwayat,  adalah putra dari Sunan Kalijaga yang menikah dengan Dewi Soejinah, putri Sunan Ngudung. Nama Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal dari nama gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah, tempat dia dimakamkan. Sunan Muria dikenal sebagai sunan rakyat jelata. Ia akrab dan hidup di tengah-tengah mereka. Ia tak sudi menghambakan diri pada kekayaan dan kekuasaan. Di saat, para wali lain hidup di pusat kota, ia malah mengasingkan diri di daerah pegunungan. Namun, ia tak meninggalkan dakwah Islam. Justru, “pengasingan” itulah yang menjadikannya dai yang ramah dan toleran.

Hari Jadi Kota Kudus di tetapkan pada tanggal 23 September 1549 M dan diatur dalam Peraturan Daerah (PERDA) No. 11 tahun 1990 tentang Hari Jadi Kudus yang di terbitkan tanggal 6 Juli 1990. Oleh sebab itu sampai tahun 2014 ini, usia kota atau Kabupaten Kudus sudah berusia 465 tahun. Dengan kata lain, pendidikan Islam di Kudus sudah berjalan selama 465 tahun dengan penuh dinamika dalam proses pengembangannya.

Karakteristik Kabupaten Kudus di inspirasi dari dua tokoh penyebar Islam yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria, kedua tokoh ini memiliki karakteristik yang unik dan menarik untuk pengembangan dan pembinaan mental atau kepribadian masyarakat Kudus. Sunan Kudus dikenal dengan tokoh atau sosok yang cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, memiliki sikap tegas dan sangat toleran dengan kelompon non muslim, sedangkan Sunan Muria juga sososk yang cerdas, kreatif, inovatif, memiliki karakter sangat dekat dengan rakyat dan tidak suka dengan kemewahan duniawi. Dua karakteristik ini, sangat relevan dengan misi pendidikan Islam yang lebih menekanakn pembentukan karakter atau kepribadian masyarakat dengan ciri ciri, toleransi, dekat dengan masyarakat dan selalu peduli dengan persoalan orang lain.

Implikasi karakteristik kedua tokoh penyebar Islam di Kudus inilah, akhirnya mempengaruhi watak atau kepribadian masyarakat Kudus yang dikenal dengan sebutan “Gus ji gang” yang terdiri dari “Gus” yaitu sebuah masyarakat yang memiliki karakter yang bagus kepribadian dan moralitasnya, “Ji”, berarti rajin ngaji yaitu rajin mendalmi ilmu ilmu agama Islam dan “Gang” yaitu memiliki jiwa pedagang atau wirausaha/wirasasta. Dari sinilah, akhirnya masyarakat Kudus memperoleh sebutan masyarakat yang santri dan industry. Yaitu suatu karakteristik masyarakat yang memiliki komitmen tinggi dalam pengembangan ilmu ilmu ke Islaman di satu sisi, tetapi juga memiliki semangat untuk mengembanagkan sarana teknologi informasi di sisi lainnya (modern).

Realitas Pendidikan Islam

Pendidikan berjalan melalui tiga jalur, yaitu jalur pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal. Pendidikan Formal adalah proses pendidikan yang dilaksanakan di sekolah yang diatur melalui regulasi pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pendidikan non formal adalah pendidikan yang dilaksanakan di pondok pesantren atau jamiyyah pengajian Islam, danm jalur pendidikan informal adalah proses pendidikan yang berjalan di rumah atau pendidikan yang dilakukan oleh masing masing keluarga.

Pendidikan formal di Kabupaten Kudus secara umum ada dua macam jenis, yaitu jenis pendidkan formal yang berbasis Islam (madrasah) dan pendidikan formal yang berbasis tidak amdrasah (sekolah umum). Jumlah keseluruhan pendidikan formal baik yang berbasis Islam (madrasah) maupun yang sekolah sebanyak 789 lembaga pendidikan yang terdiri dari Sekolah dasar (SD), Sekolah menengah pertama (SLTP) dan sekolah menengah atas (SLTA). Pendidikan formal yang bercicikhas Islam (madrasah ) sebanyak 224 lembaga pendidikan Islam (madrasah ) yang terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah /MI (pendidikan dasar Islam) sebanyak 138, Madrasah Tsanawiyah/ MTS (pendidikana menengah Islam) sebanyak 59 dan madrasah aliyah/MA (sekolah menengah atas) sebanyak 27. Dilihat dari prosentrasi dari jumlah lembaga pendidikan yang ada di Kabupaten Kudus, maka pendidikan Islam berkisar 28 %, artinya sebanyak 28 % lembaga pendidikan Islam di Kudus adalah proses pendidikan bercirikhas Islam (madrasah). Jumlah atau kondisi pendidikan formal di Kudus dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Jenjang Pendidikan Jumlah pendidikan Pendidikan umum/

non madrasah

Pendidikaan Islam (madrasah) Prosentase madrasah
Sekolah Dasar 609 471 138 22,60 %
Sekolah Menengah Pertama 110 51 59 53,60%
Sekolah Menengah Atas 70 43 27 38, 50%

Pendidikan non formal di Kabupaten Kudus dilaksanakan di berbagai pondok pesantren dengan berbagai macam karakteristik kajian kitab atau materi. Di Kabupaten Kudus terdapat 87 pondok pesantren yang tersebar di berbagai wilayah kecamatan. Pondok pesantren tersebut memiliki karakteristik atau cirikhas materi pembelajarannya. Sebagian ada yang menekankan pembelajaran al-qur’an atau tafsir, sebagian lagi menekankan pembelajaran fiqh, sebagian lagi menekankan pembelajaran tasawuf, dan sebagian lagi menekankan pembelajaran bahasa arab.

Selain pendidikan pondok pesantren, di Kudus juga terdapat pendidikan yang sejenis dengan pondok pesantren yaitu madrasah diniyah dan taman pendidikan al qur’an (TPQ). Jumlah Madrasash Diniyah (madin) di Kabupaten Kudus sebanyak 338 lembaga, sedanagkan TPQ sebanyak 1400 TPQ.  Hal ini menandakan tingginya perhatian masyarakat Kabupaten Kudus dalam pentingnya pendidikan Islam.

Profil Kiai

Pengasuh atau pemimpin pondok pesantren (pendidikan non formal) memiliki gaya kepemimpoinan yang bervariasi. Dalam Buku Penelitian Profil pesantren Kudus yang dilakukan Lembaga Swa daya masyarakat (LSM) bernama Cermin (penulis juga iut sebagai TIM peneliti tahun 2005)  dijelaskan bahwa ada beberapa  mengklasifikasikan profil kepemimpinan kiai dalam mengelola pondok pesantten sebagai berikut:

Pertama, kiai dengan profil kepemimpinan masyarakat (community leader), yaitu seorang kiai yang dikenal kebesarannya. Baik kebesaran kepribadian pribadinya maupun pesantrennya, disebabkan karena seorang kiai itu memiliki posisi atau jabatan dalam organisasi sosial keagamaan, organisasi politik, atau memiliki jabatan dalam kekuasaan tertentu. Memang tidak dapat dipungkiri keberhasilan kiai dalam menduduki posisi atau jabatan publik juga disebabkan karena kiai itu memiliki nama besar pesantrennya. Dalam perkembangan berikutnya jika kiai itu sudah memilki posisi dalam organisasi kemasyarakatan atau jabatan publik, masyarakat melihat kebesaran namanya tidak lagi didasarkan atas pengelolaan pesantrennya tapi lebih kepada sosok pejabat publik. Dengan demikian, ketenaran atau nama besarnya di mata masyarakat bukan lantaran tokoh pesantrennya melainkan dikenal sebagai tokoh masyarakat karena memiliki jabatan atau posisi yang bersifat publik.

Kedua, kiai berprofil kepemimpinan keilmuan (intelektual leader), yaitu seorang kiai yang memiliki kebesaran pribadi dan pesantrennya disebabkan karena sang kiai dianggap memiliki keahlian bidang ilmu secara mendalam yang dijadikan rujukan atau panutan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan masyarakat. Setiap harinya kiai ini lebih diposisikan sebagai pembuat fatwa bagi masyarakat yang tidak hanya semata-mata urusan ibadah (ritual) keagamaan, melainkan juga urusan di luar ritual keagamaan. Sosok kiai yang memiliki profil intelektual leader, di mata masyarakat adalah sosok kiai yang memiliki keahlian di bidang ilmu sangat mendalam. Kebesarannya benar-benar disebabkan karena penguasaan atau kemahiran dalam mengembangkan atau mendalami ilmu pengetahuan secara komprehensif. Kiai ini dikenal karena pengusaan ilmu tafsir, falak, hukum Islam, fiqh. Sosok kiai ini juga dikenal sebagai tokoh yang benar-benar mampu mengayomi masyarakat dari segala keresahan dan persoalan. Predikat profil intelllectual leader seorang kiai akan lebih sempurna, bukan hanya disebabkan karena kiai itu memiliki kemahiran atau keahlian dalam menguasai ilmu tertentu, tetapi juga didasarkan atas kualitas penguasaan ilmu pengetahuan mendalam, kalau masyarakat memiliki keraguan dalam integritas moralnya, maka sosok kiai itu akan sulit dikategorikan termasuk kiai yang berprofil intellectual leader.

Ketiga, kiai berprofil kepemimpinan rohani (spiritual leader), yaitu kiai yang kebesaran pribadi dan pesantrennnya lebih disebabkan karena sang kiai memliki kemampuan dalam urusan peribadatan (imam mushala/masjid), menjadi mursyid (guru) thariqah dan menjadi panutan moral keagamaan. Kiai ini sering memberi fatwa kepada masyarakat, tetapi lebih kepada fatwa yang bersifat murni ritual keagamaan yang bersifat personal, seperti ilmu hikmah. Sosok kiai seperti ini sering berkiprah dalam lahan privat kegamaan. Sosok kiai itu seringkali diposisikan sebagai pemimpin mushala, pemimpin hajatan, pemimpin doa dalam acara keluarga, serta dimintai fatwa dalam urusan mistii keagamaan, seperti mencari hari yang baik dalam pernikahan, hari yang tepat untuk melaksanakan kegiatan bagi masyarakat.

Keempat, kiai dengan profil kepemimpinan administratif (administrative leader), yaitu posisi kiai dalam pesantrennya hanya berperan sebagai seorang penanggung Jawab, sedangkan pembinaan proses pembelajarannya diserahkan kepada seorang yang dianggap memiliki kualifikasi sesuai dengan visi dan misi pesantrennya. Dalam kepemimpinan ini seorang kiai tidak terjun langsung melakukan pembelajaran, kiai hanya berperan sebagai manajer dan bertugas mengelola lembaga.

Munculnya profil kepemimpinan administratif (administrative leader) ini lebih disebabkan oleh dua faktor. Pertama, karen kesibukan tugas yang dimiliki kiai itu. Bagi kiai yang memiliki mobilitas tinggi di luar pesantrennya, mereka tidak memiliki waktu banyak dalam memberi perhatian kepada santrinya. Agar perhatian dan proses pendidikan tetap berjalan secara baik, maka kiai itu mengangkat seorang yang dianggap sudah mumpuni di bidang ilmu yang dikembangkan pesantrennya. Kedua, faktor keturunan (nasab). Diakui atau tidak, predikat kiai masih lebih didominasi unsur nasab. Munculnya sebutan kiai kepada seseorang tidak selalu disebabkan karena kemampuan dalam bidang ilmu agama. Predikat kiai bisa muncul karena mereka putra dari seorang kiai. Bagi keturunan yang sudah diberi sebutan kiai harus bersedia menggantikan posisi bapak (abah)nya dalam mengelola dan meneruskan pesantrennya. Bila penerus itu memiliki kualifikasi keilmuan yang setara dengan pendahulunya (abahnya), mereka akan berdiri sendiri sebagai kiai seperti pendahulunya. Bila penggantinya tidak memiliki kulifikasi keilmuan yang sama maka kiai tersebut akan cenderung memiliki profil kepemimpinan administratif, karena ia akan mencari orang lain yang memiliki kredibilitas keilmuan yang sesuai dengan visi dan misi keilmuan pesantren untuk mengelola keilmuan.

Kelima, kiai dengan profil kepemimpinan emosional (emotional leader), kebesaran pesantrenatau kiai itu hanya lebih didasarkan pada ikatan nilai-nilai kebesaran seorang kisi tertentu. Kebesaran kiai itu biasanya disebabkan oleh keunikan ilmu yang dimiliki, bukan disebabkan karena substansi ilmu yang dipelajari di pesantren tersebut. Tampilan profil emotional leader ini ditandai dengan adanya perbedaan antara kebesaran ilmu yang dimiliki pengasuhnya (kiai) dengan kenyataan kajian ilmu yang berlaku di pesantren. Profil emotional leader dapat juga dimaksudkan suatu kebesaran kiai atau pesantren yang hanya berlaku selama kiai itu masih hidup. Setelah kiainya wafat, maka kebesaran kiai dan pesantrennya akan pudar bahkan hilang atau bubar. Pudarnya kepemimpinan emosional bisa disebabkan adanya karena keturunan penggantinya tidak memiliki kemampuan yang sebanding dengan karakteristik moral pendahulunya meskipun secara keilmuannya sebanding dengan keilmuan pendahulunya.

Keenam, kiai berprofil kepemimpinan ekonomi (economic leader), yaitu kiai yang cara pengelolaan pesantren dilakukan dengan cara melaksanakan program pemberdayaan potensi yang dimiliki masyarakat dan para santrinya. Titik tekannya adalah upaya pemberdayaan potensi ekonomi. Sedangkan targetnya adalah mejaga kemandirian, khususnya kemandirian ekonomi lembaga pesantren. Substansi economic leader adalah proses pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh kiai agar muncul kemampuan dalam mengelola dan mengembangkan potensi ekonomi secara baik dan tepat. Substansi profil economic leader juga telah ada di lingkungan pesantren Kudus. Hanya economic leader mengalami pergeseran dari aspek pemberdayaan ekonomi ke dalam penggalian ekonomi yag dikemas dengan program kerja pesantren atau hanya menjadi bentuk usha pribadi sang kiai. Bentuk kepemimpinan ekonomi yang dipraktikkan pesantren di Kudus berupa; usaha persewaan, pertokoan, membuka usaha lain yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan pesantren atau pribadi kiainya. Faktor yang menyebabkan adanya pergeseran ekonomi lebih disebabkan situasi lingkungan masyarakat Kudus yang lebih cenderung pada aklim perindustrian dan perdagangan. Oleh karena itu, profil kepemimpinan ekonomi perlu diupayakan lebih mengarah kepada paradigma pemberdayaan daripada sekedar pengumpulan atau penumpukan keuntungan ekonomi.

Ketujuh, pofil kepemimpinan eksoterik (exoteris leader), yaitu cara pengelolaan pesantren dari seorang kiai yang cenderung hanya mementingkan atau memperlihatkan sebagian aspek formalitas yang dimiliki pesantren. Profil ini seringkali muncul dari sikap yang hanya mementingkan aspek formalitas dalam pesantren, sehingga cenderung menafikan aspek substansi yang dimiliki pesantren. Faktor lahirnya profil exoteris leader diawali dari tujuan bukan untuk membangun atau mendirikan pesantren, tetapi karena tekanan kenyataan yang mengharuskan untuk mendirikan pesantren, maka akhirnya lembaga yang dikelola sebelumnya bukan untuk pesantren, dikemas atau didesain sedemikian rupa agar mendekati dengan predikat pesantren. Misalnya awalnya bangunan itu direncanakan untuk tempat asrama (kos) bagi siswa sekolah, agar asrama itu memiliki nilai plus atau keinginan dari wali siswa, akhirnya asrama itu didesain sebagai pesantren yang diberi muatan pengajaran keagamaan.

Profil Masyarakat   Kudus

Masyarakat yang beragama Islam (muslim) di wilayah Kabupaten Kudus memiliki karakter yang mendominasi kultur daerah tersebut, karena masyarakata yang beragama Islam mendominasi tatanan sistem kehidupan masyarakat. Persepsi masyarakat dapat dimaknai bagian dari persepsi masyarakat Kudus, karena memang umat Islam mayoritas di Kabupaten Kudus.

Profil atau karakter masyarakat kudus bagian dari karakter masyarakat muslim, karakter tersebut dapat dilihat bagaimaan persepsi atau cara pandang terhadap berbagai fenomena yang ada di wilayah Kabupaten Kudus mulai dari fenomena pendidikan sampai dengan fenomena persoalan politik yaitu proses partai politik dan pemilihan umum.

Pertama, persepsi masyarakat Kudus terhadap eksisten partai politik. Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat (P3M ) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Kudus tahun 2010 melakaukan survey dengan jumlah populasi sebanyak 800 orang/responden. Tema survey adalah ingin bagaimana keyakinan masyarakat Kudus terhadap eksisitensi partao politik. Terhadap pertanyaan apakah anda yakin partai politik mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat Kudus dan Indonesia? Maka diperoleh hasil  2,8 % masyarakat menJawab YA,  sedangkan  37,1 % menJawab RAGU-RAGU dan  62,8 % menJawab TIDAK YAKIN.

 Kedua, persepsi masyarakat  Kudus terhadap peran kiai/tokoh agama atau pondok pesantren dalam lingkaran politik kekuasaan. STAIN Kudus melakukan survey kepada masyarakat Kudus  tahun 2010 yang diwakili dengan empat elemen yaitu Birokrasi, Guru, mahasiswa dan Buruh dengan jumlah sampel sebanyak 800 responden.

Dari empat elemen masyarakat yang disurvey diperoleh hasil bahwa, kalangan perempuan tingkat persetujuanya sangat kecil ( hanya 5,7 %) kalau ada tokoh kiai/ulama ikut dalam proses pencalonan kepala daerah. Sedangkan yang tingkat persetujuannya paling besar dari kalangan birokrasi (mencapai  30,22 %),  dari elemen guru yang setuju jika kiai/ulama ikut proses pencalonan pilkada berkisar  22,08 %. Sedangkan para mahasiswa tingkat persetujuannya berkisar 13,48 %.

Hal ini menandakan bahwa seorang tokoh agama (kiai/ulama) akan lebih baik jika berperan sebagai kendali atau kekuatan moral masyarakat  yang  siap meberikan bimbingan dan nasehat bagi masyarakat dalam menghadapi problem kehidupannya.

Ketiga, Persepsi pelajar terhadap potensi tawuran diantara pelajar. Pelajar merupakan anak yang memiliki potensi berkembang baik dari aspek fisik maupun psikis. Perkembangan tersebut menyebabkan berbagai dinamika dalam dirinya baik dinamika fisik maupun psikhis. Potensi kekerasan diantaar pelajar merupakan sesuatu yang harus diantisipasi agar mampu meredam konflik diantaar pelajar dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya.

Terhadap fenomena tawuran antar pelajar, STAIN Kudus pathun 2012, melakukan survey tentang persepsi pelajar terhadap fenomena sosial. Pelajar yang disampel adalah pelajar jenjang SLTA baik sekolah umum maupun sekolah berbasis Islam (madrasah), dengan jumlah responden sebnayak 1400 pelajar. Terhadap pertanyaan bagaiaman pendapat anda tentang fenomena tawuran diantara pelajar? Hasilnya adalah yang menJawab, Sekolah tidak mampu membina  71 (5 %), yang menJawab Sistem pendidikan lebih mengutamakan kecerdasan ketimbang kepribadian  239 (16 %),  yang menjawab Ada provokator  yang mengajak tawuran  753 (51 %),  yang menJawab Terpengaruh berita tawuran di media 191 (13 %), yang menjawab Kurang pengawasan dari orang tua  44 (3 %), yang menjawab Yang terlibat tawuran tidak diberi sanksi tegas   66 (5 %), yang menjawab Kalao yang terlibat tawuran anaknya orang besar cenderung dibiarkan  15 (1 %), dan yang menjawab Abstain  86 (6 %)

Faktor yang dominan menjadikan siswa tawuran adalah lebih disebabkan oleh adanya provokator atau dipengaruhi oleh temannya. yakni keterlibatan dalam tawuran karena adanya provokator yang mengajak sebanyak 51%. Sedangkan rangking kedua ditempati pilihan Jawaban (b), yakni menganggap sistem pendidikan yang lebih mengutamakan kecerdasan dibanding kepribadian sebanyak 16%. Sedangkan urutan terbesar ketiga jatuh pada pilihan Jawaban (d) yang menganggap peran media dalam mempengaruhi keterlibatan pelajar sebanyak 13%.

Keempat, persepsi pelajar terhadap fenomena radikalisme atau kekerasan. STAIN Kudus pada tahun 2011 telah melakukan survey kepada pelajar diwilayah pantura bagian timur dengan jumlah sampel (yang mengembalikan angket ) sebanyak 812 pelajar. Survey dimaksudkan untuk mengeksplorasi persepsi pelajar terhadap fenomana sosial keagamaan khususnya potensi radikalisme dilingkungan pelajar. Hasil survey diperoleh data sebagai berikut:

  • Terhadap Pertanyaan Apakah anda yakin sistem negara Islam akan mampu mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia? (a) Yang menJawab YAKIN sebanyak 541 = 66,60% (b) Yang menJawab TIDAK YAKIN sebanyak 216 = 26.60% (c) Yang menJawab RAGU RAGU sebanyak 55 = 6,7%
  • Terhadap pertanyaan, Apa yang anda pahami tentang Jihad menurut Islam? (a) Yang menJawab, bersungguh sungguh menegakkan kebenaran dan keadilan sesuai dengan aturan yang berlaku, sebanyak 646 = 79,55% (b) Yang menJawab, Bersungguh sungguh memerangi orang kafir dari muka bumi, sebanyak 146 = 17,90% (c) Yang menJawab, bersungguh sungguh memberantas kemaksiyatan dengan cara menutup tempat hiburan malam, sebanyak 11 = 1% (d) Yang menJawab,bersungguh sungguh melarang warung makan berjualan di siang hari waktu bulan ramadhan, sebanyak 3 = 0,36% (e) Yang menJawab, lainnya sebanyak, 6 orang = 1%.
  • Terhadap pertanyaan, Bagaimana Sikap yang tepat kepada orang kafir? (a) Yang menJawab, Wajib diperangi, karena jika tidak diperangi akan mengganggu/merusak orang Islam, sebanyak 194 orang = 23,89% (b) Yang menJawab, Wajib diperangi jika menggganggu orang Islam, sebanyak 392 orang = 48,20% (c) Yang menJawab, Wajib di perangi, karena membunuh orang kafir termasuk mati sahid, sebanyak 92 orang= 11,30% (d) Yang menJawab, wajib hidup rukun kepada orang kafir, sebanyak 134 orang=16,50%.

Mitos Masyarakat dan Pendidikan Islam

Secara umum mitos dipahami suatu keyakinan yang bersumber dari cerita zaman dahulu dan dipegang teguh sampai zaman sekarang. Mitos biasanya berasal dari peristiwa kejadian  yang dilakukan oleh para tokoh besar atau leluhurnya. Masyarakat Kabupaten Kudus memiliki dua mitos besar yaitu mitos tentang pintu masuk makam sunan Kudus, dan mitos tentang larangan menyembelih hewan sapi.

Bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya bahkan masyarakat Indonesia, memiliki mitos bahwa para pejabat negara jika pergi ziarah ke makan sunan Kudus melewati pintu tengah akan berisiko masalah dalam kekuasannya (lengser /turun dari kekeuasaannya). Masuk ke makam sunan Kudus terdapat tiga pintu, jika yang dilewati pintu tengah maka akan berakibat fatal bagi pejabat tersebut. Implikasinya, para pejabat di Indonesia tidak memiliki keberanian melewati pintu yang teengah tersebut.

Mitos kedua adalah, masyarakat Kudus khususnya  yang hidup disekitar kasjid menara, tidak berani melakukan penyembelihan hewan sapi, karena jika masyarakat melakukannya akan mengalami persoalan atau problem dalama kehidupan. Disekitar masjid komplkes makan sunan kudus tidak ada satupun warung makan yang  menyajikan daging hewan sapi, menu makanan seperti sate, soto dan bakso, selalu mengunakan daging kerbau, tidak ada yang berani menyajikan daging sapi.

 Terhadap mitos tersebut, pendidikan Islam memiliki tugas memberikan penjelasan dan pencerahan tentang makna dibalik mitos tersebut, agar umat Islam tidak terjerumus kedalam praktik praktik kemusyrikan. Munculnya mitos seperti tersebut diatas, bersumber dari sikap kebijakan atau perintah Sunan Kudus dalam belakukan dakwah Islam. Pada zaman  Sunan Kudus berkuasa, musuh nyata dalam penyembangan Islam datang dari para penjajah yang semuanya memegang kendali pemerintahan kolonial Belanda. (catatan: bangsa Indoensia di jajah oleh belanda selama 350 tahun: mulai tahun 1592 s/d 1942). Sa;ahs atu upaya Sunan Kudus untuk melindungi wilayah atau padepokannya dnegana cara melakukan ritual doa agar para apenjajah tidak bisa masuk ke dalam areal dakwah Sunan Kudus. Hasil atau doa tersebut, berhasil setiap penjajah mau masuk ke areal dakwah sunan kudus selalu memeproleh sial atau masalah, akahirnya paraa penjajah tidfak berani masuk kedalam areal dakwah Sunan Kudus.

Sedangakan mitos ketakutan menyembelih hewan sapi, disebabkan oleh pendapat atau saran Sunan Kudus, tidak dieprbolehkan menyembelih sapi dimaksudkan untuk menghormati agama lain yaitu hindu yang pada saat itu banyak masyarakat Kudus yang memeluk agama hindu. Agar umat Hindu memiliki simpati kepada datangnya Islam maka Sunan Kudus melarang menyembelih hewan sapi. Hal ini hanya untuk menjaga perasaan Iumat hindu, agar memiliki daya tarik untuk bersedia pindah ke dalam agaam Islam.Larangan menyembelih sapi hanyaa berlaku local ada saat sunan Kudus masih hidup dan pada saat umat hindu masih banyak hidup bersama di lokasi dakwah Islam Kabupaten Kudus. Dalam konteks sekarang larangan itu tidak bersifat tekstualis, melainkan harus dipahami sebagai pesan kontekstual yaitu pesan pentingnya masyatakat Kudus memiliki jiwa toleransi, saling menghargai dan menghormati orang lain meskipun berbeda agama.  

Kesimpulan

Masyarakat Kudus lebih tertarik mensekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan Islam dari pada sekolah umum, hal ini dapat dilihat dari banyaknya lembaga pendidkan Islam baik formal maupun non formal di Kudus yang berkembang secara pesat. minimal jika dilihat dari besarnya animo masyarakat dan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan.

Pendidikan Islam di Kabupaten Kudus  memiliki karakteristik yang unik, yaitu proses pelaksanaan dan produk pendidikannya dipengaruhi oleh karekter atau kepribadian dua tokoh penyebar Islam pertama kali di Kabupaten Kudus yaitu Sunan Kudus dan sunan Muria. Yaitu produk pendidikan Islam yang memiliki sikap tegas tetapi memiliki jiwa toleransi sangat tinggi tidak hanya kepada kelompok yang berbeda suku, ras dan kelompok, tetapi juga memiliki toleransi sangat tinggi kepada kelompok beda agama (non muslim). Hal ini dapat dilihat dari realitas masyarakat Kudus, dalam melaksanakan tatanan kehidupan yang penuh toleransi, sehingga tidak pernah muncul konflik konflik sosial, meskipun dengan kelompok beda agama, suku dan kelompok. Era sekarang, konpleks makam Sunan Kudus juga berdiri bagunan tempat ibadah orang konghuchu (klenteng) yang sangat besar, dan posisinya berhadap hadapan dnegan masjid al aqsha yang alam sejarah masjid tersebut dibuat oleh  Sunan Kudus.

Produk pendidikan Islam juga memiliki keunikan jika dilihat dari perspektif persoalan sosial politik. Masyarakat Kudus yang nota benenya produk dari pendidikan Islam juga memiliki sikap yang unik, yaitu di satu sisi masyarakat Kudus bersekolah atau studi di pendidikan Islam yang selalu berinteraksi dengan para tokoh agama/kiai, masyarakat Kudus selalu mentaati saran, perintah kiai/tokoh agama, tetapi jika perintah atau saran itu berkaitan tentang politik atau pilihan politik, maka masyarakat tidak akan mengikutinya. Bahkan mayoritas masyarakat Kudus tidak setuju jika para tokoh kiai itu terlibat dalam proses politik.

Daftar Pustaka

 Ahnan (1994), Serpihan Mutiara Kisah Walisongo, Anugrah Surabaya, Jawa Timur

Budiman, Maneke, Budaya Populer sebagai Perlawanan Perempuan. Dalam Jurnal Perempuan. Edisi XIII/Maret–2000. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2000.

Eriyanto, Metodologi Polling. bandung: Remaja rosdakarya, 1999.

John Dewey, Pengalaman Pendidikan, Kepel Pres Bekerjasama dengan Yayasan Adikarya Ikapi dan Ford Foundation, 2002.

Kudus dalam angka tahun 2013.

McQuail, Denis, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Alih bahasa oleh Agus Dharma dan Aminudin Ram. Jakarta: Erlangga, 1996.

  1. B. Rahimsyah (1997), Biografi & Legenda Walisongo dan Ulama Penerus Perjuangan, Indah Jakarta.
  2. Saekan Muchith (2011) Islam Benar Benar Agama Sosial, Idea, Yogyakarta.

—————————- ( 2012) Pelajar Dalam Bahaya,  Idea, Yogyakarta.

Safwandi (1985), Menara Kudus: Dalam Tinjauan Sejarah dan Arsitektur, Bulan Bintang, Jakarta.

Survey tentang persepsi pelajar Wilayah Pantura Jawa Tengah, tahun 2012

Survey tentang Persepsi Pelajar Wilayah Pantura Jawa Tengah Tentang  Sistem Negara Islam tahun 2011

Survey tentang persepsi Masyarakat Kudus terhadap Fenomena Sosial Politik, tahun 2010.

Umar Hasyim (1983), Sunan Muria : Antara fakta dan Legenda, Menara Kudus, Jawa Tengah, Indonesia.

Yudian KS (1993 ), Cerita Rakyat Dari Kudus, Grasindo, Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter