|  | 

Jurnal

Karakter Pembelajaran di MTS : Tekstualisasi Dalil

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Islam Agama Tekstual

Islam adalah agama tekstual yaitu agama yang memuat berbagai ajaran, pesan (teks) berupa ayat atau hadis  yang harus dipegang teguh  oleh umat Islam dalam menempuh kehidupan sosialnya. Mengetahui, memahami dan menemukan  kandungan makna terhadap ajaran Islam harus diawali dari pengetahuan dan hafalan terhadap teks terlebih dahulu. Contohnya, umat Islam mampu melaksanakan ibadah sholat jika mengetahui dan hafal teks atau bacaan doa doa yang ada dalam ibadah sholat.

Umat Islam bisa melaksanakan puasa ramadhan, zakat dan haji terlebih dahulu harus mengetahui dan hafal do’a atau bacaan (teks) dalam ibadah tersebut. Umat Islam akan bisa bersatu, rukun, damai tidak bermusuhan atau bertengkar jika mengetahui dan juga hafal teks atau ayat yang memerintahkan tentang persatuan dan hidup rukun damai. Umat Islam akan bisa jujur dan amanah dalam menjalankan tugas, jika mengetahui dan juga hafal tentang ayat yang mengharuskan jujur dan amanah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Umat Islam akan bisa menjaga kebersihan jika mengetahui adanya dalil atau hadis tentang pentingnya menjaga kebersihan.

Konsekeuensi pertama dan utama dapat dikategorikan sebagai umat Islam yang taat, patuh (beriman) terlebih dahulu harus mampu berikrar menyatakan kalimah syahadah yang berisi kesaksian kepada Allah SWT bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mengakui  Muhamamd Saw adalah utusan Allah. Teks kalimah syahadah harus dinyatakan secara lesan sebelum diamalkan melalui tindakan dalam kehidupan sosial.

Salah satu pendekatan dalam memahami Islam dilakukan dengan pendekatan tekstual yaitu  sebuah pendekatan studi terhadap Islam (al-Qur’an) yang menekankan pada  lafal-lafal al-Qur’an (teks) sebagai obyek kajian. Pendekatan ini menekankan pemahaman atau analisisnya pada sisi kebahasaan (tektualitas) ajaran Islam atau alqur’an. Lawan kata dari pendekatan tekstual adalah pendekatan kontekstual yang lebih menekankan aspek situasi, kondisi atau peristiwa yang melatar belakangi turunya ayat (asbabun nuzul)

Dari aspek tekstualitas, Islam adalah agama yang dapat ditegakkan jika didasarkan lima pilar. Seperti hadis dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khattab RA berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw  bersabda: “Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: Bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan sholat, membayar zakat, berhaji ke baitullah, dan berpuasa pada bulan ramadhan[1].”(HR.Bukhori dan Muslim). Artinya kualitas beragama dilihat dari sejauhmana mampu mengucapkan, meyakini dan juga mengamalkan  lima hal tersebut.

Kualitas dan kebesaran Islam ditentukan sejauhmana pemeluknya mampu melaksanakan ibadah sholat. Seperti kata kata mutiara yang berbunyi   Sholat itu adalah tiang agama (Islam),  barangsiapa mendirikannya maka sungguh ia telah mendirikan agama (Islam) itu dan barangsiapa meninggalkan sholat  maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu.

Islam agama adalah agama yang sangat menjunjung tinggi hubungan sosial. Salah satu indikasi perusak atau pendusta terhadap Islam  dilihat dari kepekaan atau kepedulain kepada sesama khususnya anak yatim dan  fakir miskin.  Firman Allah dalam Surah Al Ma’un ayat 1-5[2] “ Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”,dan celakalah orang yang sholat yang lalai terhadap sholatnya, yang berbuat ria, dan enggan memberikan bantuan”.

Islam merupakan agama yang melarang keras pemeluknya bertengkar, permusuhan tidak rukun. Firman Allah SWT Surah Ali Imran ayat 103[3] “ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. Ayat ini dikuatkan dengan  beberapa hadis yang menggambarkan persatuan diantara umat Islam (muslim). “Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menolong diantara mereka seperti perumpamaan satu tubuh. Tatkala salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan pula  demam dan tidak bisa tidur”  (HR. Bukhari Muslim). “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti satu bangunan, sebagiannya menguatkan yang lainnya (HR. Bukhari Muslim).

Semua aspek kehidupan manusia tidak lepas dari ajaran Islam. Agama Islam juga mengatur dan mewajibkan para pemeluknya untuk selalu bermusyawarah atau menjalankan demokrasi dalam menyelesaikan persoalan dalam kehidupan. Firman Allah SWT dalam surah Ali Imrana ayat 159 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Ayat lain yang lebih menguatkan pentingnya bermusyawarah bagi umat Islam (muslim) Surah An Nisa ayat 59 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah  kepada Allah SWT (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”

Selain mengajarkan bermusyawarah, Islam juga melarang keras kepada pemeluknya memiliki prasangka buruk, melakukan kebohogan atau pendusta. Firman Allah Surah Al Hujaraat ayat 12 “Wahai orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, (sehingga kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah sebagian kamu menggunjing setengahnya yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? ( Jika dalam kondisi mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. Jadi patuhilah larangan-larangan tersebut) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Pembohong atau memfitnah implikasinya sangat besar, Islam menggariskan bahwa fitnah itu lebih besar dosanya dibanding membunuh. Firman Allah SWT Surah Al Baqarah ayat 217 “Fitnah itu besar (dahsyat) dari melakukan pembunuhan.” Rasulullah Saw  juga berkali kali mengatakan tentang larangan melakukan kebohongan. Rasulullah Saw bersabda “ “Maukah aku kabarkan kepada kamu sebesar-besarnya dosa besar?” Beliau mengucapkannya tiga kali. Mereka (para sahabat) menjawab, “Ya, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah (syirik) dan durhaka kepada kedua orang tua”. Beliau duduk sebelumnya beliau bersandar, lalu beliau bersabda, “Ingat, juga perkataan palsu”, Perawi berkata, “Beliau selalu mengulangi ucapannya, hingga kami berharap beliau diam” (HR. Bukhari). 

Di dalam hadis lain diterangkan “Wahai Rasulullah, apakah ghibah itu? Lalu Rasulullah menjawab; ‘Menyebut sesuatu yang tidak disukai saudaramu di belakangnya.’ Kemudian Sahabat kembali bertanya; ‘Bagaimana jika apa yang disebutkan itu benar?’ Rasulullah kemudian menjawab; ‘kalau sekiranya yang disebutkan itu benar, maka itulah ghibah. Tetapi jika hal itu tidak benar, maka engkau telah melakukan suatu kebohongan yang sangat besar.” (H. R. Muslin, Abu Daud, dan At-Tirmidzi).

Islam adalah agama yang memiliki teks yang harus dihafal dan diketahui para pemeluknya. Tanpa tahu dan hafal terhadap teks agama maka mustahil dapat memahami apa lagi menemukan kandungan maknanya. Pendidikan dan pembelajaran harus mampu membimbing kepada peserta didiknya agar mengetahui dan hafal teks agama sehingga mampu dijadikan sarana untuk mempertebal keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Urgensi  Pembelajaran Tekstual

Pepatah arab mengatakan “al insaan al hayawaanu al naatiq” manusia adalah hewan (mahluk)  yang berfikir. Hal ini menandakan bahwa perbedaan utama manusia dengan mahluk lain (hewan/binatang) terletak sejauhmana mampu mengoptimalkan peran dan fungsi akal pikirannya. Segala sesuatu yang ada di sekitarnya harus dijelaskan melalui akal pirannya sehingga orang lain mengetahui dan memahami secara jelas sehingga tidak mudah salah paham terhadap realitas atau fenomena.

Manusia juga memiliki predikat sebagai mahluk sosial yang memiliki tugas dan fungsi melakukan sosialisasi dan interaksi dengan mahluk lainnya. Setiap manusia tidak akan bisa hidup tanpa kehadiran atau peran orang lain.  Setiap manusia juga membutuhkan komunitas (bermasyarakat) untuk mensosialisasikan semua ide atau gagasannya. Apa yang dikemukakan dan dijelaskan akan menjadi salah satu indikasi kualitas pengetahuan, sikap kepribadian dan ketrampilan manusia.

Manusia juga memiliki predikat sebagai manusia beragama yang memiliki tugas dan tanggung jawab mengembangkan semua potensi yang ada di dalam dirinya untuk melahirkan hal yang positif. Secara umum potensi manusia dikelompokan dalam tiga hal yaitu akal pikiran, sikap kepribadian dan ketrampilan fisik atau mekanik. Ketiga potensi harus selalu dikembangkan untuk mencapai manusia sempurna (insan kamil). Akal pikiran yang baik adalah yang mampu memberikan penjelasan atau deskripsi terhadap semua fenomena kepada pihak lain. Tidak sedikit al qur’an (Islam) memerintahkan kepada manusia untuk menggunakan akal pikiranya agar tercapai kualitas manusia yang ideal.

Dalam bahasa Indonesia akal berarti daya pikir atau kualitas ingatan. Dalam bahasa Arab, akal (aql) mengandung makna pikiran (konsep), perasaan, dan pemahaman. Berdasarkan pengertian tersebut, akal mengandung pengertian sesuatu yang abstrak bukan semata mata fisik. Artinya akal pikiran mengharuskan manusia untuk mengembangkan cara fikir, konsep terhadap fenomana atau fakta yang ada di sekitar lingkungannya.

Surat pertama turun[4] juga menjelaskan pentingnya manusia (umat Islam) untuk mempergunakan akal pikirannya untuk memahami, menganalisis dan juga menjelaskan semua fenoman kepada orang lain. Perintah membaca (iqra) tidak hanya dipahami merangkai huruf dan kata saja, tetapi juga bermakna kemampuan menemukan fenomena sekaligus mendeskripsikan kepada orang lain sehingga tercapai suatu kebenaran.  Pentingnya manusia dan juga peserta didik untuk memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk menjelaskan berbagai argumentasi yang berkaitan dengan fenomena, fakta dan teori sangat dianjurkan oleh Islam. Pendidikan yang nota benenya membimbing dan menumbuhkembangkan potensi manusia harus juga mengoptimalkan potensi berfikir manusia yang dapat memberikan argumentasi atau penjelasan tentang berbagai fenomena yang ada di sekitar kehidupan manusia.

Sebagai manusia beragama juga diharuskan untuk melakukan amar makruf nahi mungkar yaitu mengingatkan dan menganjurkan dirinya sendiri dan orang lain untuk berbuat  baik sesuai perintah Allah SWT dan juga mengingatkan dan menganjurkan untuk menjauhi yang buruk sesuai yang dilarang Allah SWT. Salah satu cara untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar atau biasa dikenal dengan istilah dakwah Islamiyah dilakukan dengan perkataan yang baik (bil mauidhotul hasanah) dan sikap yang bijaksana (bil hikmah)[5].

Dakwah Islam[6] menjadi suatu keharusan bagi semua umat Islam,  dakwah Islam dapat dilakukan sekurang kurangnya dengan tiga hal yaitu melalui perkataan atau ucapan yang baik, dengan sikap dan perilaku dan juga melalui kekayaan material (harta). Semua cara yang dilakukan dalam berdakwah menuntut manusia memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk memberikan alasan atau penjelasan agar orang lain bisa benar benar mengetahui dan memahami Islam secara baik dan benar. Disinilah urgensinya atau pentingnya pembelajaran kontekstual yang lebih menekankan upaya pembelajaran yang dilakukan dengan cara memberikan kemampuan dan  ketrampilan peserta didik untuk mengemukakan atau menjelaskan alasan atau dalil dari suatu teori, teks, sikap dan perbuatan yang dilakukan oleh manusia di dunia baik sebagai manusia beragama, berbangsa dan bernegara.

Profil lulusan jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTS) memiliki kemampuan menjelaskan atau menunjukan dalil, arguman atau landasan mengapa umat Islam melakukan suatu tindakan, perilaku atau ibadah. Meskipun secara logika mereka belum mendalami. Hal penting yang harus dimiliki lulusan MTS terletak pada kemampuan menjelaskan, menghadirkan atau menunjukan landasan, argumen ataupun dalil dari suatu perbuatan yang dilakukan umat Islam.

Landasan Metodologis Pembelajaran Tekstual

Manusia mengembangkan akal pikiran dan kepribadianya dilakukan dengan berbagai macam metode, diantaranya metode trial and error, commens sense, akal, pengalaman,  ilham dan  wahyu.

Metode trial and error dapat diartikan cara untuk mengembangkan pengetahuan atau wawasan yang didasarkan atas kesalahan masa lalu. Manusia harus bisa belajar dengan kesalahan atau kekurangan yang telah terjadi dimasa silam. Semua manusia pasti memiliki masa lalu yang baik dan buruk. Semua peristiwa masa lalu yang kurang baik harus bisa diperbaiki untuk menyempurnakan proses masa depan yang akan diraih. Metode trial and error adalah selalu mencoba untuk menemukan sesuatu kebenaran yang dianggap cocok. Setiap manusia pada dasarnya memiliki upaya dan kesadaran untuk mencoba dan mencoba sampai memperoleh kecocokan dengan yang diharapkan.

Metode commen sense didasarkan atas anggapan atau asas kepatutan yang berlaku secara umum. Artinya manusia akan mengembangkan pengetahuannya berdasarkan kesepakatan yang telah dimiliki oleh halayak ramai (publik). Hal hal yang sudah di pahami atau dimaklumi oleh banyak orang bisa menjadi suatu kebenaran. Kebenaran itu hanya didasarkan kecocokan dengan apa yang dipahami banyak orang. Dalam kaidah fiqh (hukum Islam) dijelaskan bahwa “ Idza ta’adzara al musamma rajiu ila al qimaati” Apa bila harga yang disepakati tidak diketahui maka dikembalikan kepada harga pasar. Dalam tradisi jual beli menurut hukum Islam jika tidak ada harga yang jelas maka kesepakatan umum (pasar) yang menjadi rujukan atau landasan. Artinya kesepakatan umum menjadi kebenaran dan patokan menentukan harga jual beli.

Metode akal. Metode ini dasarkan asumsi bahwa manusia adalah binatang yang berfikir (human is animal rational), artinya manusia akan selalu mengembangkan atau menggunakan akalnya untuk mengetahui dan menyelesaikan persoalan kehidupan. Dalam Islam juga dijelaskan tentang pentingnya mengunakan akal untuk mengembangkan pengetahuan yaitu perintah menggunakan akal pikiranya untuk membaca realitas yang ada di sekitar kehidupan sosialnya. Perintah membaca (iqra’) dalam surat pertama kali turun menandakan pentingnya akal dipergunakan secara optimal agar manusia memperoleh kemudahan dalam kehidupannya. Dari filosofi iqra inilah yang membedakan antara epistimologi Islam dengan epistemologi barat. Dimana cara berfikir barat murni diawali dari akal pikiran sedangkan cara berfikir Islam didasarkan atas eksistensi Tuhan, yaitu semua yang dipikirkan harus berdasarkan kesadaran adanya Tuhan sebagai Sang Pencipta.

Metode pengalaman yaitu proses menemukan dan mengembangkan pengetahuan manusia dilakukan dengan cara menambah dan mengetahui apa yang terjadi dalam realitas kehidupan. Hal ini didasarkan atas asumsi atau teori empirisme yang mengatakan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang dapat dilihat dengan pancaindera. Kebenaran didasarkan atas kenyataan (realita) yang ada di dalam kehidupan. Semakin banyak pengalaman atau realita yang ditemukan semakin besar peluang untuk memiliki kebenaran. Metode ini dikuatkan dengan aliran empirisme David Hume  yang mengatakan bahwa kebenaran menurut aliran empirisme adalah mengecilkan akal pikiran yang menekankan kepada realitas kehidupan yang diketahui melalui pancaindera. Kebenaran adalah apa yang dirasa, dilihat, dicium dan diraba.

Metode ilham. Ilham sebagai salah satu metode menemukan kebenaran  disini dapat diartikan inspirasi yaitu manusia bisa mengembangkan pengetahuannya jika memiliki inspirasi dari apa yang dibaca, dilihat dan dihayati. Metode ilham akan muncul jika manusia rajin membaca, merenung, menghayati sehingga muncul inspirasi dari apa yang diketahui dan diyakini. Inspirasi itu akan muncul dari manusia merenung pada saat melihat fenomena, pada saat manusia membaca buku dan pada saat merenungi pengalaman pribadi yang telah dilewati.

Metode wahyu. Metode ini hanya dilakukan oleh manusia pilihan Sang Pencipta (Allah SWT) yaitu para Nabi dan Rasul. Utusan Allah dalam memperoleh pengetahuan selalu diperoleh melalui wahyu yaitu suatu informasi berupa perintah atau larangan dari Allah SWT yang diperoleh melalui perantaraan Malaikat yang diwujudkan melalui kitab suci. Manusia biasa tidak akan bisa melakukan metode pengembangan ilmu pengetahuan melalui wahyu.
Manusia pasti selalu memiliki naluri untuk mengembangkan potensinya dengan berbagai cara.

Menurut aliran kognitivisme, manusia berkembang berdasarkan potensi kecerdasan intelektual (akal pikiranya), sehingga kedewasaannya sangat ditentukan oleh perkembangan intelektualnya. Kebenaran juga ditentukan sejauhmana fenomena atau fakta dapat diterima secara rasional dalam artian menurut perspektif kecerdasan intelektual. Oleh karenanya dalam pembelajaran dikenal dengan taksonomi pembelajaran versi Benyamin S Blom yang terdiri dari kognitif, affektif dan psikomotorik.

Lain halnya dengan aliran behavioristik, bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh kualitas atau intensitas perilaku yang dilakukan. Artinya keberhasilan manusia ditentukan oleh seberapa jauh manusia itu mampu menjalankan proses dalam kehidupannya. Proses yang dilakukan harus selalu berpegang kepada norma atau aturan yang berlaku baik aturan formal (negara) atau berdasarkan agama (keyakinan).

Sedangkan aliran idealisme menyatakan bahwa keberhasilan manusia murni ditentukan oleh sejauhmana manusia mampu mengoptimal semua potensi yang ada di dalam dirinya. Potensi akan berkembang secara efektif jika manusia diberi kebebasan untuk berbuat. Pandangan idealisme menganut asas kebebasan yaitu  berilah kebebasan secara optimal maka manusia akan sukses. Akhirnya aliran ini melahirkan liberalisme dan kapitalisme dalam diri manusia. Hal ini didasarkan asumsi bahwa pada dasarnya manusia memiliki bakat atau naluri untuk sukses, hanya karena situasi dan kondisi yang dialami oleh manusia itulah yang menjadikan kesuksesan manusia terganggu (kegagalan struktural).

Aliran materialisme mengatakan bahwa keberhasilan manusia ditentukan oleh sejauhmana manusia mau dan mampu berbagi dengan sesama manusia. Artinya kesuksesan manusia ditentukan oleh kekuatan kerjasama antar manusia yang dilakukan saling menghormati, menghargai serta saling berbagi. Hal ini didasarkan oleh asumsi bahwa manusia pada dasarnya memiliki bawaan (fitrah) untuk saling menghargai, menghormati dan saling membantu sehingga dapat mewujudkan  kesejahteraan dan kemakmuran bersama.

Aliran Teologisme yaitu keberhasilan manusia ditentukan oleh dua hal yaitu optimalisasi usaha (ihtiyar) dan campur tangan (taqdir) dari Sang Pencipta (Allah SWT). Aliran ini memahami bahwa kesuksesan manusia tidak hanya ditentukan oleh kebebasan manusia tetapi juga ada andil dari kekuatan diluar manusia (kekuatan supra-rasional). Disinilah muncul faham bahwa potensi manusia itu terbatas, dan masih ada kekuatan lain yang ikut menentukan keberhasilan bagi manusia. Aliran ini mengisyaratkan kepada semua manusia bahwa sekuat apapun manusia pasti masih ada yang menandingi, oleh sebab itu sekuat apapun manusia tidak boleh merasa paling kuat atau paling dahsyat. Ada pepatah “ di atas langit, ada langit” artinya sekuat kuat manusia pasti masih ada yang mengungguli. Persepsi ini bisa menjadi pengendali sifat dan kepribadian manusia.

Pengertian Pembelajaran Tekstual

Pembelajaran kontekstual sudah banyak dibahas oleh banyak ahli atau ilmuwan diberbagai buku dan jurnal. Pembelajaran tekstual disandingkan dengan pembelajaran kontekstual dimana pembelajaran dimaksudkan proses pemahaman secara normatif atau literalis sehingga peserta didik kurang memperoleh pemahaman yang utuh. Pemahaman tekstualis juga diartikan pemahaman hitam putih yang cenderung kaku, monoton dan seragam atau menuntut harus sama antara peserta didik satu dengan lainya. Konsekeunsinya pembelajaran tekstual diharapkan banyak dihindari digeser kepada pembelajaran kontekstual yang lebih memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berperan atau aktif menemukan teori dan kebenaran.

Pembelajaran tekstual ada juga yang menyamakan dengan  istilah pembelajaran tradisional dimana pembelajaran tradisional memposisikan peserta didik sebagai sesuatu yang pasif. Secara umum pembelajaran tradisional[7] ditandai dengan beberapa hal antara lain:

  1. siswa cenderung pasif dalam menerima materi
  2. menemukan teori atau kebenaran dilakukan secara individual (personal).
  3. materi yang disampaikan cenderung bersifat general atau abstrak
  4. pengetahuan, sikap kepribadian dan ketrampilan dibangun berdasarkan kebiasaan atau tradisi yang berlaku.
  5. pembelajaran didominasi dengan hukuman, ancaman sehingga tidak malakukan kesalahan bukan karena kesadaran melainkan karena takut dengan sanksi yang akan diterima.
  6. pemahaman terhadap materi bersifat formal sehingga peserta didik memiliki pengetahuan secara simbolik.
  7. pembelajaran bersifat rutinitas dalam artian target yang dicapai dalam pembelajaran adalah menghabiskan materi atau memindah pengetahuan (transfer of knowledge).

Istilah tekstual juga digunakan dalam memahami tentang Islam yang hasilnya dikenal dengan istilah Islam tekstual dan Islam kontekstual. Disebut Islam tekstual karena pemahaman teks agama (Al qur’an dan Hadis) dilakukan menggunakan pendekatan kebahasaan tanpa melihat latar belakang psikologis dan sosial mengapa al qur’an dan hadis itu diturunkan. Pemahaman tekstual dapat juga disebut dengan pemahaman yang tersurat bukan yang tersirat. Implikasi pemahaman tekstual akan melahirkan Islam normatif, cara fikir hitam putih yang cenderung perilaku beragamanya seringkali klaim kebenaran atas keyakinan yang dimiliki.

Lalu apa dan bagaimana pembelajaran tekstual yang dimaksud dalam buku ini?. pembelajaran tekstual dalam buku ini bukan pembelajaran tekstual dalam artian pembelajaran tradisional. Juga tidak dalam artian pembelajaran yang mengajarkan pemahaman tekstual terhadap ayat atau hadis yang ujung ujungnya melahirkan pemikiran yang hitam putih dan normatif serta monoton.

Pembelajaran tekstual dalam buku ini adalah proses pembelajaran yang dilakukan dengan menekankan pentingnya memberikan informasi atau alasan secara tepat terhadap suatu fakta atau perbuatan. Pembelajaran dengan cara memberikan atau menghadirkan dalil kepada peserta didik agar peserta didik memiliki pengetahuan tentang dalil terhadap segala sesuatu yang diucapkan atau dilaksanakan. Hal ini penting dilakukan agar masing masing peserta didik benar benar memiliki dasar atau argumen yang kuat terhadap semua realitas, fakta dan perilaku yang ada di tengah tengah masyarakat.

Islam adalah agama yang memerlukan dalil atau alasan alasan yang kuat terhadap semua yang diucapkan dan dilaksanakan. Islam mengenal dalil naqli (bersumber dari ayat ayat al qur’an dan teks teks/matan hadis) dan dalil aqli (bersumber dari fenomena alam), kesemuanya harus diketahui dan dimiliki oleh setiap peserta didik yang ada   pada jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTS).

Pembelajaran tekstual lebih mengutamakan kemampuan guru untuk memberikan dalil atau alasan terhadap semua yang diucapkan dan dilaksanakan atau diperintahkan dalam Islam. Mengapa umat Islam diwajibkan menjalankan sholat lima waktu?, mengapa umat Islam diwajibkan puasa ramadhan?, mengapa umat Islam yang memiliki kekuatan diwajibkan menjalankan ibadah haji dan umrah?, mengapa umat Islam di sunahkan puasa senin kamis?, mengapa umat Islam diwajibkan menjaga persatuan dan kesatuan?, mengapa manusia dilarang melanggar hukum dan aturan? mengapa manusia harus adil dan jujur? Mengapa sesama manusia harus saling menghormati dan menghargai? mengapa anak harus patuh dan taat kepada orang tua? Untuk apa tujuan manusia hidup di dunia? dan masih banyak lagi fakta dan realitas yang membutuhkan argumen atau alasan (dalil).

Pembelajaran tekstual tidak membahas rasionalisasi dalil atau argumen yang diberikan, tetapi  yang paling utama peserta didik memiliki pengetahuan  tentang dalil dalil atau alasan yang bisa menguatkan apa yang diucapkan dan dilaksanakan. Alasan atau dalil bisa diambil dari ayat ayat (nash) alqur’an dan hadis, bisa diambil dari aturan atau norma perundang undangan yang berlaku.

Profil lulusan MTS ditandai dengan kemampuan memberikan dalil atau alasan mengapa Islam memerintahkan umatnya untuk melakukan suatu perbuatan. Pengetahuan dan juga keyakinan terhadap ajaran Islam diawali dari sejauhmana kita mampu memberikan dalil atau alasan yang kuat terhadap apa yang diperintah dalam Islam.  Mayoritas masyarakat sering kali bertanya apa dalilnya dari pendapat atau tindakan yang dilakukan oleh umat Islam. Jika tidak mampu memberikan alasan atau dalil yang kuat maka akan terjadi keraguan terhadap apa yang dikerjakan atau yang diyakini. Disinilah pentingnya kemampuan umat Islam untuk menghadirkan atau memberikan dalil atau alasan terhadap semua yang diucapkan dan dilaksanakan.

Pembelajaran tekstual menjadi sangat penting dilakukan karena pada hakekatnya pembelajaran tekstual adalah menanamkan pengetahuan, kepribadian dan ketrampilan bagi peserta didik. Peserta didik harus memiliki kemampuan menunjukan alasan alasan dari apa yang dilakukan. Konsekuensi sebagai orang yang bertanggung jawab terletak sejauhmana mampu memberikan atau menjelaskan alasan (argumentasi) atas semua hal di lakukan atau yang dilihat serta yang dikemukakan[8].

Pendidikan Agama Islam (PAI) sangat memerlukan pentingnya peserta didik memiliki pengetahuan dan ketrampilan menjelaskan alasan alasan atas yang diketahui, diucapkan dan dilaksanakan. Profil Umat Islam dilihat dari konsistensi terhadap antara apa yang diyakini, dikatakan (lesan) dan apa yang dilaksanakan (praktikan). Artinya kesesuaian antara hati, perkataan dan perbuatan menjadi salah satu indikasi sempurnanya ketaqwaan seseorang. Kemampuan dan ketrampilan peserta didik untuk mengungkapkan apa yang diketahui dan diyakini dengan maksud memberi argumentasi terhadap semua yang ada merupakan suatu keniscayaan bagi Pendidikan Agama Islam.  Walaupun hal ini bukan menjadi satu satunya aspek yang harus dipahami dalam menjalankan agama Islam.

Pembelajaran tekstual bukan kebalikan pembelajaran kontekstual yang menekankan keterlibatan secara aktif bagi seperti yang ada dalam tahapan pembelajaran CTL. Pembelajaran tekstual ini menekankan dan mengharuskan para Guru pada jenjang tertentu untuk melakukan pembelajaran yang menekankan pemberian berbagai materi atau dalil yang bisa dijadikan landasan atau argumen peserta didik untuk menjelaskan segala sesuatu yang dilihat, diketahui dan dilaksanakan baik yang berkaitan dengan pemahaman dan menjalankan agama Islam maupun hal hal yang berkaitan dengan realitas kehidupan sosial.

Langeveld berpendapat bahwa batas akhir pendidikan adalah pada saat seseorang sudah mencapai kedewasaan. Ciri utama seseorang dikatakan dewasa adalah stabil, bertanggung jawab dan mandiri. Stabil mengandung makna adanya konsistensi dalam berkata dan berbuat. Bertanggung jawab adalah mampu memberikan argumentasi atau alasan terhadap sesuatu yang dikatakan atau diperbuat. Argumentasi menjadi sangat penting dalam proses pendidikan dan pembelajaran.  Materi PAI memiliki kekhususan tersendiri jika dibandingkan dengan materi selain PAI. Dimana materi PAI memiliki keterkaitan dengan materi diluar dirinya yang berimplikasi kepada keharusan seorang muslim harus mampu memberikan argumentasi atau dalil secara tepat terhadap semua apa yang terkandung dalam nilai nilai ajaran agama Islam.

Pembelajaran tekstual menjadikan agama Islam tidak hanya sekedar menjadi agama yang dipahami untuk dirinya sendiri, tetapi benar benar menjadi agama yang bisa dipahami oleh orang lain (masyarakat). Salah satu kunci agar orang lain atau masyarakat memahami agama Islam harus dilakukan dengan cara memberikan dalil atau  alasan baik dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist (naqli)  maupun dalil yang bersumber dari realitas alam (aqli).

Islam sebagai suatu agama atau dogma, sekurang kurangnya memiliki dua dimensi yaitu dimensi keyakinan dan peribadatan (ta’abudy) dan dimensi alasan alasan yang bersifat rasional (ta’aquly). Dimensi peribadatan berisi tentang keyakinan tentang kesucian ajaran agama. Agama harus dilaksanakan secara konsisten. Dimensi rasional mengandung arti bahwa Islam harus bisa dijelaskan secara rasional dengan diikuti dalil atau alasan yang tepat.

Teori Mengelola Informasi

Teori mengelola Informasi (Information Processing Theory) merupakan sesuatu yang tidak mungkin ditinggalkan dalam pembelajaran. Dimana pembelajaran salah satu tujuannya membimbing dan mengatur (mengelola/mengolah) informasi yang ada di dalam diri peserta didik dari apa yang diihat, yang dipahami dari realita dan fakta yang ada di sekitar kehidupan dirinya. Kemampuan mengelola informasi menjadi salah satu indikasi hasil belajar. Artinya kualitas belajar peserta didik akan diketahui sejauhmana peserta didik mampu mengelola informasi menjadi sebuah  gagasan yang logis, sistematis dan obyektif sehingga mudah dipahami oleh orang lain.

Aliran kognitivisme menempatkan mengelola informasi menjadi bagian terpenting dalam pembelajaran. Pengelolalan informasi bagian dari pengetahuan yang harus ditumbuh kembangkan dalam diri peserta didik. Khusus bagi anak-anak usia 10 sampai dengan 15 tahun  pertumbungan intelektual harus dilakukan atau dirangsang secara optimal. Pengetahuan dan pengolahan informasi  menjadi faktor dominan lahirnya sebuah karakter sikap kepribadian bagi seseorang. Sesuatu yang  diolah untuk menjadi informasi yang baik secara pelan pelan  akan menumbuhkan  moralitas bagi anak.

Secara umum pengetahuan dikelompokan menjadi tiga macam[9], yaitu pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural dan  pengetahuan kondisional. Ketiga macam pengetahuan ini diawali dari latihan dan bimbingan dalam melakukan proses mengolah informasi yang diterima oleh masing masing peserta didik.

Pengetahuan deklaratif menyangkut hal hal yang berkaitan dengan pengertian tentang suatu fakta atau masalah. Bagaimana peserta didik memiliki cara untuk merumuskan atau mendifinisikan tentang sesuatu masalah, fakta dan teori. Dengan kata lain pengetahuan deklaratif adalah berkaitan dengan kemampuan peserta didik untuk menyusun kata kata dan kalimat secara sistematis tentang suatu fakta dan fenomena.

Pengetahuan Prosedural adalah hal hal yang berkaitan bagaimana melakukan perbuataan dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi setiap manusia. Pengetahuan prosedural biasa disebut dengan istilah ketrampilan intelektual (skill intellectual). Pengetahuan kondisional (conditional knowledge) adalah pengetahuan yang berkaitan dengan kapan dan mengapa. Artinya menyangkut pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan   tentang kapan manusia harus melakukan sesuatu dan alasan alasan /dalil atas yang dilakukan oleh setiap manusia.

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses atau sarana untuk mengolah semua informasi dari yang abstrak menjadi yang kongkrit (nyata), informasi yang dianggap sulit menjadi mudah, informasi dari yang global (umum) menjadi detail, rinci (jelas). Peran guru dalam pembelajaran memudahkan semua informasi yang dianggap sulit oleh peserta didik, mensederhanakan sesuatu yang dianggap rumit oleh peserta didik. Guru tidak boleh berperan sebaliknya yaitu membuat sulit dari sesuatu yang sebenarnya mudah dan membuat rumit sesuatu yang sebenarnya sederhana dan simpel.

Guru dijenjang MTS selain harus memiliki ketrampilan kompetensi profesional[10]  juga  dituntut memiliki kompetensi tekstual keagamaan. Hal ini didasarkan bahwa tugas Guru madrasah (MI, MTS, MA) selain memiliki misi keilmuan juga memiliki misi dakwah Islamiyah. Konsekuensi yang harus dilakukan adalah guru dituntut memiliki pengetahuan dan ketrampilan membimbing dan melatih peserta didik agar memiliki kemampuan memberikan dalil kepada orang lain terhadap nilai nilai ajaran Islam sehingga orang lain memiliki pengetahuan dan pemahaman serta ketrampilan agama yang ideal. Kualitas pemahaman terhadap agama (keberagamaan) manusia dipengaruhi minimal tiga hal yaitu, keyakinan, pemahaman dan ketrampilan  dalam menjalankan apa yang diyakini dan dipahami. Dengan kata lain profil manusia yang ideal jika memiliki keyakinan dalam hati, diucapkan dengan lesan dan diamalkan melalui tindakan.

Guru Pendidikan Agama Islam memiliki tugas untuk memberikan, menanamkan pemahaman (tektualis) dan membimbing  dalam menjalankan atau mengamalkan nilai nilai keagamaan kedalam kehidupan sosial.

Pembelajaran Madrasah Tsanawiyah (MTS).

Madrasah Tsanawiyah (MTS)[11] adalah jenjang pendidikan dasar yang memiliki fungsi memberikan bekal yang dapat dijadikan landasan untuk meneruskan kejenjang selanjutnya yaitu jenjang pendidikan menengah. Pendidikan di MI dan MTS sama sama jenjang pendidikan dasar yang tujuan utamanya membekali atau melandasi untuk melanjutkan kejanjang selanjutnya. Jika dilihat dari aspek usia, ada perbedaan yang cukup signifikan antara usia MI dengan MTS. Usia pada jenjang MI (7-12 tahun) bersifat simbolik sedangkan pada usia MTS (12-15 tahun) bersifat abstrak dalam artian proses menggambarkan atau menjelaskan sesuatu fakta dan realita.

Berdasarkan kompetensi yang dimiliki jenjang MTS khususnya mata pelajaran keagamaan, maka pembelajaran tekstual menjadi sangat urgensial, karena kompetensi yang dimiliki pada jenjang MTS mengharuskan peserta didik harus memiliki pengetahuan yang bersifat faktual, konseptual dan strategis tentang ilmu pengetahuan dan ajaran agama. Pembelajarana jenjang MTS memiliki target mengoptimalkan kemampuan dan ketrampilan menjelaskan suatu fakta, norma dan realitas secara tepat sesuai kaidah atau teks yang ada di dalam al qur’an dan hadis.

Lulusan jenjang pendidikan  MTS memiliki kemampuan dan ketrampilan menjelaskan teks yang ada di dalam agama dan mengkaitkan dengan fenomena yang ada di tengah tengah masyarakat. Misalnya mengapa Islam  melarang kekerasan, mengapa sholat, zakat, puasa harus dilaksanakan oleh umat Islam. Mengapa haji diwajibkan khusus bagi yang mampu saja.

Pembelajaran tekstual sejalan dengan karakteristik usia remaja yang cenderung “haus” akan informasi yang dapat dijadikan alat untuk menjawab berbagai keresahan psikologinya. Karakteristik umum pada usia remaja adalah proses mencari jatidiri baik secara fisik maupun psikologis yang ditandai dengan ;

(a) Berusaha mencari kemantangan secara intelektual dan sosial

(b) Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang selalu dijunjung tinggi etika atau norma dalam kehidupan masyarakat.

(c) Menerima keadaan fisik dan non fisik serta mampu menggunkannya secara efektif.

(d) Mencari kemandirian emosional yang diperoleh melalui orang lain (orang tua dan orang dewasa lainnya).

(e) Memilih dan mempersiapkan karier dimasa depan sesuai dengan minat dan kemampuannya.

(f)  Mengembangkan sikap positif terhadap lingkungan sekitarnya

(g) Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara.

Ruanglingkup pembelajaran tekstual berkaitan dengan teks atau norma agama yang ada di dalam al qur’an, hadis dan kesepakatan (ijma) ulama. Tekstual yang dimaksud dalam pembelajaran ini adalah bukan norma atau teksnya itu sendiri, melainkan bagaimana menghadirkan dan  memahamkan teks atau norma yang ada di dalam agama kepada siswa agar siswa memiliki pengetahuan dan pemahaman yang utuh terhadap ajaran Islam. Pembelajaran tekstual diperlukan sosok guru yang memiliki wawasan luas tentang norma agama. Potret pemahaman dan wawasan guru terhadap teks agama akan mewarnai cara fikir dan sikap perilaku siswa.

Teks dalam agama seperti teks, jihad, munafiq, musyrik, kafir, khilafah dan khalifah perlu dipahami secara utuh dan tepat agar teks yang ada memiliki pesan positif, damai dan santun dalam kehidupan sosial. Usia jenjang MTS harus dimulai untuk melatih rasionalitas yang diawali dari cara pemahaman terhadap teks dan norma agama yang terkait dengan realitas kehidupan sosialnya.

Metode[12] yang digunakan dalam pembelajaran tekstual bisa dengan beberapa pilihan  metode pembelajaran yang sering dilaksanakan dalam pembelajaran pada umumnya. Ketepatan suatu metode terletak dari beberapa pertimbangan yaitu :

  1. Apakah sesuai dengan tujuan yang akan dicapai? Tujuan pembelajaran tekstual di jenjang MTS adalah melatih dan menanamkan cara pemahaman teks agama yang tepat. Metode yang tepat dalam pembelajaran tekstual harus cocok dengan tujuan yang akan dicapai.
  2. Apakah sesuai dengan kemampuan guru?, pembelajaran tekstual mengharuskan guru memiliki kemampuan dan wawasan luas tentang berbagai norma atau teks agama yang ada di dalam alqur’an dan hadis. Metode akan cocok dengan pembelajaran tekstual jika metode yang dipilih sesuai dengan kapasitas yang dimiliki guru dan peserta didik.
  3. Apakah sesuai dengan waktu yang disediakan? Pembelajaran tekstual membutuhkan waktu yang cukup lama, karena berkaitan dengan proses memberi pemahaman kepada siswa terhadap teks keagamaan. Metode yang cocok dalam pembelajaran tekstual jika memiliki waktu yang cukup untuk melaksanakan metode yang ditentukan.
  4. Apakah sesuai dengan kemampuan siswa? Pembelajaran tekstual obyek utamanya adalah siswa, khsusunya pemahaman terhadap teks keagamaan. Metode yang cocok dan efektif untuk pembelajaran tekstual jika siswa memiliki kesiapan yang cukup dalam mengikuti pembelajaran.
  5. Apakah sesuai dengan realitas? Pembelajaran tekstual adalah bersifat praktis dalam artian benar benar efektif dipraktikan. Oleh sebab itu metode yang tepat dalam pembelajaran tekatual adalah metode yang benar benar mendukung dipraktikanya pembelajaran teskstual.

Pembelajaran Tekstual ditentukan peran aktif dari guru. Konsekeunsinya Guru harus memiliki kemampuan dan ketrampilan memahami dan menjelaskan teks teks agama yang harus diberikan kepada peserta didik.  Tanggung jawab keberhasilan pembelajaran tekstual lebih didomiansi oleh Guru. Jika diklasifikasikan secara statistik perbandingannya berkisar 70 % peran Guru dan 30 % peran Peserta didik.

Tahapan pembelajaran tekstual dapat diilustrasikan sebagai berikut;

 

Tahapan Kegiatan Guru Kegiatan Peserta Didik
Tahap 1: Menyiapkan Alur materi yang harus di pelajari dalam proses pembelajaran

 

Menjelaskan arah, tujuan dan target materi yang harus diselesaikan dalam pembelajaran Mendengarkan dan mentaati rambu rambu yang ditentukan oleh Guru
Tahap 2: Menentukan materi yang menjadi obyek pembelajaran Menjelaskan alasan atau landasan dari suatu peristiwa /fenomena khususnya yang berkaitan dengan ajaran agama. Mendengarkan penjelasan yang disampaikan Guru dan mendiskusikan jika ada yang kurang paham/jelas
Tahap 3: Pendalaman Materi Bertanya kepada   peserta didik tentang alasan atau dalil dari suatu tindakan atau perilaku. Menjelaskan /menunjukan alasan/dalil dari suatu perilaku
Tahap 4 : Evaluasi/tindak lanjut Menyusun kesimpulan terhadap hasil pembelajaran Menerima hasil kesimpulan dan melaksanakan apa yang direkomendasikan Guru dalam

Referensi :

[1]  Siswa jenjang Madrasah Tsanawiyah (SLTP) harus mengetahui dan hafal hadis tersebut agar mereka mengetahui alasan umat Islam diperintahkan atau diwajibkan menjalankan sholat, zakat, puasa dan haji, karena sholat, zakat, puasa dan haji adalah sendi sendi dasar agama Islam yang harus ditegakkan. Jika umat Islam tidak melaksanakan semua itu maka dipastikan agama Islam tidak akan bisa ditegakkan atau dilaksanakan.

[2]  Ayat ini harus diketahui dan dihafal siswa jenjang Madrasah Tsanawiyah (SLTP), agar mereka mengetahui alasan mengapa umat Islam tidak boleh menyia nyiakan orang miskin dan menghardik anak yatim, karena perbuatan tersebut bagian dari kepribadian yang merusak atau mendustakan agama Islam.

[3]  Ayat ini menjadi dasar atau alasan kenapa umat Islam diharuskan bersatu, rukun, guyub dan dilarang keras untuk bertengkar atau terpecah belah.

[4] QS Al ‘Alaq 1-5 : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. yang mengajarkan manusia dengan parantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Terminologi membaca adalah proses memahami dan sekaligus menjelaskan fenomena kehidupan sosial kepada dirinya sendiri dan juga orang lain.

[5] QS An Nahl : 125 : Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan cara  bijaksana (hikmah) dan dengan perkataan (mauidhah hasanah) yang baik, dan jika harus bantah bantahan (berdiskusi) dengan mereka juga dengan  cara yang baik pula. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia lebih mengetahui siapa yang sesat di jalan-Nya dan Dialah yang lebih tahu siapa yang mendapat petunjuk “.

[6] Dakwah Islam tidak hanya dilakukan dengan cara memberikan mauidhah hasanah dari panggung ke panggung, dari pengajian umum ke pengajian umum, dari televisi satu ke televisi lainnya. Dakwah Islam adalah kesediaan dan kemampuan untuk memberikan pemahaman cara memahami dan menjalankan agama kepada sesama umat Islam dan memberikan penjelasan tentang Islam kepada non muslim agar semua orang memiliki cara pandang tentang Islam yang positif yaitu Islam benar benar agama yang memberi keselamatan, keberkahan dan kedamaian untuk semua mahluk.

[7] Paulo Freire dalam buku “Pedagogy of the Oppresed” memiliki istilah pembelajaran gaya bank dimana guru lebih mendomiansi pembelajaran sedangkan peserta didik dalam posisi pasif. Pembelajaran gaya bank atau banking system dalam pembelajaran ditandai dengan beberapa kebiasaan antara lain (a) Guru mengajar, Murid belajar (b) Guru mengetahui sesuatu, Murid tidak tau apa apa (c) Guru selalu berfikir, Murid selalu dipikirkan (d) Guru bercerita, Murid mendengarkan (e) Guru menentukan dan membuat aturan, Murid diatur (f) Guru memilih dan memaksa pilihannya, Murid menyetujui (g) Guru memilih bahan atau materi pelajaran, Murid menyesuaikan materi yang dibuat Guru. (h) Guru selalu berposisi sebagai subyek, Murid selalu diposisikan sebagai obyek pembelajaran.

[8] Hadis Rasul dikatakan “ Anaa ahkumu bi dzawaahir wallahu yatawalla bissaraail” Artinya Aku (Rasul) menjalankan hukum bagi manusia didasarkan dari dan atas beberapa perkara yang dzahir dan Allah melaksanakan hukum dengan segala apa yang tersembunyi pada manusia itu”.  Hadis ini mengandung makna bahwa manusia harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang bersifat tekstual (dzahir) atas segala sesuatu dengan tanpa meninggalkan (menafikan) hal hal yang tersembunyi.

[9] Baharuddin & Esa Nur wahyuni (2007), Teori Belajar dan Pembelajaran, Ar Ruzz Media, Yogyakarta, hal : 97-98.

[10] Kompetensi Profesional adalah seperangkat pengetahuan  dan ketrampilan yang di jadikan sarana untuk menampilkan kualitas diri dan kepribadian seorang guru sehingga guru benar benar menjadi contoh bagi siswa di sekolah dan bagi masyarakat dalam kehidupan sosial.

[11] Jika dilihat dari struktur kelembagaan,  jenjang pendidikan  MTS memiliki persamaan dengan  MI yaitu sama sama Pendidikan Dasar. Jika dilihat dari aspek usia maka ada perbedaan yang jelas antara  pembelajaran jenjang  MI dengan jenjang MTS. Oleh sebab itu, penulis membedakan antara karakteristik pembelajaran di MI dengan pembelajaran di MTS walaupun sama sama jenjang pendidikan dasar. Pembelajaran di MI lebih menekankan proses doktrin keyakinan agama, sedangkan pembelajaran di MTS lebih menekankan pada kemampuan menghadirkan dalil dalil atau alasan yang menguatkan keyakinan beragama (Islam). Usia anak jenjang MTS 12-15 tahun dapat dikatakan usia pra dewasa dimana sudah harus mulai dilatih atau diberikan  memberikan alasan atau dalil yang kuat kepada orang lain yang nanti akan dikembangkan pada jenjang berikutnya yaitu jenjang MA yang lebih mengedepankan rasionalisasi terhadap dalil atau alasan yang diberikan. Karena agama Islam selain membutuhkan alasan/dalil yang kuat juga membutuhkan rasionalisasi terhadap dalil yang  disampaikan kepada orang lain.

[12] Dalam metodologi pembelajaran, dikatakan bahwa semua metode tepat dan semua metode tidak tepat. Artinya tepat  atau tidaknya suatu metode dipengaruhi oleh aspek lainnya, misalnya kesesuaian dengan tujuan, kesesuaian dengan kemampuan guru, sarana, waktu dan kemampuan siswa itu sendiri. Guru harus mempu melaksanakan berbagi macam metode berdasarkan pertimbangan yang tepat sehingga metode pembelajaran benar benar efektif untuk mempercepat pemahaman terhadap materi.

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter