|  |  | 

Breaking News Komentar

HTI Menutupi Kebohonganya Dengan Kalimat Tauhid

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Kasus pembakaran bendera bertuliskan kalimat Laailahaillallah Muhammad Rasulullah  oleh oknum banser beberapa hari lalu pada acara peringatan hari santri di Garut 22 oktober 2018 berbuntut panjang dan menimbulkan konflik horizontal (perpecahan) diantara masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam khususnya.

Pembekaran bendera sering dijadikan simbol kemarahan kepada kelompok tertentu yang memiliki atau menggunakan bendera tersebut. Misalnya kebencian kepada Amerika dan Israel dilakukan dengan membakar bendera Amerika Serikat dan juga bendera Israel. Hal yang sama juga  dilakukan  oknum Banser dalam membakar bendera yang bertuliskan lafal tauhid sebagai pertanda kebencian kepada kelompok tertentu yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang jelas jelas dinyatakan sebagai organisasi terlarang seperti Partai Komunis Indonesia (PKI).

Peristiwa yang biasa dan wajar berubah menjadi peristiwa yang seakan akan luar biasa dan diluar kewajaran karena pembakaran bendera di opinikan sebagai wujud pembakaran bendera tauhid dan juga bagian dari penistaan agama. Setelah melakukan pemeriksaan beberapa saksi, Polda Jawa Barat menyatakan bahwa bendera yang di bakar oleh oknum Banser  adalah bendera HTI dan oknum yang membawa bendera ke arena peringatan hari santri oknum yang  pernah menjadi anggota atau simpatisan HTI. Meskiupun demikian, gelombang protes dilakukan diberbagai daerah dengan issu telah terjadi penistaan agama karena membakar bendera tauhid.

Semua orang paham bahwa kelompok yang menggunakan benderq bertuliskan lafal tauhid adalah Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) yang bermarkas di Suriah, Hizbut Tahrir (HT) yang awal pendirianya di lakukan di Palestina dan Yordania, Ihwanuk Muslimin (IM) yang pernah bermarkas di Mesir dan Hizbut Tahrir Indoensia (HTI) yang dinyatakan sebagai ormas terlarang mulai tahun 2017 oleh pemerintah Indonesia. Sementara negara lain sudah lebih dahulu melarang organisasi dan gerakan Hizbut Tahrir seperti  Mesir, Arab Saudi, Palestina, Yordania, Turki, Libanon dan Yaman. Artinya, tanpa harus ada kata kata HTI dibendera tersebut, semua orang mengetahui bahwa  itu bendera miliknya ISIS, HT, IM dan HTI. Pengopinian atau penyebutan  bendera  Tauhid hanya “akal akalan” untuk menarik simpati dan menutupi kebohongan kader dan simpatisan HTI yang masih belum rela HTI di bubarkan dan dinayatakn sebagai organisasi terlarang di Indonesia.

Fenomena yang sama pernah dilakukan kelompok Mu’awiyah saat terlibat konflik dengan kelompok Ali bin Abu Thalib dalam perang Shiffin. Untuk menyelesaikan konflik kedua kelompok melakukan perundingan damai (Tahkim) yang dilakukan tahun 37 H atau bertepatan dengan 657 M yang disimbolkan dengan Kitab Suci Al Qur’an di taruh di ujung tombak sebagai pertanda (Simbol) kalau  kelompok Mu’awiyah benar benar serius ingin menyelesaikan perdamaian secara tulus atau ihlas.  Masing masing kelompok mengirim utusan, Amru bin Ash delegasi dari kelompok Mu’awiyah sedangkan dari kelompok Ali bin Abi Thalib diwakili oleh Abu Musa Al Asya’ari.

Sebelum musyawarah perjanjian damai dimulai, perwakilan dari kedua kelompok bersepakatan,  untuk mengakhiri konflik diawali dari penonaktifan Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah. Selanjutnya untuk memilih siapa khalifah pengganti diserahkan kepada rakyat agar rakyat bisa menentukan pilihannya sesuai dnegan keinginannya. Hasil kesepakatan perwakilan tokoh harus diumumkan kepada rakyat. Atas nama kelompok Ali Bin Abu Thalib, Abu Musa Al Asy’ari mengemukakan bahwa untuk mewujudkan perdamaian dan demi lancarnya perjanjian ini, dengan ini saya menyatakan memberhentikan  Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, selanjutnya kami serahkan rakyat untuk memilih khalifah yang sesuai pilihan rakyat. Mendengar pernyataan tersebut, Amru bin Ash yang ditunjuk sebagai delegasi kelompok Mu’awiyah langsung merespon dengan kata kata “ Kalian semua telah mendengar bahwa Abu Musa Al Asya’ari telah memberhentikan Ali bin Abu Thalib dari jabatannya sebagai khalifah, maka dari itu atas nama kelompok Mu’awiyah dengan ini saya menyatakan bahwa khalifah pengganti Ali bin Abi Thalib adalah Mu’awiyah”. Seketika itu, suasana menjadi gaduh, kacau sehingga perjanjian damai gagal diwujudkan karena kelompok Mu’awiyah yang diwakili Amru bin Ash melakukan tipudaya atau politik licik menipu kelompok Ali bin Abi Thalib”.

Mengapa kelompok Ali bin Abi Thalib begitu percaya dengan ajakan damai kelompok Mu’awiyah? Karena dalam mengajak atau menawarkan forum perdamaian, kelompok Mu’awiyah menggunakan simbol Kitab Suci Al qur’an di taruh di atas tombak. Maknanya ajakan tersebut sangat tulus, murni ingin mewujudkan perdamain diantara umat Islam yang sudah terlibat konflik saudara (perang shiffin). Simbol kitab suci Al Qur’an di ujung tombak ternyata dijadikan simbol penipuan atau kebohongan kelompok  Mu’awiyah untuk mendapatkan kekuasaan  (khalifah). Ternyata strategi licik dan penuh tipu msulihat berhasil mengantarkan Mu’awiyah bin Abu Sofyan menduduki jabatan sebagai khalifah pertama dari Bani Umaiyyah yang berkuasa selama 90 tahun ( 41-132 H/661-750 M).

Sejarah membuktikan bahwa politik merebut kekuasaan jika dilakukan dengan simbol simbol agama atau rekayasa simbol agama dianggap masih efektif untuk menarik simpati atau dukungan dari rakyat.  Menyebut bahwa  yang dibakar oknum banser bukan bendera HTI tetapi bendera tauhid bukti nyata para kader dan simpatisan HTI tersembunyi melakukan propaganda dan menutupi kebohongannya dengan  kalimat tauhid. Perjuangan politik HTI jelas ingin mengganti Pancasila dengan  khilafah (sistem negara Islam), setelah HTI dinyatakans ebagai organisasi terlarang di Indoensia, maka mereka menggeser opini menegakkan kalimat tauhid yang dianggap lebih menyentuh  rasa atau keyakinan umat Islam. Jika ada sekelompok umat Islam memiliki persepsi bahwa oknum banser membakar bendera tauhid, berarti telah tertipu propaganda kader dan simpatisan HTI tersembunyi yang hanya menutupi kebohongan politik dengan membawa simbol kalimat tauhid. Tidak pernah ada istilah “ Bendera Tauhid”, yang ada adalah bendera ISIS dan bendera HTI.

Jangan kembangkan politik kotor dan penuh tipu muslihat dengan cara memanipulasi atau merekayasa  simbol kitab suci alqur’an  seperti yang pernah di lakukan kelompok Mu’awiyah dalam  merebut kekuasaan dari  Sayyidina Ali bin Abu Thalib. Sangat mungkin, simbol atau opini “bendera tauhid” menjadi simbol gerakan untuk berjuang mendirikan negara Khilafah di Indonesia. Politik dengan issu simbol agama atau biasa disebut politik identitas memiliki potensi besar terjadinya perpecahan diantara umat Islam. Mari kita jaga keutuhan dan ukhuwah sesama bangsa Indonesia yang secara factual memiliki berbagai macam keragaman agama, suku, budaya, etnis dan warna kulit. Kuatkan dan optimalkan nasionalisme dan jiwa Kebhinekaan kita sebagai bangsa Indonesia.

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter