|  | 

Komentar

Kualitas Debat Capres Bukan Karena Tempatnya Tapi Metodenya

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Muncul keinginan debat capres tidak dilaksanakan di hotel tapi di kampus. Audien  debat juga tidak dari tim pasangan capres cawapres tapi dari kalangan akademisi. Tujunya agar peserta debat tidak terjebag pada saling dukung mendukung dan yel yel yang bikin gaduh suasana  tetapi lebih pada mengritisi rasionalisasi dan efektivitas program kerja yang di susun masing masing pasangan.
Dalam dunia akademik, debat menjadi hal yang biasa. Debat yang baik dan teratur bisa melahirkan cabang ilmu baru. Seperti yang terjadi pada zaman Socrates yang dikenal dengan “Dialog Socrates”, dimana masyarakat diajak berdialog untuk mengetahui problem dan menemukan solusi kehidupan. Dari sinilah dilahirkan berbagai pemikiran pengetahuan seperti ilmu sosiologi, ekonomi, antropologi politik dan humaniora.

Memang debat Pasangam Capres Cawapres bukan bertujuan untuk melahirkan kelompok atau Madzhab baru dalam ilmu pengetahuan. Target debat Pasangan capres cawapres setidaknya ada 2 hal pertama,  untuk mengetahui pasangan siapa yang mampu menawarkam dan meyakinkan visi, misi dan program kerja kepada rakyat Indonesia. Kedua, untuk mengetahui pasangan siapa yang memiliki kemampuan dan ketrampilan kepemimpinan nasional yang efektif, efisien dan produktif.
Kepemimpinan dikatakan efektif jika rakyat benar benar bisa merasakan perubahan sesuai harapan rakyat. Kepemimpinan efisien berkaitan dengan urusan yang simpel, mudah dan cepat. Sedangkan kepemimpinan produktif berkaitan dengan banyaknya perubahan yang bisa dilakukan oleh pemimpin nasional.

Debat yang selama ini dilakukan bukan debat Capres Cawapres tapi diskusi antara panelis dengan pasangan capres cawpres. Debat selama ini yang di lakuka  oleh KPU terkesan formalitas karena dari segi durasi waktu juga sangat di singkat sehingga kurang  bisa menggali persoalan secar detail.
Format atau metode  debat yang di agendakan 5 kali oleh KPU perlu di rubah. Debat ditekankan kepada kemampuan pasangan capres cawapres untuk menjelaskan visi, misi dan program kerja yang rasional dan realistik serta kemampuan adu argumen antar pasangan. Alokasi waktu 60 % diberikan antar pasangan capres cawapres saling adu gagasan atau ide ide cemerlang dalam membangun Indonesia 5 ( lima) tahun kedepan. Sedang yang 40 % peanelis memberikan penajaman tentang gagasan yang telah di kemukakan masing masing pasangan. Sesi pertama 60 % saatnya antar pasangan melakukan debat yang sehat tentang visi, misi , program dan ide ide segar melakukan terobosan dalam membangun kesejahteraan bangsa Indonesia. Sesi kedua yang 40% dialog dengan panelis untuk mempertegas tentang apa yang sudah di kemukakan.
Oleh sebab itu, urgensi debat capres cawapres bukan terletak dimana debat dilakukan tapi tergantung metode atau format yang di lakukan. Sebaiknya kita tidak terjebag pada tempat dimana debat capres cawapres dilakuka  tetapi lebih kepada mencari format atau metode yang dipergunakan.

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter