|  |  | 

Breaking News Jurnal

KARAKTERISTIK ILMU PENDIDIKAN AGAMA DAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah (PP) nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, dapat dipahami bahwa target atau tujuan yang harus dihasilkan oleh proses pembelajaran dan pendidikan di lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan  sangat rumit dan menyimpan berbagai makna yanag harus dipahami oleh guru dan pengelola lembaga pendidikan agama dana pendidikan keagamaan.

Kerumitan tersebut jika dilihat dari karakteristik ilmu yang harus diajarkan  yang harus bersifat multi-interkatif, sementara materi ilmu yang diajarkan di non lembaga pendidikan agama dan pendidkan keagamaan cukup bersifat mono-interaktif. Artinya materi ilmu yang diajarkan dilembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan tidak cukup hanya meliputi materi yang ada di dalam ilmu itu sendiri, melainkan harus juga dikuatkan dengan materi diluar ilmuyang dipelajari.

Kerumitan secara akademik, dan metodologis tersebut berimplikasi kepada profil profesionalisme yang dimiliki oleh guru yang bertugas di lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan dengan guru yang bertugas di luar pendidikan agama dan keagamaan. Perbedaan dapat dilihat dari dua aspek yaitu aspek kedalaman ruanglingkup yang harus dikuasai dan sensitivitas penampilan atau performance yang dimiliki oleh guru yang bekerja di lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan.

Lulusan atau alumni dari lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan juga memiliki ketrampilan yang berbeda dengan alumni dari lembaga pendidikan umum, alumni dari lembaga pendidikan agama dan keagamaan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang multi talenda karena selama mengikuti pendidikan mereka memperoleh materi ilmu yang berasal dari berbagai bidang ilmu.

Berdasarkan berberapa asumsi tersebut, maka seluruh tenaga kependidikan dan pengelola lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan harus memiliki kesadaran dan pemahaman yang utuh tentang perbedaan yang cukup signifikan yang ada didalam  pendidikan agama dan pendidikan keagamaan dengan pendidikan umum.

 

Kata Kunci :  Karakteristik Ilmu, Pendidikan Agama, Pendidikan Keagamaan

  1. Pendahuluan

Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Pendidikan dapat melahirkan kualitas manusia secara utuh baik secara fisik maupun psikis. Pendidikan akan menjadikan manusia memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sifat sifat terpuji sehingga mampu menghadapi semua problematika kehidupan yang di hadapi. Undang Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (Pasal 1 ayat 1).

Pendidikan dan/atau pembelajaran terjadi minimal di tiga jenis lembaga, yaitu lembaga pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. ( UU No 20 tahun 2003, pasal 1 ayat 11-13).

Dilihat dari aspek materi atau isi yang disampaikan, pendidikan menjelma kedalam empat jenis, yaitu pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan jarak jauh dan pendidikan khusus dan layanan khusus. ( UU No 20 tahun 2003, pasal 29-32).

Pendidikan agama dan pendidikan keagamaan merupakan salah satu jenis pendidikan yang memiliki peran sangat penting dalam konteks kehidupan bangsa dan bernegara. Pendidikan agama dan pendidikan keagamaan memiliki tujuan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati dan mengamalkan nilai nilai agama yang menyerasikan penguasaannya  dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (PP nomor 55 tahun 2007, pasal 2 ayat 2).

 Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan yang mengajarkan materi sesuai dengan pemeluk agama atau keyakinannya. Dengan demikian, pendidikan agama dapat dikatakan proses pendidikan yang memiliki tujuan atau target mengoptimalkan pemahaman dan juga ketrampilan dalam bidang ilmu agama sehingga lulusannya benar benar memiliki kualitas secara utuh dan komprehensif. Dapat dikatakan bahwa pendidikan agama dan pendidikan keagamaan memiliki dua misi yang harus diwujudkan yaitu misi akademik/keilmuan yaitu pendidikan agama dan pendidikan keagamaan harus memberikan kemampuan dan ketrampilan dalam mengembangkan teori teori agama (Islam) sehingga ilmu ke Islaman mampu berkembang secara cepat, sistemaatis dan responsif. Misi dakwah yaitu pendidikan agama dan pendidikan keagamaan harus mampu melahirkan profil lulusan yang mampu memberikan penjelasan agama bagi masyarakat, sehingga nilai nilai ajaran Islam benar benar dapat diimplementasikan kedalam realitas kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.  

Berdasarkan dua misi yang diemban oleh pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, maka berimplikasi kepada jenis materi yang diajarkan , artinya materi yang diajarkan atau ilmu yang ada di lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pasti memiliki nilai kekhasan atau cirri khusus jika dibandingkan dengan pendidikan selain pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Sejauhmana cirim khusus materi atau ilmu yang ada di dalam pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, bagaimana konsekuensi pembelajaran yang dilakukan didalam pendidikana agama dan pendidikan keagamaan, serta bagaimana profil pendidik profesional di lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Tiga permasalahan itulah yang akan diulas dalam makalah ini.

  1. Pendidikan Agama dan Pendidikan keagamaan

Dilihat dari nomenklaturnya, sudah dapat dibayangkan pengertiannya. Pendidikan agama dan pendidikan keagamaan dapat dikatakan sebuah proses pendidikan yang memiliki kekhususan mengajarkan ilmu pengetahuan yang berbasis agama. Indonesia memiliki enam agama yang diakui negara, dengan demikian, pendidikan agama dan pendidikan keagamaan mencakup enam agama yang ada di Indoensia yaitu Islam, Kristen, katolik, hindu, budha dan konghucu. Tulisan ini akan mengulas ilmu yang berkaitan dengan agama Islam. Oleh sebab itu ruanglingkup kajian makalah ini khusus kepada pendidikan agama dana pendidikan keagamaan yang konteks agama Islam.

Peraturan pemerintah (PP) nomor 55 tahun 2007 menjelaskan bahwa Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian dan ketrampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan (pasal 1 ayat 1).

Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapakan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agama. (Pasal 1 ayat 2).

Pendidikan agama dan keagamaan memiliki banyak target yang harus diwujudkan melalui proses pembelajaran. Setidakanya menyangkut beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, aspek transendental. Ilmu didalam pendidikan agama dan pendidikan keagamaan harus memberikan bimbingan dan/atau arahan kepada peserta didik untuk memahami dan menghayati keagungan Allah swt dan memiliki kemampuan atau ketrampilan untuk mengimplementasikan  nilai-nilai keagungan Allah swt kedalam realitas kehidupan masyarakat. Kesadaran yang bersifat transendental, tidak cukup hanya bersifat formal ritual melainkan kesadaran tersebut bersifat transendental tranformatif. Dengan kata lain target yang perlu diraih di dalam pendidikan agama dana pendidikan keagamaan adalah melahirkan profil  lulusan yang memiliki kepribadian atau karakter intelektual transendental dan humanisme transformatif. Artinya kualitas intelektualnya atau cara fikir  mengarah kepada kesadaran memahami keberadaan Sang Ilahi (Allah swt) sedangkan sikap perilakunya yang menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan dapat diimplementasikan kedalam realitas kehidupan masyarakat.

Kedua, aspek rasional. Aspek rasional didasarkan asumsi bahwa manusia pada hakekatnya adalah mahluk yang berfikir (homosapien), manusia juga dikatakan sebagai mahluk haus terhadap intelektual (homo intelectual couriosity). Dalam pandangan Ernest Cassier yang disadur Suriasumantri (2005) menjelaskan bahwa manusia lebih suka dengan simbol simbol yang dimaksudkan mampu mempercepat proses perkembangan potensi rasional, sehingga manusia juga disebut mahluk simbol (animal symbolicum). Aspek rasional menjadi lebih urgensial tatkala didasarkan pada ayat yang pertama kali turun kepada Rasulullah saw, dimana ayat tersebut mengharuskan manusia  harus mengoptimalkan peran rasionya dalam melihat fenomena yang terjadi di dalam dunia atau lingkungan sekitarnya. Ilmu di dalam pendidikan agama dan pendidikan keagamaan harus mampu menjelaskan berbagai persoalan agama dan sosial secara rasional, artinya lulusan pendidikan agama dan keagamaan mampu memberikan penjelasan atau argumentasi yang dapat diterima menurut kaidah akal masyarakat secara umum. Agama dan realitas atau problem manusia perlu penjelasan yang bersifat rasional, sehingga solusi problematikanya akan mudah ditemukan. Kebenaran secara rasional setidaknya ada tiga macam (a) kebenaran rasional korespondensi; jika kebenaran itu esuai dengan kenyataan itu sendiri. (b) kebenaran konsistensi atau biasa disebut koherensi; manakala kebenaran itu sesuai dengan pernyataan atau kebenaran yang telah diakui atau diucapkan sebelumnya. Ada konsistensi antara apa yang dikatakan sebelumnya dengan pernyataan seterusnya. (c) kebenaran pragamatis: jika kebenaran tersebut benar benar memiliki manfaat atau faedah didalam kehidupan masyarakat (Harold H Titus : 1987).

Ketiga, aspek moral/etika. Aspek moral di dalam pendidikan agama dan pendidikan keagamaan didasarkan atas hadits tentang tujuan diutuskannya Rasulullah kedunia adalah untuk membina atau menyempurnakan sikap, perilaku (ahlaq) manusia.  Artinya pendidian agama dan pendidikan keagamaan merupakan salah satu sarana untuk melanjutkan misi Rasulullah dalam mengembangkan misi Islam dimuka bumi. M. Quraisy Shihab (2011) dalam buku “ Membaca Sirah Nabi Muhamamd Saw dalam Sorotan Al-qur”an dan Hadits Hadits Shahih” menjelaskan bahwa telah terdapat tokoh dalam sejarah islam yang masuk kategori kelompok moralis yaitu Amir bin Dzarf, Aktsam bin Shaifi bin Rabah dan Zubair bin Abi Salma. Mereka bertiga memiliki sikap dan pendirian yang sangat baik dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Etika dan sikap terlihat dari kesediaannya untuk menerima kritik atau saran dalam menjalani kehidupan. Salah satu pendapat atau sikap yang patut menjadi teladan dari Aktsam bin Shaifi bin Rabah “ Usiaku kini telah lanjut, kelemahanpun telah menyentuhku, maka jika kamu menemukan sesuatu yang baik dariku, maka ikutilah dan jika selain dari itu maka luruskanlah”. Ini menandakan adanya kesediaan mengakui kekurangan yang ada dalam dirinya. Pendidikan agama dan pendidikan keagamaan harus mampu mendidik dana melahirkan profil lulusannya memiliki kualitas sikap dan kepribadiannya secara utuh.

Keempat, aspek teknologi. Allah swt telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk melakukan segala aktivitas yang positif asalkan manusia itu memiliki kekuatan. Dalam firmannya dijelaskan “ Hai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintas) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. (QS. Ar Rahman: 33).  Allah swt juga telah menggariskan bahwa diantara manusia itu diciptakan berbeda jenis kelamin, berbeda suku, kelompok yang dimaksudkan untuk saling mengenal atau ta’aruf. (Qs. Al Hujarat: 13.

Kekuatan yang tercantum di dalam surah Ar rahman dan saling mengenal dalam surah al hujarat mengandung makna perlunya sarana teknologi atau alat yang canggih sehingga memudahkan untuk menemukan kekuatan dan memudahkan sarana untuk melakukan perkenalan atau komunikasi.  

Kekuatan mengandung makna pengetahuan dan juga produk pengetahuan yang menjadikan manusia mampu melakukan berbagai aktivitas atau menembus angkasa. Kekuatan bisa berarti produk ilmu berupa tehknologi yang cangih yang memudahkan dan mempercepat aktivitas manusia dalam mencapai cita cita. Ta’aruf atau kemampuan mengenal santara satu dengan lainnya juga diperlukan sarana atau alat yang memudahkan antar manusiaa melakukan perkenalan.

Dua ayat tersebut mengandung pentingnya materi atau ilmu di dalam pendidikan agama dan pendidikan keagamaan yang lebih mengedepankan sarana teknologi. Konsekuensinya lulusan dari pendidikana agama dan pendidikan keagamaan harus mampu melahirkan profil lulusan yang memiliki kesediaan dan kemampuan menggunakan atau melahirkan teknologi yang dapat mempermudah dan mempercepat cita cita yang ingin dicapai.

  1. Karakteristik Ilmu

Ilmu akan berkembang sesuai dengan derajat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya masyarakat. Thomas Kuhn  (1970) dalam buku “The Structure of Scientific Revolution”, pergeseran atau perubahan ilmu pengetahuan ditentukan oleh pergeseran gelombang yang tidak mampu menjawab atau merespon tentangan zaman (anomaly).  Dengan demikian, ilmu pengetahuan harus mampu menjawab tantangan zaman.

Pendidikana agama dan pendidikan keagamaan harus mampu menjawab tantangan dan pergeseran ilmu pengetahuan dan budaya masyarakat. Problem masyarakat bersifat kompleks dalam artin menyangkut berbagai aspek kehidupan, mulai dari aspek yang bersifat norma keagamaan, sampai persoalan yang bersifat teknologi, ekonomi dan budaya. Oleh sebab itu jika dilihat dari aspek tujuannya, tujuan atau target yang dimiliki pendidikan agama dan pendidikan keagamaan berbeda jika dibandingkan dengan pendidikan umum atau non pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari  tujuan atau target yang ingin dicapai.

Pendidikan agama dan pendidikan keagamaan tidak hanya mengajarkan materi materi yang bersifat logika atau eksakta saja tetapi harus juga mengajarkan materi atau ilmu yang bersifat sosial keagamaan. Pendidikan agama dana pendidikan keagaman juga tidak hanya melahirkan lulusan yang cerdas tetapi juga harus memiliki kesadaran atau komitmen tinggi dalam menjalankan nilai nilai agama yang diyakininya (Islam). Artinya semua materi atau ilmu/pelajaran  harus diarahkan selain untuk mewujudkan kecerdasan (intelektual/rasionalitas) juga dimaksudkan untuk mewujudkan kesadaran menjalankan nilai nilai agama (transandental).

Ilmu didalam lembaga pendidikan Islam dan pendidikan keagamaan harus mampu menjelaskan berbagai fenomena sosial yang ada ditengah tengah masyarakat. Oleh sebab itu materi yang disampaikan harus selalu berkaitan dengan berbagai informasi diberbagai bidang ilmu pengetahuan. Seperti yang dikonsepkan KH. Sahal Mahfudh dalam buku “Fiqh Sosial” karya Jamal  Makmur Asmani. KH. Sahal mengharapkan bahwa fiqh tidak hanya bersifat normatif formalistik yang akhirnya kaku tidak fleksibel dalam menjawab tantangan problematika sosial. Fiqh dalam kacamata KH. Sahal Mahfudh harus lebih bersifat fleksibel yang mampu merespon atau menjawab berbagai problematika umat Islam. Fiqh akan benar benar mampu berjalan dengan paradigm Sosial seperti di gagas KH. Sahal Mahfudh tentunya tidak cukup hanya berisi muatan muta ketentuan hukum secara tekstual atau normatif, melainkan harus juga berisi kajian atau fenomena sosial diluar tekstual/normatif, seperti fenomena psikologi, sosiologi, bahkan memuat materi ilmu matematika, fisika, biologi dll.  

Muhtarom HM dalam tulisannya berjudul “Pendidikan Islam di tengah Pergumulan Budaya Kontemporer” yang dimuat didalam Jurnal Internasional IAIN Walisongo Semarang Jawa Tengah Tahun 2008 mengurai secara panjang lebar bahwa pendidikan Islam tidak cukup hanya  membimbing tumbuhnya kualitas kecerdasan, melainkan  juga harus melahirkan proses life long education dalam artian harus mampu memberikan kesejahteraan bagi dirinya maupun orang lain. Pendidikan Islam harus mampu memebrikan penjelasan secara utuh tentang kaidah fiqh  “ all akhdzu bi al jadid al ashlah wa al mu hafadzu ala al qodi al sholih” (mentransfer nilai nilai baru yang lebih baik dan dengan tetap mempertahankan  nilai nilai lama yang masih memiliki nilai positif /baik).

Kedua contoh di atas yang dipaparkan penulis menggambarkan bahwa ilmu di dalam pendidikan agama dan pendidikan keagamaan memiliki perbedaan dengan ilmu yang diajarkan di lembaga pendidikan non pendidikan agama. Materi atau ilmu di dalam pendidikan agama dan pendidikan keagamaan selalu berkaitan dengan materi atau ilmu diluar dirinya (ilmu itu sendiri), sedangkan ilmu didalam pendidikan umum hanya berkaitan dengan ilmu yang ada di dalam ilmu itu sendiri. Contohnya, materi IPA atau materi MTK untuk memberikana pemahaman siswa terhadap ilmu IPA atau MTK cukup dijelaskan materi yang ada di dalam ilmu IPA atau MTK, tanpa dijelaskan dengan ilmu lainnya siswa sudah bisa memahami. Tetapi ilmu Fiqh, Al qur’an atau tafsir, agar siswa lebih memahaami materi Fiqh, Al qur’an atau tafsir harus juga memahami ilmu diluar fiqh dan tafsir, seperti ilmu sosiologi, psikologi, antropologi. Bahkan ilmu giqh yang berkaitan dengan pembagian harta warais (mawaris) harus juga memepalari ilmu MTK. Dalam mempelajari al-qur’an atau tafsir diharuskan memahami asbababun nuzul ayat, artinya setiap orang yang mempelajari ilmu al-qur’an atau tafsir mutlaq memahami ilmu psikologi dan sosiologi. Contoh lain, pada saat umat Islam memahami pelajaran Fiqh kusus sub pokok bahasan sholat, pada saat memahami arti “khusuk”,  maka Khusuk akan lebih mudah dipahami jika membaca atau belajar ilmu psikologi.

Inilah menunjukkan bahwa karakateristik ilmu yang diajarkan di dalam pendidikan agama dan pendidikan keagamaan sangat berbeda dengan materi atau ilmu yang diajarkan di dalam lembaga pendidikan umum atau pendidikan selain pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Dapat dikatakan bahwa karakteristik ilmu atau materi di dalam pendidikan agama dan keagamaan bersifat “multi-interaktif, yaitu interaksi atau keterkaitan ilmu di dalam pendidikan agama dan pendidikan keagamaan tidak hanya di dalam dirinya sendiri melainkan juga menyangkut materi diluar dirinya,  sedangkan materi atau ilmu yang diajarkan di luar pendidikan agama dan pendidikan keagamaan atau pendidikan umum bersifat “mono-interaktif” yaitu keterkaitannya hanya dengan materi yang ada di dalam ilmu itu sendiri.

  1. Profesionalisme Guru pendidikan Agama dan Keagamaan

Ada beberapa istilah yang mirip yaitu Profesi, profesionalisme, profesionalisasi dan profesional. Empat istilah tersebut memiliki makna yang berbeda beda tetapi memiliki makna yang sangat penting bagi guru khsususnya bagi guru yang bekerja di dalam pendidikan agama dan pendidikan keagamaan.

Profesi lebih menunjukkan jenis atau nama profesi itu sendiri, misalnya profesi guru, profesi hakim, profesi advokat dll. Profesi itu menunjukkan adanya jabatan atau jenis profesi itu sendiri. Profesionalisme lebih menekankan adanya suatu keyakinan atau komitmen dari seseorang terhadap profesi yang dimiliki. Profesionalisme merujuk kepada adanya semangat untuk mempertahankan atau mengembangkan profesi yang dimiliki agar profesinya mampu merespon semua dinamika ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.

Profesionalisasi menunjukkan adanya proses atau tahapan untuk mewujudkan profesi yang ideal. Profesionalisasi menitikberatkan kepada upaya atau metode dalam mewujudkan idealistas profesi sesuai yang dicita citakan. Sedangkan profesional adalah produk akhir dari semua proses yang telah dilakukan.

Profesionalisme guru pendidikana agama dan keagamaan mengandung makna bahwa guru yang bertugas di dalam pendidikan agama dan pendidikan keagamaan harus selalu memiliki semangat atau komitmen untuk mempertahankan dan /atau mengembangkan profesinya agar mampu menjawab berbagai tantangan masyarakat. Di dalam sebuah hadits secara jelas di jelaskan bahwa “ Sesuatu pekerjaan atau jabatan jika diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka hanya menunggu waktu kehancurannya”.

Martinis Yamin (2006) dalam buku “Sertifikasi Profesi keguruan di Indonesia” menjelaskan guru yang professional adalah yang memiliki beberapa sifat antara lain:

  1. Menguasai bahan yang akan diajarkan
  2. Mengusasi landasan kependidikan /filosofi kependidikan
  3. Menguasai berbagai persoalan yang dilakukan pesertya didik yang terkait dengan proses pembelajaran
  4. Mampu menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan kerja
  5. Memiliki sikap yang positif terhadap tugas yang diberikan kepadanya
  6. Mampu menampilkan sosok yang dapat dijaidkan sebagai panutan siswa dan orang lain.

Undang undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dijelaskan bahwa guru dan dosen merupakan profesi yang harus menjalankan tugasnya dengan beberap prinsip sebagai berikut:

  1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme
  2. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan dan akhlaq mulia
  3. Memiliki kualifikasi akademik dan latarbelakang pendidikan sesuai bidang tugasnya
  4. Memiliki kompetensi yang diperlukaan sesuai dengan bidang tugasnya
  5. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas profesionalnya
  6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja
  7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesionalnya secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat
  8. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalnya
  9. Memiliki organisasi profesi yang memiliki kewenangan mengatur hal hal yang berkaitan denagn tugas keprofesionalan guru (pasal 7 ayat 1).

Berdasarkan ketentusan profesi guru di atas, para guru yang bertugas di lembaga pendidikan agama dan keagamaan memiliki tugas lebih spesifik yang harus dimiliki. Menguasai bahan bagi guru yang menjalankan tugasnya di lembaga pendidikan agama dan keagamaan berarti bahan yang mampu memberikan penjelasan sesuai dengan kreteria ilmu yang ada di dalam lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Artinya bahan yang diajarakan tidak cukup hanya menjelaskan persoalan yang bersifat rasional atau empiris melainkan juga harus mampu menjelaskan yang bersifat transendental.

Konsekuensinya guru yang profesional dalam konteks lembaga pendidikan  agama dan pendidikan keagamaan tidak cukup hanya menguasai materi secara formal saja melainkan harus menguasai materi atau bahan pengayaan.

Materi atau bahan formal adalah penguasaan materi dari guru yang terkait dengan bidang materi itu sendiri, misalnya guru Fiqh  berarti menguasai materi yang ada di dalam buku pokok saja. Sedangkan menguasai materi atau bahan pengayaan adalah seorang guru juga harus memiliki pemahaman informasi dari ilmu lain yang berkaitan dengan ilmu atau materi yang diajarkan. Misalnya, guru yang sedang menjelaskan materi zakat fitrah tidak cukup hanya menguasai tentang pengertian, tata cara dan syarat rukun zakat fitrah, melainkan harus juga menguasai materi atau informasi yang berkiatan degan manajemen pengelolaan zakat fitrah (ilmu manajemen), yang berkitan dengan pengentaskan kemiskinan (ilmu sosiologi/ilmu kependudukan).

Guru yang menjelaskan materi fiqh tentang sholat, tidak cukup hanya menguasai materi tentang pengertian, tatacara, syarat dan rukun sholat serta hikmah sholat, melainkan harus juga menguasai materi yang berkaitan dengan makna masing masing gerakan sholat mulai dari takbirotul ihrom (ilmu antropologi), menguasai materi tentang makna khusuk atau konsentrasi (ilmu psikologi), dan juga menguasai materi atau ilmu yang menjelaskan hubungan antara sholat dengan perbuatan fakhsak dan mungkar (ilmu budaya, sosilogi, psikologi dan juga ilmu politik).

Dari aspek tampilan atau performance, guru yang bekerja di lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan juga memiliki perbedaan yang cukup signifikan jika dibanding  dengan guru yang bekerja di luar pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Guru yang bekerja di lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan dapat dikatakan sangat sensitif, jika melakukan kesalahan sedikti aja implikaisnya sangat luas. Ini menunjukkan bahwa profesi guru yang bekerja di dalam lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan memiliki sensivitas akademik maupun sosial yang sangat tinggi.

Sampai disini dapat dikatakan bahwa profesi guru yang berkerja di lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan memiliki perbedaan yang signifikan jika dibanding dengan guru yang berkeja di luar pendidikan agam dan keagamaan.

Perbedaan yang signifikan itu setidaknya dilihat dari dua aspek yaitu aspek penguasaan materi dan aspek sensitivitas materi dan peran atau performance. Dengan demikian, upaya pembinaan atau penegembangan profesi bagi guru yang berkerja di lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan harus berbeda dengan pembinaan guru lain.

  1. Kesimpulan

Berdasarkan kajian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa ilmu yang di ajarkan di lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan memiliki karakteristik yang unik jika dibanding dengan materi ilmu yang diajarkan diluar pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Karakteristik ilmu yang diajarkan di lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan bersifat multi-interaktif sedangkan materi ilmu di lembaga pendidikan umum bersifat mono-interaktif.

Berbedaan karakteristik  juga berimplikasi kepada perbedaan profesionalisme guru antara yang bekerja di lembaga pendidkan agama dan keagamaan dengan guru yang berkeja di non lembaga pendidikan agama dna pendidikan keagamaan. Perbedaan setidaknya dapat dilihat dari dua aspek yaitu aspek ruanglingkup pengusaan materi dan sensitivitas keilmuan dan performance atau tampilan.

Daftar Pustaka

  1. Harold H. Titus (1987), Living Issues in Philasophy (terj), Bulan Bintang, Jakarta.
  2. Jamal Makmur Asmani (2007), Fiqh Sosial, Kiai Sahal Mahfudh, antara konsep dan implementasi, khalista, Surabaya.
  3. Jujun S Suriasumantri (2005), Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Sinar Harapan.
  4. Martinis Yamin (2006), Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia, Gaung Persada Press, Jakarta.
  5. Muhtarom HM (2008), Pendidikan Islam di Tengah Pergumulan Budaya Kontemporer, Jurnal internasional, IAIN Walisongo Semarang Jawa Tengah.
  6. Quraish Shihab (2011), Membaca Sirah nabi Muhammad Saw: Dalam Sorotan Al-Qur’an dan hadits-hadits Shahih, Lentera hati tangerang Jakarta.
  7. Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
  8. Peraturan Pemerintah (PP) nomor 55 tahun 2007, Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan
  9. Thomas S Kuhn (1970), The Structure of Scientific Revolution. Chicago, The University of Chicago Press.
  10. Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tantang Sistem Pendidikan Nasional
  11. Undang Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter