|  | 

Komentar

Apa Bid’ah Itu? Tahukan Kamu Apa Itu Bid’ah?

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Bid’ah menurut bahasa adalah melakukan sesuatu perbuatan atau amalan yang tidak sesuai dengan contoh. Ada yang mengatakan Bid’ah adalah melakukan sesuatu perbuatan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ada yang mengatakan bid’ah itu khusus dalam urusan agama atau ibadah. Setiap orang yang melakukan bid’ah dikategorikan sebagai kesesatan dan semua yang sesat akan masuk neraka.

Kata bid’ah sering menjadi bahan diskusi bahkan bahan olok olok diantara kelompok dalam agama Islam. Sebagian mengatakan bid’ah adalah sesat (dhalalah), setiap yang sesat itu masuk neraka.   Hadis yang diriwayatkan Abu Dawud ” Tolong jauhilah perkara baru, sebab setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”.  Ada sebagian kelompok yang mengatakan tidak semua bid’ah itu jelek atau sesat dan masuk neraka. Bid’ah ada dua macam, Bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan bid’ah sayyi’ah ( bid’ah yang jelek/sesat).

Istilah dan hukum bid’ah di awali dari hadis yang berbunyi  ” Man ahdatsa fi amrina hadza malaisa minhu fahuwa raddun” yang artinya  Dari Ummul Mukminin Ummul Abdullah Aisyah RA, katanya Rasulullah SAW bersabda, ” Siapa saja yang mengada ngadakan perkara baru dalam urusan Kami yang tidak ada  pedomannya, maka ia tertolak”. (HR Bukhari Muslim).

Arti Kosa Kata :

  • Man ahdatsa : Siapa yang mengadakan perkara /hal hal baru.
  • Fii Amrina : Dalam urusan agama Allah
  • Ma Laisa minhu : sesuatu yang bertentangan dengan apa yang diajarkan agama
  • Fahuwa Raddun : Tertolah, melanggar, salah.

Penjelasan Istilah

Pertama, Man ahdatsa  mengandung pesan bahwa manusia khususnya umat Islam tidak boleh melakukan berbagai kegiatan  yang mengada ngada dalam artian tidak berdasar pada aturan (regulasi) yang berlaku. Mengada ngada bermakna tidak didasarkan aturan atau tata tertib yang berlaku. Karena salah satu ukuran untuk mengetakan sesuatu perbuatan itu baik atau buruk, salah atau benar dilihat dari kesesuaian dengn norma atau aturan (regulasi) baik regulasi yang ditentukan oleh agama maupun yang dibuat oleh negara (perundang undangan). Man ahdztsa memberi pesan kepada seluruh manusia jangan sampai melakukan kegiatan apapun selama hidup di dunia yang tidak berdasarkan aturan yang berlaku. Berbisnis harus juga sesuai dengan aturan yang ditentukan oleh agama dan negara, bekerja di kantor juga harus selalu sesuai dneagn ketentuan agama dna negara, sebagai petani dan nelayan dalam menjalankan pekerjaanya harus selalu memperhatikan aturan agama dan negara, sebagai dokter, polisi, jaksa, hakim, guru, dosen dalam menjalankan tugas dan tangung jawabnya harus selalu sesuai dengan ketentuan agama dan negara.

Kedua, Fii Amrina mengandung makna urusan agama. Kata urusan agama memiliki rung lingkup sangat luas. Dilihat dari sifatnya, urusan agama dibagi dalam dua hal yaitu agama yang sifatnya mahdhah (pokok) yaitu ajaran atau perintah agama yang yang sudah ditentukan syarat rukunya seperti Sholat, Zakat, Puasa, Haji, dan agama yang bersifat ghairu mahdhah (tidak pokok) yaitu perintah agama yang belum ditentukan syarat dan rukunnya seperti shodaqah, berdoa, membaca al qur’an, membaca sholawat, mendoakan orang lain baik yang sudah meninggal ataupun yang masih hidup, membantu kesulitan orang lain, menyantuni fakir miskin dan anak yatim, mengelola Pendidikan dll. Berdasarkan  fungsinya, maka agama memiliki ruang lingkup sangat luas. Dapat dikatakan semua peristiwa atau realitas di dunia merupakan bagian dari agama. Hadis Fii Amrina bisa bermakna ajaran atau perintah agama yang pokok (mahdhah) dan juga bisa bermakna ajaran agama yang tidak pokok (ghairu mahdhah).

Ketiga, Maa Laisa Minhu mengandung akan bertentangan dengan aturan yang sudah ditentukan. Artinya apa yang dikerjakan oleh manusia tidak boleh bertentantan dengan aturan yang sudah ditentukan baik yang ditentukan oleh agama maupun yang ditentukan oleh negara. Sekecil apapun tugas dan tanggung jawab yang diperintahkan kepada manusai tidak bileh dilakukan dengan cara bertentangan dengan aturan yang sudah di tentukan. Maa Laisa Minhu mengandung makna komitmen setiap manusai dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya harus selalu disesuaikan dengan aturan yang berlaku.

Keempat, Fahuwa Raddun mengandung makna ditolah atau memperoleh dosa. Fahauwa Raddun mengandung makna bahwa tugas dan tanggung jawab yang dikerjakan tidak sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku dikategorikan melanggar. Perbuatan yang salah atau  bertentangan dengan aturan  akhirnya memperoleh hukuman (sanksi) atau dalam Bahasa agama berdosa.

Kesimpulan

  • Hadis di atas yang sering dijadikan dasar untuk menjelaskan dan menghukumi perilaku bid’ah sebenarnya memiliki pesan yang sangat luas yaitu anjuran, perintah kepada semua umat Islam bahwa dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya harus selalu memperhatikan dan sesuai dengan aturan yang berlaku (aturan agama dan negara)
  • Hadis tentang bid’ah mengajarkan kepada umat Islam tentang pentingnya taat asas, taat aturan, taat hukum atau taat regulasi setiap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Pegawai atau pejabat yang melakukan tindak pidana korupsi berarti telah melakukan bid’ah, karena menjalankan tugas sebagai pejabat tidak taat asas atau tidak sesuai aturan hukum dan agama. Aparat penegak hukum yang menjual belikan hukum dan keadilan, adalah telah berbuat bid’ah karena menjual belikan hukum dan keadilan tidak sesuai dengan aturan agama dan negara. Guru/pendidik yang tidak rajin mengajar di kelas, berarti telah melakukan bid’ah, karena bertentangan dengan aturan yang ditentukan. Mahasiswa yang tidak rajin mengikuti perkuliahan, juga bisa dikategorikan telah melakukan bid’ah karena tidak mengikuti perkuliahan itu jelas bertentangan dengan aturan yang ditentukan. Semua orang yang menyebarkan kobohongan (Hoaxs) juga bisa di katakana telah melakukan bid’ah, karena apapun alasannya menyebarkan kebohongan bertentangan dengan aturan agama dan negara. Menyalahgunakan bantuan bencana atau bantuan sosial adalah bagian dari bid’ah karena itu jelas jelas bertentangan dengan aturan agama dan negara.
  • Oleh sebab itu, bid’ah adalah suatu perbuatan yang bertentangan dengan aturan yang telah ditetapkan baik menurut aturan agama maupun sosial. Dengan demikian, setiap bid’ah adalah sesat atau melanggar yang implikasinya adalah sanksi, penjara atau neraka.
  • Ziarah kubur, bersholawat, istigotsah, dzikir bersama, peringatan maulud nabi, peringatan tahun baru hijriyah, peringatan nisfu sya’ban dll tidak termasuk perilaku bid’ah karena perbuatan tersebut jelas jelas tidak melanggar ketentuan agama dan sosial.

 

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter