|  | 

Data Pustaka

Larangan Memilih Pemimpin Kafir atau Berteman Dengan Orang Kafir ( QS. Al Maidah:51)

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Firman Allah SWT dalam Surah Al Maidah ayat 51 sering menjadi bahan diskusi, terutama pada saat menjelang proses politik seperti Pemilihan Umum. Ayat ini juga sering dijadikan semacam dasar (hujjah) untuk menjustifikasi predikat kafir atau muslim kepada kelompok lainnya, khususnya kelompok yang secara politik berbeda pilihan.

Firman Allah SWT ” Wahai orang orang yang beriman, Janganlah kamu menjadikan orang YAHUDI dan NASRANI sebagai teman setiamu/pemimpinmu (Catatan penulis : ada juga yang artinya pemimpin): mereka satu sama lainnya saling melindungi. Barangsiapa diantara kamu yang menjadikan mereka teman setia/ pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang yang zalim”. (QS. Al Maidah : 51).

Sebab sebab turunya ayat (Asbabun Nuzul).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir:

Ada 3 (tiga)  pendapat tentang Asbabun Nuzul ayat ini.

Pertama, Ayat ini turun berkenaan dengan karakter atau mentalitas orang orang muslim akibat kekalahan perang Uhud. Ada sekelompok orang yang akibat kekalahan perang Uhud, mereka datang ke orang Yahudi untuk meminta perlindungan dan mereka memeluk agama Yahudi dengan harapan Yahudi bisa melindungi atau memberi manfaat kepada mereka jika terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan di kemudian hari. Sedangkan sebagian lagi mereka mendatangi kepada orang Nasrani di Syam dan kemudian mereka berniat memeluk agama Nasrani.  Artinya, akibat kekalaahn perang Uhud, ada beberapa umat Islam yang ingin mencari perlindungan kepada Yahudi dan nasrani untuk dijadikan sebagai teman.

Kedua, Tokoh munafik Madinah bernama Abdullah bin Ubay bin Sahlul akan melakukan perjanjian dengan tokoh Islam bernama Ubadah bin ash Shamit. Perjanjian itu isinya ingin membela orang  Yahudi yang memerangi Rasulullah dengan harapan agar orang Yahudi tidak memerangi Rasulullah. Sebelum terjadi penandatanganan  perjanjian tersebut, Ubadah bin ash Shamit  mendatangi Rasulullah untuk meminta penjelasan dan pendapat. Kemudian turunlah ayat tersebut.

Ketiga, ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Sahabat  Umar bin KHattab meminta laporan semacam laporan keungan kepada Abu Musa Al Asy’ari. Pada saat Umar bin Khattab meminta laporan kepada Abu Musa Al Asy’ari, Abu Musa al Asy’ari memiliki sekretaris yang beragama Nasrani.  Pada saat Umar bin Khattab meminta membacakan laporan di masjid Nabawi, Abu Musa Al Asy’ari berkata: Orang ini tidak bisa masuk masjid. Kenapa? tanya Umar, Abu Musa menjawab dia beragama Nasrani. Langsung Umar berkata  ” Akhri Juhu” (Usir dia..!!).

Pendapat  Saya :

Berdasakan tiga pendapat yang menjelaskan asbabun nuzul ayat tersebut, dapat dikatakan bahwa ayat ini tidak berkaitan dengan proses pemilihan atau pengangkatan pemimpin. Ayat tersebut berisi tentang pentingnya memeprhatikan karakter orang Yahudi dan Nasrani jika ingin dijadikan sebagai teman, dalam pergaulan, teman dalam perjanjian dna teman dalam membantu tugas tugas yang dimiliki. Ketiga pendapat tersebut, tidak ada yang berkaitan dengan peristiwa proses memilih atau mengangkat pemimpin yang non muslim (Yahudi atau Nasrani).

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter