|  | 

Materi S1

Materi Perkuliahan Inovasi Pendidikan

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Pendahuluan

Sebelum lebih jauh berbicara inovasi Pendidikan, terlebih dahulu mahasiswa harus lebih dulu mengetahui dan memahami apa dan siapa mahasiswa Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Prodi PAI memiliki tujuan melahirkan lulusan yang berkualitas baik dalam output maupun outcame. Produk lulusan PAI yang ideal adalah mampu menjadi Pendidik PAI yang profesional (Ideal).

Pendidik profesional adalah pendidik yang mampu mengoptimalkan kompetensi yang ada dalam dirinya menjadi suatu ketrampilan yang utuh dan komprehensif sehingga mampu menampilkan sosok guru yang bisa dijadikan uswah (contoh) bagi orang lain. Berdasarkan Undnag Undnag Nomor 14 tahun 1005 tentang Guru dan Dosen di katakan Guru harus memiliki 4 (empat) kompetensi yaitu ; kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogiek dan kompetensi profesional.  (Pasal 10 ayat1).

Era Globalisasi yang ditandai dengan cepatnya perkembangan teknologi informasi mengharuskan guru memiliki ketrampilan khusus agar Pendidikan selalu eksis dan relevan denagn dinamika perkembangan zaman. Guru tidak bisa monoton atau statis dalam penyampaian materi, dan metodologi pembelajaran. Guru dituntut memiliki kiat kiat khusus agar pembelajaran sesuai dnegan standar nasional Pendidikan yaitu interaktif, inspiratif, memotivasi dan menyenangkan bagi peserta didik. (Lebih detail baca PP nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan).

Pendidikan adalah system terbuka (open system) yang sangat mudah dipengaruhi oleh dinamika kehidupan masyarakat. Konsekuensinya, setiap guru harus memiliki kemampuan untuk melakukan inovasi dalam menjalanakn tugas profesinya agar Pendidikan mampu bertahan ditengah tengah persoalan bangsa.

Siapa Guru PAI Itu ?

Memahami siapa guru yang sebenarnya, terlebih dahulu kita bandingkan pengertian antara guru dan dosen. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar dan menengah. Dosen adalah pendidikan profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui  pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ilmuwan diartikan orang yang ahli atau orang yang memiliki banyak pengetahuan mengenai suatu ilmu. Ilmuwan juga dapat diartikan orang yang berkecimpung dalam dunia ilmu pengetahuan, seperti senang membaca, menulis, meneliti. Dalam Islam, ilmuwan adalah manusia yang selalu takut (dekat) kepada Allah swt. Hal ini dijelaskan dalam Surah Faathir ayat 28. “ Dan demikianlah diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang binatang ternak ada yang bermacam macam warnanya dan jenisnya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba hamba-Nya, hanyalah ulama (ilmuwan). Kedudukan seorang ilmuwan (ulama) memiliki posisi sangat tinggi (mulia), setiap ulama (ilmuwan) yang selalu melaksanakan kegiatan sesuai dengan norma yang berlaku akan diberi beberapa kenikmatan dan derajat (posisi) yang tinggi dibanding lainnya. Hal ini di jelaskan dalam Surah Al Mujadalah : 11 “ .. Allah akan meninggikan orang orang yang beriman diantara kamu dan orang orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 

Guru dan dosen walaupun memiliki persamaan yaitu sama sama sebagai pendidik profesional, tetapi jika dilihat dari tugas utamanya memiliki perbedaan sangat tajam. Guru ruanglingkup kerjanya terbatas di pendidikan  formal (sekolah) di pendidikan usia dini, pendidikan dasar (MI/SD/ MTS/SMP) dan pendidikan mengah (MA/SMA/SMK) yang ditunjukkan dengaan tindakan mendidik, mengajar, membimbing, melatih, mengevalausi dan menilai. Konsekeunsinya guru harus lebih konsentrasi melaksanakan tugas pembelajaran disekolah formal saja. Kegiatan selain proses pembelajaran  di sekolah formal tidak menjadi tugas dan tanggung jawabnya seperti melakukan pengabdian kepada masyarakat dan mengembangkan ilmu pengetahuan di forum publik.

 Guru yang ideal adalah guru yang rajin dan disiplin melakukan pembelajaran siswa selama di sekolah yang ditunjukkan dengan ketrampilan menyusun desain pembelajaran, member motivasi siswa untuk belajar, menggunakan metode dan media secara tepat, dan mampu melakukan penilaian yang dapat dijadikan bahan pengembangan program di sekolah. Setiap jam pembelajaran harus berasa di sekolah, jika pada jam sekolah berlangsung guru berada di luar sekolah maka itu bisa menjadi bukti pelanggaran yang berat.

 Secara tehnis, guru yang ideal harus  melaksanakan   jam tatap muka sekurang kurangnya 24 jam tatap muka dan sebanyak banyaknya 40 jam tatap muka dalam satu minggu. Hal ini menggambarkan bahwa waktu guru dihabiskan untuk melaksanakan proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Guru tidak wajib melaksanakan kegiatan yang bersentuhan dengan kegiatan di masyarakat.

 Berbeda dengan dosen, walaupun sama sama sebagai pendidik profesional, tetapi dosen selain pendidikn professional juga disebut sebagai ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitiaan dan pengabdian masyarakat. Sebagai dosen memiliki ruang lingkup sangat luas tidak hanya di dalam pendidikan formal (kampus) tetapi juga di dalam realitas kehidupan masyarakat. Artinya dosen tidak hanya bertugas membimbing dan melatih para mahasiswanya tetapi juga harus mampu menyebarluaskan ilmu pengetahuan dengan berbagai media baik melalui perkuliahan (pendidikan/pengajaran) juga harus melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Konsekuensinya, dosen tidak bisa dituntut selalu di dalam kampus untuk melaksanakan perkuliahan dengan mahasiswa, karena jika hanya itu yang dilaksanakan akan mengakibatkan kurang optimalnya tugas utama sebagai dosen. Selain melakukan perkuliahan bersama mahasiswa, dosen juga harus melakukan penyebaran dan pengembangan ilmu melalui seminar, diskusi, penerbitan buku, penelitian dan penerbitan hasil hasil penelitian. Disinilah perbedaan utama antara guru dan dosen.

 Dari aspek kompetensi inilah, dapat diketahui perbedaan antara guru PAI dengan guru non  PAI. Guru PAI adalah pendidikan profesional yang memiliki tugas memberi pemahaman materi agama Islam kepada peserta didik dan masyarakat. Guru PAI setidaknyaa memiliki dua tugas yaitu tugas melaksanakan sebagai pendidik dan pengajar di sekolah dan juga memiliki tugas memberikan pemahaman materi agama Islam kepada peserta didik agar peserta didik dan masyarakat memiliki cara pandang atau pemahaman terhadap agama (al qur’an dan hadis) secara tepat yang ditandai dengan sikap dan perilaku yang santun, damai serta  anti kekerasan.

Perbedaan nyata antara guru PAI dengan guru non PAI terletak pada aspek kompetensi sosial dan pedagogiek. Kompetensi sosial bagi guru PAI lebih luas ruanglingkupnya dibanding guru non PAI, karena guru PAI secara langsung maupun tidak langsung dituntut mampu memebrikan pencerahan tidak hanya kepada peserta dididk di sekolah tetapi juga kepada masyarakat diluar sekolah. Walaupun diluar jam sekolah, Guru PAI tidak boleh menghindar jika ada masyarakat yang bertanaya atau meminta pendapat tentang berbagai hal kehidupan dan keagamaan. Guru PAI tidak boleh lari dari permasalahan yang dihadapi masyarakat. Agama yang melekat kepada diri guru PAI memiliki konsekeunsi dakwah Islam secara nyata kepada masyarakat.

 Jangan disalahkan jika, ada tawur antar pelajar sedang marak, banyak aksi radikalisme dan terorisme, banyaknya oknum pejabat yang korupsi, sikap dan moralitas sosial masyarakat rendah yang ditandia dengan mudahnya konflik horizontal, oknum anggota wakil rakyat mudah bertengkar, profesi guru PAI menjadi sasaran “kesalahan”. Artinya semua orang menengok kepada profesi Guru PAI yang dianggap ada kesalahan atau kurang optimal.

 Berbeda dengan posisis guru non PAI, walaupun tim nasional belum pernah menang ditingkat ASEAN, ASIA bahkan Dunia, ketika pengurus PSSI masih berselisih pendapat sampai muncul dualism kepengurusan, tidak pernah ada orang yang menuduh pendidikan olahraga telah gagal atau salah. Pada pemilu menghasilkan para wakil rakyat yang belum sesuai harapan, belum dewasa atau belum berkualitas, tidak ada masyarakat menuduh bahwa pendidikan kewarganegaraan telah gagal atau salah. Disinilah uniknya perbedaan antara guru PAI dengan non PAI dilihat dari aspek kompetensi sosial.

 Dari aspek kompetensi pedagogiek, peran atau tanggung jawab guru PAI dengan non PAI juga sangat terlihat jelas. Hal ini disebabkan karena perbedaan karakteristik ilmu PAI dan ilmu non PAI berbeda. Karakteristik ilmu PAI bersifat multi disiplin/ zigzag sedangkan karakter ilmu non PAI bersifat monodisiplin/monoton. Konsekeunsinya, gurun PAI juga harus memiliki wawasan lintas sector/multidisiplin.

  Ciri khusus yang membedakan dengan guru lainnya (non PAI), Guru PAI harus memiliki wawasan lintas sektor atau multi disiplin, karena materi PAI selalu berkaiatan dengan materi diluar dirinya. Misalnya materi tentang sholat tidak cukup disampaikan tentang tatacara gerakan sholat dan dalil yang menguatkan. Materi sholat juga berkaitaan dengan kekhusyu’an (ilmu psikologi), berkaitan dengan persatuan dan kesatuan (soiologi). Materi al qur’an hadis tidak cukup hanya disampaikan cara menulis dan membaca al qur’an dan hadis, tetapi juga berkaitan dengan pemahaman kontekstual  atau asbabun nuzul/ asbabul wurudnya ( ilmu sosiologi, antropologi), materi fiqih tidak hanya berkaitan dengan bagaiamana menjelaskan halal haram, wajib, sunah, haram, makruh tetapi juga berkaitan dengan bagaimana membagi harta warisan, bagaimana menghitung nisob zakat (matematika). Dengan kata lain guru PAI harus lebih cerdas dibanding guru non PAI, karena menguasai ilmu diluar materi yang pokok suatu keniscayaan yang harus dilakukan.

 Perbedaan esensial antara profesi guru PAI dengan guru non PAI setidaknya dilihat dari dua aspek kompetensi yaitu:

  1. Kompetensi sosial, guru PAI memiliki ikatan sangat kuat dengan perhatian sosial atau amsyarakat. Oleh sebab itu guru PAI harus selalu memeprhatikan etika dna nilai nilai yang berkembang di masyarakat. Guru PAI memiliki tugas berat yang didberikan oleh masyarakat. Guru PAI selain memiliki kemampuan melakukan pembelajaran di sekolah juga harus smemiliki kemampuan dna ketrampilan untukm melakukan sosialisasi atau partisipasi kepada masyarakat secara utuh. Konsekuensinya guru PAI harus memiliki kemampuan dna ketrampilan tentangs eegala hal yang dibutuhkan masyarakat khususnya dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. Karena Guru PAI di daerah akan sangat mudah diminta membantu kebutuhan amsyarakat yang berkaitan dengan sisal kemasyarakatan.
  2. Kompetensi pedagogiek, guru PAI memiliki tugas dan tanggung jawab sangat berat dalam melakukan pembelajaran di dalam kelas. Karena pembelajaran menyangkut tentang pengembangan materi pelajaran. Materi PAI memiliki ketrkaitan atau ikatan dengan ilmu lainnya sangat tinggi. Materi PAI pasti memiliki kaitan dnegan ilmu psikologi, sosiologi, IPS, IPA, MTK dan ilmu lainnya. Hal ini disebabkan oleh ruanglingkup PAI tidak hanay materi ritual keagamaan melainkan juga menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Konsekuensinya guru PAI dalam pembelajaran harus memiliki kemampuan menghubungkan atau mengkaitkan dengan materi lainnya yang ada diluar PAI. Mengajarkan atau menyampaikan materi sholat tidak cukup hanya menyampaikan tentang pengertian sholat, bacaan sholat, gerakan sholat melainkan juga harus menjelaskan keterkaitan sholat dengan toleransi dan kerukunan masyarakat.

Peran Guru PAI

Peran guru sangat dominan dalam pembelajaran, konsekuensinya guru harus memiliki kiat atau ketrampilan dalam membangkitkan minat belajar siswa dengan cara cara yang bervariasi baik  metode, pendekatan maupun bentuk pembelajaran. Untuk mewujudkan harapan tersebut, maka guru harus memiliki berbagai karakteristik sebagai berikut:

  1. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang kakek yang bersedia menjelaskan struktur keturunan atau nasab kepada cucunya. Guru adalah sososk profesi yang mampu menjelaskan struktur keilmuan kepada ssiwa sehingga memiliki pemahaman keilmuan yang utuh.
  2. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang nenek yang selalu bersedia bercerita kepada cucunya. Guru adalah profesi pendidikan yang harus memiliki kemampuan menceritakan materi kepada siswa sehingga siswa memiliki pengetahuan dna ketrampilan secara utuh.
  3. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang bapak yang senantiasa bertanggung jawab atas segala hal yang ada di keluarga. Guru sebagai profesi harus mampu bertindak dan bertanggung jawab atas segala hal yang ada di dalam proses pembelajaran.
  4. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang ibu yang senantiasa memiliki kasih sayang kepada anak anaknya. Guru sebagai profesi harus memiliki kasih sayang kepada siswanya.
  5. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang kakak yang senantiasa membantu kesulitan adiknya. Guru sebagai profesi harus memiliki kemampuan membantu kesulitan yang dimiliki siswanya.
  6. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang kakak ipar yang senantiasa tidak mau iktu campur urusan iparnya jika tidak diminta. Guru sebagai profesi pendidik harus mampu menahan keinginan untuk ikut campur tangan usuran siswanya jika tidak diminta.
  7. Guru harus memiliki karakteristik sebagai editor buku yang senantiasa meluruskan atau membenarkan teks atau tulisan orang lain. Guru sebaagi profesi pendidik harus memiliki kemampuan untuk meluruskan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
  8. Guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang jenderal yang senantiasa tegas dan berdisplin tinggi. Guru sebagai profesi pendidik harus smemiliki kemampuan untuk berjiwa disiplin yang tinggi dan tegas terhadap siswa demi membangun kepribadian dan sikap yang ideal.

Agar terwujud karakteristik tersebut, maka guru harus memiliki 10 ( sepuluh ) kemamuan dasar sebagai berikut:

  1. Menguasai bahan. Penguasaan materi bagi guru meliputi bahan pokok dan Pengayaan. Bahan pokok adalah bahan atau buku yang menjadi pedoman dalam pembelajaran. Sedangkan bahan pengayaan adalah bahan yang menjadi pelengkap atau buku lain yang memiliki relevansi dengan materi pokok
  2. Mampu mengelola interaksi pembelajaran yaitu guru harus memiliki kemampuan memberikan pemahaman materi secara utuh kepada siswa.
  3. Mampu mengelola program pembelajaran yaitu guru harus memiliki kemampuan menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi RPP, AMP dan pengembangan silabus.
  4. Mampu mengelola kelas yaitu mampu memberikan motivasi agar siswa memiliki semangat tinggi untuk mempelajari mata pelajaran.
  5. Mampu menggunakan media pendidikan. Ada dua macam media dalama pendidikan yaitu alat pembelajaran dan alat peraga. Alat pembelajaran adalah sarana yang dapat digunakan semua mata pelajaran  sedangkan alat peraga adalah sarana yang berfungsi khusus untuk mempercepat pemahaman materi pelajaran dalam lingkup satu pokok bahasan tertentu. Oleh sebab itu alat peraga pokok bahasan sholat pasti berbeda dengan alat peraga pokok bahasan wudlu atau tayamum. Alat peraga haji pasti berbeda dengan alat peraga zakat fitrah, dll.
  6. Memahami landasan kependidikan, yaitu guru harus memahami benar tentang makna belajar, makna guru dan siswa agar pembelajaran benar benar sesuai dengan harapan.
  7. Memahami evaluasi, yaitu guru harus memiliki pemahaman yang tepat tentang evluasi. Bahwa evaluasi tidak hanya untuk mengetahui kualitas pemahaman siswa melainkan juga sebagai saran untuk mengetahui kekurangan guru dalam pembelajaran.
  8. Memahami fungsi bimbingan dan layanan (BK) yaitu posisi BK jangan hanya diposisikan sebagai satpam atau polisi sekolah yang hanya mencari dan memberi sanksi terhadap kesalahan siswa.
  9. Memahami funsgi administrasi sekolah
  10. Menafsirkan hasil penelitian dalam bidang pendidikan. Guru dalam melakukan pembelajaran juga harus mampu menjelaskan hasil hasil penelitian yang ada keterkaitannya dengan pokok bahasan yang dijelaskan.

Karakteristik PAI

Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki karakteristik yang berbeda dengan pelajaran diluar PAI. Guru PAI harus memahami secara tepat tentang karakteristik PAI. Jika PAI disamakan dengan pelajaran non PAI maka selama itu pula tidak akan mampu menjawab tantangan dan problem masyarakat. Guru PAI hakekatnya adalah menyampaikan, memberikan pemahaman tentanag Islam kepada masyarakat dan peserta didik. Islam adalah agama yang besar dan menyangkut berbagai dimensi kehidupan sosial. Islam harus dipahami dnegan cara fikir yang multidimensional dalam arti harus dilihat dari berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan. Jika islam hanya dilihat dari dimensi ilmu fiqh (hukum islam) maka yang terlihat Islam hanya berbicara halal dan haram. Jika Islam hanya dilihat dari sudut pandang ilmu tauhid saja, maka yang terlihat Islam hanya berbicara Kafir, Muslim, Taqwa, Munafik.

 Pelajaran PAI memiliki karakteristik yang bersifat integral, lintas sektor dan zig zag. Artinya pelajaran PAI selalu berkaitan dengan ilmu ilmu lain di luar PAI misalnya berkaitan dengan ilmu psikologi, sosiologi, geografi, ilmu manajemen dan ilmu lainnya. Ilmu PAI selalu berkaitan dnegan ilmu lain diluar dirinya. Ilmu PAI tidak mungkmin bisa dipahamis ecara utuh jika hanay berdiri sendiri tanpa dikaitkan dengan ilmu diluar dirinya. Artinya Pelajaran PAI akan dipahami secara utuh oleh siswa jika materi tersebut disampaikan dengan didukung dengan penjelasan ilmu lain di luar PAI. Menjelaskan pokok bahasan zakat fitrah tidak cukup hanya menjelaskan pengertian zakat, berapa nisob zakat, bagaimana makna atau hikmah zakat serta doa doa dalam ibadah zakat.  Mengajarkan materi PAI pokok bahasan zakat fitrah pasti berkaitaan dengan kemiskinan (ilmu ekonomi), berkaitan dengan pola pengelolaan zakat produktif (ilmu manajemen), berkaitan dengan  melatih kepekaan atau kepedulian dengan fakir miskin (ilmu psikologi dan ekonomi). Mengajarkan pelajaran PAI pokok bahasan sholat tidak cukup hanya menjelaskan pengertian sholat, bacaan sholat, praktek sholat. Pokok bahasan sholat perlu dijelaskan tentang makna gerakan sholat dalam kehidupan sosial (ilmu sosiologi/antropologi), perlu juga menjelaskan tentang khusyu’ (berkaitan dengan ilmu psikologi).

 Konsekuensinya, Guru PAI harus memiliki pengetahuan lintas sektor, artinya guru PAI  tidak cukup hanya memiliki pengetahuan norma norma ritual keagamaan melainkan harus selalu mengikuti dinamika atau perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara ekstrem dapat dikatakan bahwa guru PAI adalah sosok guru yang “serba bisa”, karena pelajaran PAI menghendaki kemampuan yang serba bisa. Mengajarkan fiqih pokok bahasan mawaris, guru PAI harus  paham ilmu matematika, mengajarkan pokok bahasan sholat pada materi sholat khusyu’, guru PAI harus juga memiliki pemahaman tentang ilmu psikologi.

 Sampai disini, dapat dikatakan bahwa dalam pelajaran PAI tidak mengenal mis match (tidak relevan), karena karakteristik PAI adalah materi yang memgharuskan  mampu mamahami ilmu pengetahuan lintas sektor. Oleh sebab itu jika ada lulusan PTAI jurusan PAI setelah lulus mengajar mata pelajaran IPS, IPA, MTK, Olah raga, kesenian, bahasa Indonesia, bahas Inggris tidak dapat dikatakan mismatch, melainkan itu merupakan sebuah keniscayaan dari karakerisktik ilmu atau pelajaran PAI.

 Implikasi dari karakter ilmu PAI yang lintas sektor itulah menyebabkan profil lulusan dari lembaga pendidikan agama Islam menjadi sosok yang “serba bisa” dan lebih siap menghadapi berbagai realitas problem kehidupan yang ditandai dengan karakter manusia yang memiliki kemandirian tinggi, ulet, bekerja keras, selalu mencoba sehingga pada akhirnya memiliki keberhasilan sesuai yang diharapkan.

Pengertian Inovasi Pendidikan

Inovasi merupakan fitrah bagi pendidikan. Artinya pendidikan tanpa inovasi berarti gagal. Inovasi berasal dari kata latin, innovation yang berarti pembaruan dan perubahan. Dapat dikatakan bahwa Inovasi adalah suatu ide, gagasan, pemikiran , bisa juga berupa barang, kejadian, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu.

Inovasi dalam pendidikan bisa berarti INVENSI dan juga bisa berarti DISKAVERI. Inovasi di katakan sebagai Invensi apa bila   penemuan  tersebut yang benar-benar baru artinya hasil kreasi manusia yang berupa benda atau hal yang ditemukan itu benar-benar sebelumnya belum pernah ada atau belum pernah dilakukan oleh orang lain.

Inovasi dikategorikan sebagai  diskoveri adalah suatu penemuan sesuatu yang sebenarnya benda atau hal yang ditemukan itu sudah ada, tetapi belum diketahui orang. Yaitu ada seseoranjg yang menemukan hal yang sudah ada tetapi pada saat itu belum ada orang yang mengetahui.

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan yang dilakukan insan pendidikan yang dimaksudkan sebagai proses untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat), yang dimaksdudkan untuk menyelesaikan problem pendidikan. Hakekat inovasi terletak pada kemampuan guru untuk menyelesaikan persoalan yang ada di dalam proses pembelajaran khususnay yang di alami oleh siswa.

Ruang kingkup inovasi pendidikan sekurang kurangnya meliputi tiga hal yaitu (1)  Wawasan Guru, (2) Model pembelajaran Guru dan (3) Sikap /perilaku Guru. Inovasi akan dapat dilakukan jika guru memiliki wawasan yang luas tentang pengetahuan. Guru PAI memiliki tuags mengajarkan dam membimbing dalam memahami agama. Konsekeusninya Guru PAI harus memiliki wawasan luas tentang bagaimana memahami agama. Agama Islam agama yang besar dan luas, hanya bis dipahami oleh orang yang memiliki wawasan luas dan mendalam.  

Model pembelajaran menjadi obyek utama dalam inovasi pembelajaran. Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleg proses pembelajaran. Hasil riset penulis dihasilkan bahwa kualiats lulusan pendidikan ditentukan oleh kontribusi proses pembelajaran sebesar 38 %, kompertensi guru sebesar 25 %, motivasi siswa 22 %, sarana prasarana 12 %, kepemimpinan pendidikan 3 %.  Artinya pembelajaran bisa menimbulkan motivasi bagi siswa yang akhirnya melahirkan kualitas pendidikan yang ideal. Oleh sebab itu pembelajaran harus ada inovasi yang dilakukan oleh guru agar pembelajaran sesuai standar yang ditentukan yaitu PP nomor 32 tahun 2013 tentang Standar nasional pendidikan (SNP). Di dalam PP nomor 32 tahun 2013 ditentukan setiap sekolah harus memperhatikan 8 (delapan) standar yaitu :

  1. Standar Isi
  2. Standar Proses
  3. Standar Tenaga pendidik dan kependidikan
  4. Standar Mutu lulusan
  5. Standar pengelolaan (manajemen)
  6. Standar sarana prasarana
  7. Standar biaya (anggaran)
  8. Standar evaluasi

Konsekuensinya Guru harus memiliki pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan untuk melakukan improvisasi dalam melakukan pembelajaran agar semua potensi siswa dapat dikembangkan. Inovasi yang perlu dilakukan oleh Guru menyangkut tentang :

  1. Inovasi dalam tujuan pendidikan dan pembelajaran
  2. Inovasi dalam metodologi pembelajaran
  3. Inovasi dalam kompetensi guru
  4. Inovasi dalam penggunaan media ataus sarana
  5. Inovasi dalam pelaksanaan manajemen pembelajaran
  6. Inovasi dalam pelaksanaan kepemimpinan pendidikan

Macam macam Inovasi pendidikan

Secara umum inovasi pendidikan di kelompokan dalam dua hal yaitu inovasi pendidikan yang bersifat lunak (software) dan inovasi pendidikan yang bersifat keras (hadrware). Inobasi pendidikan yang bersifat software menyangkut kemampuan berfikir yang luas dalam memahami agama Islam. Dalam memahami agama di era globalisasi ini harus didukung denagn cara fikir yang inovaatif sehingga Islam benar benar menajdi agama yang mampu menajdi solusi penyelesaian masalah bagi manusia.

Inovasi yang bersifat hardware menyangkut tentang kemampuan guru dalam menemukan sarana atau alat yang memudahkan dan menarik dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang memberi inspirasi, menarik, komunikatif dan menyenangkan bagi siswa. Di era teknologi seperti ini, guru dituntut memiliki kreasi dalam menjelaskan materi pembelajaran, kreatif dalam menggunakan media pembelajaran agar siswa memiliki kecepatan dalam memahami materi pelajaran.

Agar inovasi benar benar dapat bermanfaat dalam pembelajaran dan pendidikan, perlu diperhatikan beebrapa prinsip dalam inovasi pendidikan sebagai berikut:

  1. Prinsip Demokratis : mampu mengembangkan potensi siswa, bukan membunuh potensi
  2. Prinsip Praktis : benar benar dapat diimplementasikan/dolaksanakan
  3. Prinsip Realistis : sesuai dengan karakter siswa
  4. Prinsip Ekonomis : tidak boros atau tidak memerlukan biaya yang tinggi
  5. Prinsip Efektivitas : Mampu mempercepat pemahaman materi bagi siswa
  6. Prinsip efisiensi : simpel tidak bertele tele
  7. Prinsip Logis : mudah dipaham

Hasil Survey tentang kekerasan dalama Pendidikan (Terbit di Suara Merdeka 26 Pebruari 2018)

Hasil survei Yayasan Tasamuh Indonesia Mengabdi (Time) Jateng menyebutkan sebagian besar masyarakat setuju jika ada guru yang melakukan kekerasan diproses melalu jalur hukum. Hal ini bisa diartikan sebagian besar masyarakat belum sadar dan belum menghargai guru sebagai profesi yang mulia dan harus dihargai oleh semua pihak. ”Jika setiap guru yang dianggap melakukan kekerasan kepada siswa selalu dibawa ke jalur hukum, maka akan berakibat guru takut dan minder dalam menjalankan tugas profesinya,” ungkap penanggung jawab survei Dr M Saekan Muchith, di Semarang, Minggu (25/2).

 Saekan mengatakan, dalam survei ini, angket dikirim secara langsung ke nomor telepon/- WA/Line masyarakat yang dipilih secara acak (random) dan dilakukan dalam durasi waktu selama 2 minggu yaitu tanggal 5 sampai 17 Februari 2018. Sebanyak 762 responden telah memberikan respons atau jawaban sesuai opsi pilihan yang telah ditentukan.

 Terhadap pertanyan, bagaimana sikap anda jika ada guru yang melakukan kekerasan dilaporkan ke aparat hukum/polisi? Yang menjawab A (Setuju) sebanyak 492 (65%), Yang menjawab B (Tidak Setuju) sebanyak 245 (32%), dan Yang menjawab C (Ragu-Ragu) sebanyak 25 (3%).

 Saekan menyatakan jika melihat hasil survei ini para guru selalu dikhawatirkan tidak akan bisa optimal dalam menjalankan tugas dan profesinya. Sebab, menurut dia, guru adalah profesi yang memiliki tugas yang sangat berat dan rumit.

 ”Dikatakan berat karena guru dalam tugasnya menjadi tumpuhan dan harapan utama dalam mencapai kesuksesan belajar siswa. Apabila siswa gagal dalam belajar, maka guru menjadi orang pertama yang disalahkan. Sukses atau gagal, baik atau buruk, pintar atau tidak pintarnya siswa semuanya menjadi tanggung jawab guru.” Karena itu, ia menyatakan, pihaknya memberikan rekomendasi bahwa hasil survei ini harus dijadikan pijakan pemerintah dan praktisi pendidikan untuk segera menyusun dan memberlakukan undang-undang perlindungan profesi guru. Dengan demikian, guru memiliki kenyamanan dalam menjalankan tugas profesinya.

Topik Yang harus didiskusikan Mahasiswa : (Diskusi Pro dan Kontra).

  1. Guru PAI : Apakah harus Melakukan Inovasi? ( Latar belakang, Siapakah Guru PAI, Apa tugas dan tanggung jawab Guru PAI, Pengertian Inovasi  Pendidikan,  Perlukan Guru PAI melakukan Inovasi?, Pendapat penyusun makalah, Kesimpulan).
  2. Pendidikan Islam : Perlukah Ada Inovasi dalam Pendidikan? ( Latar belakang, Pengertian pendidikan Islam, Perbedaan Pendidikan dan Pendidikan Islam, Problem pendidikan Islam, Pengertian dan macam macam inovasi pendidikan, Perlukah Pendidikan ada inovasi?, Pendapat penyusun makalah, Kesimpulan).
  3. Tenologi Informasi dalam pendidikan: Membangun atau merusak ? (Latar belakang, Pengertian Pendidikan dan pengertian teknologi pendidikan, Kemanfaatan dan kemadharatan teknologi dalam pendidikan, Teknologi membangun atau merusak pendidikan, Pendapat penyusun makalah, kesimpulan)
  4. Melarang Siswa Membawa HP saat di sekolah: mengutungkan atau merugikan? ( Latar belakang, Pentingnya HP bagi siswa di sekolah, Kekurangan dan kelebihan siswa membawa HP saat jam sekolah, Melarang siswa membawa HP, menguntungkan atau merugikan ?, pendapat penyusun makalah, Kesimpulan).
  5. Electronic Learning (e-learning) Perlu atau tidak? (Latar belakang, pengertian e-learning, keuntungan dna kerugian pembelajaran e-learning di sekolah, Perlukah e-learning dis ekolah?, Pendapat penyusun makalah, kesimpulan).

 

Perhatian :

  1. Materi ini masih bersifat global atau umum, yang harus dikembangkan lagi oleh masing masing mahasiswa
  2. Materi ini di desain hanya untuk pegangan pembelajaran (materi pembelajaran) bukan untuk publikasi ilmiah.
  3. Komunikasi lebih detail bisa melalui alamat sebagai berikut

3.1. Web personal : www.saekankudus.com

3.2. Facebook : M. Saekan Muchith

3.3. Twitter : @MuchithSaekan dan @ MMuchid1

3.4. Instagram : msaekhan

3.5 Email : muhsaekan@gmail.com

3.6. Nomor HP : 081226989532/081326440101/0818290779

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter