|  | 

Populer

Tiga Pesan Halal Bihalal

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Halal Bihalal benar benar sudah menjadi tradisi beragama bangsa Indonesia khususnya umat Islam. Setiap hari raya idul fitri semua orang, keluarga, instansi, organisasi tidak ada yang tidak melaksanakan halal bihalal. Waktu liburan habis di pergunakan untuk acara halal bihalal.

 Istilah halal bihalal diawali dari tradisi yang di mulai dari kerajaan Surakarta saat di pimpin oleh Raja yang bernama Pangeran Adipati Arya Mangkunegaran I atau dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah sholat Ied, Raja Mangkunegaran I meminta semua punggawa dan prajurit kerajaan untuk berkumpul di istana. Setelah berkumpul Raja memberikan berbagai wejangan agar semua punggawa dan prajurit memiliki kinerja yang baik dan optimal. Setelah memberikan wejangan, semua punggawa dan prajurit kerajaan tanpa kecuali dilakhiri dengan berjabatan tangan saling menaafkan. Tradisi itu terus berlanjut sampai sekarang.

 Ada juga yang mengatakan bahwa istilah halal bihalal dimunculkan  oleh seorang Ulama kharismatik asal Jawa Timur  KH. Abdul Wahab Chasbullah. Pada tahun 1948 dipanggil  Presiden Soekarno untuk dimintai saran untuk menyelesaikan persoalan bangsa yang melanda krisis elit bangsa. Agar elit bangsa tidak semakin terjebak konflik semakin dalam, KH. Wahab Chasbullah  mengusulkan pertemuan antar elit. Tujuan utamanya   agar para elit bangsa saling berintrospeksi  terhadap kekuranganya masing maisng. Elit bangsa di harapkan tidak saling menyalahkan tetapi harus saling memaafkan. Itulah akhirnya KH. Wahab mengusulkan  acara pertemuan elit bangsa di sebut Halal Bihalal.

 Seperti halnya tradisi lainya, halal bihalal  memiliki beberapa makna dalam kehidupan masyarakat. Lynton Keith Caldwell ( 1970), dalam ” Environment : A Challenge for Modern Society “ menegaskan bahwa setiap budaya atau tradisi pasti meniliki pelajaran atau makna untuk merubah cara fikir dan mental manusia. Suatau tradisi akan mampu merubah perilaku suatu bangsa jika tradisi tersebut benar benar dipahami dan dijadikan spirit kehidupan.

Sebagai suatu tradisi, halal bihalal memiliki makna : Pertama, dilihat dari aspek kata, halal bihalal dipahami gabungan kata  halal dengan halal atau baik dengan baik. Berarti sesuatu yang baik ( halal) harus di pertemukan dengan sesuatu yang baik pula. Jangan sampai dicampur adukan sesuatu yang baik ( halal) dengan sesuatu yang jelek ( Haram). Suatu niat atau tujuan yang baik harus di lakukan dengan cara atau metode yang baik pula. Jangan sampai memiliki atau merencanakn  tujuan yang baik tetapi dilakukan dengan cara yang kotor, buruk ( haram). Contohnya ingin menjadi  suhada ( mati sahid) tetapi dilakukan dengan aksi bom bunuh diri. Ingin bersedekah tetapi dengan uang hasil korupsi atau hasil curian.

 Kedua, dilihat dari aspek suasana. Halal bihalal selalu dalam suasana yang menyenangkan, hati atau perasaan diliputi rasa tenang, nyaman, bahagia dan sejahtera. Karena halal bihalal berkaitan dengan senang senang, pesta dan ketemu dnegan sanak saudara dan kerabat. Kunci ketenangan dan kebahagiaan terletak pada kepatuhan terhadap aturan. Setiap orang yang patuh kepada aturan ( agama dan sosial) pasti hidupnya tenang dan nyaman. Halal bihalal mengandung makna pentingnya taat dan patuh kepada aturan yang berlaku.

 Ketiga,  dilihat dari isi rangkaian acara. Puncak acara setiap halal bihalal adalah saling memaafkan (mushofahah) satu dengan lainya. Kemauan untuk minta maaf atas segala kesalahan dan kesanggupan memberi maaf kesalahan orang lain sangat tergantung ada atau tidaknya kesombongan. Seseorang yang di dalam dirinya memiliki  kesombongan akan sulit meminta dan memberi maaf. Begitu juga sebaliknya. Halal bihalal mengandung makna untuk menghilangkan kesombongan. Sebagai manusia tidak boleh merasa paling benar sendiri, tidak boleh merasa paling beriman yang ujungnya menyalahkan dan merendahkan orang lain. Hakekat halal bihalal adalah mengajarkan kepada umat Islam dan bangsa Indonesia untuk konsisten dan selalu komitmen kepada amalan atau perbuatan yang positif (bermanfaat) baik untuk dirinya, keluarga dan masyarakat. Perbuatan atau perilaku positif itu akan selalu tumbuh jika apa yang diperbuat selalu berdasar pada aturan atau regulasi yang berlaku. Kesedian manusia untuk tunduk dan patuh kepada aturan  jika tidak memiliki kesombongan atau tidak merasa paling benar sendiri.

 Tiga pesan yang ada di dalam tradisi agama halal bihalal jangan hanya menjadi ritual tradisi keagamaan  (simbol) semata mata. Halal bihalal  benar benar mampu dijadikan inspirasi untuk merubah atau  memperbaiki sikap kepribadian dan perilaku bangsa Indonesia umumnya dan umat Islam khususnya.

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter