|  | 

Populer

Idul Fitri Antara BH dan Isi BH

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Secara bahasa Idul fitri berarti kembali kepada kondisi fitrah manusai yaitu suci tanpa dosa dan kesalahan.  Pahala (imbalan) bagi orang yang menjalankan ibadah puasa ramadhan dan sholat malam (tarowih) dibersihkan dari segala dosa yang diibaratkan  seperti bayi baru lahir. Diriwayatkan salah satu hadis, dari Salamah bin Abdurahman bin Auf, ayahku berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah SWT telah mewajibkan ibadah puasa Ramadhan, dan disunahkan untuk melakukan salat sunah, maka barang siapa mengerjakannya karena iman dan melakukan intropeksi, makan dia keluar dari dosa dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan”. Dalam hadis lain dikatakan Hari ini (idul fitri) suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.” .

Berdasarkan hadis tersebut, umat Islam yang menjalankan ibadah puasa ramadhan dan berbagai amalan lainnya diibaratkan sebagai seorang bayi yang bersih dari segala dosa dan kesalahan sehingga akan masuk surga Allah Swt dengan mudah. Predikat sosok seorang bayi yang baru lahir harus dipertahankan secara terus menerus sepanjang zaman dengan selalu taat dan patuh kepada Perintah Allah dan menghindari atau menjauhui semua larangan-Nya.

Bayi yang baru dilahirkan, memiliki tabiat, naluri  atau insting yang tidak pernah di lupakan yaitu mencari air susu. Makanan utama bayi yang baru lahir tidak lain dan tidak bukan hanyalah minum susu atau biasa di sebut Air Susu Ibu (ASI). Seorang bayi hanya butuh ASI tidak butuh bungkus Susu sang ibu. Oleh sebab itu ibunya mau memakai bungkus susu (BH) yang berwarna apa, harga berapapun tidak pernah peduli. Yang terpenting bayi bisa minum ASI sewaktu waktu saat bayi itu membutuhkan. Semua urusan bayi akan selesai jika di beri ASI, bayi menangis jika di beri ASI langsung diam. Bayi sakit panas, selalu di beri minum ASI sehingga mereka akan cepat sembuh. Bayi yang akan disuntik imunisasi juga di beri ASI agar bayi tidak menangis saat di injeksi imunisasi. Pokoknya semua urusan bayi akan selesai atau beres dengan solusi memberi ASI.

Pelajaran yang dapat dipetik dari perumpamaan pahala umat Islam yang berhasil menjalanakn ibadah puasa ramadhan diibaratkan bayi baru lahir  akan dihadapkan dengan dua hal yaitu BH dan isi BH. BH merupakan simbol kulit atau luarnya, formalitas, atau cassingnya. Sedangkan isi BH melambangkan substansi, hakekat dari kulit atau simbol. Artinya, hari raya idul fitri tidak cukup hanya disikapi dari aspek kulit luarnya, dari aspek simbolnya saja tetapi harus disikapi secara substansi atau isinya. Artinya umat Islam yang merayakan hari raya idul fitri jangan hanya terjebak pada formalitas lebaran seperti datang ke mall untuk membeli baju baru, membeli perabotan rumah dan mobil, membeli makanan yang serba enak atau lezat  justru yang sangat penting bagaimana umat Islam mampu mengejawantahkan nilai nilai atau semangat hari raya idul fitri kedalam realitas kehidupan sosial. Hal ini sesuai salah satu hadis “ Laisal ied liman labisul jadiid, walakinal eid wahua taqwahu yaziid” artinya hari raya idul fitri bukan orang yang memiliki baju baru, tetapi sesungguhnya hari raya idul fitri adalah orang yang selalau berusaha meningkatkan ketaqwaannya. Peningkatan keimanan dan ketaqwaan merupakan substansi yang harus di peroleh umat Islam dalam perayaan idul fitri.

Idul fitri mengharuskan umat Islam mampu memahami dan mengaplikasikan bacaan takbir, tahlil dan tahmid kedalam realitas kehidupan. Takbir, Tahlil dan tahmid tidak cukup hanya di kumandangkan saja, tetapi yang sangat penting adalah umat Islam memiliki kepasrahan dan pengakuan bahwa Allah Allah yang memiliki kekuatan segala galanya. Manusia tidak memiliki kekuatan apapun. Konsekeunsinya sesama manusia tidak pantas untuk saling menghina, melecehkan, mendholimi dan memusuhi. Takbir mengandung makna pentingnya kesatuan dan persatuan antar manusia tanpa melihat asal usul agama, suku, warna kulti dan kelompok.

Idul fitri ditandai dengan adanya saling maaf memaafkan.  Saling memaafkan menandakan diantara sesama manusai bisa menerima kekurangan dan kelebihan masing masing. Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan keleihan masing masing. Kesediaan untuk mengakui dan menerima kekurangan yang ada di masing masing manusia akan melahirkan suasana yang tenang, aman dan nyaman. Orang yang bisa menerima kekuranagn dan kelebihan lainnya akan melahirkan sikap dan kepribadian yang saling menghargai, saling menghormati dan tidak saling caci maki, tidak saling mengejek dan tidak saling memfitnah.

Karakter saling menghargai, menghormati satu dengan lainnya merupakan substansi atau isi dari hari raya idul fitri. Membeli baju bari, membeli perabitan rumah, membeli mobil baru itu merupakan simbol atau kulit luarnya idul fitri. Umat Islam jangan hanya mementingkan simbol atau kulit luarnya idul fitri tetapi yang snagat penting harus mementingkan isi atau substansi dari idul fitri. Jangan melihat atau mementingkan BH-nya (formalitas idul fitri)  tetapi yang paling utama adalah isi BH (mengaplikasikan nilai nilai idul fitri). Semoga di hari raya idul fitri ini, umat Islam tidak sekedar memperoeh BH tetapi bisa memperoleh isi BH. Amien YRA

 

 

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter