|  | 

RISET

Survey Time : Kiai/Ulama Diharapkan Tidak Berpolitik

img-responsive
Share this ...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Para Kiaia/ulama atau tokoh agama perlu mengambil sikap yang tepat disaat musim pemilu atau pilkada seperti sekarang ini. Hasil survey Tasamuh Indonesia Mengabdi (TIME) tentang Persepsi Masyarakat Jawa Tengah Terhadap Peran Kiai/Ulama dalam politik praktis mengatakan bahwa mayoritas masyarakat Jawa tengah berharap kepada para Kiai/ulama tidak ikut atau terjung secara langsung dalam perhelatan politik seperti mencalonkan diri sebagai anggota DPR, Bupati atau gubernur

Persepsi Terhadap peran Kiai/Ulama dalam Pemilu. (N=255)

Terhadap pertanyaan “ Bagaimana Pendapat anda jika ada Kiai/Ulama mencalonkan diri sebagai calon wakil DPR atau calon kepala daerah? Yang menjawab Setuju karena Kiai/Ulama akan mampu mensejahterakan kehidupan masyarakat sebanyak 56 responden ( 22 %). Yang menjawab Tidak setuju karena Kiai/Ulama lebih mulia jika bersikap netral untuk semua golongan, sebanyak 199 responden ( 78 %).

Berdasarkan data tersebut, dapat dikatakan bahwa mayoritas masyarakat Jawa Tengah tidak setuju terhadap Kiai/Ulama atau tokoh agama terjun kedalam dunia politik baik sebagai calon wakil rakyat (legislatif) maupun calon kepala daerah (eksekutif). Sebanyak 78 % masyarakat tidak menghendaki para Kiai/Ulama terjun kedalam dunia politik praktis. Para Kiai/Ulama lebih terhormat berposisi sebagai kekuatan moral masyarakat yang selalu memberikan pencerahan bagi masyarakat. Oleh sebab itu Kiai/Ulama harus berposisi netral agar benar benar mampu mengoptimalkan peran dan tugas Kiai/Ulama. Sekurang kurangnya Kiai/Ulama memiliki tiga tugas penting yang tidak boleh ditinggalkan yaitu :

Pertama, himayat-ud din, yaitu melindungi agama dari pengaruh-pengaruh al-‘aqaid al-fasidah (akidah sesat) dan al-afkar al-munharifah (pemikiran-pemikiran menyimpang, esktrem, dan radikal) yang membahayakan agama. Kiai/Ulama harus mampu memastikan bahwa agama benar benar dipergunakan untuk kemaslahatan bukan untuk sarana untuk saling konflik atau caci maki dan sarana untuk menghujat satu dnegan lainnya.

Kedua, himayat-ud daulah (melindungi negara). Saat ini negara tidak hanya menghadapi ancaman dari kelompok-kelompok radikalis agama yang anti Pancasila, tapi juga kelompok-kelompok radikalis sekuler yang kehilangan semangat religiusitas (al-ruh al-diniyah) dalam bernegara. bagi bangsa Indoensia pancasila dan NKRI merupaakn kesepakatan mutlaq bagi seluruh elemen bangsa yang harus dijaga  secara optimal.

Ketiga, islah al-ummah (melakukan perbaikan atau mempersatukan umat). Peran Kiai/Ulama yang tidak boleh ditinggalkan adalah pemersatu bangsa, dimana bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku dan agama. Oleh sebab itu Kiai/Ulama harus mampu menjadi perekat tali persaudaraan antar umat, kelompok, agama dan suku.

Ketiga tugas Kiai/Ulama akan dapat dilaksanakan secara optimal dan memiliki manfaat besar bagi masyarakat jika Kiai/Ulama bersikap netral dalam proses pemilihan umum.

 

Komentar Facebook

ABOUT THE AUTHOR

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Pengunjung Website

Flag Counter